HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 76


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Last Episode :


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia


“Kak Arya gantikan Val, ya?” ucap Val pada Arya yang sedang berendam santai di dalam sebuah jacuzzi yang menempel dengan kolam renang luas dalam Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta tersebut.


“Loh bukannya kamu baru masuk?...” tanya Arya pada Val.


Val pun mengangguk. “Iya, tapi Val mau naik dulu sebentar...” kata Val. “Mau menyusul Kak Kafeel. Katanya ke toilet, tapi lama sekali perasaan Val?“


“Wah pingsan jangan-jangan itu dia?...” kelakar Arya. “Apa ketiduran?...” tambahnya, lalu ia cekikan dan Val juga ikut cekikikan.


“Bisa jadi!”


Val menimpali kelakar Arya, lalu keduanya terkekeh.


“Aku digantikan Kak Arya dulu!” seru Val pada mereka yang sudah mulai kembali memulai babak kedua voli air disesi saat ini.


Dan setelahnya Val segera naik dari dalam kolam renang.



“Eh ulet bulu mau kemana?” Nathan sontak bertanya kala Val sudah naik ke permukaan pinggir kolam renang.


“Mau panggil Kak Kafeel ... Lama sekali ke toiletnya,” jawab Val.


“Lagi diajak ngomong sama The Dads kali?--”


Nathan berucap.


“Ada yang mau The Dads sampaikan ke Kak Kaf.”


Nathan menambahkan ucapannya.


“Oh iya, ya?...” Val lantas menyahut sambil manggut-manggut.


“Lagian ngapain pake disusul sih itu Ayang Kapel?.. Takut banget ilang cowonya.” Kelakar Nathan.


“Takut tersasar!” kekeh Val dan Nathan berikut mereka yang berada didekat kedua orang itu ikut terkekeh geli juga.


“Tahu sih Val, nanti juga Kak Kafeel kesini gabung sama kita? ...” timpal Mika. “Sudah jadian masih aja gatal!” lanjut Mika dengan sedikit cibiran.


“Iri? Bilang Booss! ...” Val membalas cibiran Mika padanya dengan cibiran juga, namun dengan tingkah yang konyol, hingga mereka yang melihatnya terkekeh geli.


Lalu setelahnya Val meraih bathrobe yang tersampir di salah satu lonjer lounger. Entah milik siapa itu bathrobe, Val main sambar saja untuk membalut tubuhnya karena ia hendak masuk ke area dalam Kediaman.


Karena kalau Val masuk dalam keadaaan yang seperti sekarang-dengan tubuh yang sangat basah, pasti akan ada teriakan dari The Moms atau The Dads yang menembus gendang telinga Val.


Val langsung berjalan menuju area dalam Kediaman keluarga besarnya itu setelah membalut tubuhnya dengan bathrobe.


*


“Eh Poppa, The Dads yang lain mana?” tanya Val kala ia berpapasan dengan Poppa yang hendak naik ke lantai dua.


“At the pool lounge ( Di ruang billiard )”


Poppa menjawab.


“Kak Kafeel ada bersama kalian?....”


Val bertanya lagi pada Poppa.


Poppa menggeleng. “Bukannya dia bersamamu?”


“Tadi pamit ke toilet, tapi sudah lama perasaan Val Kak Kafeel ke tolietnya dan  belum menyusul Val ke kolam renang juga sampai sekarang.”


“Hah kamu ini, Kak Kafeelmu hanya pergi ke toilet. Selama-lamanya dia di dalam toilet, tidak akan juga dia berada disana sampai besok. Kecuali ia tertidur di dalam bathtub.”


Val pun terkikik mendengar selorohan Poppa. “Ih Poppa nih, macam tidak sering mencari-cari Momma saja kalau sebentar Poppa tidak melihat Momma..” celoteh Val membalas selorohan Poppa.


Poppa pun mendengus geli selepas mendengar celotehan salah satu putrinya itu.


“Jadi Kak Kafeel tidak ada di Pool Lounge bersama The Dads?..”


