HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 241


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Jangan lupa dukungannya.


Baca dulu tapi episodenya, okeh?


Tenkyu


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris....


Pada sebuah ruangan, dimana mereka yang sedang berada di mansion tersebut sedang berkumpul—lalu dikejutkan oleh sebuah ucapan dari seseorang, yakni Mika.


Yang mana,


Gluk!


Seseorang yang saking terkejutnya mendengar ucapan Mika itu sampai menelan satu kudapan yang seharusnya ia kunyah dulu sebelum ia lewatkan ke tenggorokannya.


Makanya, dia yang bersangkutan langsung saja terbatuk dengan kerasnya ketika satu kudapan dengan biskuit bulat bertopingkan butter dengan telur xavier—smoked salmon lengkap dengan garnishnya itu, masuk utuh ke tengggorokannya.


Adalah Arya yang terbatuk itu, saking dia terkejut ketika Mika memperjelas ucapan dari kata-kata yang Mika ucapkan sebelumnya saat si judesgirl itu diledek dan dicecar oleh beberapa orang yang sedang bersamanya dan Arya saat ini.


Lalu pertanyaan yang adalah  jawaban dari Mika itu sampai membuat Arya tersedak tajam, keluar dari mulut Dad R.


“Kalau memang sudah cinta, andai Arya melamarmu setelah acara Val, kau mau? ...”


Yang sempat di sergah oleh Arya pertanyaan Dad R pada Mika itu.


“Daad ... Please deh, jangan bikin Mika stres lagi.”


Perkatan Arya sebelum ia memasukkan sepotong canape ke mulutnya, dengan Arya yang juga membatin, ‘Lagian gue udah tau jawabannya ..’


Begitu hati Arya bermonolog.


Ga mau karena belum siap. Pastilah itu jawaban Mika yang Arya pikir akan Mika utarakan.


Tapi ..


“Mau ----“


‘Apa gue bi ...’


Yang Arya katakan dalam hatinya ketika Mika bersuara untuk menjawab pertanyaan Dad R.


Hingga kemudian Arya menyadari sesuatu dalam jawaban yang Mika utarakan barusan.


‘Eh? ...’ Hati Arya yang terkesiap. Namun tidak langsung bertanya, karena sepotong canape sudah masuk ke mulutnya.


Arya hanya memandangi Mika penuh tanda tanya dengan spontan serta terdiam. Bak sedang terkesima. Dimana Mika balas memandang Arya sambil ia bilang,


“Kalau memang benar dia serius, aku mau kalau memang Arya melamarku setelah pernikahan Val dan Kak Kaf nanti ...” tutur Mika yang memandang Arya penuh arti.


Dan ya,  “Ohok! Ohok!”


Arya kelolodan canape yang bulat – bulat tertelan masuk ke dalam tenggorokannya.


“Batuk Pa Aji? ...” celetuk Nathan.



“Pelan – pelan dong, Ar,” ucap Mika sambil mengelus punggung Arya dengan pelan, lalu mengambilkan juga minuman dalam cangkir yang memang disediakan untuk Arya seperti yang lainnya.


“Yang ... yang ...”


“Have a drink first ( Minum dulu ), Arya ...” Gappa menegur Arya, yang nampak sedikit kesulitan untuk bicara selain tergesa hendak bertanya pada Mika.


Arya mengangguk menanggapi teguran Gappa padanya itu, lalu menerima cangkir yang disodorkan Mika padanya dan segera meminum minuman di dalamnya perlahan.


Untung aja biskuit yang berupa cracker yang menjadi dasar canape yang sliding tanpa sengaja ke tenggorokannya itu mudah melemas saat terkena teh hangat dan topping atasnya bukan berupa potongan buah atau udang sebiji.


Melainkan telur ikan langka nan lembut serta salmon asap setengah matang yang juga mudah sliding dari tenggorokan ke lambung setelah di dorong oleh teh hangat secangkir, jadi resiko masuk ICU gara – gara keselek, tidak di alami Arya.


“Makasih, Mi ...”


Arya berucap pada Mika, ketika ia selesai meneguk seluruh isi dalam cangkirnya.



Mika tersenyum dan mengangguk pada Arya sambil mengambil alih cangkir yang dipegang pacar recehnya itu untuk ia letakkan kembali di atas meja. “Aduh!” namun tak berselang lama Mika memekik kecil.


Bahkan cangkir yang dipegang Mika hampir saja terlepas dari pegangannya, karena Arya mencengkram tiba – tiba kedua lengan Mika yang orangnya langsung dibuat Arya berhadapan dengannya. “Aduh!” gantian Arya yang memekik kecil seraya mengaduh.


