HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 118


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Singapura...


“Calm down ( tenang ) An – ry, hem?”


Rery berbisik lembut pada Ann, setelah Rery dengan cepat menyambar tubuh Ann yang kakinya sudah terangkat untuk menginjak wajah salah seorang anak lelaki songong yang telah mengatainya – setelah sebelumnya anak lelaki yang dihajar habis oleh Ann itu merundung Aro serta menghina keluarga mereka bersama tiga temannya.


Rery tak lama terlihat menarik sudut bibirnya - karena ia yang paling memahami Ann, kini merasa lega setelah ia merasakan perlahan tubuh Ann tak lagi menegang. Pertanda emosi Ann sudah turun. Dan memang Ann sudah lagi nampak santai.


“Sudah enak hatinya? ---“ tanya Rery sambil ia mengurai dekapannya pada Ann, namun tangan Rery masih memegang tubuh Ann.


Satu tangan Rery yang lain, mengusap kepala Ann sambil sedikit merapihkan rambut Ann yang sedikit acak – acakan walau dikuncir kuda.


Ann mengangguk seraya tersenyum. “Sudah ---“ jawab Ann sambil mengangguk beberapa kali. “Meski tidak terlalu, karena aku lupa merobek mulut mereka.”


“Next time ( kapan – kapan ), kalau mereka cari gara – gara lagi.” Tukas Rery setelah ia tersenyum dan mendengus geli mendengar ucapan Ann yang ingin merobek mulut anak lelaki songong yang telah dihajarnya.



“Kak Ann okay?”


Aina bertanya sambil menelisik tubuh Ann dengan tatapan sedikit khawatir, meski ia melihat Ann tidak sempat kena pukul lawannya.


“Aku okay Aina ----“ jawab Ann. “Kamu memang ga lihat kalau mereka bahkan tidak bisa menggapaiku?...”


Ann tersenyum lebar pada Aina.


“Iya liat. Tapi kan takut itu tangan Kak Ann luka. Kan Kak Ann sempat ikat cambuk Kak Ann ke tangan Kak Ann sendiri.”


Ann kembali tersenyum.


“It’s okay (Ga apa – apa) ----“


Ann mengangkat kedua tangannya dan membolak – balikannya.


“Lihat kan?...”


Aina pun mengangguk lega.


“Tapi tetap harus dikompres Ann ----“


Isha berkomentar. Rery dan Aina pun mengiyakan.



“Tuan Muda! Nona Muda! ----“


Suara orang yang para pewaris muda sangat kenali pun memanggil para sultan dan sultanah belia itu.


“Kak Achiel dekati Aro, Mika, Val dan Ares terlebih dahulu...” ucap Rery pada satu bodyguard mereka yang datang bersama dua bodyguard lainnya sambil Rery menunjuk ke arah empat saudaranya yang sedang berdiri di bagian terpisah dari Rery dan saudara – saudari anak bungsu pasangan bebek yang sedang bersamanya.


Achiel pun mengangguk. Ia dan dua rekannya bergegas ke tempat Aro, Mika, Val dan Ares berada. Dimana keempat sultan dan sultanah muda itu sedang berdiri seolah menjaga agar empat orang yang ada di hadapan keempatnya itu tidak kemana – mana.



“Kalian tunggu disini dulu, aku akan bicara dengan Kak Achiel ...” ucap Rery.


Rery melangkahkan kakinya ke tempat Aro, Mika, Val dan Ares berada.


“Mau diapain ini anak-anak songong sok iye?! ...”


Aro yang nampak masih kesal pada empat anak lelaki yang sudah terlihat payah itu langsung bertanya pada Rery, saat Rery telah berada di dekatnya sambil memandang sinis pada empat orang anak laki-laki yang nampak meringis itu.


“Yang jelas mereka harus diberi perawatan dahulu Tuan Muda ... Terlebih yang satu itu ...”


Achiel menyela sambil menunjuk pada anak lelaki yang paling parah kena hajar Ann dan masih gelisah kesakitan.


Rery dan tiga saudaranya nampak manggut-manggut, kecuali Aro.


“Hah! Kerajinan banget ngurusin bocah-bocah songong! ...”


Aro berkata ketus.


“Iya ish!” timpal Mika sinis. "Salah mereka sendiri, seharusnya kita biarkan saja!"


“Tau biarin aja sih! Salah mereka cari gara-gara duluan! Dihajar Harley Quinn kan tuh?!” Ares ikut menimpali.


Mika, Aro, Val dan Rery terkekeh.


Sementara Achiel mengulum senyum.


“Tapi mereka memang perlu diobati.”


Rery berucap.


Val pun mengiyakan ucapan Rery.


“Tapi kita juga perlu alibi untuk antisipasi.”