Poppa menggeleng.


“Ya sudah kalau begitu Val cari Kak Kafeel dulu.”


Poppa pun mengangguk dan Val hengkang dari hadapan Poppa yang kembali meneruskan langkahnya untuk pergi ke lantai dua.


“Non Val, ada butuh sesuatu?”


Salah seorang asisten rumah tangga yang berada di dapur langsung menyapa Val yang masuk ke satu bagian kediaman tersebut.


“Mba Adis lihat Kak Kafeel tidak?”


“Oh, Tuan Kafeel tadi Mba Adis liat masuk ke kamar tamu nomor satu.”


“Makasih Mba Adis..”


Val pun segera hengkang dari dapur setelah mendapat jawaban dari Mba Adis. Lalu Val melangkahkan kakinya menuju kamar tamu yang tadi diberitahukan Mba Adis padanya.


“Kak Kafeel?..” panggil Val, saat ia telah membuka pintu kamar tamu nomor satu sesuai ucapan Mba Adis. “Kak?..”


“......”


Val yang tidak melihat Kafeel saat ia membuka pintu kamar pun segera melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi dalam kamar tamu tersebut.


Kemudian menempelkan telinganya, kala sayup-sayup sepertinya Val mendengar suara orang yang sedang bicara di dalamnya.


“Kak Kafeel....”


Val memanggil kemudian, sambil tangannya menyentuh knop pintu kamar mandi.



“Ah..... Eemh, enak sekali....”


‘Tahan, tahan...’ bisik hati Kafeel karena otaknya terus-terusan mengingat suara berikut pose si gadis ulat bulu saat di meja jamuan tadi.


Dan bersamaan dengan itu juga, Kafeel tak henti-hentinya merutuk dan menggerutu.


‘Duh Val... Masa aku harus ‘manjain’ trus mandiin ini si Otong disini?...’

__ADS_1


Suara seksi Val terus terngiang-ngiang di telinga Kafeel dan penampilannya dalam tanktop olahraga dan celana tight super pendek pada keadaan tubuh yang agak-agak basah, termasuk pose nonggengnya itu terus berputar di kepala Kafeel sekarang.


‘Jangan dia nyusul gue, ga tau deh bakal gimana kalo Val ada disini sekarang... Perduli setan sama ‘naga’!’


Kafeel membasuh wajahnya sekali lagi sebelum ia mengangkat kepalanya dan bercermin pada cermin wastafel di depannya.


Dimana didetik berikutnya Kafeel terpaku melihat pantulan sosok seseorang dibelakangnya. Dan Kafeel larut dalam pikirannya, kala apa yang ia katakan jangan sampai, malah tahu-tahu nongol.



“Kak Kafeel....”


Kafeel tergugu saat Val bersuara.


Sudah dibilang jangan sampai datang, nyatanya Val sudah nongol kala h@srat akan Val masih bergelung di diri Kafeel.


“Eemh....”


Kafeel menarik nafasnya dalam-dalam sambil ia memejamkan matanya, dengan kedua tangannya yang mencengkram pinggiran wastafel.


Just kiss I swear.


Yang Kafeel katakan dalam hatinya.


Namun tangannya telah dengan cepat meraih pinggang Val, dan merapatkan tubuh kekasih kecilnya itu padanya.


Dimana Kafeel dengan cepat juga menyambar bibir ranum Val dengan tak sabar.


Seolah tak ingin Val lari darinya, Kafeel menempelkan tubuh Val pada satu sudut dinding kamar mandi, tanpa melepaskan tautan bibirnya dari bibir Val.


Alih-alih hanya ingin mencium bibir Val saja, nyatanya leher jenjang Val ikut menjadi sasaran kecupan-kecupan bibir Kafeel yang nakal.


Tak ingin berbuat lebih jauh, namun seolah Kafeel telah terhipnotis dengan tubuh belia Val. Dimana karenanya, tangan Kafeel kini telah menyusup ke balik tanktop olahraga Val, menuju ke bagian atas yang membuat Kafeel penasaran.


