HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SATU CERITA


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia,


Pada suatu ketika,


“Neng geulis sehat, A’?”


“Sehat, Bun. Alhamdulillah.”


“Aya saha di sana?”


“Seperti biasa yang ada di sana aja, Bun.”


“Terus kerjaan AA?”


“Alhamdulillah, kemarin udah rampungin semua. Tinggal ngurutin laporan aja buat ke Alva.”


“Alhamdulillah ---“


“Mungkin setelahnya, AA akan bolak – balik ke London, Bun ....”


“Ya harus itu, ‘A. Kita tuh jangan mentang – mentang keluarganya Neng Geulis baik begitu terus emangnya mampu ngurusin ini itu soal pernikahan kamu dan Neng Geulis, terus kita seenak udel aja ---“


“Iya bener ‘A. Lena jadi ikutan ga enak juga kalo misalkan kita ga grasak – grusuk gitu ngurusin pernikahan AA sama Val. Waktu Lena tanya, apa yang bisa Lena bantu sampe dateng ke kediaman .... Kak Drea dan yang lain malah bilang, ‘Udah Lena duduk cantik aja bareng kita – kita nanti. Udah urusan WO sama EO itu sih.’ T’rus malah diajak perawatan ---“


“Iya, makanya AA kan ngebut kerja biar harus terbang sana – sini juga. Biar paling engga, sebulan sebelum hari H, AA udah bisa total ngurusin pernikahan AA sama Val ---“


♣♣♣


Ting Tong!


“Biar Lena yang bukain.”


“Bunda lagi nunggu tamu? ....”


“Teu ....”


“Terus itu yang dateng siapa? ---“


“Teu terang ....”


♣♣♣


“Siapa Len?”


“Rara sama om Alam dan Tante Yenni.”


“Rara? ....”


“Kenapa ‘A? ....”


“Ga kenapa – kenapa sih, cuma aneh aja.”


“Anehnya?”


“Ya urusan AA sama perusahaan tempat kerja Rara yang kerjasama dengan R Corp. udah AA selesaikan waktu ke Dubai sebelum AA ke Perancis sama Massachussets.”


“Mungkin Rara ada urusan kerjaan yang ga ada hubungannya dengan perusahaan keluarganya Alva kali, ‘A? ....”


“Iya kali.”


♣♣♣


“Iya, saya tau kalau pendonor jantung Bunda adalah Tante Ranti.”


Adalah Kafeel Adiwangsa yang bicara, ketika tiga orang yang berlabel keluarga dari almarhum ayahnya, yang mana satu – satunya keluarga dari almarhum sang ayah yang masih Kafeel akui sebagai keluarga atas salah satu anggota dari keluarga tersebut telah berjasa kepada ibunda Kafeel dan adiknya, ketika Kafeel sedang berada jauh dari keduanya demi menguak misteri kematian ayahnya berikut mengembalikan nama baik beliau yang sudah tiada, Arya Adiwangsa.


“Dan Ranti adalah adik saya.”


“Dan maksud Om bicara seperti itu?”


“Dia telah berderma pada ibumu dengan memberikan jantungnya agar ibumu dapat hidup sampai sekarang. Untuk itu ibumu berhutang nyawa pada Ranti, yang mana artinya dia juga berhutang nyawa pada kami yang mengijinkan Ranti mendonorkan jantungnya untuk ibu kamu.”


“Lalu apa yang Om inginkan? ---“


“Balas budi. Dengan kamu menikahi putri kami ....”


Dimana ucapan dari seorang perempuan paruh baya yang mengambil alih untuk menjawab, membuat Kafeel terkejut bukan main berikut juga ibu dan adiknya.


“Apa Om dan Tante sedang mabuk?”


♣♣♣


“Rara diperkosa dan kini ia sedang mengandung anak dari pemerkosa itu.”


“Lalu apa hubungannya denganku?! ---“


“Rara menolak menggugurkan anak itu ---“


“Bukan urusan AA itu sih ....”


