HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
YANG TERJADI


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Masih di kala itu ..


Safe House – The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris ..


Sesak menggelayuti semua orang yang ada di hunian mewah nan megah tersebut. Dimana beberapa jam sebelumnya, satu anggota keluarga mereka melakukan tindakan nekat dan berakhir dengan pernyataan berikut apa yang terpampang di hadapan, bahwa yang bersangkutan tidak dapat diselamatkan.


Cairan yang diduga mengandung racun dan dikonsumsi dalam jumlah banyak, termasuk perkiraan lamanya tubuh satu anggota keluarga ini tenggelam --- membuat nadinya tidak berdenyut lagi, nafas hangatnya tidak terasa lagi.


Dan jantung yang tak berdetak lagi, walau telah berkali di pompa dengan menggunakan cara penanggulangan medis dengan cermat dan seksama. Dan tetap tak kembali detakannya, bahkan setelah diberikan kejutan listrik dari sebuah alat medis. Dan setelahnya, duka bergulung lebat di atas hunian tersebut.


Lalu hati tiap – tiap anggota keluarga yang mendengar pernyataan dari mulut seorang kerabat yang merupakan dokter senior yang terpercaya, dimana yang bersangkutan mengatakan .. “Very sorry.. She’s, gone ( Dengan sangat menyesal.. Dia, sudah tiada )...”, kemudian menjadi hancur berkeping-keping.


Begitu kencangnya hati di rasa teremat, hingga seolah tak menyisakan ruang untuk bernafas-membuat air mata menganak sungai tanpa henti, walau mata sudah terasa panas-tangis tak kunjung dapat diredam. Getir, pahit dan rasa kehilangan yang hebat mendominasi. Dunia sebuah keluarga itu, luluh lantak dalam sekejap.


Namun, beberapa jam tenggelam dalam kedukaan yang hebat dan hati yang kehilangan masih dirasa tak karuan --- satu kalimat yang sampai ke telinga mereka, tak ayal membuat beberapa orang yang berada di dalam satu ruangan sontak serempak menoleh ke sumber suara dengan ekspresi yang campur aduk.


“Nona Valera masih hidup.”


“A – apa, kata – mu, Celine? ...”


Poppa yang bersandar di dinding dekat brankar tempat Val berada itu yang lebih dulu bersuara, untuk memastikan pendengarannya.


Dimana pertanyaan Poppa barusan pada satu wanita orangnya Varen yang mendapatkan kepercayaan penuh Varen untuk urusan – urusan tertentu itu, seperti halnya Ammar dan Kafeel sebelum ia menghancurkan ‘dunianya’ Val --- mewakili pertanyaan orang – orang yang bersamanya, yang kurang lebih sama ingin memastikan pendengaran mereka seperti Poppa.


“Menurutku, Nona Valera masih hidup ---“


“K – kau, jangan ... main – main dengan ucapanmu, Celine ...” sambar Dad R yang tergugu.


“Seperti yang aku katakan tadi, ini menurutku. Tapi jika kalian mempercayaiku, aku harus melakukan tindakan untuk membuktikan ---“


“Lakukan ---“


“Abang ---“


“Aku percaya padanya.”


“Kau ... bagaimana bisa berpikir seperti itu? ---“


“Nona Valera dianggap tiada jam 10 bukan? ... dari waktu itu sampai sekarang, seharusnya rigor mortis telah berjalan. Tapi tubuh Nona Valera masih melemas dan hangat. Tapi mohon maaf, Tuan Reno. Akan panjang jika aku menjelaskan lebih sekarang. Jika kalian ingin aku membuktikan kata – kataku bahwasanya ada kemungkinan Nona Valera masih hidup, maka ijinkan aku untuk melakukan tindakan dengan segera terlebih dahulu pada Nona Valera sebelum benar – benar terlambat ---“


( Rigor Mortis = Kontraksi otot setelah kematian sebelum terjadinya kekakuan pada otot mayat ) – Kalo kaga salah 😁


🌷🌷🌷🌷🌷


“Lakukan yang kau pikir dapat kau lakukan jika itu dapat membawa Val kami kembali.” Varen berkata dengan serius sambil memandang fokus pada Celine.


“Mohon maaf, tapi saya membutuhkan persetujuan anggota keluarga yang lain, selain anda Tuan Alva ...”


Celine berkata dengan tenang sambil memandang kembali Varen, lalu memandang sisa anggota keluarga Varen lain yang telah mendekat padanya sekarang.


“Drea setuju.”


Andrea yang duluan bersuara setelah Celine berucap.


