HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 109


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia....


Kafeel membawa Val keluar dari apartemennya kala pagi telah menjelang. Bermaksud untuk mengantarkan pulang Val semalam sebenarnya, tapi urung karena Val tahu-tahu tertidur di sofa dalam apartemennya.


Kafeel tidak tega membangunkan Val yang jatuh tertidur - tak lama setelah memakan ayam geprek dengan level pedas dunia akhirat yang membuat Kafeel kelabakan memakan ayam geprek yang pedasnya begitu jahanam di mulut Kafeel.


Dan Kafeel memindahkan Val yang pulas sekali tidurnya itu – bahkan saking pulasnya, kekasih kecilnya itu bergeming dalam tidurnya kala Kafeel mengangkat tubuh Val untuk dipindahkan ke atas ranjang dalam kamar pribadinya.


Hanya memindahkan, agar tidur Val lebih nyaman.


Kafeel benar – benar menahan dirinya untuk tidak berbuat terlalu jauh pada Val, karena ia benar – benar mencintai Val.


Kafeel akan berusaha keras untuk sabar menunggu agar bisa menyentuh Val bulat – bulat, sampai saat halalnya dan Val tiba nanti.


Dan karena Val yang jatuh tertidur itu, akhirnya Val menginap di dalam unit apartemen Kafeel.


Lalu baru Kafeel antar Val untuk kembali ke Kediaman keluarga kekasih kecilnya itu saat pagi hari.



Dan saat ini, Val serta Kafeel telah berada di sebuah kawasan tempat makan kaki lima yang cukup ramai peminatnya. Tempat makan yang dicetuskan oleh Val saat Kafeel hendak mengantar pulang kekasih kecilnya itu.


Namun dia yang mencetuskan, dia pula yang membatalkan untuk makan di tempat yang dia cetuskan.


Ya begitulah, Val membatalkan niatnya yang ingin makan bubur ayam di tempat yang menurutnya enak, karena pernah diajak makan di tempat tersebut oleh beberapa anggota keluarganya meskipun kawasan jajanan kaki lima.


Sebabnya Val membatalkan keinginan untuk makan bubur ayam yang ia sukai itu, adalah karena Kafeel sudah pernah kencan-katakanlah begitu, dengan mantan pacarnya. Lalu Val merasa tak suka mendengarnya. Val, cemburu.


“Kalau begitu, kita makan di Pujasera dalam komplek Kediaman aja gimana?”


“Pernah ajak mantan pacar Kakak ke sana tidak?.. Val tidak mau kalau Kak Kafeel pernah juga membawa mantan pacar Kakak kesana..” cecar Val.


Kafeel tersenyum. “Engga sayangku Val-“


“Benar?!..”


Val memastikan.


“I swear ( Sumpah )!”


Kafeel membentuk huruf V di dua jari tangannya yang ia tunjukkan ke arah Val .


“Ga ada kenangan apa-apa disana.”


“Baguslah---” Sahut Val dengan sedikit merungut.


Kafeel tersenyum lagi, sambil mengacak gemas rambut di puncak kepala Val.


“Karena kalau iya, Val akan merengek sejadi-jadinya pada The Dads untuk menghancurkan tempat itu---“


Lalu lontaran kalimat yang keluar dari Val kemudian, membuat Kafeel spontan menoleh tajam pada Val.


“Heu?..”


Melongo juga si AA.


“Sekaligus Val akan menyuruh Kak Achiel membakar motor Kak Kafeel, jika ternyata Val bukan wanita pertama yang pernah duduk di jok belakang motor Kakak yang kemarin Val tumpangi itu.”


“Waduh.”


AA Kafeel jadi terkejut mendengar ancaman Neng Val.


Namun kemudian Kafeel tersenyum lebar. “Serem banget ancamannya anak Naga sama Ibu Peri?”


Lalu Kafeel berkata sambil mengacak gemas lagi rambut Val, yang mana orangnya sedang bersedekap dengan wajahnya yang merungut.


“Habis, Val sepertinya tidak punya celah menjadi yang pertama dalam segala hal yang Kakak lakukan...”


Val menggumam dengan masih bersedekap, namun suaranya sudah tidak lagi selantang sebelumnya.


Val memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil yang berada di sisi kirinya.


Wajah Val yang tadi sempat terlihat sedikit galak pada Kafeel itu, kini nampak sendu.



“Val ...”


“I’m okay.”


Val menyahut cepat.


Namun wajahnya masih menghadap ke kaca jendela mobil yang dikendarai oleh Kafeel.


Mata Val sedang berkaca-kaca, jadi Val enggan untuk menoleh pada Kafeel. Katakanlah ia mungkin sedikit cengeng sekarang.


Setelah menjadi kekasih Kafeel, lalu-masa lalu Kafeel yang tadinya tidak ia pikirkan, sekarang malah menjadi momok yang sedikit menyakitkan bagi Val.


Hati Val rasa mencelos, bukan hanya karena Kafeel pernah ‘tidur’ bersama para mantan kekasihnya.