“Diam kamu, Lena. Ini bukan ranah kamu mencampuri. Ini urusan kami dengan kakak dan ibumu ---“


“Ya justru karena ---“


“Lena, udah ---“


“Tapi ‘A ---“


“Dengar, saya prihatin dengan apa yang menimpa Rara. Saya memang peduli dan menyayanginya. Tapi untuk menikahinya, itu tidak mungkin. Dan saya tegas menolak ....”


“Baik, kalau begitu kembalikan jantung Ranti ---“


“Kalian sudah gila,” geram Kafeel.


♣♣♣


“Tante Ranti yang mendonorkan jantungnya untuk Bunda, tidak ada urusannya dengan kalian!”


“Tentu ada karena dia adikku!”


“Dengar ya, antara kamu, Magda mengembalikan jantung Ranti pada kami, atau kamu perintahkan anak laki – laki kamu ini untuk menikahi Rara! Atau kami akan membuat kalian semua membusuk di penjara atas tuduhan mencuri organ tubuh orang lain! ---“


“Yenni ---“


“Tidak ada perjanjian tertulis yang memberitahukan jika Ranti dengan sukarela mendonorkan jantungnya ke kamu, di saat – saat terakhirnya. Dan untuk itu, sebagai keluarganya, kami bisa menuntut kamu dan dua anak kamu ini! Ngerti kamu?!”


“Jangan berani mengancam ibuku!”


“Inget Magda, waktu anak kamu ini ga ada rimbanya, kamu hidup sama siapa di Malaysia?! Kalau Ranti tidak memohon – mohon padaku, kamu dan anak kamu ini sudah jadi gembel! Bisa – bisa si Lena ini juga udah melacur demi kebutuhan hidup ---“


“DIAM!”


“AA ---“


“Kami sudah mengantongi semua bukti yang akan membuktikan bahwa kalian telah mencuri jantung Ranti. Dan seperti yang saya bilang tadi, jika kamu menolak untuk menikahi Rara, hari ini juga jantung Ranti mau kami ambil kembali! Atau kami buat kalian semua membusuk di penjara! Kamu dan anak perempuan kamu terutama, Magda! ---“


“Dan ingat Magda, di saat –saat terakhir Ranti kamu yang ada bersamanya. Bisa jadi kamu sengaja membunuh dia demi mendapatkan jantungnya, atau kamu telah menghasutnya sedemikian rupa ....”


“Demi Allah, aku ga pernah meminta Ranti mendonorkan jantungnya untuk aku ....”


“Tapi jika kami mengatakan pada polisi tentang alibi kami, kamu akan mendekam di penjara, Magda .... dan atas nama Ranti yang sudah berkewarganegaraan Malaysia, maka kamu akan diadili di sana. Tau kan kalau hukum di sana lebih tegas dari pada di negara ini?? ---“


“BUNDA!!!!!”


♣♣♣

__ADS_1


“’A .... bagaimana ini? ....”


“AA akan coba bernegosiasi dengan mereka, Bun ....”


“Kami tidak punya waktu untuk bernegosiasi ---“


“Kalian benar – benar tidak punya tata krama ....”


Kafeel menggeram kesal menatap dua orang yang tak lama menyusul ke kamar ibundanya yang tadi limbung, dan Kafeel langsung membawa sang bunda ke kamar yang bersangkutan.


“Kami menginginkan jawaban sekarang juga ....mau menikahi Rara, atau apa yang kami katakan tadi akan kami realisasikan dengan segera ---“


“Tapi Kafeel akan menikah ---“


“Kami tidak peduli ....”


♣♣♣


“Dengar ya Kafeel, kamu seharusnya ga bikin ini susah. Kamu itu pernah menelantarkan ibu dan adik kamu. Lalu kami yang mengurusnya. Ibumu terikat janji pada kami akan memperlakukan Rara seperti anaknya sendiri. Bukankah seharusnya kamu membela kepentingan dan kebahagiaan Rara sebagai bentuk balas budi kamu pada kami, Magda? ....”


“Iya, tapi ---“


“Jika bukan karena kami dan Ranti, kamu tidak mungkin bisa berkumpul dengan ibu dan adik kamu seperti sekarang ....”


