HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MENCINTAI - DICINTAI


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Sandarkan kepalamu, di dalam hatiku tak ada yang sepertimu.


Putih adalah warnamu, tak ada yang sepertimu.




Jakarta, Indonesia....


Val dan bodyguard yang menemani sekaligus untuk menjaganya, telah sampai di sebuah komplek apartemen yang merupakan salah satu aset The Adjieran Smith Family.


“Nona.” Achiel kini telah kembali ke hadapan Val setelah ia selesai di resepsionis gedung apartemen dimana ada satu unitnya Kafeel di sana. “Menurut para staf, Tuan Kafeel tidak ada di unitnya saat ini. Sudah juga coba disambungkan ke unitnya tapi tidak ada yang menjawab.” lanjut Achiel, dimana Val langsung cemberut.


Namun seperti yang Val katakan pada Dad R dan Mommy Ara, jika ia ingin membuktikan sendiri bila benar Kak Kafeel tercintanya sedang tidak berada di Jakarta—seperti itu sikap Val pada Achiel.


Meski sudah diberitahukan Achiel bahwa diyakini oleh para staf apartemen, Val tidak langsung mau pergi dari gedung apartemen tersebut. Bahkan Val bertanya lagi pada resepsionis yang ia suruh untuk memastikan ulang keberadaan Kafeel di unitnya.


“Val ingat waktu Val diajak ke sini oleh Kak Kafeel tapi tidak melalui pintu lobi, melainkan dari parkiran. Bisa saja kan mereka yang disini tidak melihat Kak Kafeel datang ke unitnya? Lalu sekarang tidak ada yang menjawab line di unitnya itu, yaa bisa saja Kak Kafeel sedang tidur.”


Yang Val katakan pada Achiel.


“Val ingin langsung mendatangi unit Kak Kafeel saja dan ingin masuk ke sana bagaimanapun caranya—“



Sebagaimana titah Dad R sebelum ia menyertai Val yang ingin bertemu Kafeel dengan segera, Achiel tak ada menyergah satupun ucapan dan permintaan Val. Jadi saat Val mengatakan ingin langsung mendatangi unit Kafeel bagaimanapun caranya, Achiel langsung memanggil salah satu staf agar membawa mereka langsung ke unit Kafeel yang menggunakan akses khusus untuk sampai ke lantainya itu. Yang mana tentu saja permintaan Achiel itu tidak dapat ditolak oleh para staff yang hafal wajah Achiel sebagai orangnya bos mereka juga yang beberapa kali sempat wara-wiri di gedung apartemen tersebut.


“Mohon maaf sebelumnya Nona, unit Tuan Kafeel Adiwangsa hanya dapat kami bebaskan akses kartunya. Tapi beliau menyetting akses masuk ke dalam unitnya dengan password juga, yang sulit untuk kami bobol karena akan mempengaruhi sistem keamanan unitnya secara keseluruhan. Dan jujur, kami agak takut melakukannya tanpa persetujuan pemilik, atau Tuan Alvarend, Nona.”


“Begitu ya?”


“Iya, Nona. Kami mohon maaf yang sebesarnya.”


“Ah!” Sedetik kemudian Val berseru dengan sumringah. “Hanya dengan password saja kan? Tidak ada verifikasi wajah atau jari?” tanya Val pada staf yang berhadapan dengannya itu kemudian.


“Iya, Nona. Tuan Kafeel hanya menggunakan akses kartu dan password saja jika melihat hasil deteksi sistem kami tadi,” jawab staf tersebut dengan hati – hati selain santun.



Teringat sesuatu, Val bergerak ke depan kotak pipih panjang yang terpasang tombol nomor di sana—kemudian Val langsung menekan beberapa nomor pada kotak pipih panjang tersebut dengan penuh keyakinan. Lalu Val sumringah kemudian, ketika ada suara terdengar, “Access granted.” Suara yang berasal dari mesin dalam benda pipih yang beberapa angkanya ditekan Val tadi, yang menyatakan jika akses masuk telah diterima.


Didetik berikutnya, terdengar kunci pintu terbuka otomatis.