“Jangan kasar sama perempuan!” karena sebuah toyoran tajam Arya dapatkan dari tangan papanya yang memandang sinis pada si recehboy itu. “Main rejam aja anak orang ----“


“Tau lo! ... minta diheadshot pala lo ini sama The Dragon Dads, berani kasar – kasar lo sama Mika? ...” timpal Sony sambil melayangkan toyoran ke kepala adiknya itu yang langsung cengengesan. Sementara sisanya mendengus geli.



“Iya maap. Ga ada maksud kasarin yayang juga ----“


“Ya coba aja lo berani kasarin ade gue. Cabut restu, balik lagi jadi sadboy,” sengit Nathan. “Pencabutan restu dari gue mewakili Abang dan  The Dads asal lo tau ----“


“Iyaa tauu. Gue ga ada maksud kasar juga sama Mika, elah! Sensi amat Kakak Tan – Tan. Gue tuh kaget ceritanya tadi ...”


“Apaan tau? ...”


Sony menimpali.


“Gaje emang ade lo, Son!”


“Enak aja bilang gue gaje. Gue ini bertanggung jawab dan dapat dipercaya ----“


“Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan ...” sambar Sony.


“Pinter banget bos walkman.”


Arya berseloroh seraya mengeluarkan ledekan untuk kakak lelakinya itu, lalu ia terkekeh.


“Kirain jago gombalin cewek doang waktu sekolah. Eh tau juga dasadarma, Pak Polisi ----“


“Bacod lo ah!” tukas Sony sambil menoyor kepala adiknya itu sambil ia berdiri dan pergi melipir bersama Nathan dan Rery ke ruang billiard kemudian.


Sementara itu para orang tua dan tetua serta generasi muda di bawah Nathan, Sony dan Arya mendengus geli dan terkekeh saja dengan interaksi Arya, Nathan dan Sony barusan.

__ADS_1


Termasuk juga Arya sendiri setelah mendapat toyoran yang kedua kali dari kakaknya.



Setelah kepergian Rery, Nathan dan Sony dari mereka yang sedang berkumpul di ruang santai keluarga dalam mansion The Adjieran Smith yang berada di London itu, Arya kembali lagi pada Mika yang sempat ia lepaskan lengannya saat sedang menanggapi celetukan Nathan dan Sony.


Lalu kembali Arya pegang kedua lengan Mika, yang orangnya kembali juga Arya hadapkan dengan dirinya.


Arya pun berkata,


“Yang tadi lo bilang, Mi ...”


Sambil Arya memandang lekat Mika dengan sorot mata yang menyiratkan harap.


“Ulang ----“


“Yang mana?”


“Tentang kesediaan lo,” jawab Arya. “Ulangi ...”


“Gue lupa ah kalimatnya.”


Mika mencoba mengelak, karena Mika sedang malu sendiri meski ia yakin dengan ucapannya perihal jika Arya ingin melamarnya setelah pernikahan Val dan Kak Kaf.


“Tapi lo sadar kan waktu ngucapin itu tadi? Kalo gue lamar habis acara akbarnya Val dan Kak Kaf ----“


Mika terdiam.


“Jawab dong, Mi.”


“Iya ----“


“Iya apa? ----“


“Iya sadar. Apa yang lo dengar dari mulut gue tadi benar.” Mika berujar. “Kalau memang lo serius, setelah nanti Val dan Kak Kaf menikah lo mau datang melamar gue ... Silahkan ...”


Arya pun tersenyum senang.


“Tapi udah pasti lo terima kan?”


Mika menjawab dengan anggukan malu – malu.


Arya kian merasa senang, dengan senyumnya yang melebar.


‘Akhirnya, uler sendok gue punya harapan ‘bisa’ nya tetep terus jadi ‘bisa’ ga keburu jadi air saking kelamaan nunggu ini Neng Judes minta dinikahin paling engga dilamar!’


Begitulah hati Arya bermonolog disela ia merengkuh Mika yang sudah mematahkan prinsipnya, walau baru bicara bersedia di lamar saja.


Untuk urusan menikah, lagi – lagi Arya akan bertumpu pada sabarnya. Toh kesabarannya perlahan membuahkan hasil yang kian membahagiakan dirinya.


“Tapi ga langsung nikah seperti Val dan Kak Kaf, ya Ar?” ucap Mika setelah ia dan Arya memisahkan diri dari lainnya yang juga sibuk dengan urusan mereka sendiri.


Arya tersenyum dan mengangguk.


“Pokoknya, semua terserah lo ...”


“Gue mempersiapkan diri dulu buat jadi istri ...” ucap Mika lagi.


“Iyaa Neng Mikaela. Pokoknya terserah lo. Asal jangan lama – lama banget belajarnya. Keburu gue karatan, ntar yang ada lo bikin alasan ga jadi mau nikah sama gue saking gue udah ketuaan ...”