“Eh iya betul juga kamu Ry! ... Just in case mereka akan masih bermain playing victim saat bertemu orang tua mereka dan orang-orang nanti ... Jadi kita perlu satu suara untuk melawan argumen mereka, kalau ternyata dihajar Ann ga membuat mereka kapok!”


Empat saudara-saudari Mika manggut-manggut.


“Kalian udah cerita sama Kak Achiel kejadiannya gimana?” ucap Rery seraya bertanya sambil memandang bergantian pada Mika, Val, Aro dan Ares.


“Sudah.”


Mika, Val, Aro dan Ares menyahut kompak menanggapi pertanyaan Rery. Termasuk juga Achiel.


“Jadi mau pakai alibi apa buat jaga-jaga kalau mereka akan meneruskan sikap playing victim mereka nanti? ...”


Rery menatap bergantian empat saudaranya dan Achiel.


“Begini aja ---“


Mika kemudian mengatakan idenya, lalu Val juga memberikan ide kedua dengan menggunakan bahasa Indonesia agar empat orang anak lelaki bule itu tidak mengetahui rencana mereka untuk membela diri nantinya.


“Kalau mereka bisa playing victim, masa kita engga? ---“


Mika berkomentar.


“Oke deal. Kita pakai alasan itu nanti kalau mereka emang kesongongan mereka berlanjut ---“ Aro dengan cepat menimpali ucapan Mika.


Val, Rery dan Ares manggut-manggut.


Sementara Achiel agak sulit diartikan raut wajahnya, dengan pikirannya tentang para Tuan dan Nona Mudanya yang masih pada belia, namun cara berpikir mereka jauh di depan dari usia mereka.



“Sebaiknya anda semua segera kembali ke hotel saja, lewat jalan yang berbeda saat anda datang kesini ...”

__ADS_1


Achiel angkat bicara setelah ia dan para Tuan dan Nona mudanya itu mencapai hasil mufakat dadakan mereka.


“Biar mereka kami yang urus.”


Rery, Mika, Val, Aro dan Ares mengangguk serempak.


“Ya sudah ayo ...” ajak Rery pada dua saudara dan dua saudarinya.


Mika, Val, Aro dan Ares pun mengiyakan ajakan Rery. “Ingat ya Kak Achiel, kita harus satu suara loh?! ...”


Val mengingatkan Achiel, yang langsung mengangguk mengiyakan ucapan Val barusan.


Lalu kelima Sultan dan Sultanah muda itupun hengkang dari hadapan Achiel dan dua bodyguard mereka yang lain-yang sedang ‘menjaga’ empat orang anak lelaki yang tadi sempat dihajar oleh Ann.


Kemudian kelimanya menghampiri tiga saudarinya yang lain, sebelum mereka pergi meninggalkan area tempat mereka berada sekarang.


“Kamu oke Ann? ...”


Aro bertanya pada Ann seraya merangkul salah satu saudarinya itu.


“Tentu dong!”


Ann menyahut riang.


“Piece of cake (Gampil)!”


Aro pun tersenyum sambil ia mengacak pelan rambut Ann yang sedikit lebih pendek tingginya dari Aro dan Rery.


Meskipun Ann adalah Sultanah muda yang paling jangkung, tetap ia masih kalah tinggi dari para saudara lelakinya, terkecuali Ares yang memang masih sangat belia.


Belum setinggi kakak-kakak lelakinya. Tapi bibit tinggi mencapai 180-185 cm saat dewasa nanti rasanya Ares akan dapatkan mengingat Daddy Dewa memang jangkung juga macam para Dad mereka yang lain, dan postur tubuh Mom Ichel juga masuk ke dalam kategori tinggi.



Gerombolan Sultan dan Sultanah muda yang tadi terlibat insiden, pada akhirnya memutuskan untuk melanjutkan rencana mereka berjalan-jalan di luar hotel tempat acara ramah tamah Turnamen Tenis yang diikuti Aro diadakan, dan termasuk hotel tempat para Sultan dan Sultanah belia itu menginap juga bersama keluarga mereka yang ikut serta untuk secara langsung menyemangati Aro di Turnamen Tenis Profesional pertamanya itu.


Padahal Achiel menyarankan mereka untuk kembali ke kamar mereka tadi. Namun berhubung para saudara dan saudari itu punya ide yang sama, jadilah alih-alih kembali ke kamar lewat jalan lain-mereka malah benar-benar ke jalan lain yang berlawanan dengan Hotel tempat mereka berada sebelumnya.


Emang bocah bangor pada.


“Kita ke Univ Stud aja gimana?-----“


Val mencetuskan ide.


“LET’S GOO!! ...”


Dan para saudara-saudari Val itu pun menyahut dengan sangat antusias serta heboh.


