
Terima kasih masih setia
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
R Corp, Jakarta, Indonesia....
“Gila!”
Itu Kafeel yang spontan menggumam, karena satu fakta konyol yang ia dengar dari mulut Val.
“Hah, lihat? Kafeel juga mengatakan kamu gila.”
Satu kalimat celetukan keluar dari mulut kakaknya Val.
“Eh, Val cantik, a----“
Kafeel yang sadar jika ia tanpa sadar nyeletuk dimana mungkin terdengar jika dirinya mengatai Val, berusaha meralat ucapannya.
“Kak Kafeel bilang aku gila?”
Tapi Val yang merasa dibilang gila oleh Kafeel itu langsung memotong ucapan Kafeel, seraya dia berdiri dengan matanya yang menyorot pada Kafeel yang terlihat menjadi kikuk.
“Bukan, maksud Kak---“
Kafeel pun berusaha meralat lagi ucapannya, karena merasa sungguh tak ada maksud mengatai Val gila.
Celetukannya itu bukan untuk Val, tapi lebih kepada keinginan gadis itu yang meminta sang ayah untuk melamar dirinya. Jadi Kafeel agak-agak syok gimana gitu.
“Kak Kafeel, ja-hat!”
Tapi sekali lagi Val langsung menyambar. Memotong lagi ucapan Kafeel yang hendak disergah olehnya, dan menjelaskan pada Val jika dia tidak bermaksud mengatakan kalau Val itu gila.
“Eh Val!”
Tapi sayangnya, sebelum sempat meralat dan menjelaskan pada Val, yang bersangkutan keburu merajuk dan berbalik dari hadapan Kafeel, termasuk juga dari Varen dan Drea.
Melangkahkan kakinya dengan lebar, Val bergegas keluar dari Lounge Utama, bahkan setengah berlari menuju lift.
Kafeel yang terhenyak karena Val telah dengan cepat meninggalkan Lounge Utama, langsung saja mencoba untuk mengejar Val.
“Val cantik, tunggu!”
Sayangnya Val sudah keburu masuk ke dalam salah satu lift di lantai khusus pimpinan tertinggi beserta staf terpilih, di R Corp itu.
♥
Sementara itu di dalam sebuah lift....
‘Tega sekali Kak Kafeel mengatakan aku gila.’
Suara hati yang menggerutu dari seorang gadis yang sudah berada di dalam sebuah lift.
Gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Val itu memasang wajah cemberut nya saat memasuki lift tersebut.
“Padahal kan dia itu yang membuat aku gila.... tidak sadar diri apa?....”
Val masih menggerutu, namun kini sudah berupa suara yang tercetus pelan dari mulutnya.
“Tapi tak apa deh, biar saja dibilang gila,” Val menggumam lagi. “Habis aku cemburu sekali pada itu semut Rara-ng!”
Namun kemudian, bibir yang merungut serta wajah yang cemberut itu berubah menjadi wajah yang terhias dengan sebuah ******* senyum.
Ting!.
Pintu lift kemudian terbuka, dan Val nampak senyam-senyum sendirian berjalan keluar dari lift yang telah mencapai lobi R Corp.
‘Kak Kafeel pasti mengejarku, lalu dia akan membujuk agar aku tidak marah, dan pasti merayuku agar memaafkannya.’
******* senyuman Val mulai mengembang, seraya ia menoleh ke arah belakangnya, dimana ada lift disana. Menunggu Kafeel yang tadi memang mengejarnya keluar dari Lounge Utama.
‘Nanti pasti Kak Kafeel datang dengan tergesa, lalu mengatakan, ‘Val, maafin Kakak yah? Kakak ga ada maksud mengatakan Val gila.’ Lalu Kak Kafeel akan bertanya padaku, ‘Kakak harus apa biar Val maafin Kakak?’ Dan nanti aku akan meminta Kak Kafeel menjadi pacarku saat ini juga. Haha!. Bagus kan rencanaku yang pura-pura merajuk dan berlari sampai ke lobi?’
