HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
FUN BOUND


__ADS_3

FUN BOUND


( Ikatan yang Menyenangkan )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia....


“Untuk hubungan cintamu dan Kak Kafeelmu itu, syarat dan ketentuan berlaku---“


Daddy R kembali berbicara pada Val, setelah anak-anaknya yang lain yang sedang berada bersamanya dengan beberapa anggota keluarga lainnya itu sudah selesai berhambur dari memeluknya.


“Ah Daddy, macam undian saja ada syarat dan ketentuan yang berlaku?” sahut Val.


Val pun merungut manja.


“Mau  Dad restui tidak?....” tukas Daddy R.


“Iya, iya.”


Val iya-iya aja deh pada keinginan sang Daddy kandung.


“Tapi syarat dan ketentuannya yang wajar-wajar saja loh ya Dad?....”


“Tergantung mood-ku.”


“Tidak boleh menyulitkan orang lain Dad. Berdosa tahu?” celoteh Val sambil cengengesan.


“Apa kamu sedang mengajari Dad mu ini, hem???”


“Hanya mengingatkan, Dad...”


Val langsung menyahut pada Daddy R, dengan juga menampakkan senyum manisnya setelah cengengesan tadi.


“Ya sudah sana, jangan menempel terus padaku. Nanti tubuhku gatal-gatal!” kata Daddy R seraya bercanda pada Val yang mengambil lagi cup mi instan nya yang belum sempat Val habiskan.


“Ih Dad R ----“ tukas Val. “Kalau aku ‘gatal’ pada Kak Kafeel, bukankah karena faktor keturunan dari Daddy sendiri yang gatal adanyaaaa?....”


Val membalas perkataan Daddy R yang mengatainya sambil bercanda barusan tadi.


Dan Val sudah beringsut dengan cepat dari tempatnya yang tadi duduk disamping Daddy R, sambil ia terkekeh saat membalas perkataan ayah kandungnya itu.


Sudah buru-buru kabur menjauh dari Daddy R yang kini mendelik padanya, sebelum Val melontarkan perkataan balasan pada sang ayah kandung.


“Bukan begitu Mommy Periii??? ....” Val masih meledek Daddy R dengan mengajak sang ibu kandung, yang dengan cepat menanggapi ucapan yang berupa ledekan putri kandungnya itu.


“Betul sekali wahai putri kandungku yang gatal macam Daddy kandungnyaaaa ....” timpal Mommy Ara.


“Hahaha!!! ....” Dan gelakan di ruang santai keluarga Kediaman Utama mereka yang berada di Jakarta itu pun kembali membahana.


“Wah, wah Ibu Peri semakin berani, hem? ....”


Daddy R mendelik pada Mommy Ara sambil ia berdiri dari duduknya.


Mommy Ara terkekeh geli saja.


Lalu si Ibu Peri menjulurkan lidahnya meledek sang suami.


“Lihat saja nanti, akan aku buat kamu merasakan ‘kegatalan’ suamimu ini berkali lipat.” canda Daddy R.


“Siapa takuuut?? ....”


Mommy Ara kembali meledek Daddy R dan kekehan berjamaah terdengar lagi di ruang santai.


Dimana Daddy R juga ikutan terkekeh seperti lainnya. “Kemari Ibu Peri.” Titah Daddy R sambil satu tangannya melambai pada Mommy Ara.


“Tidak mauu ....” Ibu Peri pun kabur dari ruang santai.



Selepas berkumpul di ruang santai keluarga pada Kediaman mereka, satu keluarga besar yang sedang berkumpul ria itu kemudian melipir ke beberapa bagian lain Kediaman. Tepatnya ke area outdoor, dan area yang merupakan sarana olahraga.


Para Mommy melipir ke ruang gym yang juga memiliki fasilitas ruang untuk senam dan gimnastik, dimana para Mommy dan satu mahmud beraktifitas di dalamnya saat ini.


Dan dua calon pewaris yang masih berusia belia ikut beraktifitas juga dengan para nenek keduanya yang rasanya tidak terlihat seperti nenek-nenek, karena penampilan mereka yang masih tampak oke dengan kulit yang juga nampak masih kencang-kencang saja.



Berbeda dengan para Mommy dan dua calon pewaris yang masih batita dan balita-para pewaris remaja dan belia yang sedang merangkak menuju kedewasaan selain tiga kakak yang lebih tua, memilih untuk beraktifitas di area outdoor Kediaman.


