HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
THE HURTING FAMILY


__ADS_3

( Keluarga Yang Terluka )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England...


“Daddy, Val boleh meminta sesuatu?---“


“Nyawaku jika bisa pun akan aku beri, baby---“


“Tidak mau... Nanti aku tidak punya Daddy, Mom Peri tidak punya suami, pasti Mom sedih sekali---“


“Iya akan aku buatkan---“


“Terima kasih, Daddy...”


“Tapi kau harus berjanji satu hal padaku.”


“Apa itu, Daddy?”


“Kau aku larang untuk bersedih lagi---“


“Iya, Daddy... Val berjanji, tidak akan bersedih lagi. Val berjanji tidak akan menangis lagi...”


“Aku dan Mom Peri pegang janjimu, ulat bulu.”


“Dad juga harus berjanji, kalau apapun yang terjadi, Dad, harus buatkan taman tulip merah yang aku minta pada Dad tadi---“


“Iya, aku berjanji. Aku dan seluruh keluarga, akan bergotong royong kalau perlu untuk membuatkan taman tulip merah seperti keinginanmu itu dengan tangan kami sendiri.”


“Aku dan seluruh keluarga yang mencintaimu dengan sangat ini, bahkan bergotong royong betulan untuk menanamkan satu per satu bunga tulip merah kesukaanmu itu.” Dia yang sedang mengingat percakapan dengan salah satu kesayangan. “Kau memang hobi sekali merepotkan kami...”


Dad R.


Yang bergumam di tempatnya tersenyum dan mendengus geli sedetik, sambil memandangi satu titik di mana ada puluhan tangkai tulip merah yang sudah dibuat sedemikian rupa, agar bisa merekah indah di hari ini.


“Sudah Dad penuhi janji Dad padamu...”


Dad R bergumam lagi.


“Taman tulip merah yang kau inginkan sudah jadi... Bahkan bunganya pun dipesan secara khusus, agar semuanya merekah di hari ini.”


Ada senyum tipis yang terulas di bibir Dad R kemudian.


“Apa kau menyukainya?...”


Dad R bicara lagi, sambil memalingkan pandangannya ke satu arah lain dari taman dengan puluhan tangkai tulip merah yang sedang merekah indah.


“Happy birthday... Baby...”


Dad R tersenyum tampan.


Namun dua jari Dad R menekan pelan dua sudut matanya.


“Dad sungguh rindu --- kau... merepotkan Dad lagi...”


⭕⭕⭕⭕⭕


Dad R menekan sekali lagi sudut matanya setelah sebuah suara menegurnya.


“Dad...”


“Ya?...”


“Anginnya sudah mulai kencang dari tadi, nanti Dad sakit bila berdiri lebih lama lagi di sini...”


“Iya, sebentar lagi aku masuk.”


“Ingat Dad, kita pantang untuk bersedih di setiap tanggal ulang tahun para anggota keluarga.” Adalah Rery yang mendekat pada Dad R itu, yang langsung mengangguk seraya tersenyum pada Rery.


“Aku sedang membayangkan, dia sedang menari – nari di sana --- Aku sedang membayangkan bagaimana dia tertawa, diantara bunga-bunga tulip merah favoritnya... Pasti dia akan berlompat dan memekik kegirangan dengan suara nyaringnya yang tidak indah itu...”


“Aku pun sama Dad, kami semua juga sering membayangkan hal itu---”


“Bisa tidak ya, Boy?... Bisa tidak?... Aku melihat dan mendengar tawanya lagi?... Mendengar suara cemprengnya yang kadang membuatku sakit telinga itu?... Karena jika bisa, sungguh... Bila setelah itu aku menjadi tuli selamanya pun tak apa... Asal aku bisa mendengar suaranya lagi, mendengar Val kecilku tertawa lagi... Bisa... Tidak?...” Dad R meluruh.


“Dad---“


“Gadis menyebalkan itu,”


Dad R bertutur setelah sebentar ia meluruh, dan Rery merangkulnya.


“Dulu ia sering sekali membuatku kesal, setelah ia jatuh cinta pada Kaka...”


Dad R terkekeh kecil sambil menghapus air matanya, lalu menoleh lagi ke satu arah di mana Rery juga memandang ke arah yang sama dengan Dad R.


“Dan sekarang, dia membuatku menjadi pria melankolis... memang dasar gadis menyebalkan, sulit sekali apa ya untuk membuatku duduk tenang?...”

__ADS_1


“Namanya juga ulat bulu, Dad...”


“Iya kau benar. Bukan ulat bulu namanya kalau tidak membuat orang gatal-gatal.”


Dad R menimpali ucapan Rery.