Arya mengangguk tanpa ragu, sambil ia mengulas senyuman sehangat senyuman Mika. Tak seberapa lama Arya mendengus geli memandang pada Mika.


“Kenapa? ----“


“Ga pa – pa.”


“Kok senyum – senyum, trus ngeliatin guenya begitu? ...”


“Gue cuma ga nyangka ...”


“Soal? ...”


Mika bertanya pada Arya yang menatapnya dengan menopangkan kepala pada tangan yang Arya letakkan di pahanya.


“Gue akan ngeliat sisi kalem lo begini. Selain gue ga sangka, lo akan berubah secepat ini mengenai prinsip lo,” tutur Arya.


Mika pun langsung tersenyum lembut.


“Karena gue udah merasakan, momok kehilangan orang yang berarti buat gue itu--pria yang sudah memenuhi hati gue dengan segala rupa perasaan, yang mana banyak cinta dan sayang sudah berkumpul di sana buat dia--rasanya terlalu menyesakkan ...”


“Mi ----“


“Prinsip yang gue patahkan, bisa gue ganti dengan prinsip baru ... tapi rasa sakit akan kehilangan—andai hal buruk ... berita tentang lo itu benar terjadi Ar, akan membuat gue sulit untuk menyambut hari yang baru ----“



“Seegois apapun gue selama ini ke elo, ternyata gue udah punya rasa takut banget kehilangan lo, Ar.”


“Mi,” lirih Arya dengan rasa haru yang menyeruak di dadanya.


Sebagaimana Mika yang tidak menyangka akan dengan cepatnya merasa yakin jika dirinya telah jatuh cinta pada Arya, pria itu pun dilanda perasaan tidak menyangka yang sama.


Hanya berbeda sedikit saja poinnya.


Arya sungguh tidak menyangka, jika dirinya bisa mendengar pernyataan cinta Mika dengan seringnya.


Tak sangka juga, bisa mendengar Mika berkata dengan dalamnya.


Berikut fakta, jika Mika memang sudah sungguh mencintainya seperti halnya yang Arya rasa pada Mika terlebih dulu.


“Love you, Mi ... And thank you ... Makasih udah bikin gue bahagia terus – terusan begini.”



‘Cinta itu bagai air, mengalir dari hulu ke muara, dan manusia sebagai samuderanya.’



Dua pasang anak manusia sedang dilanda asmara dengan begitu kentaranya.


Yang satu pasang, sedang dilanda bahagia karena dalam beberapa bulan ke depan akan memiliki ikatan yang disahkan secara agama dan negara, sementara satu pasang lain sedang meniti untik mencapai tahap seperti pasangan yang satunya.


Val dan Kafeel, dimana keduanya sudah mulai lebih sibuk mempersiapkan semua untuk pernikahan mereka setelah waktu bergulir dengan cepatnya.


Enam bulan dari acara lamaran resminya Kafeel pada keluarga Val untuk meminang dara super ceriwis itu yang terlalu menggemaskan hingga membuat Kafeel tak tahan untuk segera Kafeel halalkan, kini sudah tinggal tiga bulan ke depan.

__ADS_1


“Calon penganten sedang mikirin apa?” Ada nenek Yuna yang sedang berkunjung London.


“Val sedang memikirkan, bagaimana jika acara ijab kabul Val dan Kak Kafeel dilakukan di sini saja.”


Val berucap antusias pada satu neneknya itu.


“Jangan aneh – aneh Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith,” satu nenek Val yang lain yang menimpali ucapan Val barusan.


Gamma.


“Acara ijab kabul kamu dan Kaka sudah diurus untuk dilangsungkan di Jakarta dan sudah rampung 60 persen.”


“Yaa ... Val kan berpikir jika ijab kabul di sini lalu digelar di Hampton pada taman indahnya itu. Lalu memesan ribuan tulip merah dari Keukenhof, rasanya akan unik sekali bukan? ----“


“Yang ada kamu lebih menyusahkan banyak orang ----“


“Mana ada susah sih Mom? Kan The Dads atau Gappa hanya tinggal bicara saja, maka ijin untuk menggunakan Hampton pasti akan didapatkan detik itu juga. Lalu ribuan tulip merah, jika dipesan sekarang untuk dihias di Hampton rasanya pasti akan disanggupi oleh kenalan kalian di Keukenhof pada hari bahagia Val itu, iya apa iya? ----“


“Ck!”


Gamma dan Mommy Ara berdecak, sementara Nenek Yuna terkekeh saja. Kalau Val sendiri sih woles aja dengan memasang tampang tanpa dosa.


“Kenapa ga sekalian aja ijab kabul di Keukenhofnya sekalian? ----“


“Kak Kafeel!!”