“SUDAH DIAM!”


“Kamu orang yang tahu balas budi kan, Magda? ---“


“Kami tau dengan siapa kamu mau menikah, Kafeel. Kalau kami mau, seharusnya tadi kami langsung mendatangi rumah calon istri kamu itu lalu kami akan bilang kalau kamu telah memperkosa Rara ---“


“Calon istriku dan keluarganya tidak akan percaya begitu saja ---“


“Tapi kamera CCTV apartemen Rara di Dubai menangkap kamu pernah mendatanginya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalamnya kan? Sekalipun kamu hanya datang bertandang ....”


‘SIALAN!’


“Jadi berikan keputusan pada kami sekarang juga.”


“Kalian mau jantung Ranti, ambil lah! Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga! Keluarkan jantung Ranti dari tubuhku saja, daripada anakku harus mengorbankan kebahagiaannya .... Allah ---“


“BUNDA!”


♣♣♣


“Tanda tangani ---“


“Apa ini???? ---“


“Surat perjanjian sebagai jaminan agar kamu tidak ingkar untuk menikahi Rara ---“


“Kalian benar – benar manusia menjijikkan! ....”


“Terserah, yang penting anak kami bahagia ....”


♣♣♣


Bahagia dari satu orang atas namanya yang diminta dengan memaksa,


“Gue ga sangka lo rendahan banget ya Ra ternyata?! .... Demi menjerat kakak gue lo ngelakuin cara yang rendahan!”


“Aku memang di perkosa, Lena ---“


“Halah! Gue tau lo ada rasa sama AA! Dan kalaupun lo benar hamil, gue rasa bukan karena lo diperkosa tapi karena one night stand!”


“Jangan sembarangan kamu Lena!”


“Halah! B – I – T – C – H! Lo! Murahan!”


“Lena ....”


“Eh, A – A ---“


“Barusan tidur, ‘A. Agak panas badan Bunda.”


“Ya udah ---“


“’A ....”


“Lo boleh menang dengan berhasil bikin kakak gue nikahin lo. Tapi jangan harap dia mau nganggep cewek ga tau malu kayak lo sebagai istrinya ....”


“Lena!”


“Lo mau teriak kayak apa, ga ada yang belain lo di sini!”


“Tapi gue bisa ngadu sama orang tua gue kalau gue diperlakukan semena – mena di sini dan ancaman mereka bisa gue buat berlaku lagi ....”


“Emang dasar cewek sialan lo!”


♣♣♣


Tentang dia, yang remuk redam hatinya.


Dan satu nama selalu terucap dalam igaunya.


‘Sa – yang Kak Kafeel ....’


‘Sa – yang Val juga ....’


‘Peluk? ---‘


‘Sini ---‘


‘I love you, Kak ---‘


‘Love you more, Val ....’


Dia, Kafeel Adiwangsa yang sejak pernikahannya, ia tersenyum di kala mimpi tentang seseorang itu datang memeluknya dalam mimpi.


“Val ....”


Dan seperti seringnya, mimpi itu dapat membuatnya mengigau menyebutkan satu nama dari mulutnya. Dengan sudut bibir tertarik, Kafeel bergerak dalam tidurnya.


Kafeel, sejak ia terpaksa mengambil keputusan atas nama terpojok lalu dengan hati yang sangat berat melepaskan gadis kecil yang ia cintai dan memberinya luka yang cukup dalam --- Kafeel kembali menjadi akrab dengan alkohol.


Bahkan, minuman tersebut Kafeel konsumsi bak minum air putih saja.


Seperti juga dengan hari ini, Kafeel jatuh tertidur setelah ia meminum setengah botol minuman beralkohol.


Tapi tidak semabuk itu untuk tidak mengendusi, jika ia merasakan bahwa bukan bantal guling yang tengah ia dekap saat ini.


“Val? ---“


“’A ---“


“LO?! ....”