“Kak Kafeel?..” Val langsung memanggil Kafeel setelah ia masuk dengan segera, tak lama setelah ia mendengar kunci pintu apartemen Kafeel otomatis bebas selepas Val menekan beberapa angka yang merupakan tanggal lahirnya.


Dimana Val membatin bahagia dan terharu, karena masih tanggal lahirnya yang Kafeel gunakan sebagai password apartemen pria yang amat Val cintai itu. Lalu kian terharu, ketika Val sudah memasuki unit apartemen Kafeel karena di dalamnya banyak sekali gambar diri Val yang terpajang.


Dari dinding dan nakas, cukup banyak figura yang menampilkan baik gambar diri Val atau gambar Val dengan Kafeel diantara segelintir foto campuran. 'Meski sudah menikah, nyatanya Kak Kafeel masih mencintaiku.' Val membatin haru. Setelah ia mendapati pemandangan yang membuat harapnya pada Kafeel membuncah.


“Nona tidak apa-apa?”


Achiel langsung menegur Val yang nampak tersedu dengan satu tangan nona mudanya itu yang menutupi mulut.


Khawatir jika nona mudanya itu merasakan sakit yang teramat hingga menangis, karena sebelumnya Achiel tidak memperhatikan Val akibat dirinya yang bergegas memeriksa keberadaan Kafeel di seluruh bagian unit penthouse pria itu.


Val langsung menggeleng. “Val tidak apa-apa Kak Achiel. Hanya merasa haru setelah melihat foto-foto Val yang belum disingkirkan oleh Kak Kafeel. Dan sekarang, Val jadi merasa kian rindu pada Kak Kafeel,” ucap Val kemudian. Achiel melipat bibirnya.


“Tapi Tuan Kafeel tidak ada di sini, Nona.”



“Kita ke rumah bunda Magda kalau begitu, Kak,” ucap Val setelah ia melihat kamar Kafeel yang kosong dalam apartemen pria itu. Dan Achiel pun langsung mengiyakan permintaan Val. Sesuai dengan titah Naga 1. Dimana Achiel jangan menyergah apa yang menjadi keinginan Val saat ini.


“Apa Nona merasa lelah?” tanya Achiel pada Val yang nampak diam saja sejak keluar dari unit penthousenya Kafeel.


“Tidak, Kak.. Val hanya sedang memikirkan Kak Kafeel,” jawab Val, dimana kemudian ia memegang salah satu lengan Achiel. “Eh iya Kak, tadi Val lupa mengunci unit Kak Kafeel dengan password.”


“Tenang saja Nona, pintu setiap unit di sini akan terkunci otomatis saat tertutup rapat. Dan tadi saya juga sudah memastikan menutup pintu itu dengan rapat, selain sudah meminta pada staf untuk memeriksanya lagi.”


Achiel memberikan jawaban yang sedetail mungkin pada Val yang kemudian berkata lega. “Syukurlah kalau begitu.. Kak Achiel memang ti-o-pi ( Top-maksudnya gengs )..”


Achiel menampakkan senyum kecilnya kemudian, selepas Val berkata sambil mengangkat dua jempolnya ke arah Achiel. Lalu langsung membawa Val masuk mobil yang sudah standby tepat di depan lobi.


Dimana mobil tersebut melaju menuju rumah bundanya Kafeel. Yang ditempuh dalam keheningan, karena di dalam mobil Val tampak melamun menatap ke arah luar jalanan. Dan tentunya, tak ada satupun bodyguard yang berani mengganggu Val yang melamun itu, termasuk Achiel.



Dan disinilah Val sekarang, di dalam rumah bundanya Kafeel. Dimana adik perempuan Kafeel yang kebetulan belum tidur atau entah sedang terjaga dari tidurnya itu, yang menyambut kedatangan Val dengan dirinya yang heran selain terkejut—atas Val yang mengenalinya.


Lena, adik perempuan Kafeel itu ingin bertanya lebih lanjut pada Val. Namun melihat Val seperti sedang tergesa selain saat Lena sempat melirik pada Achiel, bodyguard yang paling dekat dengan Val itu seolah memberinya kode asal jangan banyak tanya dulu pada Val dengan gerakkan mata dan dagunya.


