HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MATURITY SIDE


__ADS_3

( Sisi Kedewasaan )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia,


“Pas banget kamu datang Ka, yuk sekalian makan?“ ucap Ene Bela pada Kafeel yang baru saja tiba ke rumah Keluarga Cemara tersebut, tepat diwaktu mereka yang sedang berada di rumah Ake Herman dan Ene Bela itu hendak makan malam bersama, walaupun ujungnya pada mencar duduknya nanti, bukan hanya di ruang makan.


“Iya Nek, makasih ....”


Kafeel menjawab tawaran Ene Bela untuk makan malam dengan sopan, sambil Kafeel mencium takdzim punggung tangan si Ene, serta juga Ake Herman dan dua pasang orang tua yang ada di rumah Keluarga Cemara itu.


“Call Ann ( Panggil Ann )”


Poppa berucap.


“Biar aku yang panggilkan,” sahut Mika, sambil ia berlalu untuk pergi ke lantai dua rumah yang ditinggali oleh dua kakek dan nenek tercinta dari empat lainnya.


♥♥


“Mana Ann?“ Mami Prita yang melontarkan pertanyaan, kala Mika telah kembali ke tengah-tengah mereka yang hendak memulai makan malam.


“Masih di kamar,” jawab Mika.


“Lagi ngapain sih dia betah banget di kamar?” lalu Isha menyambar juga untuk bertanya.


“Tidur,” jawab Mika singkat.


“Tidur?-“


“Iya, Mi,” respon Mika pada ucapan Mami Prita.


♥♥


Sementara itu, di dalam sebuah kamar,


“Kepalaku jadi sakit memikirkan hal itu..”


Ada Ann yang menggumam sambil mendengarkan musik dari sebuah perangkat yang ia hubungkan dengan sebuah earphone menyumbat kedua telinganya.


“Uh, sulit sekali membuat diriku ini tidur.”


Ann kembali menggumam, setelah beberapa saat setelah ia sendirian di dalam kamar yang ditempatinya bersama para saudarinya di dalam rumah Keluarga Cemara.


“Sudah waktunya makan malam-“


“Ann?..” Tepat saat Ann sedang merasa gelisah dalam posisinya yang sedang berbaring telungkup malas-malasan dan membelakangi pintu, Mika membuka pintu kamar lalu langsung masuk dan memanggil Ann.


“Perutku lapar, tapi gara-gara Rery mengatakan jika ia hanya ingin pasangan yang satu iman dengannya, lalu melarangku untuk berpindah keyakinan dengan Rery dan mereka semua kecuali Papa dan Mama, aku jadi malas untuk makan.” Ann terus menggumam, tanpa menyadari kehadiran Mika.


“Ann?..”


“Eh, May?” Hingga saat Mika berada di hadapannya, Ann terkesiap.


“Makan malam udah ready-“ ucap Mika. “Kamu ditunggu semua orang.”


♥♥


“Kamu kenapa, Ann?” tanya Mika, karena Ann tidak antusias merespon ajakannya untuk turun makan malam.


“Nothing, May,” jawab Ann. “Aku hanya sedang malas saja.”


Ann bangkit dari posisinya, lalu duduk berhadapan dengan Mika di atas ranjang.


♥♥


Mika mengulas senyuman, kala Ann terduduk lesu di hadapannya saat ini.


“Kamu terganggu dengan ucapan Rery soal prinsipnya ya?-“ ucap Mika seraya bertanya pada Ann, sambil menatap lekat pada saudarinya itu.


“Sedikit ..”


Ann yang memang terang-terangan itu tidak juga bisa berdusta pada Mika yang peka pada para saudara dan saudarinya, sebagaimana satu sama lain yang seperti itu.


Apalagi Mika perempuan yang mengerti kondisi hati kaumnya yang lebih sensitif jika sudah berurusan dengan yang namanya hati dan perasaan.


“Kamu ga perlu ambil hati sama ucapannya Rery, Ann.”


Mika berucap menenangkan, seraya ia tersenyum.


“Supposed to (Seharusnya begitu) ..”


Ann merespon ucapan Mika padanya.


“Tapi sepertinya Rery serius dengan ucapannya itu-“


“Orang akan berubah, Ann ..” tukas Mika. “Lagipula, kan kita tidak tau apa yang akan terjadi dimasa depan?-“


“Iya memang, May-“


“Ya udah Ann, jangan kamu jadi bersedih begini dong-“


“Aku tidak sedang bersedih, May-“


“Tapi galau? ..” terka Mika dan Ann terkekeh kecil.