“Kak Kafeel....”


Kafeel menarik nafasnya saat mendengar suara Val memanggilnya.


“Kak Kafeel....”


Lalu Kafeel membuka matanya.



“Kak Kafeel....”


Kafeel menatap apa yang ada dihadapannya.


Lalu Kafeel mengernyit.


“Kak Kafeel!”


Kafeel tersentak kemudian.


Val baru saja membentaknya.


“Kak Kafeel are you okay?!....”


Tapi Kafeel merasa ada yang aneh.


“Kak Kafeel! Kak Kafeel Mandi??!!.....”


‘‘*Holys*t!’’ Kafeel spontan mengumpat pelan setelah menyadari Val yang tadi ia rengkuh bukan membentaknya, melainkan memanggilnya.


Umpatan yang Kafeel lontarkan karena tersadar apa yang terjadi dengan Val tadi adalah ‘Kafeel Error’ yang kambuh lagi, macam kemarin dan tadi saat ia datang.


Penyakit halu stadium akut yang tiba-tiba ia derita sejak jadian dengan Val kemarin, kambuh lagi sekarang. Dan yang terjadi adalah, Kafeel baru saja berbayang jika ia sedang mencumbu Val.


Pantas saja saat mendengar Val memanggil namanya lalu Kafeel membuka mata yang ia lihat adalah dirinya bukannya Val yang ia pikir sedang ia kukung menempel pada tembok kamar mandi.


“Kak?!....” suara Val terdengar lagi dari luar kamar mandi.


“Iya!” sahut Kafeel dengan cepat. ‘Ampuunn!! Bisa-bisanya gue berbayang mau berbuat yang iya-iya sama Val?!’.


Kafeel membatin kesal pada dirinya sendiri sambil ia bergegas untuk membuka pintu kamar mandi yang untung saja dia kunci.


Coba kalo engga?....


Kan bisa malu setengah mati andai Val tahu-tahu membuka pintu-lalu siapa tahu Kafeel sedang mengeluarkan ‘tongkat starwars’ dari sarungnya dan Val melihatnya.


‘Baru terhitung dua hari pacaran sama Val, gue udah macam orang yang otaknya kurang se-ons!’


Kafeel geleng-geleng, sambil merapihkan penampilannya sebentar dan dengan cepat, sebelum ia melangkah ke pintu dan membuka kuncinya.


‘Tong, please, tenangkan dirimu, dan kembalilah tidur!’


Kafeel berbisik pada ‘Tongkat’ saktinya yang tak berakhlak itu.



‘Syukurlah....’


Kafeel langsung merasa lega ketika ia membuka pintu lalu melihat diri Val yang sudah nampak menunggu dirinya saat Kafeel membuka pintu kamar mandi tempatnya berada saat ini.


Kafeel merasa lega sampai mengucap syukur di dalam hatinya itu, karena meski Val tetap nampak basah, namun kini tubuhnya yang tadi berbalut tanktop olahraga berikut celana pendek abis super ketat itu kini sudah membalut tubuhnya dengan bathrobe.


‘Macem tau aja dia kalo gue lagi on fire!....’ batin Kafeel yang merasa geli akibat sadar jika hasratnya sedang naik karena kekasih kecilnya itu. ‘Untung Val udah pakai bathrobe! Jadi otak gue yang ngeres ini ga menjadi-jadi lagi....’ batin Kafeel bermonolog lagi. ‘Maafkan Kak Kafeelmu yang mesum ini ya Dedek Val....’


Kafeel berkesah dalam hatinya.


“Kak Kafeel –“


“Val....”


Val dan Kafeel sama-sama saling menyebut nama satu sama lain kala Kafeel telah membuka pintu kamar mandi tempatnya berada sejak tadi.


Lalu Kafeel melempar senyum pada Val.


‘Tapi untung Val ingat pakai bathrobe saat menyusul gue sekarang.’