Lena paham kode Achiel, pun paham dengan Val yang ingin bertemu dengan kakak lelakinya. “Yuk, aku anter ke kamar AA?..“ kata Lena yang langsung merengkuh pundak Val yang kemudian jalan berdampingan bersama untuk menuju kamar Kafeel. “Val udah inget tentang AA?”


“Sudah Lena. Makanya Val langsung meminta datang ke Jakarta dengan segera. Maaf mengganggu malam-malam begini ya, Lena? Aku hanya tidak bisa menahan keinginanku untuk bertemu dengan Kak Kafeel.”


Val berkata sungkan, namun Lena tersenyum manis.


“Aku takut, jika aku sampai melupakannya lagi karena otakku yang tidak stabil ini.”


Val berujar sendu kemudian, dan Lena tersenyum maklum serta iba.


“Kalo gitu keputusan kamu tepat cepet-cepet dateng kesini.:”


Lena yang kemudian berkata dengan nada penyemangat. Lalu saling melempar senyum pada Val.


"Silahkan, Val.” Lena mempersilahkan Val masuk setelah ia membukakan pintu kamar Kafeel yang tidak terkunci itu.


“Terima kasih, Lena.“


“Sama-sama, Val.”


Lena membalas ucapan terima kasih Val, yang kemudian melirih menyebut panggilan Kafeel yang biasa ia sematkan.


Karena dihadapannya, pria yang membuat Val bertolak dengan segera dari London—sampai enggan membuang waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan udara selama belasan jam—kini Val lihat dalam pandangannya.


Kak Kafeel tercintanya Val, sang pemilik hati Val, yang Val cintai dari ujung rambut sampai jempol kakinya.


Membuat Val menegang sekaligus berdebar akibat rindunya yang sudah membuncah dalam dada, sekaligus tidak percaya, kalau kini ia bisa bertemu lagi dengan Kak Kafeelnya.


Lalu setelah Lena memberikan sedikit informasi kepada Val tentang kondisi Kafeel yang sedikit kurang sehat, Lena mempersilahkan Val untuk mendekat. Dan Val pun melangkahkan kakinya untuk mendekat pada Kafeel yang nampak pulas terlelap di atas ranjang dengan satu tangan yang ada di atas keningnya.

__ADS_1



"Kak - Kafeel.." lirih Val yang sudah dekat dengan Kafeel yang nampak tertidur di atas ranjangnya itu.


Memandangi Kafeel dalam temaramnya cahaya dalam kamar Kafeel. Sedikit gelap bahkan, karena lampu kamar Kafeel yang dimatikan, dan pencahayaan hanya dari jendela yang terbuka gordennya.


Samar wajah Kafeel terlihat, namun tetap Val bisa pastikan jika wajah itu adalah wajah Kak Kafeelnya.


Sejenak Val terpaku di tempatnya karena mengingat perkataan Lena yang mengatakan jika Kafeel sedang kurang sehat dan sekarang sedang beristirahat.


Bruk!


Namun rindu yang bertalu, membuat keraguan Val yang takut mengganggu istirahat Kafeel itu mendorong Val untuk malah berhambur memeluk Kafeel.


Yang membuat sang pemilik tubuh dan dada yang sedang disandari kepala Val itu langsung saja terperanjat ketika merasa ada yang menubruk tubuhnya. Tak sampai berpikir jika itu Val, Kafeel terperanjat dengan mengeluarkan umpatan.


Bukan apa, dadanya yang ditubruk itu lumayan agak keras hingga membuat dirinya yang masih tadinya tertidur untuk beristirahat itu terbangun kaget dan membuat kepalanya jadi pening lagi seketika.


Hendak marah, dengan tangannya yang langsung memegangi dua lengan yang sedang memeluknya erat itu. lalu sedetik kemudian satu tangan Kafeel terulur ke arah lampu kamar sambil ia hendak bertanya ‘Siapa’ gerangan yang tahu-tahu menubruk dan memeluknya itu.