Tapi juga karena semua hal yang Kafeel lakukan di masa lalu itu, apa dan bagaimana, serta sudah kemana saja Kak Kafeelnya itu membawa para kekasihnya, kini membayangi Val.


Hingga rasanya, Val tidak bisa mengukir kenangan untuk melakukan satu hal yang menjadi sesuatu yang pertama bagi Kak Kafeelnya.


Di titik ini, Val jadi minder, karena merasa tidak bisa menjadi spesial untuk Kak Kafeelnya. Tidak punya kesempatan untuk menjadi yang pertama dalam melakukan sesuatu dengan Kak Kafeelnya.


Padahal, Kafeel adalah yang pertama segala-galanya untuk Val. Cinta pertama-serta mungkin cinta yang terakhir bagi Val, karena Val tidak pernah memikirkan pria lain selain Kafeel dari sejak Val jatuh cinta pada pandangan pertama dengan kekasih setengah om-omnya itu.


Kafeel juga adalah lelaki pertama yang mencium bibirnya. Lalu nanti jika mereka telah menikah, Kafeel juga yang akan menjadi lelaki pertama yang ‘menyentuh’ tubuh Val.

__ADS_1


Tapi Kafeel yang pernah melakukan semua itu dengan para wanita sebelum Val, jadi membuat Val berpikir kalau dirinya tidak ada spesial-spesialnya untuk Kafeel. Jadi Val, sedang melow sekarang.


“Val, lihat aku sini—“


Kafeel menggenggam tangan Val yang gadis itu pangku di atas kedua pahanya.


“Val....”


Pada akhirnya Val menoleh di panggilan Kafeel yang ketiga.


“Val denger –“


“Kak Kafeel menyetirnya agak cepat ya?”


Val memotong ucapan Kafeel.


“Val sudah mulai merasa lapar soalnya---“ seutas senyum Val tampakkan pada Kafeel.


“Ya udah.”


Kafeel juga sama tersenyum, lalu melepaskan genggaman tangannya pada Val dan kembali fokus pada kemudi.


Val kembali menampakkan senyuman pada Kafeel, yang juga dibalas dengan senyuman oleh kekasih setengah om-omnya itu.


Val menampakkan wajah ‘tidak apa-apa’ nya pada Kafeel, tapi Kafeel tahu, hati Val sedang terganggu kembali oleh bayang-bayang masa lalu Kafeel.


‘Ah Tuhan, kenapalah gue harus punya masa lalu yang bangor. Andai Doraemon ada beneran dan dijual di pasaran, pasti gue beli itu robotnya nobita, supaya bisa pake mesin waktunya buat merubah cerita hidup gue sama para mantan dibelakang.’


Kafeel lalu melirik Val yang kembali memalingkan wajahnya ke arah jalanan melalui kaca jendela mobil di sebelah kirinya.


‘Maaf ya sayang, kalau gadis sesempurna kamu, jadi dapet aku yang jauh dari kata sempurna.’


Kafeel membatin penuh penyesalan.



“Nanti, Kak Kafeel pulang kemana?”


Val dan Kafeel telah sampai di Pujasera yang berada dalam kawasan komplek tempat tinggal dimana Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta berdiri dengan mewahnya.


“Ke rumah Bunda sepertinya.”


“Oohh ---“


Val ber-oh ria saja menanggapi jawaban Kafeel.


“Kalo kamu khawatir Rara masih ada disana, aku hubungi Bunda sekarang ya? ---“


“Tidak usah Kak ---“


Val langsung menyergah.


Dengan Val yang menggeleng sambil juga tersenyum pada Kafeel.


“Kamu cape ga?....” Kafeel bertanya. Val menggeleng. “Nanti ikut aku ke rumah Bunda ya?-“


“Kenapa?” Val balik bertanya.


“Ya –“


“Kalau maksud Kakak mengajak Val ke rumah Bunda lagi untuk melihat dan mengecek sendiri keberadaan sepupu wanita Kakak itu yang mungkin saja menginap di sana, agar Val tidak cemburu, rasanya tidak perlu kok Kak.... I’m okay with that ( Aku baik-baik saja dengan itu )-“


“Val –“


“Val sudah dapat menerima kok, kalau dia saudara Kakak. Lebih dulu mengenal Kakak daripada Val. Val salah kan, jika membuat Kakak jadi jauh dengan dia?”


“Val –“


“Val sadar, posisi Val yang baru masuk belum lama dalam hidup Kakak.”


Val terus saja memotong ucapan Kafeel.


Membuat Kafeel menghela sedikit berat nafasnya, karena tahu kemana ucapan Val mengarah.


Pasti, masa lalu Kafeel ada hubungannya dengan sikap Val yang sendu, namun kekasih kecilnya itu buat seolah dia biasa-biasa saja.


“Kamu special Val-“


Kafeel berucap kemudian.


“Lebih spesial dari para mantan aku....”


“.......”


“Terlepas apapun yang kamu-kita lakukan itu bukan yang pertama buat aku.”


Val tersenyum tipis.


