HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BANTAI SEKARANG!


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Terima kasih masih setia baca yawgh.


Noted: Seperti di episode sebelumnya, ada banyak umpatan di episode ini. Dimana hal itu disesuaikan dengan jalan cerita yang ada.


Bukannya maksud ngajarin yang ga bae, tapi penyesuaian. ( Inget )


So, jangan menjudge authornya. Woles aja, ngogheeeyyy? ..


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Jangan salahkan kami yang tak berbelas kasih. Salahkan diri kalian yang mencari mati.”



Jakarta, Indonesia,


Belasan orang sedang berkumpul di sebuah tempat tersembunyi yang dinamakan ‘the playground’.


“Mereka udah termakan umpan.”


Varen yang bicara.


“Lo dan Bagas lanjut sering kelihatan bareng biar mereka berpikir kalau lo minta backup dari dia buat ngelindungin lo.”


“Oke!”


“Aro, Rery, aku tidak memaksa kalian untuk ikut, tapi jikapun ikut silahkan saja.”


Varen yang mendominasi pembicaraaan.


“Jika kalian ikut, means Zio pasti minta ikut begitu juga teman-teman satu klub kalian----“


“Pasti----“


“Tapi jangan paksa yang tidak ingin ikut, karena kita punya ratusan orang yang bisa dengan cepat dikumpulkan----“


“Kami ga pernah maksa-maksa orang kan, Bang?...” tukas Rery.


Varen mengangguk sekali.


“Mudah saja untuk menghancurkan para berandalan itu dengan orang-orang yang gue punya.”


Lalu Varen kembali berbicara.


“Tapi berhubung kalian punya dendam masing-masing pada para berandalan itu, so lets do this dengan cara kalian, selain juga gue geram dengan apa yang menimpa Lena----“


“Sip! ...”


Suara sahutan kompak dari beberapa orang kemudian terdengar.


Varen kemudian lanjut bicara lagi. “Lo Gas, seperti yang gue bilang tadi,” ucap Varen pada Bagas.


Sambil Varen juga memandang pada Kafeel.


Bagas dan Kafeel mengangguk mengiyakan sekali lagi.


“Son, lo tau kan tugas lo tanpa harus gue jelaskan panjang lebar? –“


“Selain tim gue yang akan siaga di dekat tempat eksekusi, ga akan ada petugas lain yang ngerecok.”


“Uncle Rico, Uncle Sean dan Uncle Lingga udah urus soal itu Bang. Ops Sunyi Senyap gini mereka lebih paham pasti.”


Nathan menimpali ucapan Sony, bestienya itu.


Varen pun mengangguk.


“Ann, kamu tetap awasi jika ada sinyal ponsel di dekat para berandalan itu. Karena pasti ada kemungkinan mereka memiliki ponsel baru setelah kamu membuat rusak semua ponsel mereka ...”


“Okay Abang!-“


“Ada kemungkinan mereka akan mencari orang-orang yang pernah berurusan dengan Bagas atau orang-orangnya di RR buat ikut serta ngabisin Bagas dan kelompoknya setelah tahu Kaka dekat dengan Bagas-“


“Kalau itu udah pasti ... Mereka mau nguasain RR dan gue sama anak-anak selalu matahin usahanya buat jualan di sana ...” tukas Bagas.


“Tapi makanya mereka banyak sekarang itu emang udah gabungan dari geng motor yang udah duluan pernah ribut sama kelompok Kak Bagas, kalo dari pengamatan kami ...” Aro bersuara, sambil menunjuk dirinya dan Rery.


“Siapa Ro? ...”


“Gelo ...”


Bagas lalu berdehem remeh setelah mendengar jawaban Aro.


“So tunjuk titik mana kalian mau berada di bangunan itu ...” ucap Varen sambil menunjuk pada sebuah sketsa gedung di pantulan bluprint elektronik dari sebuah proyektor canggih. “Kepung saat dipastikan tidak ada anggota mereka yang tersisa di luar.”