“Bagaimana kalau kita bermain voli?” Mika yang sedang bersama Val dan Aina serta Papi John berikut Daddy Jeff dan Gappa menonton Aro yang sedang berlatih tenis dengan Papa Lucca itu mencetuskan ide.


Dan ide Mika itu segera di-Aminkan oleh Val. “Boleh juga!” sahut Val. Aina pun ikut mengiyakan usulan satu kakak perempuannya itu.


“Iya ayo!”


Aina nampak juga antusias.


Dan tiga gadis belia itu langsung menoleh pada dua Daddy yang sedang bersama mereka itu agar juga mengiyakan untuk bermain voli seperti usulan Mika.


“Ayo Pih. Papa Bear.”


Val membujuk kedua Daddy tersebut.


“Iya Pih, Papa Bear ..” timpal Aina. “Mumpung kita semua sedang berkumpul nih, walaupun minus Abang sama Kak Drea..”


Aina meraih kedua tangan Daddynya itu yang tak lama langsung mengiyakan permintaan tiga putri mereka tersebut.


“Alright, come on..”


Papi John berujar mengiyakan.


“Ajak saudara-saudari kalian yang lain juga Dads dan Moms yang lain ..”


Daddy Jeff berkata kemudian.


Mika, Aina dan Val langsung mengangguk dengan semangat.


“You want to join Dad? ( Dad ingin bergabung?) ..”


Papi John berkata juga pada Gappa selepas kepergian tiga anak gadis mereka untuk mengumpulkan dan mengajak saudara-saudari mereka bermain voli.


Gappa langsung terkekeh kecil.


“I prefer to play piggyback with Putra and Gadis ( Aku memilih untuk bermain kuda-kudaan bersama Putra dan Gadis )” ucap Gappa kemudian.


Papi John dan Daddy Jeff pun terkekeh mendengar jawaban Gappa yang menolak untuk ikut bermain voli dengan mereka yang lebih muda usia darinya.


“Oh come on Dad, you’re not that old ( Oh ayolah Dad, Dad tidak setua itu )..” ledek Daddy Jeff. “Exercise good for your old body, Dad ( Olahraga bagus untuk tubuh tuamu, Dad )..”


“Apa kau ingin aku segera hengkang dari dunia ini agar dengan segera harta warisanku dapat benar-benar kalian nikmati, hem?”


“Hahaha!..” Papi John dan Daddy Jeff sontak tergelak selepas mendengar ucapan Gappa barusan.



“Daripada bermain voli kenapa ga kita latihan Project Kiddos aja?” Aro yang menghentikan latihan tenisnya dengan Papa Lucca karena melihat para saudara-saudarinya telah berkumpul dan seperti akan melakukan suatu kegiatan itu mencetuskan usul lain.


“Setuju.”


Ann menimpali.


“Good idea ( Ide bagus ).”


Daddy Dewa ikut menyetujui usulan Aro.


“Mumpung juga kalian sedang berkumpul semua sekarang..”

__ADS_1


“Iya benar!”


“Bagaimana Papi, Papa Bear, Papa Lucca, Daddy R?..”


“Boleh. Toh aku juga penasaran dengan kemampuan kalian. Apakah bertambah atau tidak ada perkembangan sama sekali, atau bahkan menurun?”


Daddy R berkomentar.


“Kuy jadiin!”


Isha menimpali.


Saudara-saudarinya pun meng-Aminkan.


“Yah, aku sama Ay gimana kalau kalian memainkan Project Kiddos? Kita ikut loh ya?”


Ares bersuara dan Aina manggut-manggut. “Iya, aku kan mau ikut seru-seruan juga!”


“Ck! Ngeliatin aja udah ini kakak-kakak beraksi latihan tempur! Ntar baru disuruh push-up sama squat-jump udah ngeluh lagi!”


Aro mencibir geli.


“Eh jangan suka underestimate dedek Ares ya?—“


Ares tak terima. Yang lain cekikikan.


“I juga punya stamina yang oke tau ga?!”


Anak kandung bontot Daddy Dewa dan Mom Ichel itu jumawa.


“Iya sih, mana bisa tau kemampuan aku sama Kak Ares, termasuk keahlian kami berdua kalau kami ga pernah diijinkan saat kalian sedang memainkan itu Project Kiddos?..”