Val dengan rencana, berikut khayalannya. Masih senyum-senyum sendiri, sembari berjalan santai di sekitaran lobi menuju pintu keluar. Namun senyum Val terhenti dan langkahnya terjeda, saat seseorang menyapanya.
“Nona Muda Valera, apakah anda sudah hendak pulang sekarang?” tanya seorang bertubuh tinggi dan tegap pada Val, yang merupakan salah seorang bodyguard yang menyertainya dan Drea, sedari mereka berangkat dari kediaman utama dengan beberapa bodyguard yang lain yang kemudian membagi menjadi dua kelompok.
Satu kelompok untuk Val dan Drea, dan satu kelompok lagi untuk Via dan Mika.
“Jika iya, saya akan meminta Adri untuk segera membawa mobil ke depan lobi....” ucap si bodyguard dengan sangat sopan.
Karena tadi Val dan Drea menggunakan mobil yang sama dengan Mika dan Via, jadilah satu mobil terpisah telah disediakan dan disiagakan untuk Val dan Drea di R Corp.
Sehubungan mobil berikut supir yang mengantar Val dan Drea ke R Corp, melanjutkan pergi untuk mengantar Via dan Mika ke perusahaan utama keluarga mereka yang berada di Jakarta, yang mana berbeda area dengan R Corp.
Val menggeleng pada si bodyguard yang barusan berbicara padanya itu. “Tidak perlu, aku belum mau pergi kemana-mana,” sahut Val dan si bodyguard pun mengangguk sigap.
Lalu Val berbicara lagi pada bodyguard yang belum pergi dari hadapannya itu.
“Ya sudah, kenapa masih berdiri disini?” ucap Val pada si bodyguard.
“Saya berjaga-jaga jika Nona Muda membutuhkan sesuatu.” Sahut bodyguard tersebut.
“Aku tidak butuh apa-apa. Jadi kamu boleh pergi....” Val juga dengan cepat menyahut. “Dan lagi ya, nanti kalau ada pacarku, kamu jauh-jauh dari aku.”
“Pacar?....” Bodyguard tersebut nampak bingung.
“Iya, pacar, kekasih.”
“Iy-iya saya paham soal pacar Nona Muda --”
“Nah ya sudah kalau paham!”
__ADS_1
Val segera memotong ucapan bodyguardnya.
“Nanti kalau pacarku, Kak Kafeel itu datang mengejarku kesini, kamu pokoknya harus segera jauh-jauh dari aku.”
“Tuan Kafeel?....” si bodyguard itu nampak sedikit keheranan. Dan Val tentu saja dengan segera mengangguk antusias.
“Memang kamu tidak tahu kalau Kak Kafeel itu pacarku?” kata Val. Dan dengan polosnya si bodyguard itu menggeleng.
“Maaf, Nona Muda Valera, saya tidak tahu—“
“Nah, sekarang kan sudah tahu?”
Dengan percaya diri seperti selalunya, selain sekate-kate kalau kata keluarga cemara. Val berkata pada bodyguardnya yang sekali lagi ucapannya dipotong Val.
Dan dengan pasrah saja si bodyguard mengangguk.
Kemudian Val melengos, kembali menatap ke arah lift tak jauh darinya berdiri.
“Kak Kafeel mana sih?....” gumam Val, karena sosok yang ia tunggu untuk mengejarnya tidak muncul-muncul.
Bahkan Val kini telah berbalik menghadap ke arah lift tersebut sambil bertolak pinggang, tak perduli pada beberapa pasang mata yang mencuri-curi untuk melihat ke arahnya, akibat tingkah Val itu.
Iya, orang-orang yang berlalu lalang di lobi R Corp itu rata-rata adalah karyawan yang tentunya tahu betul siapa itu gadis yang sedang bertolak pinggang, memperhatikan lift dengan tak sabar.
‘Dari lantai pribadi Abang untuk mencapai lobi ini kan hanya perlu satu menit....’ batin Val. ‘Ini sudah berapa lama coba?! Mati lampu apa? Jadi liftnya tidak berfungsi?....’ Val membatin lagi. ‘Masa sih?....’
Val tak sabar.
“Mba!”