Namun pertanyaan ‘Siapa kamu’ yang ingin Kafeel cetuskan dengan kesal itu tak sampai lengkap, ketika sebentuk suara langsung terdengar bersamaan Kafeel yang hendak bertanya.


“Kak..”


Suara yang membuat Kafeel kemudian terpaku dalam posisinya.


Kian terpaku ketika sang pemilik suara mengangkat wajahnya bersamaan dengan lampu kamar Kafeel yang kemudian terang menyala.


Di detik itu Kafeel tergugu. “V – v – a – l..” Tergagap bahkan.


Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, sambil menerka-nerka apakah ia sedang bermimpi atau bukan.


Lalu suara Lena yang terdengar—yang seolah paham dengan yang kakak lelakinya itu sedang pikirkan atas keberadaan Val yang barusan memeluknya itu, membuat perlahan mata Kafeel mengembun hingga perlahan bulirnya turun ke pipi.


“AA ga lagi mimpi. Karena Lena juga melihatnya, A. Tuan Putrinya AA.. Yang AA rindukan setiap detiknya.. Nyata.. Bukan mimpi..”



Kafeel masih terpaku di tempatnya saat Lena mengatakan apa yang tadi adik perempuannya itu katakan, namun saat orang yang sedang Kafeel pandangi lamat-lamat dengan Kafeel yang seolah mematung karena mantera batunya medusa itu bersuara dan tersenyum namun dengan mata berkaca-kaca, “Hai.. Kak Kafeel.. I miss you so much.. Apa Kak Kafeel.. merindukan Val juga?..”


Didetik berikutnya, Kafeel tak mampu menahan gejolak perasaannya yang entah bagaimana untuk digambarkan. Hanya tangannya saja yang dengan cepat menarik tubuh Val yang kemudian Kafeel peluk dengan sangat erat.


Tubuh Kafeel bergetar, lalu isakannya terdengar. Tak hanya terisak, Kafeel meluruh. Bahagia dan harunya menjadi satu. Tak sangka, buah kesabaran dan keikhlasannya menunggu Val kembali padanya atau sekedar mengingatnya—doa-doa yang sering ia rapalkan dalam senyap pada akhirnya dikabulkan oleh Dia Yang Kuasa, Pemilik takdir manusia.


Tangis Kafeel pecah, begitu juga Val. Lena menyingkir dari tempatnya. Membiarkan dua orang yang saling mencintai itu mendapatkan ruang untuk bertukar rindu satu sama lain.


“Ka.. mu.. udah inget, aku, Val?..”


Kafeel mengurai pelukannya pada Val, namun Val tidak ia lepaskan begitu saja.


Dua tangan Kafeel menangkup wajah Val yang juga sudah basah dengan airmata seperti dirinya.


Val mengangguk seraya ia tersenyum, dengan lelehan air matanya yang masih turun bergantian dari pelupuk.



“Val.. sudah ingat semua.. tentang Kak Kafeel.. bahkan Val ingat.. kalau Val telah melupakan Kakak.. makanya.. Val.. memaksa untuk segera datang ke Jakarta.. Val.. ingin segera meminta maaf, karena sempat bersikap antipati pada Kakak.. Selain rindu Val pada Kakak.. sudah rasanya tidak terbendung lagi.. saat ingatan tentang Kakak telah Val dapatkan..” gugu Val, pada Kafeel yang menangkup pipinya dan bertanya.


Didetik setelah Val bertutur, Kafeel kembali merengkuh tubuh Val dan ia dekap lagi dengan eratnya. Meluapkan tangis bahagianya. Yang tak Val juga ingin siakan kesempatan untuk memeluk Kafeel dengan eratnya—Val melingkarkan lagi tangannya ke leher Kafeel. Lalu tak ada yang bicara diantara Val dan Kafeel. Karena keduanya sedang menikmati momen yang amat keduanya rindukan itu. Kafeel terlebih lagi. Yang rasanya jargon Poppa itu ingin ia pakai sekarang pada Val yang sedang ia peluk dengan eratnya itu.