Soulmate nya Ares-Aina, ikut berkomentar.


“Ini bukan mainan-lah!. Ini itu latihan agar kita bisa waspada kalau ada kemungkinan hal buruk yang mengancam di kemudian hari.”


Rery yang barusan menimpali perkataan Aina.


“Nah itu makanya aku sama Ay harus diikutsertakan sekarang!”


“Ga bakal sanggup, yakin gue sih!”


Aro mencibir lagi.


“Kalo gue sanggup, uang jajan lo sebulan buat gue loh ya Kak Aro?...”


Ares pun tak mau kalah.


“Jangan belagu dek Ares---“


Aro menanggapi tantangan Ares.


“Kalo gue iyain, gue minta jatah jajan lo dua bulan, gimana?----”


Aro menyambung ucapannya.


“Udah jelas lo akan gugur dengan cepat. Cuman jajan cilung dua bulan mau lo?”


“Siapa takut?!” sambar Ares. “Kalo gue mampu, lo yang bakal makan cilung selama sebulan!” sambungnya. “Gue tambahin ya tantangan gue, Kak?. Kalo gue boleh ikut dan ternyata gue mampu, selain uang jajan lo sebulan buat gue, lo kemana-mana harus pake angkutan umum! Berani ga?”


“Wah bocil belagu banget. Ja—“


“SSTT!!”


Papi John segera memotong perdebatan unfaedah dua putranya itu, disaat yang lain cekikikan. Aro dan Ares pun langsung terdiam.


“Noisy ( Berisik )!” seru Papi John. “Macam ibu-ibu rumpi!” protes si Papih. Lalu suara cekikikan terdengar lagi. “Ya sudah Ares dan Aina boleh ikut sekarang.”


“Yes!”


Dua pewaris bontot dalam garis pewaris Abang Varen itu sama-sama berseru senang dan semangat.


“Panggil Poppa di kamarnya dan Momma!” titah Daddy Dewa.


“Panggilkan Nicky juga Val!” seru Daddy R.


“Biar aku saja yang panggilkan Dad.”


Rery mengajukan diri.


Lalu putra kandung bontotnya Poppa dan Momma itu juga langsung balik badan untuk memanggil Nicky, yang kebetulan datang  untuk bertemu dengan Nathan untuk suatu keperluan.


Nicky sendiri adalah bodyguard pribadi Drea, yang sekarang menjadi orang kepercayaan Nathan.


“Sambil menunggu Poppa kalian, sebaiknya kalian menyiapkan diri,” ucap Papi John pada para putra-putri yang mau latihan tempur itu.


Well, sebenarnya bukan latihan tempur yang gimana-gimana. Hanya sekedar pelatihan diri untuk para pewaris sebagai bekal mereka di kemudian hari untuk menjaga diri.


Kan tidak tahu ada hal apa yang menunggu di kemudian hari?.


Jadi pembekalan diri sudah diberikan pada para pewaris muda itu, sejak usia mereka dirasa telah cukup kala itu, untuk diberikan bekal segala jenis bela diri dan kemampuan lain, selain untuk mengasah otak mereka dan mempersiapkan para pewaris untuk menjalani hidup mereka ke depannya.


Terlebih sejak insiden yang pernah menimpa Drea dan Via, jadi para Dad memutuskan untuk sedikit menambah pembekalan diri untuk para anak-anak mereka.


Karena meskipun hidup sudah terasa begitu tenang saat ini bagi keluarga mereka, namun ancaman bahaya yang mungkin juga akan datang menargetkan lagi untuk mencoba mencari masalah dengan keluarga Adjieran Smith itu bisa saja muncul tiba-tiba tanpa tahu kapannya.


Meski Varen, Nathan dan Drea sudah punya pembekalan yang cukup namun tetap semua hal akan menjadi pertimbangan untuk keselamatan para anak-anak dari para orang tua, terutama dari para ayah.


Sadar, jika mereka, para orang tua, tidak akan ada selamanya berada disisi anak-anak mereka.


Karena yang hidup, pasti akan mati bukan?.



Setelah beberapa belas menit menunggu induk bebek jantan yang pada akhirnya muncul juga kemudian disambut dengan cibiran dari para Dad yang lain, kini Poppa sudah berada ditengah-tengah mereka yang ingin bermain-istilah para pewaris untuk kegiatan yang akan mereka lakukan ini.