“Thank you, ya Kak?....”


Kafeel tersenyum.


“Aku yang harusnya bilang begitu –“


Lalu Kafeel berujar lembut, sambil tangannya masih mengusap lembut surai Val.


“Aku mau ajak kamu ke tempat Bunda bukan karena terbebani pada kamu soal keberadaan Rara yang mungkin aja nginep di rumah Bunda. Meskipun Val udah lama kenal Bunda dan Lena, tapi aku mau membawa Val, sebagai pacar kehadapan Bunda dan Lena. Kan kemarin Val keburu ngambek? Jadi aku ga sempet deh bawa kamu ke hadapan Bunda sama Lena sebagai pacar aku yang udah resmi.“


Satu tangan Kafeel kini beralih ke dagu Val yang kemudian ia goyangkan pelan. Val pun tersenyum. Setidaknya tidak tersenyum tipis apalagi getir.


“Lagian besok Val mau ke SIN kan? Terus dari sana mau langsung ke London dan ga balik lagi kesini dulu—“ kata Kafeel lagi, dan Val mengangguk.


“Ngomong-ngomong soal SIN, Kakak ikut tidak kesana?---“

__ADS_1


“Sepertinya tidak bisa Val –“


Kafeel melipat bibirnya.


“Maaf, tapi semalam aku sempat cek kerjaan dan aku ga menemukan celah waktu luang untuk ikut ke SIN.”


“Iya sudah, Val mengerti kok....”


“Maaf ya?....”


Kafeel berujar dengan ekspresi menyesal.


Val hanya tersenyum saja seraya mengangguk.


“Eh iya, keasyikan ngobrol jadi lupa pesan kan?”


Kafeel mengacak pelan rambut Val.


“Jadinya Val mau makan apa?”


“Bubur ayam saja—“


“Minumnya?....” tanya Kafeel sambil ia berdiri dari duduknya.


“Air mineral saja, Kak-“


Kafeel pun mengangguk dan bergegas untuk memesan makanan dan minuman untuknya dan Val.


“Sebentar ya?....”


Kafeel telah meloloskan dirinya dari bangku panjang Pujasera.


Val menjawab dengan anggukan, lalu matanya menatap nanar pada lapangan basket di depannya.


“Nasib kamu ya Val, tidak pernah bisa menjadi yang pertama—“


Val menggumam.


“Dimasa lalu kamu kalah dengan para mantan kekasihnya Kak Kafeel untuk mencipta kenangan dalam hidupnya. Sekarang, kamu kalah dengan pekerjaan.”


Lalu Val menghela nafasnya frustasi.


Tanpa Val sadari, jika Kafeel belum berada jauh darinya.


Dan walau pelan, gumaman Val masih dapat Kafeel dengar.


Dimana si AA mencelos hatinya.


‘Aku bener-bener ngerasa salah membuat kamu terperangkap sama aku kalau begini, Val....’


Kafeel menghela kasar nafasnya, lalu bergegas untuk pergi ke kedai makanan yang Val inginkan.


‘Apa gue harus akhiri aja, hubungan gue sama Val sebelum dia semakin dalam perasaannya sama gue?’


Hati Kafeel berkecamuk.


‘Daripada Val jadi kayak tertekan batinnya begini, kebayang-bayang sama masa lalu gue dengan para perempuan-perempuan barisan para mantan itu?!’


Kafeel menghela berat lagi nafasnya.


‘Aku cinta kamu Val. Tapi kalau kamu jadi tertekan batin begini, aku serba salah. Oh Val, harusnya aku lebih bercermin lagi sebelum meminta kamu bersama dengan aku, ya?.... Mungkin memang seharusnya aku ga nekat jatuh cinta sama kamu.’


Galau melanda di hati Kafeel.


‘Kalau gue akhiri hubungan gue sama Val sebelum kelewat jauh, meski sakit, apa mungkin lebih baik?.... Val cantik. Sangat. Pasti bisa kan lupain gue, lalu mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari gue?.... Yang lebih pantas buat dia ....’



Singapore....


“Abang .....”


Val memanggil sang Abang kandung, selepas turnamen tenis babak semi final yang diikuti Aro telah selesai.


“Hem?” sahut Varen.


“Kak Kafeel banyak sekali kerjaannya kah?”


“Lumayan.”


“Pasti ga lumayan.” tukas Val.


“Kenapa memangnya?”


“Val sulit menghubungi Kak Kafeel, dan sejak Val disini Kak Kafeel tidak sekalipun menghubungi Val atau mengirimkan pesan---“


“Mungkin lupa setting ponselnya.” sambar Varen.


“Setting ponsel?”


Val bertanya dan Varen mengangguk-angguk.


“Kak Kafeelmu sedang mengurus proyek di Dubai—“ jawab Varen cepat.


‘Dubai?’


Val langsung membatin.


‘Rara itu kan berdomisili di Dubai, ya?..... Kok Kak Kafeel tidak mengatakan apa-apa padaku jika akan pergi ke sana?----‘


♥♥♥


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2