Saat ini,

__ADS_1


Jika dilihat dari ketinggian tertentu pada sebuah lokasi yang merupakan bangunan terbengkalai di daerah pinggiran kota yang sepi jauh dari hiruk pikuk, akan tampak sekitar kurang lebih ratusan orang sedang berdiri di bagian tengah bangunan tersebut. Dimana ada satu kelompok kecil orang yang nampak dikepung oleh kelompok yang berkali lipat jumlahnya.


“Mau mati banyak bacot lu! –“


Seruan bernada emosi terdengar dari salah satu orang dari pihak yang mengepung.


“Lo semua yang bakal mati, para bangs*t sampah masyarakat! Manusia-manusia rendahan!”


Lalu sahutan tidak mau kalah dan tak gentar kemudian langsung terdengar sebagai balasan seruan yang berupa ancaman tadi, dari pihak mereka yang sedang dikepung. Dimana sahutan merendahkan itu dilontarkan dengan tajam oleh Kafeel.


"BANGS*T!" dan kembali seruan balik yang berupa umpatan keluar dari kubu pengepung saat ini.


Dengan wajah yang diliputi ketidaksenangan berikut amarah kemudian bersahutan dari pihak kelompok besar yang sedang mengepung satu kelompok kecil, dimana ada Kafeel, Bagas dan Zio diantaranya.


Ketiganya berikut mereka yang bersama Kafeel, Bagas dan Zio sudah bersiap dengan ancang-ancang kemungkinan untuk sebuah serangan yang akan segera orang-orang yang mengepung mereka itu lancarkan.


"EMANG CARI MATI LO!"


Dan lagi-lagi seruan emosi terdengar dimana seruan itu tertuju pada Kafeel dan mereka yang bersamanya saat ini.


"SERANG!" Satu orang dari pihak lawan dengan ikat kepala langsung berseru tanpa basa - basi.


“TUNGGU!”


Suara dari seorang pria yang berdiri di paling depan kelompok yang sedang mengepung Kafeel dan rombongannya, langsung terdengar menyela kala orang disampingnya menyuarakan dengan lantang untuk segera menyerang Kafeel dan mereka yang bersamanya.


“Spesial buat lo, kakaknya Lena ... gue kasih lo pilihan. Gue akan bebasin lo untuk ga jadi bulan-bulanan kelompok gue ini dengan dua syarat-“ ucap pria yang kini berdiri lebih dekat dengan Kafeel. “Satu, lo telfon ade lo itu dan suruh dia dateng kesini sekarang ... Dua, lo sujud minta maaf sama gue-“


Kafeel sontak mendengus geli. “Lo, mabok?” ucap Kafeel kemudian dengan nada dan tatapan mengejek, pada pria yang ada dihadapannya itu. Yang orangnya langsung menampakkan cengiran menjijikkan di mata Kafeel.


“Gue udah kasih kesempatan lo buat selamet padahal,” kata pria yang merupakan ketua dari sekelompok orang dengan jumlah besar tersebut. “Sayang banget-“


“Bacod lo kebanyakan. Cepetan mau ngapain, gue mau molor!” Bagas menyela malas, sambil melihat satu-satu mereka yang mengepungnya dan mereka yang bersamanya.


“Mimpi lo ketinggian. Bangun. Kalo jatoh bukan luka lagi. Tapi mati,” sinis Kafeel.



“Gue anggap jawaban lo tadi sebagai penolakan ...” ucap Pria yang merupakan ketua geng motor kriminal tersebut. “Lo sendiri yang mau mati!”


Si ketua geng motor kriminal itu menyentak tajam pada Kafeel yang nampak santai saja.


Dimana nampak juga ia memberikan kode pada para perusuh anak buahnya itu untuk bersiap.


“Mulut lo bau ******,” hina Kafeel kemudian pada si ketua geng motor kriminal yang sudah membawa pasukan dengan senjata khas tawuran di tangan mereka.