Namun Kafeel tersadar, jika Val kemungkinan menjadi sesak karena pelukannya yang kelewat erat itu.


Jadi Kafeel mengurai pelukannya pada Val. Lalu menatap dalam Val dengan tersenyum, lalu jemari Kafeel menyentuh wajah Val.


Membelai wajah Val dengan lembut, dengan tatapan dalam dan merindukan. Val pun kurang lebih sama seperti itu, juga melakukan hal yang sama seperti yang sedang Kafeel lakukan padanya—membelai lembut wajah Kafeel.


Lalu apa yang selanjutnya terjadi, membuat debaran jantung Kafeel seolah menggila.


Cup.


Kala Val menempelkan bibirnya ke bibir Kafeel.


“I miss you so much, Kak..”


Yang Val katakan setelah Val mengecup singkat bibir Kafeel.


Kafeel tak membalas kalimat rindu Val itu. Namun yang Kafeel lakukan, adalah menangkup wajah Val yang langsung Kafeel sambar benda merah muda di bawah hidung Val.


Bukan sebuah kecupan seperti yang sebelumnya Val berikan duluan, melainkan sebuah ciuman dengan durasi yang tentunya lebih panjang dari kecupan.


Dan tak ingin Kafeel hentikan dengan cepat, ditambah Val menyambut baik ciumannya itu.


Hanya saja..


“Kenapa.. Val?..”


Kafeel langsung bertanya sendu, karena Val memutus ciuman mereka.


“Kita.. tidak seharusnya berciuman seperti ini..”


Val menjawab dengan sedikit tergugu.


Dimana Kafeel langsung terpikir pada satu hal.


Val sudah memiliki kekasih baru sekarang. Dan pasti karena itu, Val memutuskan ciuman mereka.


Kafeel tersenyum getir kemudian. “Maaf ya?.. aku lupa kalau kamu sekarang pacar orang.”


Padahal bukan karena alasan itu Val memutus ciumannya dengan Kafeel. Namun karena Val ingat jika Kafeel adalah suami orang.


‘Kan tidak lucu kalau istri Kak Kafeel walaupun Kak Kafeel tidak mencintainya, memergoki aku berciuman dengan suaminya di ranjang mereka.’


Begitu pikiran Val.


‘Nanti kalau divideokan bagaimana? Yah meskipun aku sudah bertekad menjadi pelakor diantara Kak Kafeel dan istrinya.. tapi aku kan maunya jadi pelakor yang elegan, bukan yang tertangkap basah lalu diviralkan karena menggoda suaminya duluan.’


Val tidak memperhatikan permintaan maaf Kafeel yang mengira jika Val memutus ciuman mereka karena Val yang sadar memiliki kekasih baru sekarang.


‘Padahal kan Kak Kafeel duluan yang menciumku. Yaa meski aku yang duluan mengecupnya. Dan seperti biasa, ciuman Kak Kafeel akan membuatku terlena..’


“Val?—“


“Heu?..”


Val terkesiap, kala suara Kafeel terdengar sambil Val merasakan sentuhan di salah satu pipinya.

__ADS_1


“Maafin aku, ya?.. untuk ciuman yang tadi.. maaf kalau kamu jadi tidak nyaman.. aku—“


“Justru Val yang ingin minta maaf. Karena seharusnya Val tidak mengecup Kak Kafeel duluan. Dan membuat Kak Kafeel jadi mencium Val.”


Val menukas ucapan Kafeel, dengan dirinya yang kini agak tertunduk.


“Val baru ingat kalau Kak Kafeel kan suami orang sekarang.. dan ini kamar kalian.. Val tidak pantas—“


“Hey..”


Kafeel menukas ucapan Val dengan mengangkat dagu Val hingga netra keduanya kini saling bertatapan.


“Kamu belum diberitahu yang sebenarnya?—“


“Diberitahu apa?—“


“Aku bukan lagi pria menikah sekarang.”


Kafeel menjawab cepat pertanyaan Val yang balik bertanya padanya itu.