Val langsung saja loncat dari duduknya ketika suara yang sosoknya sudah muncul juga di balkon lantai dua pada mansion The Adjieran Smith yang berada di London itu ia dengar.


Kemudian Val langsung berhambur antusias pada Kafeel yang baru saja tiba di mansion tersebut. “Kak Kafeel kok tidak bilang mau datang ke sini?? ----“


“Kangen sama calon istri,” tukas Kafeel yang menerima dengan senang hati, Val yang berhambur manja padanya.


Kemudian kecupan ringan Kafeel daratkan di puncak kepala Val yang sedang merengkuh dan Kafeel rengkuh juga. “Sa—yang Kak Kafeel ----“


“Sayang—eh, cinta deh sama Val ----“


“Ih bucin.”


Val berseloroh gemas, dan Kafeel terkekeh dengan mengacak gemas juga rambut calon istri kecilnya itu.


Sementara Nenek Yuna, Gamma dan Mommy Ara yang sedang bersama Val itu tersenyum bahagia melihat keduanya yang nampak juga bahagia selain mesra.



Lalu di sisi lain, ada satu pasangan yang kian mesra juga interaksinya seperti halnya Val dan Kafeel. Walaupun efek bucin akut tidak nampak seperti halnya Val dan Kafeel, namun tetap, satu pasang dua sejoli ini terlihat jauh lebih mesra dari sebelum-sebelumnya.


Yakni, Mika dan Arya.


Dimana Mika tak lagi jaim jika Arya berlaku mesra dan romantis padanya di depan umum, termasuk juga interaksi mesra mereka di depan keluarga Mika.


Ataupun di depan keluarga Arya yang dalam tiga bulan terakhir, rutin mengunjungi Arya yang kini sudah berdomisili di London atas dasar pekerjaannya. Selain Arya juga memang melanjutkan kuliahnya untuk meraih titel di atas titel yang sudah Arya kantongi sebelumnya.


Atas dasar Arya ingin betul-betul memadankan dirinya dengan Mika, yang bahkan masih dalam tahap meraih titel pertamanya dalam pendidikan di tingkat yang lebih tinggi dari SMA.


“Acara Val dan Kak Kaf tinggal tiga bulan lagi, May ... Gue udah niat banget mau ngelamar lo,” ini Arya yang bicara, ketika lagi-lagi Arya akan pergi bertugas di tempat lain selain London dan di luar Inggris juga. “Lo, berubah pikiran atau engga kalau gue akan datang melamar lo satu bulan setelah pernikahannya Val dan Kak Kaf? ...”


“Engga.”


“Beneran ya? ----“


“Iya.”


Arya tersenyum lega, lalu merengkuh Mika.


“Besok sebelum gue jalan, kita cari cincin tunangan ya?”


“Iya ----“


“Iya apa? ----”


“Iya, Arya Narendra sayaang ----“


“Kurang mesra ----“


“Astagaa ----“


“Ulang ----“


“Ogah!”


“Cium sampe jontor nih ya? ----“


“Cabul dasar!”


Arya tergelak, lalu merengkuh Mika dengan gemas. “Love you, judesgirl yang udah berkurang judesnya ----“


“Love you too, recehboy, yang suka nyebelin kadang-kadang ...”


“Tapi cinta, kan?? ...” gemas Arya dengan mencubit ringan hidung Mika yang balas merengkuhnya.


“Banget ...” sahut Mika yang membuat Arya tersenyum bahagia, begitu juga Mika.



Bahagia tidak hanya meliputi Val dan Kafeel yang akan disatukan secara sah atas dasar cinta.


Namun bahagia juga melingkupi Arya dan Mika yang sambil membantu Val dan Kafeel menyiapkan pernikahan mereka seperti para anggota keluarga dari kedua belah pihak, juga sedang mempersiapkan acara mereka berdua walau baru sebatas lamaran sekaligus tunangan saja.


Bahagia dari hati yang berbunga-bunga mengudara dengan indah dan hangatnya, dengan segala rencana untuk meraih kebahagiaan yang kiranya sudah nampak di depan mata. Tidak hanya bagi Val dan Kafeel, tapi juga bagi Mika dan Arya.


Namun jika memang bahagia sedang meraja, lalu mengapa ada tangan yang menjabat dengan tangan lain yang pernah saling menggenggam, tapi genggaman itu terlepas. Seiring dengan ucapan,


“Gue harap lo bahagia, Mi ...”


Lalu,


“Begitu juga lo, Ar ----“


“Bye, Mikaela Finn Adjieran Smith ... Doa gue semoga lo selalu bahagia.”


“Bye, Ar ... Doa yang sama untuk lo juga.”


♥♥


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2