Sekali lagi Kafeel membatin lega.


Tapi sekalipun Val datang dengan penampilannya tanpa bathrobe, rasanya Kafeel akan sekuat tenaga memperisai dirinya untuk tidak berbuat kurang ajar pada Val.


Jika Val datang tanpa menggunakan bathrobe, maka Kafeel akan menggeledah kamar mandi untuk mencari bathrobe atau handuk untuk menutupi tubuh Val. Dalam rangka antisipasi, agar tangannya tidak gatal untuk melakukan hal yang tadi ada dalam lamunannya.


Setinggi apapun libidonya, rasanya Kafeel akan berpikir lebih dari seribu kali untuk berbuat kurang ajar pada Val.

__ADS_1


Kafeel akan berusaha sekuat tenaga agar tidak larut dalam fantasi mesumnya pada Val.


Bukan karena takut pada The Dads nya Val yang mendominasi tekad dirinya untuk menamengi dirinya agar tidak berbuat kurang ajar pada Val, melainkan karena Kafeel menghargai Val atas cintanya pada kekasih kecilnya itu.


Seperti yang dulu pernah Poppa ucapkan pada Daddy R kala Poppa ‘nembak’ Momma, lalu Momma terima dan Poppa meminta Momma untuk tidur di kamar pribadinya. ‘Gue cinta, bukan nafsu!’


Dan memang, meski saat pindah ke London lalu Poppa tetap kekeh membuat Momma tinggal di kamar yang sama dengannya, Poppa tidak pernah sekalipun melecehkan Momma. Yah, meski kontak bibir selalu sering Poppa lakukan asal ada kesempatan.


Sebatas itu saja.


Raba-raba nakal pun ga pernah.


Hanya saja, karena sebuah insiden, Poppa pada akhirnya ‘menyentuh’ Momma sebelum mereka menikah.


Tapi hanya satu kali saja, dan Poppa segera menunjukkan betapa ia bertanggung jawab pada perbuatannya, selain memang Poppa cinta mati pada Momma.


Yakni dengan pernikahan yang dipersiapkan hanya dalam waktu kurang dari dua minggu setelahnya. Saking Poppa ingin memiliki Momma seutuhnya, serta menunjukkan keseriusan seorang Andrew Smith yang begitu mencintai wanitanya-Fania.



Kiranya seperti ucapan Poppa yang pernah diserukan pada Daddy R setelah menjadikan adik angkat si kakak ganteng menjadi kekasihnya, begitu juga kiranya Kafeel pada Val.


Kafeel tulus mencintai Val, bukan nafsu.


Yah, meski tak menampik dan tak mau munafik, nafsu Kafeel ada sebagai pria normal jika aura seksual Val sedang memancar.


Namun tetap Kafeel akan sekuat tenaga memakai akal sehatnya untuk tidak ‘menyentuh’ Val sebelum adanya pernikahan.


Mungkin, sebatas kontak bibir akan Kafeel cukupkan.


Kan Kafeel bukan umat yang lurus-lurus amat. Apalagi diusia Kafeel sekarang yang notabene pria dewasa, tentulah kebutuhan biologisnya sebagai pria pasti akan menghampirinya kapan-kapan saja, dan tentunya bisa lebih kuat terasa keinginannya.


Seperti tadi contohnya.


Tapi tidak, sekali lagi Kafeel tekankan jika biar saja libidonya menaik, namun Kafeel akan mencari cara untuk menurunkannya.


Dan memang ia sudah bertekad untuk itu, untuk menghormati dan menghargai Val sebagai wanita yang ia cintai. Meski kuat sekali keinginan Kafeel untuk menyentuh Val dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Heran Kafeel juga, kenapa magnet seksual Val padanya begitu kuat sekali?....


Padahal dulu, saat Kafeel pernah merasa jatuh cinta pada seorang gadis yang kemudian jadi pacarnya, rasanya Kafeel  tidak sampai seminat ini.