Alih-alih girang, Val malah melipat bibirnya. “Val sudah tidak apa kok, Kak. Mengenai fakta bahwa Kakak yang tersilap dan terpaksa harus menikahi wanita yang jadi istri Kakak sekarang..”


Val berbicara dengan nada sendu sambil menatap pada Kafeel. Dimana Kafeel langsung tersenyum kemudian.


“Eh tapi ngomong-ngomong, istri Kakak mana?—“


“Val..”


Kafeel menukas lagi ucapan Val yang celingukan.


‘Apa wanita itu sadar diri melihat aku yang dicintai suaminya ini datang, lalu dia bersembunyi di dalam lemari karena merasa rendah diri kalah mempesona dariku?—‘


“Tuan Putri—“


“Heu?—“


“Melamun terus?”


Kafeel membuat lagi wajah Val berhadapan dengannya.


“Yaa Val sedang mencari istri kakak—“


“Aku sudah tidak punya istri sekarang, Val—“


“Kak—“


“Lihat dinding dan buffet di kamar ini.”


Kafeel memotong ucapan Val yang ingin menyergah pernyataan Kafeel tentang dirinya yang sudah tidak punya istri sekarang.



Val terpaku di tempatnya dengan Kafeel yang duduk di belakangnya, setelah Kafeel memutar pelan tubuh Val untuk menunjukkan pada Val apa yang banyak terhampar menghiasi kamarnya itu.


“Foto siapa itu yang bertebaran di kamar ini?”


“Foto.. Val dan—“


“Kita,” tukas Kafeel.


Yang kemudian melingkarkan tangannya di perut Val, memeluk Val dari belakang.


“Bagaimana laki-laki yang punya istri, memajang foto wanita lain di kamar mereka?”


“Iya, ya? Banyak pula foto Val dan Kakak..” jawab Val dengan polosnya. “Masa tidak sakit mata istri kakak melihat malah foto Val yang Kakak pajang di sini?”


Membuat Kafeel terkekeh gemas kemudian. Lalu ia mengeratkan pelukannya pada Val dengan masih pada posisi dirinya yang memeluk Val dari belakang. “Kamu.. selalu menggemaskan.”


Yang Kafeel katakan kemudian. Sambil membuat hidungnya dan Val bersentuhan, kemudian Kafeel gerakkan hidungnya pelan di hidung Val itu. Membuat Val jadi tersenyum, serta berbunga-bunga hatinya karena mendapay perlakuan seperti itu dari Kafeel.


Perlakuan yang Val anggap mesra.


“Aku.. duda sekarang jatohnya. Walau—“


“Benarkah?!” sambar Val.


Sambil Val memutar tubuhnya dengan cepat hingga kembali berhadapan dengan Kafeel.


“Makin parah ya?..” Kafeel berkata sendu. “Dulu, kamu terbebani karena aku dan pergaulan bebasku. Selain umur aku yang terpaut jauh dengan kamu. Dan sekarang.. aku punya predikat yang membuat diriku semakin ga pantas buat kamu, Val—“


“Benar Kak Kafeel seorang duda sekarang?!—“


“Iya, benar. Maaf ya?—“


“Kenapa harus minta maaf?”


“Yaa karena aku merasa—“


“Justru Val senang—“


“Heu?—“


“Val jadi ingat, dulu Val memiliki cita-cita ingin menikah muda bukan?—“


“I.. ya?—“


“Val ingin mengalahkan rekor Kak Drea yang menikah di usia 17 tahun, dengan Val menikah di usia 16 tahun —“


“I.. ya.. terus?—“


“Tapi tidak tercapai karena Kakak saja baru menyatakan cinta pada Val di usia Val lewat 17 tahun. Benar kan?—“


“Iya, benar—“


“Jadi rekor dalam keluarga menikah muda, masih dipegang Kak Drea. Selain rekor-rekor lain dalam keluarga. Poppa dan Momma yang persiapan pernikahannya paling cepat, lalu bla.. bla..”


“Jadi maksudnya?—“


“Dengan memiliki pasangan seorang duda, Val akan memiliki rekor baru dalam keluarga! Seru sekali bukan?!—“


“Heuu?—“


♥♥

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2