Suatu permainan yang mereka sebut dengan ‘Project Kiddos’ dimana permainan didalamnya lebih kepada latihan fisik yang beragam, selain pelatihan otak serta kemampuan yang lainnya, yang sesuai dengan bakat para pewaris. Yang kalau para Mom bilang, macam anak-anak mereka itu mau dijadikan agen rahasia.


Tapi pada kenyataannya, ternyata para pewaris tersebut merasa tidak keberatan, saat mereka diberitahukan oleh para Daddy jika mereka ingin ditempa sedemikian rupa, meski tanpa berlebihan. Mereka bahkan sangat menerima dan begitu senang dengan yang namanya Project Kiddos yang para pewaris itu bilang menyenangkan dan seru, hingga ketagihan. Walaupun latihan fisik banyak diutamakan dalam Project Kiddos itu.


Ya begitulah, kalau para ayah yang macam Superhero dengan segala kelebihan dan keahlian masing-masing. Jangan lupakan kekuatan yang para ayah miliki sampai sekarang kalau soal tenaga-maka hal itu turun ke anak-anak mereka yang juga menyukai latihan fisik meski tidak sama rata.


Mika dan Val tidak terlalu menyukai latihan fisik yang berlebihan selain untuk bekal mereka menjaga diri. Keduanya memiliki keahlian lain. Sementara Aro, Rery, Isha dan Ann, kebalikannya-selain cerdas juga otak mereka. Rery, Aro dan Isha serta Ann jago di teknologi, meski kemampuan itu Rery dan Ann yang lebih mendominasi.


Selain secara fisik, Ann setara dengan Drea yang jago martial arts diantara para saudara-saudari mereka. Sementara yang pria, tentunya punya kemampuan bela diri yang sudah dapat dikatakan diatas rata-rata untuk ukuran usia mereka.


Dan Aina serta Ares baru akan diberikan pembekalan saat ini, karena usia mereka telah sampai diusia yang sama saat para kakak mereka diperkenalkan oleh Project Kiddos tersebut. Jadi untuk sekarang, belum terlalu terlihat seperti apa bakat keduanya.


Well, kalau Ares sepertinya sudah terlihat untuk sekarang. Ketahanan tubuh Ares tidak bisa diremehkan sebenarnya, karena Ares jago atletik di sekolahnya, dan sering menyambat predikat juara. Jadi dirasa oleh para Dad, Ares ada kemungkinan sudah mampu untuk ikut serta ‘latihan tempur’ bersama para kakaknya tersebut.


Tinggal lihat saja sampai dimana Ares dan Aina mampu untuk mengikuti latihan yang disebut Project Kiddos ini.


“Kalau aku melihat kemampuan kalian menurun, akan aku sita semua credit cards kalian tanpa terkecuali, sampai waktu sesuka hatiku!” Daddy R berseru.


Dimana ucapan Daddy R tersebut langsung menciptakan keriuhan dari mulut anak-anaknya. “Yah, Dad kok begitu??!!” seru Aro seraya bertanya dan protes kecil-kecilan, yang langsung diiyakan oleh para saudara-saudarinya.


“Take it or leave it ( Terima atau batal )” sahut Daddy R. “Aku lebih baik tidur jika hanya melihat kalian latihan tanpa tantangan!”


Daddy R enteng berbicara.


“Betul itu!”


Para Daddy yang lain menimpali.


“Okay take it!”


Isha kemudian menanggapi.


“Iya kan gaesshhh?! ..”


“Yoii!”

__ADS_1


“Bring it on!”


“Okay Dad, siapa takut?!”


Dan para pewaris itu pun tak gentar dengan tantangan dari para Daddy mereka itu.


“Kalau kemampuan kami ternyata berkembang, limit credit card kami dinaikkan loh ya?!”


“Iyap betul itu kata Val ----“


Aro berkata lagi.


“Kalau perlu jadikan unlimited!”


“Berani bernegoisasi dengan kami hem, bocah tengik!”


Daddy Jeff menyambar. Para pewaris pun cekikikan.


“Ih, benar itu yang dikatakan Aro!---“ sambar Ann. “Be fair ( Harus adil ). Ada tantangan berarti harus ada hadiah.”


Ann melanjutkan ucapannya.


“Raise your hand if you all agree with me oh my brotha and sista!”