Kafeel memekik tajam, saat ia membuka mata untuk memastikan bahwasanya adalah seseorang yang berada dalam pelukannya, setelah ia memastikan apakah dirinya sedang bermimpi atau tidak, dengan menyalakan lampu kamarnya.


♣♣♣


Yang mana benar, Kafeel tidak sedang bermimpi jika beberapa detik lalu ada seseorang yang berada dalam dekapannya.


Namun orang itu bukanlah gadis yang ia cintai dan rindukan, sampai rasanya hampir mati karena sudah keras dilarang untuk mendekati gadis tercintanya itu.


“Gue udah tegaskan sama lo ya, Ra! Bagi gue, lo hanya istri di atas kertas!!!”


BLAM!


Kafeel keluar dengan kesal dari kamarnya sambil membanting pintu.

__ADS_1


♣♣♣


Mengabaikan Bunda dan adiknya yang memanggil saat Kafeel telah hendak membuka pintu depan rumahnya, Kafeel mengambil motornya dari garasi yang kemudian ia tunggangi keluar dari rumahnya. Memacunya dengan ngebut ke arah satu tempat yang akhir – akhir ini sering Kafeel datangi.


“Wiski!”


Yang Kafeel katakan pada seorang bartender di hadapannya sekarang.


“No, bukan seloki. Tapi sebotol.”


Kafeel lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya, yang ia berikan pada bartender di hadapannya itu.


Dimana bartender tersebut mengambil kartu dan menggeseknya ke sebuah mesin EDC lalu mengembalikan kartu tersebut pada Kafeel dan minuman beralkohol pesanan Kafeel pun ia suguhkan.


‘I miss you so bad, Val ....’


Yang Kafeel lirihkan, ketika alkohol mulai menguasai dirinya.


♣♣♣


“Satu botol lagi!”


Kafeel yang sudah mulai mabuk itu meminta minuman yang sama seperti minuman yang telah ia habiskan dalam waktu singkat.


Setelah membayar dan mendapatkan minuman pesanannya Kafeel beranjak dari tempatnya, kemudian di antar oleh satu unit mobil dari pihak klub yang Kafeel datangi atas dasar pihak klub tersebut mengetahui identitas Kafeel yang sudah menjadi tamu VIP di klub tersebut.


Kafeel yang sudah setengah mabuk itu, iya – iya saja saat ada staf klub yang menghampirinya dan mengatakan jika ia akan diantar pulang dengan mobil akomodasi eksklusif klub tersebut dan lupa padahal dia datang dengan menggunakan sepeda motor.


♣♣♣


“LO! Ngapain masih ada di kamar gue, hah?! ....”


Kafeel yang sudah masuk karena Lena memang sudah rutin menunggui kakaknya pulang ke rumah setelah Kafeel sering mabuk – mabukan, memekik tajam ketika ia sudah masuk lagi ke kamarnya.


Gadis yang sedang terlelap di atas ranjangnya itu pun terbangun kaget dari tidurnya mendengar suara pekikan Kafeel.


“Rara ini istri AA .... Rara berhak ada di sini. Di kamar AA. Rara ga mau lagi tidur di kamar Lena. Rara tuh harusnya tidur di sini sama ---”


“Diem lo!”


Kafeel yang sedang dikuasai alkohol itu menukas tajam ucapan gadis yang telah menjadi istrinya itu.


“Keluar dari kamar gue sekarang juga!”


“Rara ga mau!”


Istri Kafeel itu memekik memberi penolakannya.


“Denger ya ‘A, AA itu harus memperlakukan Rara dengan baik. Rara udah cukup sabar menghadapi AA yang masa bodoh sama Rara .... Sekarang, suka ga suka, AA harus terima Rara, kalo engga ---“


“Lo ngancem gue? ....”


“Iya!”


Gadis bernama Rara itu berdiri di hadapan Kafeel dengan berani.


“Inget AA udah tanda tangan surat perjanjian kan? ---“


“Oh, surat perjanjian ya ....”


Kafeel menukas lagi ucapan Rara.


Kemudian mendekatkan dirinya pada Rara yang tersenyum manis, karena Kafeel mendekatkan wajahnya.