“Walau begitu, aku sungguh merindukannya---“


“Bukan hanya anda seorang Tuan Moreno Aditama Adjieran Smith yang rindu dibuat gatal oleh gadis ulat bulu kita---“


“Mom.”


Adalah Mommy Ara menyambangi Dad R dan Rery.


“Mohon maaf Tuan Muda Rery Fandrew Adjieran Smith, aku ingin memeluk suamiku...”


Mommy Ara berkata sembari tersenyum geli, Dad R dan Rery kemudian terkekeh kecil.


Rery pun melepaskan rangkulannya pada Dad R. “Silahkan Nyonya Kyara Moreno Adjieran Smith,” ucap Rery kemudian seraya ia bergeser dengan bertingkah sedikit konyol.


“Terima kasih Tuan Muda Rery, anda sungguh perhatian sekali,” geli Mommy Ara. Sambil ia menyelusup ke pelukan Dad R yang langsung merangkul Mommy Ara mesra.


Rery kemudian meninggalkan keduanya. “Dimana yang lain?...” tanya Dad R pada Mommy Ara saat Rery berjalan menjauhi kedua orang tua yang masih rupawan di usia paruh baya mereka itu.


“Sebentar lagi akan menyusul ke sini...” jawab Mommy Ara dengan memandang pada Dad R. “Dad R kenapa menjadi cengeng sekali sekarang, hem?” cetusnya sambil mengusap sudut mata Dad R yang Mommy Ara lihat sedikit basah.


Dad R pun tersenyum geli. “Macam sendirinya tidak menjadi lebih cengeng saja?... bahkan anda kan lebih cengeng dariku, Ibu Peri? Bukan begitu, hem?... wajahmu bahkan terlihat sembab setiap jam... macam istri yang teraniaya oleh suaminya,” cerocos Dad R kemudian, dan Mommy Ara terkekeh geli.


“Tapi tetap cantik kan?” tanggap Mommy Ara.


“Tentu saja---“


“Tapi Val jauh lebih cantik dariku, bukan?”


“Baru aku mau bilang begitu.”


“Semua akan baik-baik saja, Hon.”


“Aku selalu memintanya di dalam doaku, Babe...”


“Semua akan baik-baik...” sebuah suara menginterupsi sepasang suami istri yang sedang berada di dalam satu ruangan itu. “Stop being pesimistic ( Berhenti menjadi pesimis )---“


“Pinter ya nasehatin orang...” satu suara berbeda tipe menimpali seseorang yang datang menginterupsi Dad R dan Mommy Ara. “Padahal sendirinya sama macam Kak Ren. Sering mewek kalo sendirian disini.”


Adalah Poppa dan Momma yang baru saja masuk ke ruangan yang adalah sebuah kamar itu, diikuti dengan para anggota keluarga inti mereka lainnya tanpa terkecuali.


Poppa terkekeh mendengar timpalan Momma, begitu juga Dad R dan Mommy Ara serta lainnya yang sudah berada di dalam kamar yang sama dengan Dad R dan Mommy Ara.


“Tapi Poppa benar. Semua upaya sudah kita lakukan. Dan optimisme harus kita terapkan. Selain doa yang tak putus dilantunkan.”


“Sisanya, Tuhan punya kuasa.”


⭕⭕⭕⭕⭕


Jakarta, Indonesia...


Pada sebuah rumah yang termasuk dalam kategori rumah mewah.


“Mama kenapa?” adalah Arya Narendra yang bertanya dengan heran serta khawatir di kala ia sampai ke lantai bawah rumahnya, lalu melihat pada sang ibunda bersimbah air mata dalam pelukan Sony --- dimana kakaknya itu nampak memerah matanya serta muram wajahnya.


“KALIAN ANGGAP GUA DAN CELLO INI APA??!!”


Namun sebelum Arya mendapatkan jawaban dari ibu dan kakaknya, Arya di kagetkan dengan sangat oleh teriakan sang ayah yang nampak sedang menempelkan ponsel di telinga pada salah satu sudut berbeda dari tempatnya berdiri di dekat ibu dan kakak lelakinya itu.


Arya pun menggegaskan langkahnya ke arah ayahnya berada.


“Sampai hal separah ini, kalian sembunyikan dari kami... b*llsh*t lo bilang kalau kita ini keluarga...”


‘Hal parah?...’ hati Arya yang bertanya, lalu hendak menyela pembicaraan sang ayah dengan seseorang dalam sambungan telepon yang Arya tidak tahu siapa. “Pa –“


“Magda hubungi gue. Dia tanya, apa gue tau, soal Val... yang katanya udah ga ada...”


Tepat saat Arya ingin menjeda, sang ayah berbicara lagi dengan melirih sambil tertunduk lesu memegangi matanya.