“( Angkat tangan kalian jika kalian setuju denganku wahai para saudara dan saudariku! )”


“Hell Ya! ( Tentu saja! )” seru para pewaris lainnya dengan kompak sambil mengangkat tak hanya satu tangan, tapi kedua tangan mereka sambil cengengesan.


“Dasar anak-anak matrealistic!” rutuk Daddy R.


“Yang penting kami bahagia!” celetuk Mika. Yang kembali di Aminkan oleh para saudara-saudarinya.


Daddy R memutar bola matanya malas.


Sementara Papa Lucca dan para Dad lainnya mendengus geli saja.


“Naikkan limit credit card lah untuk sekarang, bagaimana?..” celetuk Rery.


“Iya betul!”


“Tapi dengan catatan hanya latihan fisik—“


Ann bersuara lagi.


“Kalau ada test diluar latihan fisik, make our credit cards become unlimited if we are success ( buat kartu kredit kami menjadi tanpa batas )”


“Okay, deal!” Daddy R berseru.


“Mantap!”


“Yeay!”


“Keep ucapan Dad tuh ya?!”


“Iya sudah tua harus konsisten!”


“Sudah diam kalian wahai bocah-bocah tengik!”


“Hahahahaha.” Bukannya takut karena Daddy R yang bicara ketus sambil mendelik, para pewaris itu malah tergelak.


“Sudah tutup mulut kalian!”


Nah, akhirnya Hercules bersuara.


Eh, Poppa maksudnya.


Yang mana, tentu saja, membuat para pewaris yang akan ‘latihan tempur’ itu sontak terdiam.


“Cerewet sekali!” kata Poppa sambil menggerutu. Dan anak-anak yang tadi diam itu, malah cekikikan lagi.


“Ya sudah, mulailah Pop!” kata Ann. Saudara-saudarinya pun mengiyakan.


“Yakin dengan kemampuan kalian yang katanya tidak menurun itu?!” sahut Poppa.


“Yakin!”


“Gugur satu, kuanggap gagal semua.”


Poppa menyeringai.


“Berani?” tantang Poppa.


Dimana para pewaris itu langsung membuat lingkaran untuk berdiskusi.


“Okay berani!”


Mika yang menyahut mewakili para saudara-saudarinya.


“Tapi dengan catatan Ares dan Aina tidak dihitung, karena mereka newbie.”


“Okay!” Poppa langsung mengiyakan.


“Dan juga kami diperbolehkan untuk membantu satu sama lain jika kami rasa itu diperlukan!”


“Okay deal!” sahut Poppa lagi. “Apalagi?!” sambung Poppa. “Mau minum susu dulu, hem?”


Poppa mengeluarkan cibiran.


Para pewaris pun cengengesan.


“Ya sudah Pop, mulai lah!” Aro bersuara mewakili para saudara-saudarinya yang kemudian menimpali ucapan Aro.


“Yes let’s start it Pop!”


“Bungkuslah Pop!”


“Bring it on Pop!”


“Wah, wah, bersemangat sekali kalian! Membuatku jadi bersemangat juga!”


Poppa menyeringai.


“You guys who asked for it ( Kalian yang meminta ), ya?”


Poppa berkacak pinggang dengan seringai yang masih nampak di wajahnya.


“Except ( Selain ) Aina dan Ares –“ ucap Poppa. “Kalian berdua—“ tunjuk Poppa pada Aro dan Rery. “Dan kalian gadis-gadis ceriwis---“


Lalu Poppa menunjuk pada Mika, Val, Isha dan Ann.


“Boys 100 kali push-up, girls 100 squat-jump!. Kuberi kalian lima detik untuk mengambil nafas di hitungan ke lima puluh!”


“Penyiksaan itu Poppa!”


“Kalian yang menantang, aku pantang menolak tantangan.”


“Poppa kejam, HUUUU!!!”


“Tidak mau!”


Protes pun bertebaran dari para pewaris muda tersebut.


“Membatalkan tantangan secara sepihak, katakan selamat tinggal pada credit cards kalian, sekaligus aku blokir debit card kalian!”


“Alamaaaaaakkk!!!”


“Tahu begini kita tadi ke ATM dulu!!”


“Pop, balik lagi ke kamar sana! Besok baru keluar!”


♥♥

__ADS_1


To be continue ..


__ADS_2