Yang kemudian direngkuh dan merengkuh Varen, dimana rengkuhan keduanya itu menyiratkan suami – istri yang saling mendukung.


“I agree.”


“Aku dan Via juga.”


Papa Lucca dan Nathan lalu bersuara.


“Pop, Dad?”


“Anything for make her jump on to me again (Apapun untuk membuatnya meloncat padaku lagi)”


“Do it,” tukas Dad R langsung setelah Poppa selesai bicara. Celine mengangguk.


“Ada pisau bedah di sini?” ucap Celine cepat seraya bertanya ketika ijin telah ia dapat.


“K – au ... ingin membedahnya?” gugu Varen dan Celine langsung tersenyum.


“Kalian percaya padaku? ...”


Varen mengangguk meski ragu, yang akhirnya anggukan serupa pun juga dilakukan oleh anggota keluarganya yang lain.


🌷🌷🌷🌷🌷


“Pisau bedah seperti apa yang kau butuhkan? ...”


Dad R bertanya cepat pada Celine.


“Yang kecil saja, jika tidak ada --- pisau apapun yang bisa cepat berikut alkohol  ...”


“Mungkin di lab Ann ada.”


“Dan wadah untuk menuangkan alkoholnya juga jika memang ada ---“

__ADS_1


“Okay,” angguk Nathan.


“Gue bantu lo, Than.”


Drea menimpali Nathan dan keduanya langsung melesat menuju lab milik Ann yang ada di safe house, yang sebelumnya sempat dibuat sedikit berantakan oleh Ann.


“Ada lagi yang kau butuhkan, Celine? ...”


“Tidak, Tuan ...” jawab Celine santun pada Poppa yang bertanya padanya barusan. “Aku hanya perlu pergi ke wastafel untuk mencuci tanganku ---“


“Ini Celine,” Nathan dan Drea telah dengan cepat kembali ke hadapan mereka yang berada di ruangan tempat Val dibaringkan, membawa apa yang Celine minta sebelumnya.


“Terima kasih, Tuan Muda Jonathan, Nyonya Muda Andrea ...”


Celine menerima sebuah botol yang bertuliskan  70% alcohol, serta satu kotak aluminium yang adalah hecting set.


( Hecting Set = Satu set instrumen peralatan medis yang biasanya digunakan untuk menjahit atau merawat luka )


🌷🌷🌷🌷🌷


“Doctor Mario, would you please help me ( Dokter Mario, bisakah anda membantu saya )?” ucap Celine pada Dokter Senior teman lamanya Poppa dan Dad R itu.


“Y – es, sure ( I – ya, tentu ) ...” sahut Dokter Mario yang sebelumnya melamun akibat terkesima dengan kata – kata Celine yang berani mengatakan jika Val masih hidup. Dan Dokter Mario sedang berspekulasi sendiri kenapa wanita yang penampilannya sedikit nyentrik itu mengatakan jika Val masih hidup.


“Please prepare the ventilator ( Tolong siapkan ventilator ) ...”


Celine berucap lagi sambil ia bergerak cepat menyiramkan alkohol pada sebuah pisau kecil di atas wadah aluminium, dengan keyakinan bahwa alat yang ia minta untuk dipersiapkan oleh Dokter Mario itu siap digunakan.


Meski Celine tidak tahu pasti apakah alat itu pernah dipergunakan atau tidak, namun alat yang ia maksud tadi ia lihat lengkap.


Dan lagi, mengingat ini di tempat siapa, Celine tahu bahwasanya satu keluarga yang mempekerjakannya ini tidak mungkin menyimpan barang yang tak berguna.


Jadi Celine tidak bertanya lagi apakah alat bernama ventilator yang ada di salah satu sudut ruangan dapat digunakan atau tidak, karena Celine yakin alat itu berfungsi.


“Okay,” Dokter Mario menjawab permintaan Celine lalu bergerak sigap.


( Ventilator = Mesin yang berfungsi atau menunjang atau membantu pernafasan )


🌷🌷🌷🌷🌷


“Are you ---“


“Something unusual happen inside her body, regarding her body still sluggish and warm since her death time until now ( Sesuatu yang tidak biasa terjadi di dalam tubuhnya, jika melihat tubuhnya yang masih lemas dan hangat dari waktu kematiannya hingga saat ini ) ...”


Celine memotong ucapan Dokter Mario yang sepertinya sudah paham apa yang hendak Celine lakukan, dan Celine tahu apa yang ingin Dokter Senior itu tanyakan padanya seraya memastikan apa yang hendak Celine lakukan ketika Celine sudah mengambil posisi.