Dimana si ketua geng motor kriminal tersebut itu langsung geram dan mengepalkan kedua tangan yang kemudian dia angkat dan membuat gestur untuk menghantam Kafeel, selepas kata hinaan keluar dari mulut Kafeel padanya.


Pria itu sudah siap menghantam Kafeel.


Bugh!


Sebuah serangan atas pukulan kencang di perut membuat korbannya terhuyung.


Dimana pelaku penyerangan itu kini menyeringai remeh. “Cih! Ketua kalian pecundang!”


Kafeel mengeluarkan ejekan setelah memberikan satu pukulan bringas di perut pria yang sudah menodai adiknya itu.


“SERANG SEKARANG!”


Satu orang yang mungkin wakil dari pria brengsek ketua geng motor kriminal itu kembali berseru lantang setelah ketua mereka terhuyung cukup keras barusan akibat disapa perutnya oleh bogem mentahnya Kafeel.


VROOMMM ...


GRUUNNGG ..


Namun baru saja para perusuh yang sudah mengepung Kafeel dan mereka yang bersamanya itu hendak maju untuk menyerang Kafeel-Bagas dan Zio berikut teman-teman Bagas dan Zio yang sudah siap sedia, suara deruman mobil dan derungan motor terdengar dari arah masuk bangunan terbengkalai tempat sekelompok orang dalam jumlah banyak itu berada.


Sebuah mobil sport langka nampak memasuki kerumunan yang membelah otomatis, dengan sebuah mobil jeep kap terbuka di belakangnya.


Lalu beberapa motor sport ber CC besar juga nampak di kerumunan yang baru datang itu, melaju teratur dalam formasi di belakang dua mobil di depannya.


Dan didetik berikutnya, sebuah busur panah berapi melesat dengan cepat ke arah beberapa bendera yang sedang berkibar dengan terikat di beberapa motor.


Dimana pada bendera tersebut tercetak lambang dari geng motor kriminal tersebut.


“Apa – apaan??!!-“


Orang-orang dari kelompok yang sedang mengepung Kafeel dan rombongan sontak bersuara, kala bendera yang tercetak lambang geng mereka itu terbakar dalam waktu yang hampir bersamaan.


“MATIIN APINYA!” Pekikan histeris dari beberapa orang pun terdengar, sementara beberapa lainnya langsung mengumpat nyaring dan tajam.


“BANGS*T!”


“BERANI-BERANINYA LO!”


“Cih!”


Dia yang masih memegang busur panah dan berdiri di sebuah mobil jeep tanpa kap atas itu kemudian berdecih remeh dan sangat sinis.

__ADS_1


“Ganti gambarnya pakai gambar babi! Atau engga kecoak!” ucap dia yang mampu memanah dengan cepatnya. “Kelompok pecundang banyak gaya!”


Hinaan berlanjut dari si pemanah ahli yang kemudian loncat turun dari belakang mobil jeep yang ia tumpangi setelah meletakkan sembarang busur yang tadi ia pegang.


“BOCIL BANYAK GAYA LO!”


“Of course lah. Tampan. Lo sama jempol kaki gue pun masih lebih tampan jempol kaki gue!”


“Jangan lo ajak ngomong dia, Ry. Busuk banget bau mulutnya sampe ke hidung gue,” ucap seseorang yang baru saja turun dari motornya.


Dan dia yang diajak bicara oleh seorang remaja pria yang baru turun dari motor itu pun terkekeh.


Adalah Rery dan Aro yang kini sudah berdiri hampir berjajar dengan Kafeel, Bagas dan Zio. Dimana keduanya berdiri tak gentar di hadapan para musuh.


“HAHAHA!!”


Lalu tawa menggelegar terdengar dari ketua pihak lawan.


“ANGGOTA LO PADA JUALAN CILOK GAS SAMPE BOCIL-BOCIL LO BAWA KESINI???”