“Eh tapi nanti kalau kamu dicariin gimana Ro???”


“Yarin aja ah!. Boring amat itu acara ---“ tukas Aro. “Mendingan kita main sampai puas, mumpung bodyguard pada ga ngintil nih ...”


“Oh iya betul!” timpal Rery. “Kalau begitu ponsel matikan, biar ga ada gangguan!” tambah Rery.


The Bangor Kids itupun mematikan ponsel mereka, namun sebagian tidak membawanya. “Sekarang kita bisa main sepuasnya!”


“LET’S GOO!! ...”


Kembali para pewaris yang suka bangor itu menyahut antusias dan heboh-kali ini mengiyakan ucapan Ann.


“Ponsel kamu kenapa masih belum kamu matikan sih Val? ...”


Mika bertanya pada saudari yang urutannya tepat berada di bawahnya itu.


Mika berdecak.


“Aaa Mikaaaa ---“


Val merengek manja, karena Mika merebut dengan cepat ponselnya yang langsung dinonaktifkan oleh Mika dan ia kantongi dalam celana pendeknya.


“Kamu akan bertemu lagi dengan Kak Kafeel di hotel nanti.”


“Tau ih Val!”


Aro menimpali ucapan Mika.


“Kak Kaf juga ga bakal balik ke Indo buru-buru abis ngelamar kamu gitu ... lagian kamu, Mika, Rery dan Ann juga akan balik lagi ke Indo ga jadi langsung balik ke London?---“


Aro menambahkan ucapannya.


“Jadi kalo seandainya Kak Kaf terpaksa harus buru-buru balik tanpa kalian ketemu lagi, di Indo bakalan ketemu juga, kan? ...”


Para saudara dan saudari Aro dan Val pun langsung mengiyakan ucapan Aro.


“Oh iya ya?! ----“ tukas Val. “Ya sudah ayo kita maiiiin!!! ...” serunya antusias.


Dan sahutan antusias dengan wajah sumringah kembali terdengar dari para Sultan dan Sultanah muda lainnya.


“Terus kita naik apa nih?! ----“


“Taxi online lah! ...” sambar Rery pada pertanyaan Isha.


“Bagaimana kalau mencoba transportasi umum?” tukas Ann dengan idenya.


“Nah boleh tuh saran Kak Ann.”


“Iya betul!”


“Okay!” sahut Rery kemudian.


“Terus mau naik transportasi umum yang mana? ---“


Mika bersuara.


“Cari saja yang paling dekat bisa kita sambangi dari sini.”


Val menimpali.


Para saudara-saudarinya pun mengiyakan.


“Uang aman, uang?!” ucap Aro. “Karena gue ga bawa dompet!”


“Huuu Aro kere!” ledek saudara kembar Aro yang langsung mendapat toyoran dari Aro.


“Gue abis tanding masa bawa dompet, Markonah?!”


Isha dan para saudara-saudarinya pun sontak terkekeh.


Aro dan Isha memang besar di Jakarta, jadi jokes-jokes mereka layaknya jokes-jokes yang bertebaran selama ini disekeliling mereka bergaul.


Namun begitu, baik Rery, Val dan Ann yang selama ini tinggal di London pun sedikit banyak sudah paham pada jokes-jokes yang keluar dari mulut si sepasang kembara kembar nackal itu.


__ADS_1


Untung saja setiap pergi ke luar negeri, para pewaris muda itu sudah memang membekali dompet mereka dengan uang cash sesuai dengan mata uang negara yang mereka tuju, meskipun masing-masing dari mereka difasilitasi berentet kartu kredit oleh para orang tua, bahkan dari Gappa.


Jadi para Pewaris Muda yang sedang menikmati kebebasan waktu mereka tanpa bodyguard itu dapat leluasa untuk pergi dan membeli apapun yang mereka mau, jika tempat yang mereka tuju hanya menerima pembayaran tunai saja.


Dan untung juga Rery selalu mengantongi dompetnya kemana-mana, dan para ciwi-ciwi selalu ready dengan tas kecil beragam model yang melengkapi penampilan mereka jika kemana-mana.


Dimana tentunya, di dalam tas yang mereka bawa itu ada dompet cantik yang juga otomatis mereka bawa.


“Uang cash kita kira-kira cukup ga ya untuk transaksi macam-macam nanti? ...” cetus Ann.


“Kalaupun ga cukup bisa cari ATM kan Kak ---“


“Oh iya!”


“Pusing banget sih? Disini juga transaksi rata-rata pakai kartu!”


Mika menimpali.


“Ya sudah sih ayo percepat langkah! ...”


Val mengkomandoi saudara-saudarinya yang kemudian antusias memantapkan langkah mereka untuk menikmati waktu dan bermain ke tempat yang mereka sepakati bersama sambil tertawa – tawa.


