HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 60


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia


“Eh Papi! Papa Bear, Daddy Boo-Boo, Mami!”


Val yang baru saja mengantar Kafeel ke pintu depan karena sang kekasih hendak pulang itu menyapa pada empat orang tua yang sedang berada di ruang tengah Kediaman Utama keluarga besarnya yang ada di Jakarta tersebut.


“Pasti mau menggibah sebelum tidur ya?....”


Lalu selorohan keluar dari mulut Val sambil mendekati ke empat orang tuanya tersebut dari banyaknya orang tua yang Val miliki. Papi John, Mami Prita, Daddy Jeff dan Daddy Dewa pun mendengus geli saja.


“Aku duluan ke atas ya?”


“Ya udah sana.” Daddy Jeff yang menyahut.


“Ayo Mih, bareng sama Val ke atas pakai elevator.”


“Kamu aja lah sana yang naik lift. Kamar Mami sama Papi Cuma se-lantai di atas aja kok.”


“Okey deyyy!.... selamat malam my four lovely parents from many (empat orang tua dari banyak orang tua tercintaku)....”


“Selamat malam.”


“Eh iya....”


Val yang tadi sudah berpamitan dan mengecupi satu per satu pipi ke empat orang tua yang berada didekatnya itu, menghentikan langkahnya tiba-tiba.


“Mobil akomodasi bandara tadi rasanya sudah Val tidak lihat lagi sejak tadi di carport depan saat kita berangkat dinner?”


“Sudah dibawa ke bengkel tak lama setelah kamu dan Kafeel datang tadi sore. Setelah selesai, ya dikembalikan lagi ke tempatnya.”


“Ke Airport?” tanya Val.


“Bukan, ke rumah tetangga!”


Selorohan Mami Prita membuat Val dan tiga Daddies terkekeh kecil.


“Ya sudah kalau begitu, Val ke kamar duluan yaaa.... nitey nite again....”


“Nitey nite....” sahut ke empat orang tua yang berada di ruang keluarga tersebut pada Val yang kemudian berlalu dari hadapan ke empatnya.


“Kamu istirahat aja Prita, biar kami yang menunggu itu rombongan dari London datang.” Ucap Daddy Dewa pada Mami Prita, selepas Val telah masuk ke dalam lift.


“Memang jam berapa sih mereka sampe sini?”


Mami Prita bertanya pada ketiga pria yang berada di hadapannya itu.


“Ada kemungkinan mereka sudah sampai di Bandara ....”


“Huummm....”


Mami Prita pun manggut-manggut.


“Ya udah aku tungguin aja kalo gitu.”


Mami Prita berucap kemudian.


“Lebih baik kamu istirahat saja Sugar ....” timpal Papi John.


“Engga ah, aku tungguin aja. Habis ganti baju nanti aku balik lagi kesini. Mau nyiapin makanan juga. Siapa tahu mereka belum pada makan? ....” jawab Mami Prita.


“Mereka pasti sudah makan di pesawat, Prita ....” Daddy Jeff berkomentar.


Lalu di-iyakan oleh Papi John dan Daddy Dewa.


“Nah kalau mau menyiapkan makanan, lebih baik kamu menyiapkan diri kamu di kamar sampai aku datang untuk ‘makan’----“


Yang mana Mami Prita tau kemana itu maksud kata makanan dan makan yang dimaksud si Papi barusan, yang berbicara dengan wajah jahilnya pada Mami Prita.


“Dih aki-aki! Dah tua masih napsuan aje!” cetus Mami Prita.


♥♥


Keesokan harinya


“Aaaaa!!!....”


Pekikan sumringah keluar dari mulut Val saat ia telah bangun dari tidurnya saat waktu Shubuh, lalu keluar kamar guna menjalankan kewajiban secara berjamaah dengan para penghuni Kediaman keluarga besarnya yang berada di Jakarta itu-saat matanya menangkap satu orang yang Val tak sangka ada di hadapannya sekarang ini.


“Daddyy R!!”


Val berhambur dengan ceria pada salah satu Daddy-nya, yang merupakan Daddy kandungnya itu. Saat ia sampai di lantai bawah Kediaman dan hendak pergi ke Mushola bersama Aina dan Aro yang bertemu dengan Val di depan lift, tanpa saling menanyakan sisa saudara-saudari mereka karena berpikir sudah lebih dulu ke Mushala atau masih di kamar mereka.