Kini ia sudah mendekati meja resepsionis.
Dimana sang resepsionis perusahaan ayahnya itu, langsung berdiri dengan cepat, menanggapi satu Nona Muda itu.
“Iya Nona Val, ada yang bisa saya bantu?....”
“Coba hubungi resepsionis di lantai Abang, dan tanyakan sedang apa sih Kak Kafeel kok lama turunnya?!”
Val bercerocos pada si resepsionis yang manggut-manggut, dan tangannya sudah sigap memegang gagang telepon, lalu melakukan titah sang Nona Muda.
“Bagaimana?....” Val dengan cepat bertanya, setelah si resepsionis selesai berbicara di telepon.
“Resepsionis di lantai Tuan Alva sedang menghubungi sekertaris Tuan Kafeel, Nona Valera. D –“
“Ah, lama!”
Val yang tak sabar itu mencebik, lalu melangkahkan kakinya lebar-lebar menjauh dari meja resepsionis.
Dan arah kaki Val kini kembali menuju lift yang tadi membawanya turun ke lobi dari lantai kerja pribadi Varen.
Val yang tadi sempat sumringah wajahnya, kini cembetut lagi memasuki lift yang pintunya telah terbuka itu.
Lalu menekan lagi tombol lantai dimana tempat kerja khusus petinggi perusahaan berada, lantai kerjanya Varen, berikut para staf khusus.
♥
“Nona Muda Valera, baru saja saya mengabarkan pada resepsionis di lobi,” satu orang resepsionis dari dua yang kini berdiri di tempatnya itu berbicara dengan sopan dan lugas pada Val. “Tuan Kafeel sedang meeting dengan divisi IT, Nona,” lanjut si resepsionis wanita.
“Hah apa????!!!!....”
Val pun tercengang.
“Mee-ting?!”
“Iya Nona Muda Valera, Tuan Kafeel sedang meeting dengan divisi IT....”
“Dengan Abang juga?” tanya Val pada si resepsionis yang sedang berbicara padanya itu.
Resepsionis itu pun menggeleng dan menjawab, “Tuan Alvarend dan Nyonya Andrea, baru saja memasuki ruang kerja pribadi Tuan Alvarend bersama Pak Harsena, Nona....”
“Ya sudah, terima kasih....”
Val mengucapkan terima kasihnya pada si resepsionis yang bicara padanya barusan, sembari meloyor pergi dari meja penerima tamu tersebut.
Lalu wajah Val tertekuk lagi, dengan langkah yang gegap menuju ke ruangan Abang Varen, berikut rasa hati yang kesal, karena gagal bikin adegan romantis bak di drama percintaan yang sering Val tonton, dimana tokoh utama pria mengejar tokoh utama wanita yang merajuk hingga ke-uwu-an tercipta.
‘Gara-gara Abang nih....’
Val menggerutu dalam hatinya.
‘Pasti Abang sengaja kan kasih Kak Kafeel kerjaan sehingga dia batal kejar aku, dan aku batal dapat pelukan yang mungkin saja akan berlanjut pada kecupan di bibir sensual ku ini dari bibir Kak Kafeel.’
Val mendengus kesal.
‘Awas saja, aku ganti akan hancurkan rencananya untuk pergi bermesraan di pulau dengan Kak Drea.’
Hati Val yang tak terima karena rencana yang ia susun gatot karena Kafeel yang Val dengan yakin akan mengejarnya itu malah ga meneruskan mengejar dirinya, dan lebih memilih untuk pergi meeting.
‘Kak Kafeel juga. Bukan meneruskan mengejar aku, malah segala meeting!.... menyebalkan sekali kadang-kadang pria setengah om-om itu!. Aku culik dan aku sekap, lalu aku paksa untuk menikahiku baru tahu rasa!’
Dimana dalam sebuah ruang meeting,
“Hachii!!....”
Ada seseorang yang bersin dengan tiba-tiba.
“Sorry....”
itu Kafeel yang berbicara pada para peserta meeting yang bersamanya, karena bersin tiba-tiba.