Dan tawa mengejek langsung terdengar dari kesemua anggota geng musuh setelah ketuanya mengeluarkan kalimat ejekan dengan memandang geli pada Bagas yang menyungging miring mendengar ejekan pihak lawan.


“LUMAYAN JUGA TUH GAES MOBIL SAMA MOTOR MEREKA YANG BISA KITA EMBAT HABIS KITA BANTAI INI MEREKA!”


“YOI!!” sahutan serempak pun terdengar setelah para anggota geng motor kriminal itu mendengar ketua mereka bicara lagi.


“Yakin bisa ngebantai kita orang?”


Rery menyahut remeh, hingga membuat ketua geng motor berikut anggotanya kini terlihat geram.


Lalu si ketua geng itu membuang ludahnya kasar dan satu orang sudah maju mendekat pada Rery.


“MANALAGI ORANG-ORANG KALIAN?! SEGINI DOANG?????!!!!!”


“TUH YANG DIDALEM MOBIL CEPER SIAPA GA KELUAR KELUAR?! BAPAK LO?!”


“Bapak gue ga ada waktu ngurusin air kencing babi macam kalian! ..”


Rery dengan cepat menyambar, dan dia yang dari tadi mendominasi pembicaraan selain ketuanya --- dengan cepat meraih kerah jaket kulit yang Rery kenakan.


Didetik dimana ..


“AAAARRGGHH!! ..”


Suara pekikan bak lolongan terdengar memulas telinga.


“Lancang.”


Suara bariton terdengar bersamaan dengan sosoknya yang tanpa disadari oleh pihak musuh tahu-tahu sudah ada di dekat Rery dan pria yang memegangi kerah jaket Rery dengan kencang.


“Berani-beraninya sentuh adik gue dengan tangan kotor lo,” ucap dia gerangan yang keluar dari sebuah supercar berwarna hitam tanpa disadari oleh pihak lawan kala mereka terfokus pada Rery yang melontarkan ejekan.


Dia ..


Alvarend Aditama Adjieran Smith.


Gerangan yang barusan berbicara, dengan dua katana di kedua tangannya.


Yang mana satu dari katana yang dipegang Varen, telah terbubuhi warna merah.


Warna merah dari darah orang yang melolong kesakitan dengan amat sangat, karena tangannya ditebas Varen dengan katana sangat tajam miliknya.


Dimana Varen kemudian maju dengan santai, sambil menyeret katana yang ia pegang dengan kedua tangannya itu—yang Varen gesekkan ke permukaan bersemen di bawah kakinya hingga membuat bunyi yang sedikit pengang di telinga.


Varen berhenti di tengah area luas macam lapangan dari sebuah bangunan terbengkalai, berdiri diantara kubunya, dan pihak lawan yang langsung mundur beberapa langkah, ketika Varen menebas tangan satu anggota mereka dengan santainya.


Yang mana orang yang tangannya ditebas Varen itu langsung diseret terpisah dari kelompoknya, oleh orang dari kubu Varen.


Varen berdiri dengan tegaknya menatap ketua geng motor kriminal yang terlihat syok seperti para anggotanya yang lain.


Yang kini sedang menatap Varen dengan nampak bergidik ngeri, meski Varen nampak tenang. Namun aura kegelapan yang terlihat dari sorot mata dan pembawaan Varen,cukup mengintimidasi mereka yang sedang ditatap Varen satu per satu setelah Varen menyeringai menatap ketua pihak lawan.


Seringai Varen hanya sekejap saja.


Karena wajah Varen kini sudah mengetat, berikut sorot mata tajamnya kian kentara.


Dimana ada kilatan sorot mata iblis di sana.


Satu tangan Varen yang memegang katana dengan simbahan darah di permukaan tajamnya, terarah ke pihak lawan.


“Maju, sekarang gue mau kepala.”


♥♥


To be continue ......


Selamat Tahun Baru 2023 ya reader emak yang blaem - blaem semua .....


Semoga tercapai segala cita - cita kita semua di tahun ini.

__ADS_1


Aamiin .....


__ADS_2