Val tersenyum lebar, saat melihat Daddy R telah berada di Jakarta saat ini sambil ia loncat memeluk sang Daddy, yang untung saja tubuhnya masih tegap dan bugar serta sigap menangkap tubuh sang putri kandung yang maen asal nemplok itu-dimana Daddy R baru saja menapaki kakinya di lantai bawah Kediaman setelah menuruni anak tangga sendirian.


“Ulat bulu dasar ....”

__ADS_1


Daddy R menggumam seraya mendengus geli pada kelakuan sang putri kandung yang memang seperti itu sih, pembawaan Val jika bertemu para Daddy kesayangannya itu-yang suka tau-tau nemplok aja kalau memang Val sedang ingin berlaku manja yang selalunya spontan Val lakukan, padahal dia sudah berumur hampir delapan belas tahun.


Yang tidak akan diprotes oleh para orang tuanya. Karena dimata para Daddy, anak-anak perempuan mereka itu akan selalu menjadi gadis kecil mereka-meskipun anak-anak perempuan mereka itu sudah beranjak dewasa.


Aina dan Aro juga terkejut melihat Daddy R dimana Aina melayangkan protesnya pada Val yang tahu-tahu menemplok pada Daddy kandungnya itu.


“Ish Kak Val nih! Harusnya aku yang digendong Daddy R!”


Aina melayangkan protesnya dan Daddy R terkekeh kecil.


“Hah, betul itu!” timpal Daddy R.


“Udah sih turun Kak Val! Aku mau digendong Daddy R juga!”


“Tau! Malu sama umur!”


Aro ikutan nyeletuk.


Daddy R terkekeh lagi melihat interaksi anak-anaknya ini.


“Iya, iya! ..”


Val mencebik.


“Daddy kapan datang?” tanya Val sambil menurunkan tubuhnya setelah meloncat ke gendongan Daddy R, lalu mengecupi dua pipi Daddy kandungnya itu.


“Beberapa jam yang lalu,” jawab Daddy R yang kini menggendong belakang Aina, setelah adik kandung Nathan itu menyalami dan mencium pipinya seperti Val tadi, begitu juga Aro.


Tapi berhubung anak lelaki, Aro – sebagaimana para anak lelaki yang lain, hanya menyalim takdzim tangan para Daddy saja, lalu Daddy mereka akan mengacak rambut setelahnya sebagai tanda sayang.


Nah kalau pada para wanita, baru para pewaris muda pria keluarga tersebut akan memeluk dan menciumi pipi dengan gemas serta penuh kasih sayang.


Kurang lebih sama sebagaimana perlakuan saudari-saudarinya pada para Dad mereka, juga pada para kakek yang mana para pewaris muda berjenis-kelamin wanita itu selalunya akan bersikap manjah pada para Dad dan kakek mereka.


“Daddy sama siapa saja datang kesini? Kok tidak mengatakan sebelumnya?...”


“Memang Dad karyawanmu yang harus selalu melapor padamu?”


“Ugh, Dad nih, kenapa sih judes sekali jadi cowo? Sama anaknya sendiri juga ..”


Val mencebik manja. Daddy R hanya berdecih geli.


“Lalu Daddy jadinya datang dengan siapa kesini?” Val bertanya lagi.


“Dengan keluargaku ...” Daddy R menjawab enteng sambil mengetatkan pegangannya pada Aina yang masih betah bergelayutan di punggung Daddy R.


Val berdecak sembari merungut. Sementara Aro dan Aina cekikikan.


“Ya keluargaku juga.” Sahut Daddy R lagi dengan santai.


“Ih Daddy nih kalau ditanya—“


“Ya kalau ditanya Dad jawab lah!”


Daddy R pun tersenyum geli.


“Semua yang tersisa di London datang bersamaku.


”Benar Dad?... Mommy Peri, Momma, Poppa, Papa Lucca --- ih Daddyyy!... Val sedang bicara juga!...”


Val melayangkan protesnya pada sang Daddy kandung, karena Daddy R berlalu begitu saja dari hadapannya saat ia masih berbicara.