‘Perasaan gue sehat-sehat aja. Kenapa jadi bersin tiba-tiba?’ Kafeel membatin.’ Apakah ini sebuah firasat?....’
Kafeel mengendikkan bahunya lalu lanjut fokus pada meeting yang sedang dilakukannya saat ini.
Sementara di ruangan lain sedang ada keributan antara ulat bulu dan anak naga, tanpa Kafeel ketahui.
__ADS_1
♥
Di tempat, dimana sebuah keributan unfaedah sedang berlangsung....
“Lihat saja, aku balas ini perbuatan Abang yang ga bisa lihat Val senang!”
Dimana juga ada seorang adik perempuan yang sedang mengancam kakak lelakinya.
Anak naga dengan satu anak naga juga sebenarnya, namun suka bertransformasi menjadi ulat bulu jika sudah berada didekat pujaan hatinya.
Maunya nempel aja.
Ngalahin perangko yang tertempel di amplop.
Val dan Varen yang masih adu mulut, dengan disaksikan oleh Drea dan sekertaris pribadinya Varen.
“Memang apa yang bisa kamu lakukan, hem?” Varen sih santai saja menanggapi ancaman adik perempuan kandungnya itu.
“Val tahu hari ini Abang sama Kak Drea berencana menghabiskan waktu di pulau kan? ..”
Val menyahut keremehan Varen pada ancamannya tadi.
“Val akan ikut Abang sama Kak Drea ke pulau, biar kalian gagal mesra-mesraan berdua! Kalau perlu nanti Val telpon Putra dan bilang kalau Mamamnya mau diculik sama Papapnya biar ga bisa ketemu Putra!”
Ancaman Val seraya bercerocos ria dan tersenyum sinis menatap pada Varen yang sudah mendelik padanya itu.
“Pasti Putra akan merengek minta bertemu Mamamnya! Terus gagal total deh rencana Abang mesra-mesraan sama Kak Drea di Pulau hari ini!”
“Wah, cari perkara ini ulat bulu!” Varen berdiri dari duduknya dan ketus berucap sembari mendelik pada Val.
“Siapa suruh jadi anak naga yang ngeselin!” Val tidak kalah ketusnya pada Varen. “Nanti aku panggil teman-teman ulat bulu aku, biar anak naga bintul-bintul kulitnya!”
“Wah!”
Kini Varen sudah berkacak pinggang sambil geleng-geleng menatap pada sang adik kandung yang sedang tidak ada takut-takutnya pada Varen sekarang ini.
Memang begitulah kiranya Val. Dia akan berani menghadapi siapa saja, jika ada yang mengusik urusannya dengan Kafeel, yang jarang-jarang bisa Val temui secara langsung karena tinggal di benua yang berbeda.
Dan sekalinya ada waktu, namun terganggu, yah jadi beginilah Val ini. Merajuk tak karuan, selain ia akan terus bercerocos menimpali setiap ucapan mereka yang dianggap Val telah mengganggu kesenangannya.
Yah termasuk pada Abang Varen sekarang ini.
Kalau Val sedang merasa gundah gulana tentang Kafeel, ia suka lupa kalau Abang Varen yang jika sudah serius memberi penegasan pada adik-adiknya itu akan menjadi Abang Varen yang menyeramkan.
“Sudah semakin berani kamu padaku, hah?! Nona Muda Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith!” Nah loh, kelihatan serius si Abang sekarang marahnya. Membuat Val agak kicep juga jadinya. Val tak menyahut kali ini.
Harsena yang berada didekat Bosnya itu kini sudah merasa tegang. Dan Drea telah menegakkan duduknya, kalau wajah si Abang sudah serius begitu.
“Bicara lagi seperti tadi padaku?!” seru Varen pada Val seraya mendelik tajam. Val diam, tidak berani kalau Varen sedang begini tampangnya. Karena bagaimana Val pada Kafeel, begitulah Abang Varen pada Little Starnya.
Peraturan Varen yang utama, adalah jangan mengganggu Andrea. Termasuk anak dan keluarganya.