“A, Rara tau AA masih mencintai gadis yang namanya Valera itu ---“


PLAK!


“AKH!”


“Jangan pernah berani lo sebut nama perempuan tercinta gue dengan mulut busuk lo itu!”


Kafeel yang dikuasai alkohol itu, menampar wajah Rara dengan kencangnya hingga sampai bibir gadis itu terluka, selain terjerembab ke atas ranjang.


Kafeel kemudian naik ke atas ranjang, dimana Rara sedang memandanginya ketakutan sambil memegangi pipinya. “Aku akan bilang sama Papa dan Mama tentang kelakuan AA ini ---“


“Oh ya? ....”


“Iya!” tukas Rara. “Jadi kalau AA ga mau Bunda kenapa – kenapa, sebaiknya AA jaga sikap AA sama Rara. Dan inget, di surat perjanjian ---“


“Di surat perjanjian gue dan orang tua bangsat lo itu ga tercantum bagaimana gue harus memperlakukan lo.”


Kafeel menggeram dengan mencengkram dagu Rara dengan kuat. Lalu Kafeel tersenyum miring.


“Gue hanya disuruh menikahi lo, dan memberi status pada calon anak haram lo itu, kan? ....”


“’A ....” Rara melirih, cengkraman tangan Kafeel kian kuat di bahunya.


“Lo udah membuat gue menyakiti orang yang paling gue cintai dan mencintai gue, Maura Cahyani .... Lo membuat gue menjalani hari – hari gue yang terasa kayak neraka ....”


Kafeel mengetatkan rahangnya.


“Jadi akan gue bagi neraka itu sama lo.”


Kafeel menyeringai kemudian, dan Rara dibuat bergidik karenanya.


PRAAK!!


Emosi yang merasuki Kafeel membuatnya yang melihat keberadaan ponsel Rara di atas nakas samping tempat tidur, langsung meraih ponsel tersebut dan ia lempar dengan kuat ke lantai lalu Kafeel injak – injak.


“’A!”


“AA!”


“BUKA GUDANG LENA!”


Alkohol yang menguasai dirinya, membuat Kafeel gelap mata.


“AA .... jangan begini A .... kasihan ---“


“Bunda tidak perlu mengasihani perempuan yang sama ga ada otak macem orang tuanya!”


“Tapi, A ---“


“Bun ....”


Adik perempuan Kafeel kemudian mengkode sang ibu agar diam saja dahulu untuk sementara ini, karena Lena sadar jika kakaknya itu sedang di bawah pengaruh alkohol.


Lalu Rara yang sudah di seret masuk ke dalam gudang rumahnya bahkan diikat dan disumpal mulutnya oleh Kafeel, Lena pikir mungkin karena gadis itu memicu emosi kakaknya yang sedang dikuasai alkohol itu.


Namun, ketika esok hari telah tiba dan Kafeel sudah tak lagi dalam pengaruh alkohol,


“’A ....”


Bundanya Kafeel bersuara ketika mengantarkan makanan untuk anak sulungnya yang sudah sangat hobi mengurung diri di kamarnya.


“AA inget ga, kalo AA udah ngurung Rara di gudang semalem? ....”


“Inget.”


“Bunda, bawa Rara keluar dari sana ya?... nanti Bunda nasehatin dia supaya ---“


“Mulai semalam, itu kamar barunya, Bun ...” tukas Kafeel datar. “Aku menderita Bun. Dan aku akan buat dia merasakan penderitaan sepertiku juga.”


Lalu dingin berbicara.


“Aku ga punya jalan kembali untuk bersama dengan Val, karena dia. Dan selama itu, api yang sudah dia dan orang tuanya berikan padaku, akan aku buat jadi neraka untuk Rara ... seperti halnya aku menanggung ini semua untuk Bunda, atas nama orang tua. Jadi seperti itu juga Rara harus menanggung perlakuanku untuk kelakuan orang tuanya ....”


♣♣♣♣♣♣

__ADS_1


To be continue .......


__ADS_2