“Iiiih Kak Val nih, subuh-subuh udah berisik.”


Aina melayangkan protesnya.


“Tau ih! Mending merdu itu suara!”


Aro pun sama seperti Aina yang protes karena pekikan Val, lalu berlalu dari hadapan Val, menyusul Daddy R yang sudah berjalan menuju Mushola dalam Kediaman Utama keluarga besar mereka itu.


“Rery dan Ann ikut juga tidak?.....” tanya Val dengan setengah memekik, sambil berjalan untuk menyusul sang Daddy yang menggendong belakang Aina serta Aro yang berjalan di belakang keduanya.


“Langkahkan kakimu dengan segera ke Musala atau Dad ceburkan kamu ke kolam renang duhai putriku Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith!”


“Iya, Iya!...” Val pun mengayunkan langkahnya mengekori Daddy R dan Aina.


Aro dan Aina pun cekikikan.


“Aro! Gendong!”


Val berlari kecil ke arah Aro sambil setengah memekik.


“Ogah amat!”


♥♥


Selepas subuh berjamaah-dimana semua orang yang berada di Kediaman Utama yang berada di Jakarta melakukan ibadah bersama dengan beberapa orang yang minus karena berhalangan untuk satu dan lain hal, kini kesemuanya berkumpul di dalam ruang santai keluarga dalam Kediaman tersebut setelah mengetahui para anggota keluarga yang berdomisili di London datang, setelah juga sebagian sudah lebih dulu datang ke Jakarta.


Semua orang berkumpul terkecuali dua orang yang sedang berada di sebuah tempat untuk menikmati waktu berdua, yang kemungkinan juga akan ikut bergabung, namun entah jam berapa sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu keintiman mereka yang terjadwal rutin itu akan tiba di Kediaman.

__ADS_1


Namun selain mereka, para penghuni utama sudah berkumpul saat ini, berikut dua calon pewaris balita yang sudah terbangun juga.


Karena seyogyanya-saat-saat dimana semua anggota keluarga yang katakanlah hampir lengkap karena minus dua orang itu, akan dimanfaatkan dengan baik oleh masing-masing personel The Adjieran Smith untuk bercengkrama bersama.


Mengingat jika mereka berdomisili di negara yang berbeda, dan tentunya memiliki banyak perbedaan juga selain daripada kesibukan masing-masing. Jadi saat ada kesempatan berkumpul seluruh anggota keluarga, tentunya tidak akan disia-siakan waktu yang ada.


Yang mana sesuai dengan jargon keluarga itu sendiri, yakni. “Keluarga Adalah Yang Utama.”


Karena apa? ..


🎸Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga. Istana Yang Paling Indah Adalaahh... Keluargaa.....🎸


(Terusin sendiri dah tuh lagunya). 😄


♥♥


“Jadi kenapa kalian tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan?----“


“Siapa bilang tanpa pemberitahuan?. Kamu saja yang terlalu sibuk menempel pada Kak Kafeelmu makanya tidak update soal kedatangan kami kesini...”


Daddy R segera memotong pertanyaan Val barusan.


“Para Dad dan Mom-mu serta para kakek dan nenekmu juga sudah tahu kami akan datang semalam,” sambung Daddy R.


“Tapi bener itu yang Val bilang, kami ga denger juga Daddy, Poppa, Papa Lucca sama Mommy Peri, Momma, Mama Fabi en mereka berdua ini nih---“


Aro bersuara sambil menunjuk pada Rery dan Ann.


“Mau datang semalam?” lanjut Aro.


“We would like to accompany you at your first Pro Tournament  (Kami kan mau menghadiri Turnamen Profesional pertamamu), Boy..” Papa Lucca yang menjawab.


“Kami juga kan sudah berjanji padamu akan datang...”


Poppa menimpali, sambil mengacak rambut Aro yang duduk landai di atas karpet bulu lembut yang terhampar seluas ruang santai keluarga dalam Kediaman Utama mereka yang berada di Jakarta itu. Aro pun tersenyum lebar.


“Thanks ya, Papa, Poppa, Dad R, Mama Fabi, Momma, Mommy Peri dan you two, mau repot-repot buat jadi suporter aku nanti ...”