Anak naga akan menjadi anak monster, karena kekejamannya yang tak mampu dibayangkan. – kalo mau tahu sisi kejamnya Abang Payen, mampir dah ke The Smith’s.
Awokwkwkwkwk....
“Mau aku banned ( cekal ) kedatanganmu di perusahaan ini?! kalau perlu aku banned juga keberadaanmu di negara ini, hah?!”
Varen masih berkacak pinggang dan mendelik pada adik kandungnya itu.
“Berani-berani sekali mengancam waktu bermesraan ku dengan istriku.”
Namun intonasi suara Varen sudah turun.
“Ya habis Abang sih, menyuruh Kak Kafeel meeting....”
Kini ulat bulu sudah berganti mode menjadi seperti anak kucing yang terluka.
“Val kan jadi macam orang bodoh menunggu Kak Kafeel mengejar Val di lobi....”
Tidak lupa, Val memasang wajah merungut nan memelas pada sang Abang.
“Memang aku tahu, jika otakmu itu merencanakan acara kejar-kejaran dengan Kak Kafeelmu itu?!”
Varen sudah semakin turun intonasi suaranya, hanya keketusannya masih ada. Lalu Varen duduk lagi di kursi kebesarannya.
“Abang aja yang ga peka!” sambar Val atas ucapan Varen tadi. “Iya, maaf....” Namun seper sekian detik Val langsung meminta maaf, karena mendapat lirikan tajam dari Varen.
Kalau dalam mode sadar, selain sayang dan kagum pada kakak lelaki kandungnya itu, ya Val takut pada kakak pertama dalam garis keturunan para pewaris The Adjieran Smith yang menyeramkan kalau marah.
Walau tidak pernah melihat mode murka si Abang, tetap saja aura Abang Varen terasa membuat bulu kuduk Val merinding kalau wajah kakak kandungnya itu sedang mengetat rahangnya. Hanya pernah mendengar cerita saja dari Kak Tan-Tan, kalau Abang pernah menjadi monster saat menghukum para orang jahat yang mencoba mencelakai Kak Drea, juga Kak Via.
Walau tidak mungkin juga Abang berlaku kejam pada Val atau keluarganya yang lain.
Tapi tetap saja Val punya rasa takutnya sendiri pada Varen. Meski kalau mode malaikatnya Abang datang, ya ampun, minta Mal juga dibeliin kali sama Abang Varen.
“Walaupun ini sudah masuk jam makan siang, tetap saja Kak Kafeelmu itu adalah karyawan disini. Dia punya tanggung jawabnya sendiri .... sekarang kalau kamu mau menunggunya untuk makan siang bersama, duduk diam-diam dan tunggu sampai Kafeel selesai meeting.... awas saja kalau kamu berani mengganggunya saat dia sedang serius bekerja.”
Varen bicara panjang lebar. Nada suaranya sudah normal, namun ketegasan tersirat dari ucapannya yang sedang berbicara pada Val itu.
“Aku sudah memberikan peringatan, yang tidak seharusnya aku katakan lagi padamu. Jika kamu mengabaikan peringatanku, aku akan benar-benar mencekal keberadaanmu dan membuatmu terlarang masuk ke negara ini. Silahkan saja jika memang kamu mau mencobanya.”
“Iya Abang, Val ingat peringatan Abang,” jawab Val yang memelas. “Val juga tidak jadi deh mengganggu waktu bermesraan Abang di Pulau nanti dengan Kak Drea!.... Tapi Val jangan di banned loh ya, untuk datang kesini?....”
Val menampakkan senyum manisnya pada sang Abang yang sempat berdecak kecil itu.
“Ya Abang ya??.... Abang Varen baik deh! Dah lah tampan, kaya, royal, bagus badannya, Perfecto lah! Ga bersisik lagi walaupun anak naga!”
‘Ya ampun, kini aku berharap kalau adik kandungku ini adalah adik orang!’
Varen membatin karena kelakuan adik perempuan kandungnya itu yang mudah berubah sekejap mata.
'Perpaduan antara ulat bulu dan bunglon. Padahal ayah dan ibunya kan Naga dan Peri.'
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue....
Jangan lupa bahagia.