“Permisi, Nona Valera ... Maafkan saya, jika ini menyakiti anda.“


Celine telah merundukkan tubuhnya dengan wajahnya tepat berada di leher Val yang telah ia pegang dengan satu tangannya, dan satu tangan lain telah memegang sebuah pisau medis berukuran kecil.


Sret.


Celine telah melakukan tindakan. Ia menyayat sedikit bagian leher Val pada bagian trakea, tepatnya area bawah jakun.


Dan sayatan yang Celine buat di leher Val itu hingga bagian tulang rawan trakea terbuka hingga kemudian membentuk lubang.


Membuat semua orang yang melihat Celine melakukan sebuah tindakan demi sebuah hal yang katakanlah mustahil, menahan nafas mereka dengan perasaan campur aduk.


Selain tidak tega melihat darah yang keluar dari sayatan yang dibuat Celine pada leher Val tersebut. Ingin bersuara, namun seolah ada batu besar yang mengganjal di tenggorokan hingga mulut Dad R hingga Via bungkam seribu bahasa dan hanya bisa memperhatikan semua yang Celine lakukan pada Val dalam diam.


Ada rasa takut juga mengganggu konsentrasi Celine yang sedang berusaha ‘membangunkan’ Val.


“Pipe!” seru Celine dan Dokter Mario dengan cepat meng-estafet-kan sebuah selang yang terhubung dengan ventilator dari tangannya ke tangan Celine, yang kemudian tangannya bergerak sangat cepat dengan cekatan menghubungkan selang tersebut dengan lubang yang telah ia buat di leher Val.


Kembali semua orang yang melihat Celine melakukan tindakan pada Val, menahan nafas mereka.


“There’s a morphine inside my bag ( Ada morfin di dalam tas saya )” ucap Celine yang masih fokus memperhatikan sayatan yang ia buat.


“Where is it ( Dimana itu )?!”


Varen yang merespon ucapan Celine dengan cepat.


“I put it on the couch near the entrance of this place ( Saya meletakkannya di atas sofa dekat pintu masuk tempat ini ) ...”


Celine menjawab dengan cepat juga tanpa menoleh kepada Varen, melainkan ia memperhatikan arloji di pergelangan tangan kanannya.


“Biar saya yang ambilkan!” Adalah Achiel yang bersuara, karena dia memang belum beranjak dari safe house dari sejak Val dinyatakan tiada.


Bodyguard paling dekat dengan Val itu sangat terguncang macam keluarga Val, ketika Val dinyatakan meninggal. Dan sekarang ketika Achiel melihat ada harapan --- walau besarnya ketidakmungkinan selain akan sebuah keajaiban, namun jika iming – imingnya adalah satu nona muda yang paling dekat dengannya itu dapat hidup kembali, sungguhlah Achiel menjadi begitu bersemangat.


🌷🌷🌷🌷🌷


Dalam kepergian Achiel untuk mengambil tas milik Celine, semua orang dalam ruangan seolah membeku di tempatnya sambil memperhatikan Val dan Celine secara bergantian, dimana Celine nampak komat kamit tanpa suara seperti sedang menghitung.


Tit.


Lalu sebuah suara dari sebuah mesin yang tadinya hening, terdengar.


Dimana mata semua orang yang merasa mendengarnya beralih ke mesin tersebut.


“ACHIEL!”

__ADS_1


Celine berseru kencang.


Dan Achiel tak lama datang dengan tergopoh memberikan tas milik Celine yang telah ia ambilkan, dan Celine bergerak tergesa menggeledah tasnya. Lalu Celine menyuntikkan sesuatu ke lengan Val yang telah ia ambil alatnya dari dalam tas miliknya tersebut.


Sambil itu, mereka selain Celine memperhatikan mesin yang mereka dengar sepertinya berbunyi tadi dengan tetap di tempat mereka. Terpaku dengan rasa hati yang tak karuan, dan nafas yang seolah tertahan.


Masih ada garis lurus di sana, namun di detik berikutnya ...


Tit ... Tit ...


Mesin tersebut aktif berbunyi, dan garis lurus di monitornya mulai membentuk grafik secara perlahan.


Terpaku, membisu, terkesima.


Dad R, Poppa, Papa Lucca, Varen, Drea, Nathan, Via, dan semua orang yang ada bersama mereka ketika mesin mulai aktif berbunyi dan grafik yang tergambar di monitor kian menampakkan eksitensinya bersamaan dengan angka – angka pada monitor kini tidak menampakkan angka nol lagi.