Sampai tertarik begitu kuatnya hingga sampai pada tahap mendamba dan dirasa Kafeel hampir gila.


Gila karena hasrat yang menggelora hanya karena penampilan dan gestur seorang Val saja.


Mana bocil pula.


Tapi ya itu, sekuat apapun godaan yang menguar dari aura seksi Val, sekuat tenaga juga akan Kafeel redam hasratnya pada Val.


Gadis ‘ulat bulu’ itu terlalu berharga bagi Kafeel. Dan Kafeel bertekad akan ‘menyentuh’ Val dengan cara yang benar.


Dan jika suatu saat Kafeel dihadapkan lagi dengan situasi on fire seperti ini gara-gara Val, Kafeel akan memikirkan penyelesaian lain untuk h@sratnya itu selain ‘menyentuh’ Val yang mengarah pada 'merusak’ kekasih kecilnya itu.


Dengan catatan, bukan mencari pelampiasan juga dengan wanita diluaran. Tidak akan. Kafeel tidak akan sampai ke tahap itu, memikirkannya pun tidak mau.


Val berlian langka, yang tak ingin Kafeel lepas, hanya karena iseng main dengan batu akik. Ogah Amad!-Kalo kata Kafeel.



“Kak Kafeel sedang apa sih?” Val langsung bertanya saat Kafeel telah membuka pintu kamar mandi dan berdiri di hadapannya sekarang.


Kafeel pun segera tersenyum pada Val.


“Kok lama sekali?....” sambung Val yang bertanya.


“Masa sih aku lama?....” jawab Kafeel. “Sepertinya baru lima menit aja deh?....”


“Ih lima menit dari mana?” sergah Val. “Val dan lainnya sudah selesai satu sesi main voli air tapi kakak belum muncul juga. Makanya Val mencari dan menyusul Kakak.”


Val sedikit bercerocos, lalu merungut manja. Membuat Kafeel gemas jadinya.


“Val pikir Kakak pingsan di kamar mandi!”


Kafeel pun spontan terkekeh selepas mendengar selorohan Val barusan.


“Habis lama sekali.” Rungut Val. “Val kan jadi khawatir? Takut Kak Kafeel dikerjai lagi sama Daddy R .”


Kafeel tersenyum geli. “Iya, maaf....” ucap Kafeel sambil mengacak gemas rambut Val yang basah. “Tadi aku terima telepon dulu sebelum masuk kamar mandi.” Dusta Kafeel. ‘Iya kali gue jujur kalo gue habis membayangkan dia gue cumbu?!’


Kafeel membatin.


‘Ilfeel Val yang ada sama gue nanti!....’ kata hati Kafeel lagi.


“Ya sudah yuk, kita ke kolam renang?” ajak Val dan Kafeel segera mengangguk.


Val pun berbalik badan dan melangkah didepan Kafeel untuk keluar dari kamar tamu yang ia sambangi guna menyusul Kafeel.


‘Eh?’


Val sedikit terkesiap.


Dan mata Val otomatis melihat ke arah tangannya.


“Boleh kan?....” kata Kafeel seraya bertanya.


Bersamaan dengan Kafeel yang mengangkat tangan Val, dimana jemari kekasih kecilnya itu Kafeel tautkan dengan jemarinya sembari Kafeel tersenyum hangat, dimana keduanya telah keluar dari kamar tamu tempat Val menyusul Kafeel.


Val pun tersenyum tak kalah hangatnya selain nampak sumringah, lalu ia mengangguk sambil menatap Kafeel. "Boleh dong Kak...."


“I love you, Val....”


Kafeel pun sama menatap Val yang berjalan pelan bersisian dengannya, sambil mengucapkan sebaris kalimat cinta dengan tulusnya.


Cup.


Lalu Kafeel mengecup punggung tangan Val yang ia genggam, tanpa mengalihkan pandangannya.


“I love –“


Val hendak menjawab kalimat cinta Kafeel.


Tapi....


“Habis melakukan apa kalian di kamar tamu hah?!”


♥♥

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2