“Bagaimana aku tidak menjadi galau jika aku mencetuskan solusi agar aku dan Rery bisa bersama di masa depan, tapi Rery malah melotot dan berkata tajam padaku?-“


“Aku ngerti soal itu, Ann .. Tapi aku juga ngerti kenapa Rery sampai begitu pada kamu,” tukas Mika. “Rery bukannya melarang kamu berganti keyakinan sebagaimana keyakinan yang kami anut selain Papa Lucca dan Mama Fabi. Hanya aja, yang memang banyak hal yang perlu dipertimbangkan, dan kamu masih punya banyak waktu buat memikirkannya, Ann .. Karena agama itu kan sensitif, selain jika ingin merubah kepercayaan, ada baiknya kamu meyakininya atas hati kamu sendiri, bukan karena alasan lain, apalagi karena seseorang. Nanti Tuhan marah, karena merasa dipermainkan-“


“Iya, May, aku mengerti.”


Ann mengulas senyumannya pada Mika.


Mika pun balas mengulas senyuman pada Ann, serta memberikan pelukan dukungan hangat dari seorang saudari, yang mana Ann sambut dengan hangat juga pelukan Mika padanya.


♥♥


“Thank you, May.”


Ann berucap lembut setelah pelukannya dan Mika terurai.


“No need to thank your own sister ( Tidak perlu berterima kasih pada saudari sendiri )” balas Mika.


“I love you, sister!” ucap Ann lagi.


“Love you too, sister!” Mika pun membalas sembari tersenyum sebagaimana Ann padanya. “Ya udah, ayo turun!”


Mika beranjak dari posisinya seraya mengajak Ann untuk turun makan malam.


“Aku masih belum selera makan tapi, May,” ucap Ann seraya meringis kecil dan menampakkan cengirannya pada Mika yang kemudian menghela nafasnya.


“Tapi kamu harus ingat kalau kamu memiliki mag, Ann ...”


Mika berucap khawatir.


“Iya, aku tahu,” sahut Ann. “Aku pasti makan kok, May.”


Ann lanjut berucap.


“Tapi sekarang aku masih malas dan juga belum lapar.”


Ann mengulas lagi satu senyuman.


“Bisa kamu katakan pada semua orang jika aku sudah tidur saja, May? ... Karena aku ingin sendirian terlebih dahulu ...”


“Ya sudah, iya ...”


“Thank you, May ...”


Ann tersenyum lebar.


♥♥

__ADS_1


“Lagi ngapain sih dia betah banget di kamar?” Isha menyambar juga untuk bertanya, dimana sebelumnya Mami Prita yang menanyakan soal Ann lebih dulu karena Mika kembali hanya sendirian saja.


“Tidur,” jawab Mika singkat.


“Tidur?-“


“Iya, Mi,” respon Mika pada ucapan Mami Prita.


“Si Ann sakit, Mika? ...” Ini Ake Herman yang bertanya.


“Engga kok, Ke –“


“Kok tumben die udah tidur jam segini? –“


“Mungkin memang sudah mengantuk aja, Ke –“


“Kalian bertengkar? ...” Ini suara Poppa yang bicara dengan nada bertanya, sambil memandang pada Rery.


♥♥


Atas tatapan penasaran Poppa, Rery akhirnya bercerita, jika ia sedikit banyak tahu mengapa Ann tidak mau bergabung makan malam bersama dengan semua orang yang ada di rumah Keluarga Cemara saat ini.


Meskipun Mika mengatakan jika Ann sedang tidur, namun Rery sudah dapat mengira – ngira mengapa Ann memilih untuk tidur cepat. Rery tahu, jika Ann mungkin terganggu dengan satu topik yang tadinya tertuju pada Aro dan seorang teman sekolah yang disayanginya.


Yang mana satu topik itu, memang juga mengena pada hubungan Ann dan Rery, yang adalah saudara angkat dengan kepercayaan yang berbeda. Dimana agama yang Rery dan Ann anut sesuai dengan agama warisan orang tua mereka – istilahnya.


Poppa mendengarkan Rery berbicara, begitu juga mereka yang sedang berada didekat Rery saat ini.


“Aku kan hanya bicara secara spontan saja, tanpa ada maksud apa – apa juga pada Ann ...”


Rery berucap setelah ia bercerita dengan fokusnya yang lebih kepada Poppa.


“Tapi kamu memarahinya, Rery ...”


Mika bersuara.