Menggunakan transportasi umum untuk sampai ke sebuah Taman Bermain besar yang selalu menjadi destinasi wisata di negara tempat mereka berada saat ini, meskipun sudah sering sekali mereka bermain disana.


Gelak tawa dari canda serta senda gurau para pewaris muda itu tak pernah hilang dari wajah mereka selama mereka berada di Taman Bermain Wisata tempat mereka berada sekarang ini.


Mengobrol dan bersenda gurau, saling ledek dan menikmati banyak wahana, para pewaris itu benar-benar nikmati bersama waktu bebas mereka.


Tanpa para pewaris muda itu sadari, jika sudah ada beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan mereka dengan seksama dari beberapa titik, selain mengikuti mereka dalam jarak tertentu.



“Ha puasnyaaaaa-“


Isha berucap sumringah, setelah ia dan para saudara-saudarinya mencukupkan main mereka di sebuah Taman Bermain Wisata yang paling terkenal di negara tempat mereka berada saat ini.


“Jalan tanpa ada para kakak-kakak terminator di sekeliling kita itu rasanya uasek banget ga siiiihhh????! ...”


“Setuja!”


“Very agree!”


“Betul banget kakaaa!”


Sahutan-sahutan yang menyetujui ucapan Isha pun lempar sambut.


“Eh ngomong-ngomong kita ga dicariin ini? ...” celetuk pewaris terbocil.


“Kan tadi kita emang bilang mau jalan-jalan? -----“


“Tapi sadar ga ya mereka, kalau kita tidak pergi sama supir dan para kakak-kakak terminator itu? ...”


“Udah ah pikirin amat, kalaupun tahu our parents pasti sudah mengirim orang sedari tadi untuk menyusul kita kesini.”


“Iya betul. Mereka pasti sibuk sama para kolega bisnis mereka yang ketemu disana, terus langsung istirahat abis itu. Ga akan ngeh kita ga ada di kamar.”


“Idih mantep dewa perang spekulasinya biar kata bocil juga! ...”


“Wess, siapa dulu???”


“Ya udah yuk ah!”



“Kita pesan taksi online aja untuk kembali ke Hotel ----“ gagas Mika. “Cape kalau harus naik transportasi umum lagi ah! ...”


“Makan dulu apa? ----“


“Perasaan yang paling banyak jajan makanan di dalem kamu Kak Ares? ...”


“Ya elah, cemilan doang begitu ----“ tukas Ares. “Sebentar doang diem di perutnya.”


Kakak-kakak Ares pun mendengus geli.


“But I think Ares was right (Tapi sepertinya Ares benar deh) ...” timpal Ann. “Besok kan kita kembali ke Indo. Jadi lebih baik kita sekalian aja menikmati waktu bebas kita ini. So sampai Hotel nanti kita langsung istirahat ----“


“Good idea!”


Aro mengaminkan ucapan Ann.


“Ya udah ayok kalo begitu kita cari tempat makan!---“


“Kaki lima aja! Seru! ...”


Rery menggagaskan ide tujuan tempat makan mereka.


“QS aja ya? ... Jadi pengen laksa di sana –“


“Ya elah makan laksa aja jauh amat ke SIN!”


“Ye kan beda rasa laksa SIN sama Indo! ...” tukas Isha.


“Udah cepat pesen taksinya Isha!”


Val menyela sepasang kembara kembar nakal yang mulai ribut itu.


“Eh tapi berarti nyalain ponsel dong? –“


“Eh iya ... nanti pas ponsel kalian orang pada nyala, trus tau-tau di telfon, bakal disuruh langsung balik Hotel pasti.”


Aro langsung berspekulasi.


Para saudara dan saudarinya pun jadi manggut-manggut dan berpikiran sama dengan Aro. “Ya udah aktifkan saja. Kalau pas ditelfon terus di suruh kembali ke Hotel ya sudah sih, kita kembali saja. Toh bisa makan di Hotel juga! ---“


Val bersuara.


“Pasti Kak Kafeel khawatir kalau calon istrinya ini tidak bisa dihubungi. Lagipula aku sudah rindu pada calon imam hidupku itu ... ”


“Heleh!”


Mika sampai Ares kompak menyahut malas, menanggapi ocehan Val.


“Jadi nih nyalain ponsel? ...” ucap Isha seraya bertanya untuk sebuah persetujuan dari para saudara-saudarinya.


Mika sampai Ares mengangguk.


“Kalo gitu kita ke sana aja, bisa duduk sambil nung-”


Ucapan Aro terpotong, karena tahu-tahu sudah ada beberapa orang yang seolah sedang menyudutkan ia dan para saudara-saudarinya.


♥♥♥


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2