Dari Dad R hingga Via semakin membeku di tempat mereka berdiri, namun jantung mereka berdegup sangat kencang.


Celine tersenyum kecil memandangi Dad R, Poppa, Papa Lucca, Varen, Drea, Nathan dan Via. Membuat mereka yang Celine sebut itu memandang dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan padanya.


Namun setelahnya --- ke tujuh anggota keluarga inti Val yang ada, sama tergugu dengan tubuh mereka yang melemas saking tidak percaya di saat Celine dengan yakin bilang, “She’s back ( Dia kembali )”


Demi apapun di dunia, Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via campur aduk sekali rasa di dalam hati mereka.


“Silahkan jika ingin mendekat ...”


Celine berucap sambil memandang pada ke tujuh orang yang ia pandang bergantian sambil ia bergeser untuk memberi ruang dengan tersenyum kecil.


Dimana ke tujuh orang tersebut yang masih nampak terkesima, ragu menggerakkan kaki untuk melangkah mendekati brankar di mana Val terbaring di atasnya.


Karena rasa tidak percaya masih mendominasi, dan takut jika ini mimpi. Bahwasanya, Val mereka telah ‘kembali’.


Perlahan dan ragu, namun Dad R – Poppa - Papa Lucca – Varen – Drea - Nathan dan Via pada akhirnya mulai mendekati Val yang kini dipasangi beberapa selang di tubuhnya --- serta alat bantu bernafas yang menutupi hidung dan mulutnya.


Air mata mereka sudah mulai berjatuhan ketika sudah mengelilingi Val yang terbaring di atas brankar. Yang dengan gemetar Poppa dan Dad R belai sedikit pipi dan pucuk kepalanya.


Bahkan saking ingin memastikan, karena takut jika ini bukanlah sebuah kenyataan, Dad R meletakkan tangannya di dada kiri Val. Dan dada Val yang beberapa jam lalu itu macam kamar kosong, kini Dad R rasakan ada yang berdentum di dalamnya.


Dad R meluruh di atas wajah Val yang keningnya ia kecupi bertubi – tubi setelahnya.


Dan luruhan Dad R kemudian menular pada enam orang anggota keluarga lain yang bersamanya.


Sisanya menggigit bibir mereka dengan butir airmata yang keluar dari netra mereka itu. Haru, dan juga tergugu.


“Oh Val ... Baby ...”


Yang dirapalkan berkali – kali kalimat itu oleh tiga Daddy yang menangis tanpa henti.


“Val ... Sayang ... Kamu, pulang ...”


Para kakak yang juga menangis dengan airmata yang menganak sungai seperti sebelumnya.


Hanya bedanya, airmata ke tujuh orang tersebut, kini bukanlah pancaran kesedihan --- melainkan kelegaan yang bercampur kebahagiaan.


Val mereka tidak jadi ‘pergi’


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


To be continue ......


Noted :


Reader yang udah ngikutin BSS, The Smith’s atau karya emak lainnya pasti paham ya, kalo si emak yang kurang solehah ini suka main plot maju mundur cantik, sampe kecengklak kadang – kadang? 😁


Detail setiap kejadian yang emak sudah berikan beberapa spoiler di episode – episode sebelumnya akan emak tuliskan lengkapnya kalau ga ada yang terlewat.


So Emak  harapkan jangan lagi ada kata – kata yang bilang, ‘Diulang’.


****


Singkat kata, setiap part sudah pada porsinya.


Novel fiksi memang, penuh kehaluan. Namun Emak tuliskan sedemikian rupa.


Tapi Emaknya Queen memperhatikan detail cerita setiap karya Emak.


Apa, Bagaimana, Kenapa atau Kok Bisa? ...


Dari setiap spoiler yang pernah tersisip, akan Emak perhatikan detailnya. ( Insya Allah  – sekali lagi, kalo ga ada yang terlewat )


Sedikit banyak akan ditulis kronologisnya dengan gamblang, untuk menghindari para juliters yang kadang ada aja pertanyaannya buat bikin penulis badmood, ye khan?


Hehe.


Jika ada hal di luar nalar dalam cerita,


Sekali lagi, ingat jika yang kalian baca adalah karya fiksi.


Tapi meski begitu, Emak sudah observasi dulu ragam hal di luar nalar yang ditulis dimana sedikit banyak Emak cari hubungannya dengan logika di dunia nyata, termasuk yang namanya mukjizat atau keajaiban.


Well, segitu aja.

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang masih setia baca karya receh Emaknya Queen ini.


Loph you all pull ampe luber.


__ADS_2