“Aku tidak memarahinya, May-“


“Tapi melotot padanya saat kamu menyergah Ann tadi.”


Mika lagi berkomentar.


“Ya habis dia sembarangan saja bicara mau pindah agama segala? ...”


Rery menyergah ucapan Ann.


“Kok gue jadi merasa bersalah ya? Karena awalnya kan gue yang ngomongin soal prinsip gue yang ga mau pacaran sama Daisey-“


“Ya bukan salah lo juga, Ro. Namanya prinsip, mau bagaimana?-“


“Iya, sih. Tapi biar gitu sedikit banyak, gue juga ikutan bikin Ann ga nyaman, karena lo yang mendukung prinsip gue itu, Ry.”


“Ya memang prinsip gue sama sama lo, mau bagaimana habisnya? ... Dan Ann bertanya dengan tiba – tiba, ya aku spontan menjawab apa yang ada di pikiranku-“


Lalu Rery menyampaikan pendapatnya, dan berkesah setelahnya.


“Lagian kalian ini ya, gadis – gadis di keluarga ini, terlalu dewasa lebih cepat dari waktunya, jadi kalian sudah disibukkan dengan yang namanya cinta – cintaan! ...”


“Namanya hati memang bisa dicontrol?!”


Mika yang menyahut dengan sedikit ketus.


“Ya memang, tapi seengganya Ann kan tidak perlu terlalu – lalu memikirkan aku dan dia kedepannya bagaimana? ... Kami ini masih enam belas tahun. Rasanya terlalu jauh berbicara soal hubungan cinta di usia kami sekarang ...”


“Tapi seengganya hargai sedikit perasaan Ann ke kamu, Rery ...”


Mika kembali bersuara, dengan ekpresi juteknya.


“Kalau aku ga menghargai perasaan Ann, aku sudah punya banyak teman cewe di sekolah, okay?!”


“Ini meja makan, bukan arena debat.”


Poppa terdengar berbicara lagi sambil memandang pada Rery dan Mika bergantian.


“Dan kau, lain kali lihat dulu lawan bicaramu saat kau sedang mendapat pertanyaan sebelum kau menjawabnya. Kau dan Ann sama – sama anakku, jadi jangan membuat posisiku sulit. Aku hargai setiap prinsip kalian, tapi jangan sampai ada yang menyakiti dan tersakiti diantara kalian semua atas hal yang kalian yakini itu benar.”


Lalu usapan sayang sampai di kepala Rery dari Ene Bela yang ada di sampingnya. “Udeh ah, jangan pada berantem. Makan dulu ye?-“


“Ya udah, bener tuh kata Ene, makan dulu.” Momma bersuara kemudian, sambil Momma mengusap pelan lengan Poppa yang kemudian mengangguk.


“Ucapanku tidak hanya berlaku untuk Rery, tapi juga untuk kalian semua. Mengerti? ...” ucap Poppa lagi sebelum ia kemudian diam dan makan dengan tenang.


“Mengerti, Pop ...”


Dan tentunya, para pewaris muda selain Rery yang sedang bersama dengan Poppa saat ini langsung menanggapi ucapan Poppa barusan itu.


♥♥


“Ga makan, Ry? ...”


Itu Kafeel yang bertanya pada Rery, dimana satu bujang itu terlihat berjalan dari arah ruang makan namun melenggang, tak membawa apa-apa di tangannya-kala Rery bergabung bersama Val dan Kafeel, serta Varen dan Drea berikut dua bocil terbocil.


Rery menggeleng. “Nanti Kak, aku bareng Ann makannya-“


“Hmm ...”


Kafeel manggut-manggut.


“Udah diliat Ann nya ke kamar? ...”


Andrea yang rampung makan dan menyuapi Varen itu bertanya pada Rery.


Rery menjawab dengan gelengan.


“Aku takut mengganggunya ...” ucap Rery kemudian.


Andrea dan mereka yang sebelumnya berada di ruang tamu sebelum Rery yang kemudian disusul Aro, kemudian tak lagi berkomentar.


♥♥


“Gue asli jadi ga enak sama Ann, Ry ...”


Aro berucap.


“Ya mau gimana habisnya?”


Rery menanggapi ucapan Aro.


“Gue tengok dulu kali ya si Ann, kali aja dia udah bangun? ...”


“Ga usah ...” sergah Rery. “Biar gue aja nanti yang sambangi dia ke kamar The Gals.”


“Ya gue mau minta maaf juga lah sama Ann. Gue ga ada maksud bikin dia jadi kepikiran gara-gara soal gue dan Daisey ...”


