
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,
“Kau sudah bukan lagi bagian dari keluarga ini. Apapun yang terjadi padamu di luar sana --- andai kau terkena masalah, maaf – maaf saja kami tidak akan mengulurkan tangan padamu dan keluargamu. Sebaliknya, semua tentang keluarga ini, tak perlu kau pedulikan lagi. Anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain.”
Yang Dad R katakan pada seseorang yang berdiri berhadapan dalam jarak dengannya --- Kafeel.
Tak hanya Dad R seorang yang masih menatap pada Kafeel kala gerbang mulai perlahan bergerak untuk menutup.
Ada empat Dads lainnya juga yang sedang menatap diri Kafeel yang masih tetap pada posisi pria itu sebelumnya.
Bersimpuh, dengan lutut yang menyentuh permukaan lantai di seberang rel gerbang dan wajah yang begitu muram --- selain sudah berlinang air mata.
Yang sedang merasakan sesak yang teramat di hatinya.
Sesak karena kehilangan satu keluarga, orang – orang yang begitu Kafeel sayangi seperti orang tua dan keluarganya sendiri.
Orang – orang yang begitu baik serta mengasihinya, juga tak habis ingin memanjakannya dengan materi.
Dan bukan perkara materi itu yang membuat Kafeel sesak karena kasarnya ia telah ‘dibuang’ oleh orang – orang yang ia sayangi dan mengasihinya itu, melainkan sesak karena tidak dapat lagi merasakan perhatian dan kasih sayang mereka.
Keluarga kedua Kafeel.
Namun di atas itu yang paling menyesakkan Kafeel adalah, dia juga harus kehilangan cintanya.
Gadis kecil tercintanya yang telah ia berikan luka teramat dalam dan parah --- Valera.
Yang telah Kafeel lihat betapa hancurnya gadis kecil yang ia cintai itu beberapa waktu yang belum lama berlalu.
Yang membuat Kafeel begitu khawatirnya setelah melihat gadis kecil yang bahkan adalah calon istrinya itu jatuh tak sadarkan diri di depan matanya setelah menangis begitu sedihnya.
Yang langsung dijauhkan dari Kafeel oleh dua saudara dan tiga saudarinya.
Bahkan Kafeel dihadang untuk mengekori, agar setidaknya dia dapat berbuat sesuatu untuk menolong gadis kecil tercintanya yang tak sadarkan diri akibat hatinya yang Kafeel sakiti.
Pedih.
Bahkan Kafeel dibuat tak sadarkan diri.
Namun saat kesadarannya kembali lagi, itulah mengapa Kafeel sudah ada di sini.
Di sebuah bangunan mewah yang pernah juga menjadi ‘rumah’ nya. Di tempat dimana gadis kecil tercintanya berada.
Yang ingin Kafeel lihat dan temui untuk yang terakhir kalinya, bahkan jika boleh Kafeel ingin memeluknya. Walau sebentar, walau sedetik pun tak apa.
Ingin meminta, oh bukan.
Kafeel ingin memohon pada Val untuk maafnya.
Jika perlu, Kafeel rela untuk bersujud di bawah kaki Val yang telah ia lukai sedemikian parahnya.
Namun, Kafeel boleh berniat.
Harapnya boleh melekat ketat.
Meski maaf Val mungkin tidak akan ia dapatkan, asal maaf itu dapat langsung Kafeel utarakan pada Val.
Val mau tampar seribu kali wajahnya pun silahkan.
Kafeel rela.
Bahkan gilanya, rasanya Kafeel akan bahagia jika --- walau dengan tamparan, tapi tangan Val dapat ia rasakan sentuhannya lagi.
Seberharap itu, Kafeel untuk dapat bertemu Val. Walau mungkin, ini yang terakhir Kafeel diperbolehkan untuk bertemu dengan gadis pemilik hatinya itu.
Yang harap itu, harus Kafeel paksa terbang ke angkasa. Karena ijin, tidak ia dapatkan. Jangankan bertemu berhadapan, ingin berbicara tanpa bertemu muka pun tak bisa.
Kafeel tidak diperbolehkan meminta apapun terkait Val, meski permohonan maaf yang teramat ingin Kafeel persembahkan.
Benar-benar tak diperbolehkan, sampai saat pintu telah hampir menutup rapat dimana The Dads telah berbalik arah untuk kembali ke dalam kediaman.
“Tunggu!”
Yang langkahnya kemudian terhenti, kala suara Kafeel yang masih berlutut itu mereka dengar lagi.
__ADS_1
Gerbang tinggi yang sudah hampir menutup rapat itu terhenti mendadak, ketika suara Kafeel terdengar menyergah.
Penjaga yang bertugas itu terkaget mendengar seruan Kafeel, hingga tangannya refleks menekan tombol Stop.
“Apa Alva ada di sini?” Kafeel bersuara lagi dari tempatnya berada dan belum merubah posisi.
The Dads yang langkahnya terhenti itu menoleh kembali ke arah Kafeel memandang pada mereka dari celah gerbang yang hampir menutup itu.
“Aku ingin berbicara padanya... Aku belum meminta maaf secara langsung pada Alva.”
“Akan kami sampaikan padanya.”
*
Yang mana orangnya,
“Aku tidak sudi.”
Ucapan Varen pada Achiel yang diminta The Dads menghubunginya yang masih berada di dalam kamar Val.