Dan Arya, sedang menelaah ucapan sang ayah barusan.


Dimana beberapa detik berikutnya, Arya langsung limbung di tempatnya setelah ia memahami ucapan ayahnya itu.


“A-apa maksudnya Val udah ga ada?...”


Arya menghampiri ibu dan kakak lelakinya. Meninggalkan ayahnya yang masih fokus berbicara dengan seseorang di ujung ponselnya.


Karena Arya, sungguh ingin memastikan betul apa yang tadi didengarnya dari sang ayah.


“Kata... Tante Magda, dia dapet kabar dari salah seorang temannya Lena kalau Val... Val... Ya Tuhaan...”


Ibunda Arya tidak meneruskan ucapannya, karena beliau kembali terisak keras di pelukan Sony. “Ga mungkin.”


Arya menggeleng tak percaya.


“Kak Kaf, udah ke London waktu denger kabar itu...” tukas Sony. “Dan dari sikapnya waktu pulang, Tante Magda bilang, kalau Val... udah ga ada... itu bener.”

__ADS_1


⭕⭕⭕⭕⭕


Arya kembali limbung setelah mendengar ucapan Sony.


Rasa tak percaya serta duka menyelimutinya, dan mata Arya pun telah memerah.


Berkali-kali Arya menggeleng, lalu memijat mata dan menghapus kasar wajahnya.


“Lo mau kemana?!...” cetus Sony ketika Arya berbalik dan melangkah ke arah pintu utama rumah mereka.


“Gue mau mastiin langsung dari mulut Kak Kaf tentang Val –“


⭕⭕⭕⭕⭕


Sementara itu di hunian yang lain...


Masih di kota yang sama dengan hunian milik keluarga Arya Narenda.


“Bun... Kalau AA bilang Bunda dan Lena harus pergi shopping, itu artinya kalian harus pergi shopping... Ngerti?...”


Seorang pria dengan penampilan yang kacau sedang berbicara dengan ekspresi datar pada dua wanita berbeda usia.


“Tapi A –“


“Bunda, sayang AA, kan?”


“Iya pastilah ‘A –“


“Kalau begitu ambil ini, dan lakukan apa yang AA minta, oke?...”


⭕⭕⭕⭕⭕


“Len, puter balik...”


Adalah ibunda Kafeel yang telah berada di dalam mobil, dengan anak perempuannya yang sedang mengemudikan mobil yang keduanya tumpangi, setelah mereka sudah sedikit agak jauh dari daerah hunian mereka.


“Tapi Bun –“


“Puter balik, Lena. Perasaan Bunda ga enak.”


“Tapi nanti kalo AA marah Bun?” tutur Lena, adik perempuan Kafeel.


“Urusan nanti itu Len. Yang jelas kalo liat penampilan AA tadi, Bunda kok jadi ngerasa takut AA nekat kayak yang kamu bilang tadi.”


“Iya juga sih Bun,” sahut Lena.


“Ya udah atuh cepet puter balik.”


“Iya, Bun –“


⭕⭕⭕⭕⭕


Gegas, ibunda Kafeel keluar dari dalam mobil yang dikemudikan anaknya ketika mereka telah kembali lagi ke rumah mereka.


“ALLAH!!!”


Dengan perasaan takut jika anaknya sampai berbuat nekat pada istrinya yang masih dalam sekapan itu, bundanya Kafeel malah dihadapkan oleh pemandangan mengerikan ketika ia langsung menyambangi kamar anak lelakinya itu setelah ia memasuki rumah.


“A – AAA!!!!---“


“Astagfirullah!”


Teriakan Lena, membuat seseorang yang baru saja sampai di pintu masuk rumah sontak terkejut dan langsung berlari mencari sumber suara.


“ARYAA!!...”


“Ya Allah Kak Kaf!”


Arya bergidik mendapati pemandangan yang ada di hadapannya sekarang.


Dimana Arya langsung menghampiri Kafeel yang telah tergeletak bersimbah darah dari pergelangan tangannya, di atas lantai kamarnya.


⭕⭕⭕⭕⭕


Di sebuah hunian lain...


“Tuan –“


“Ya?”


“Kafeel Adiwangsa, bunuh diri ...”


"Apa katamu?! ..."


"Tuan Arya yang mengabarkan pada orang tuanya, yang kemudian menghubungi Tuan Jonathan. Dan Tuan Jonathan tidak dapat menghubungi anda, jadi dia menghubungi saya."


"Dimana Kaka sekarang?"


"Tuan Arya membawanya ke rumah sakit, Tuan."


"Bawa aku kesana."

__ADS_1


⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕⭕


To be continue......


__ADS_2