“Hem ...”


Rery melandaikan duduknya.


Sedikit banyak, Rery juga sama merasa tidak enaknya seperti Aro yang merasa tidak enak pada Ann.


Terlebih, Rery adalah yang paling dekat dengan Ann selama ini. Seperti yang Poppa katakan, Rery tidak ada sedikitpun niat untuk menyakiti hati Ann dengan ucapannya.


Pernah bermusuhan dengan Ann-dimusuhi lebih tepatnya oleh Ann, Rery tidak mau itu sampai terjadi lagi, karena Ann yang memusuhi Rery itu, akan bersikap seolah tidak mengenal Rery.


Tapi di atas itu, Rery tidak ingin Ann bersedih-meskipun Rery berpikir jika Ann terlalu jauh memikirkan soal hubungan mereka di masa depan nanti sebagai pasangan.


Yang entah bagaimana takdir akan membawa mereka berdua nanti, yang mana tidak Rery pikirkan.


Karena bagi Rery-selain bersyukur, Rery ‘just go with the flow’-ikuti saja kemana jalan takdir akan membawa hubungannya dan Ann dimasa depan nanti.


Yang jelas Rery tidak ingin bermusuhan dengan para saudara-saudarinya, terlebih dengan Ann.


♥♥


Kembali lagi ke sebuah kamar yang disebut dengan kamar The Gals,


“En?”

__ADS_1


Sapaan memanggil nama seseorang terdengar ketika pintu kamar yang ditempati oleh para Incess terbuka dengan pelan.


Yang mana seseorang yang memanggil satu nama itu adalah Ene Bela, yang menyambangi Ann ke kamar para cucu perempuannya biasa tempati jika sedang lengkap berkumpul.


“Eh, Ene?” Ann dengan cepat menjawab panggilan Ene Bela barusan.


“Kata Mika, En lagi tidur?”


Ene Bela yang sudah berada di dekat Ann itu-dengan panggilan yang Ene Bela sesuaikan dengan lidahnya pun lantas bertanya pada gadis yang nampak kikuk karena kepergok bahwasanya ia tidak tidur.


“Eengg, iya, Ne ....“


Ann menyahut kikuk pada Ene Bela, karena dirinya yang tadi meminta Mika mengatakan pada anggota keluarganya yang hendak makan malam itu, jika dirinya sedang tidur, dan nyatanya Ene Bela malah mendapatinya yang sedang duduk termenung masih di atas ranjang itu.


“En, sakit?”


Ene Bela mengusap lembut kepala Ann yang dengan segera menggeleng.


“Tidak kok, Ne,” jawab Ann dengan cepat.


“En berantem sama Rery?-“


“Tidak, Ne. Aku dan Rery tidak bertengkar sama sekali.”


Ann mengibas-ngibaskan tangannya.


“Terus kenapa En engga mau ikut makan malem bareng-bareng. Kayaknya kalo Ene liat mukanya, En ga abis tidur? ... bener kan?”


Dugaan Ene Bela itu membuat Ann nyengir kuda, karena Ene Bela dapat menebak kebohongannya yang disampaikan oleh Mika pada semua orang di lantai bawah saat waktu makan malam.


“Kalo En emang ga lagi berantem ama Rery, kenapa En milih sendirian disini, hayo?-“


“Itu ...” bingung Ann. “Ann hanya belum merasa lapar saja, Ne. Dan lagi tadi ada teman Ann yang telfon, jadi Ann terlalu asyik dan melewatkan makan malam ...”


“Oh gitu ...”


“Iya, Ne-“


“Ya udah mendingan sekarang En turun makan gih?-“


“Iya, Ne-“


“Atau mau Ene bawain makanan kesini?-“


“Oh tidak Ne, tidak perlu. Biar Ann yang turun.”


Ann membuat dirinya nampak bersemangat di depan Ene Bela.


“Ene duluan saja turun, Ann ingin mencuci muka dulu ...”


“Ya udah kalo gitu,” sahut Ene Bela.


♥♥


“Fuuhhh-“


“Ann.”


Baru saja Ann sedikit beringsut dari tempatnya dengan masih terduduk disisi ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah, serta menarik nafas selepas kepergian Ene Bela dari kamar tempatnya berada sekarang, Ann dibuat sedikit terkejut dengan kehadiran satu orang lagi yang mengusap lembut puncak kepalanya.


“Re-An? ...” Dengan spontan Ann langsung menyebutkan nama orang yang muncul di kamar setelah Ene Bela, dan juga mengusap lembut puncak kepalanya itu, yang mana adalah Rery.