“Aku tidak sudi lagi bertemu ataupun bicara padanya.”
Yang langsung Achiel sampaikan pada yang bersangkutan, yang masih berlutut dalam pengharapan.
Kafeel Adiwangsa yang benar-benar sudah hilang kesempatan berikut harapan.
Getir, karena nyata ia songsong sebuah perpisahan.
Dengan keluarga keduanya,
Terlebih dengan cintanya.
Valera Aditama Adjieran Smith, kini sudah benar-benar terlarang untuknya.
*
Kafeel dikatakan telah pergi dari KUJ setelah mendapat penolakan menohok dari Varen yang tidak mau menemui ataupun sekedar bicara lewat ponsel salah satu pengawal pribadi mereka yang diminta The Dads untuk menyampaikan keinginan Kafeel pada yang bersangkutan. Dimana beberapa saat setelah kepergian Kafeel, dia yang tadi menangis tiada henti lalu berhenti karena tak sadarkan diri---kini telah terbangun.
Val dibantu duduk oleh Via yang baru saja datang untuk menggantikan mereka yang diminta untuk mengisi perut secara bergantian jika ingin menemani Val.
Tak hanya ada Via, tapi juga Ann dan Isha. Sementara para saudara sedang turun ke lantai bawah semua bersama Drea dan Mika.
Via, Ann dan Isha tersenyum dan menegur Val dengan lembutnya.
Lega, karena Val bangun dengan tenangnya. Tak meraung, terisak pun tidak.
Lalu The Moms datang berikut Nenek Yuna.
Sama sebagaimana tiga orang yang telah menegur Val terlebih dulu, The Moms dan Nenek Yuna pun sama menegur dan mengajak bicara Val.
Namun kembali, sama saja respons Val seperti sebelumnya.
Diam memaku.
Dimaklumi lagi.
Hingga mereka yang tidak mungkin ditolak Val eksistensinya pun – yakni para lelaki idola Val di lingkup keluarganya sudah juga menunjukkan diri, respons Val sama.
Diam memaku.
Mematung dengan tatapan lurus ke depan.
Sekali lagi, dimaklumi.
Namun menit berlalu hingga menjadi hitungan jam pun seperti itu.
Val terduduk di atas ranjangnya dalam diam, dengan memandang nanar lurus ke depan, namun air matanya mulai mengalir.
Sunyi.
Tak ada isakan, apalagi raungan.
Namun deras air mata Val yang berjatuhan.
Sakit, melihatnya.
Hati rasa dicubit dengan kencangnya.
*
Spoiler:
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
__ADS_1
“Ada apa, Re-An?”
“Bad news (Berita buruk)”
“Kenapa?...”
“Si pangeran tidur berbulu, sudah tidak bernyawa.”
“Ya Tuhan... Kasihannya...”
“Tapi aku belum mencabut alat yang menempel padanya-“
“Iya, tidak apa-apa. Sekaligus aku akan mengecek apa yang membuatnya tewas setelah tertidur begitu lama karena cairan fuschia penelitianku itu...“
“Kalau begitu akan aku carikan tempat untuk membaringkan si pangeran tidur berbulu, sebelum kita menguburnya.”
--
“Re-An, kamu letakkan dimana cairan fuschia itu? Apa sudah kamu buang?”
“Aku tidak selancang itu main asal buang barang-barang kamu, Ann.”
“Tapi kok cairan fuschia penyebab si pangeran tidur berbulu itu tertidur lama lalu mati tidak ada di tempatnya?”
“Mungkin kamu terlupa menyimpannya.”
“Aku belum meneliti cairan itu lagi dari sejak kejadian Val dan Kak Kaf lalu kita ke Indo, Re-An.”
“Ya sudah aku bantu kamu mencarinya. Mungkin saja kamu yang memang lupa, Ann.”
“Aku memiliki ingatan yang amat sangat baik, okay? Dan aku tidak pernah memindahkan cairan itu dari tempat khususnya.”
“Mungkin kamu sendiri yang sudah membuangnya tapi kamu lupa karena kejadian yang menimpa Val?”
“Aku masih belum menemukan penyebab mengapa cairan yang aku maksudkan sebagai obat itu malah membuat si pangeran tidur berbulu itu malah menjadi tertidur sangat lama. Jadi tidak mungkin aku membuangnya begitu saja, Re-An.“
“Ya sudah, ayo kita cari dulu.”
“Okay.”
--
“Tidak ada Re-An...”
“Aneh.”
“Siapa sih yang berani masuk ke sini selagi aku tidak ada?... Uuuhhh!”
“Sudah, kita cari sekali lagi.”
“Cairan itu harus ketemu---terlebih si pangeran tidur berbulu tewas sekarang. Berarti cairan itu berbahaya.”
“Iya juga, ya?...”
“Kalau begitu aku akan mencari ke kamarku-“
--
“Eh Ann, kamu menjatuhkan catatanmu.”
“Catatan apa?... Aku tidak membawa catatan apa-apa.”
“Itu kertas yang terjatuh, apa?”
--
“Ann?...”
“Ti-dak...”
“Ada apa, Ann?...”
“Hub-hubungi mansion...”
“Iya, tapi kenapa, Ann? Ada apa??-“
“HUBUNGI MANSION, RE-AN!!!”
“ANN!!”
“VAAAALL!!!!...”
*
__ADS_1
*
To be continue...