“All things about our kids and fam of course (Segala hal tentang anak-anak kami dan keluarga tentunya)—“


Papa Lucca bersuara lagi.


“Will be our priority, you know? (Akan menjadi prioritas kami, tahu?)...”


Papa Lucca menyambung kalimatnya.


“Knooowwww...”


Dan para ahli waris muda yang ada di ruang santai itu pun menyahut kompak lalu cekikikan setelahnya.


Dan yah, tentu saja keramaian suara obrolan dan candaan kemudian menghiasi pagi pada Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta tersebut.


Ditambah sepasang kakek nenek ceriwis, yang merupakan orang tua Momma dan Mami Prita juga ada di Kediaman Utama mereka tersebut. Membuat suasana riuh dengan gelak tawa, karena celetukan-celetukan Ake Herman dan Ene Bela ada lawannya, yakni dua anak mereka sendiri, yang gesreknya ga ilang-ilang dari sejak muda.


“Val pikir Dad kesini karena akan mengabulkan keinginan Val untuk melamarkan Kak Kafeel untuk Val?” ucap Val sambil menikmati semangkuk mi instan dalam kemasan cup sebagai sarapannya pagi ini. Jenis makanan yang Val sukai, dan tentunya juga para saudaranya, yang sesekali mereka akan makan atau hanya jika memang ingin. Para orang tua dan tetua pun tidak ada yang melarang, asal tidak berlebihan.


Dimana Dad R yang sedang memakan nasi ulam buatan Ene Bela yang memang sengaja ia buat sebelum datang dan menginap di Kediaman Utama keluarga dari besan mereka itu, langsung menoleh pada Val yang cengengesan.


“Jadi otakmu belum normal juga, hem?” cibir Daddy R sambil melirik malas pada putri kandungnya itu.


“Ah Daddy nih, semakin tua semakin judes saja.”


Val membalas cibiran ayah kandungnya yang menatap malas padanya setelah mencibir kecil barusan, sebelum Daddy R menyuap kembali nasi ulam pada piring yang sedang ia pegang di atas telapak tangan kirinya itu.


Pagi ini, acara sarapan dilakukan di ruang santai keluarga, mengingat jika ruang makan pada Kediaman Utama yang berada di Jakarta, tidak sebesar ruang makan yang berada pada Mansion Utama yang telah di renovasi untuk disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga mereka yang super banyak personelnya itu.


Jadi, jika sedang berkumpul seperti ini, biasanya mereka menggunakan ruang makan outdoor yang juga menyambung dengan ruang santai keluarga mereka tersebut yang berhubungan dengan kolam renang di pekarangan belakang Kediaman.


“Tapi tenang saja Dad, aku tidak akan meminta Dad melamarkan Kak Kafeel untukku, karena nanti Kak Kafeel yang akan melamarku pada Dad dan pada kalian semua!”


Val berkata dengan percaya dirinya.


“Oh ya? ...” tukas Daddy R sambil melirik lagi pada Val dan yang bersangkutan manggut-manggut sambil menyeruput mie kemasan dalam cup yang sedang Val nikmati itu.


Sementara sisanya mendengarkan saja anak dan ayah kandung itu bercakap sambil menikmati makanan mereka masing-masing.


“Yap!” Val menyahut mantap kemudian, setelah ia menelan mie yang tadi sudah ia masukkan ke dalam mulutnya. “Memang Dad belum dengar kabar yang menghebohkan?..”


“Kabar tentang?...”


“Tentang aku dan Kak Kafeel lah, Dad!”


Valera kemudian merubah posisi duduknya, mendekati pada Daddy R yang masih santai menikmati nasi ulamnya berikut beberapa lauk pendamping.


“Aku dan Kak Kafeel sudah jadian kemarin... Dad paham kan?... Aku dan Kak Kafeel telah menjadi sepasang kekasih sekarang.” Sambung Val. “Jadi aku tidak perlu melamarnya, karena Kak Kafeel yang akan melamarku ---“


“Dan kamu pikir Dad akan menyetujui hubungan cintamu dan Kafeel?...”


"Dad-dy...." lirih Val.

__ADS_1


♥♥♥♥♥♥


To be continue ..


__ADS_2