Dimana Rery kemudian mengambil tempat disisi Ann. “Kamu marah sama aku, Ann? ...”


Lalu Rery bertanya dengan pada Ann, yang langsung menggelengkan kepalanya.


“Lalu kenapa tidak turun makan malam? ...”


Sambil Rery menatap Ann lekat kala ia bertanya.


“Memang Rery tidak bertemu Mika?”


“Bertemu-“


“Memang Mika tidak bilang jika aku sedang tidur?”


Ann lanjut bertanya.


Rery mengangguk.


“Tapi aku tidak percaya kamu tidak turun makan malam karena tidur setelah melihat kamu sekarang, Ann ...”


Lalu Rery tersenyum simpul.


Dan tangan Rery terulur lagi mengusap kepala Ann dengan lembut.


“Aku minta maaf ya, Ann? ...”


“Minta maaf untuk apa, Re-An?”


“Karena sudah menyinggung perasaan kamu tadi sore, Ann.”


“No, Re-An,” sahut Ann sembari ia menggeleng. “Aku sama sekali tidak merasa tersinggung, Re-An.”


“Tapi kamu terlihat murung, dan terkesan menjauhi aku, Ann.”


Rery melipat bibirnya.


“Aku tidak nyaman dengan itu ...”


“Maaf Re-An, aku sungguh tidak bermaksud membuat kamu merasa seperti itu-“


“Aku tidak mau, Ann-“ sambar Rery. “Aku tidak mau kamu menjauhi aku, apalagi memusuhi aku.”


Lagi, Rery melipat bibirnya.


“Kamu kan sudah pernah marah padaku serta memusuhiku walau sebentar ... dan cukup sekali itu saja-“


“Aku tidak sedang marah pada kamu karena perkataan kamu tadi sore, Re-An. Sungguh.”


“Benar?” Rery memastikan dan Ann mengangguk penuh kesungguhan sambil menatap Rery.


“Benar, I swear ( Aku bersumpah ). Jika aku tidak sedang marah padamu,” ucap Ann kemudian.


Rery pun tersenyum lebar. “Aku lega sekarang ... Kalau kamu tidak marah padaku ... Karena aku tidak mau kamu musuhi, Ann ... Jangan pernah.”


“Aku tidak akan pernah memusuhi kamu, Re-An-“


“Janji?”


“Janji!” Ann menyahut antusias seraya tersenyum manis.


“Pokoknya kalau suatu hari kita berseteru, jangan ya kamu memusuhi aku? ... Ajak aku bicara, meski aku yang akan lebih dahulu mengajak kamu bicara-“


“Tentu saja kamu yang harus lebih dulu mengajak aku bicara Re-An. Kan kamu tahu jika aku ini egois?-“


“Kamu nih, egois kok bangga? ...” kekeh Rery sambil memencet gemas hidung Ann, yang orangnya ikut terkekeh kecil.


“Sa-yang, Re-An.”


“Sayang kamu juga, Ann ...”


Rery membalas rengkuhan Ann padanya.


“Andai suatu hari kita berseteru Ann, satu hal yang perlu kamu ingat. Kalau aku menyayangi kamu, dan dalam keadaan apapun nanti, aku akan mengutamakan kamu. Jadi jika marah padaku, bahkan sangat-sangat marah, jangan pergi, apalagi pergi dengan menganggapku sebagai musuh. Karena jika pada saat itu aku yang mungkin sedang marah pada kamu, tapi kamu memusuhiku, aku pasti akan merasa sakit, jika dibenci oleh kamu, Ann ... Bagaimanapun garis takdir membawa kita dimasa depan, ingat satu hal kalau kita ini ibaratnya mata ...”


“..........”


“Jika terbuka sama terbuka, begitupun sebaliknya. Jika yang satu menolak untuk bergerak bersama, maka tidak akan sempurna, bukan?-“


“Iya, Re-An ... Aku juga mohon maaf ya, kalau sudah membuat Re-An menjadi tidak nyaman?”


Ann berucap tulus dan Rery mengacak sayang rambut Ann, sambil Rery bilang,


“Ingat selalu jika kita saling menyayangi ya Ann?. Karena seandainya kita berseteru dengan hebatnya, rasa sayang itu yang akan membuat kita saling merasa, jika kita saling membutuhkan serta saling melengkapi satu sama lain hingga benci yang mungkin ada, dapat terkikis dengan mudahnya ...”


♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue ...


__ADS_2