HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
DASAR VAL


__ADS_3

Terima kasih masih setia


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


R Corp, Jakarta, Indonesia....


“Ya Abang ya??.... Abang Varen baik deh! Dah lah tampan, kaya, royal, bagus badannya, perfecto lah! Ga bersisik lagi walaupun anak naga!”


Varen melempar tatapan malas pada Val yang sedang cengengesan padanya itu.


‘Aku tidak boleh membuat kakak naga marah. Nanti aku benar-benar di banned untuk datang kesini atau ke tempat-tempat dimana Kak Kafeel berada, bisa berbahaya untuk hidupku nanti!. Bisa hilang semangat hidupku, lalu aku akan keriput sebelum waktunya!....’


Val membatin.


Sembari Val menarik tinggi-tinggi sudut bibirnya dan masih memandang pada sang Abang.


“Abang ga marah kan?....”


Kemudian berjalan lebih mendekat pada Varen.


“Ya? Abang ga marah kan sama Val?....”


Lalu Val mengguncang manja lengan Varen.


“Val jangan dibanned dong ya?....”


Masih mengguncang manja lengan sang Abang.


“Anggap saja tadi itu Val khilaf..... Val kan hanya manusia biasa yang tak luput dari khilaf dan dosa. Sebagai manusia kan kita harus saling memaafkan?. Apalagi adik dan kakak? Kan? Kan? ---”


“Sudah sana duduk diam-diam di dekat Kak Drea!”


Varen segera memotong rengekan adik kandungnya itu setelah dia mendengus.


“Iya, iya.....”


“Ya sudah sana! Kenapa masih berdiri disitu?!”


Varen melirik sinis pada Val yang belum juga pergi ke tempat Drea yang sedang duduk di sofa sambil cengengesan itu berada.


Ulat bulu perpaduan bunglon - kalau kata Varen itu, masih menempel padanya.


“Tapi Abang ga marah kan sama Val?. ga akan banned Val untuk datang kesini dan kemanapun Kak Kafeel berada kan?—“


“Sudah sanaaaa.”


“Say-ang Abang Vareeen!--”


“Masa bodoh!”


“Cup ah!” Val mengecup satu pipi sang Abang.


Dimana Varen langsung mendesis sinis pada adik kandungnya yang langsung kabur dari hadapan Varen dan menghampiri Drea yang masih saja cengengesan.


‘Val..... Val.....’ batin Drea yang geli pada kelakuan adik angkat yang merangkap adik iparnya itu.


***


Val sudah duduk didekat Drea yang kemudian mengacak pelan rambut Val sembari tersenyum.


“Memang kenapa sih, kamu tahu-tahu jadi gusar minta Dad R melamar Kak Kafeel, hem?” tanya Drea.


“Val cemburu ...”


Val me-manyunkan bibirnya.


“Cemburu?..” tanya Drea lagi.


Val pun manggut-manggut. Sementara Varen nampak tidak memperhatikan kedua wanita yang sedang berbicara di sofa, namun Varen tetap memasang telinganya.


“Jangan katakan kamu cemburu pada salah seorang staf di Perusahaan ini.. dan lagipula, bukankah semua karyawan wanita di lantai ini sudah kamu beri peringatan untuk tidak mendekati Kak Kafeelmu itu dengan membawa-bawa namaku? ...”


Namun kemudian suara Varen terdengar, meski ia hanya sebentar memandang malas pada Val, lalu matanya kembali lagi pada berkas-berkas yang sedang ia periksa itu.


“Kalau karyawan wanita di lantai ini sih jelas bukan. Tapi jika salah satu staf di Perusahaan ini ya Val tidak tahu juga...”


Val pun segera menyambar selepas Varen berbicara.


“Val kan tidak hafal satu-satu wajah karyawan wanita di Perusahaan ini.”


Setelahnya Val nampak sedang berpikir.


“Eh, tapi sepertinya wanita itu bukan karyawan di perusahaan ini deh! ....”


Val teringat ucapan Kafeel padanya saat kejadian Val melihatnya keluar dari ruang kerjanya bersama dengan wanita yang ia cemburui itu.


“Soalnya Kak Kafeel bilang, ‘sebentar ya, aku anter Rara dulu ke bawah’. Begitu kata Kak Kafeel ...”


“Rara namanya?....” ucap Drea seraya bertanya.


Val pun manggut-manggut. “Kak Drea kenal?”


Drea segera menggeleng. “Engga!”


“Hu’um..”


Val manggut-manggut lagi.


“Kalau Abang? .... kenal dengan wanita yang bernama Rara itu?...”


Kini Val beralih pada Varen.


“Jika bukan Little Star, Our Grammas, Moms, dan kalian para adik-adik perempuanku, serta satu anak perempuanku dari Nathan dan Via, berikut wanita-wanita yang merupakan kerabat kita, itupun yang aku akui, lebih baik jangan kau tanyakan padaku, tentang wanita-wanita selain dari yang aku sebutkan tadi!”

__ADS_1


Ah iya Val lupa tentang satu hal. Lupa jika Abang Varen tidak akan memperdulikan wanita-wanita diluaran selain Little Star alias Drea tercintanya si Abang, juga para wanita yang disebutkan oleh Abang Varen tadi. Dan seperti itulah respon Abang Varen kalau ada yang menanyakan wanita diluar dari yang Abang Varen sebutkan barusan dengan sinisnya.


“Aduh Abaaaang! .... Abang Varen, kakak kandung Val tersayang, hanya tinggal jawab saja, ‘Iya’ atau ‘tidak’ jika Abang mengenal wanita bernama Rara itu saja, apa susahnya sih?!” sergah Val seraya ia berkesah.


Kali ini Varen tak menanggapi sergahan Val itu, dan nampak kembali fokus pada pekerjaannya. Val pun kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dalam ruang kerja pribadi sang Abang.


“Kok bisa-bisanya kamu cemburu pada cewe yang namanya Rara itu, Val? ...”


Drea bertanya.


“Mereka terlihat sangat dekat dan akrab...”


Val dengan cepat menyahut.


“Sampai terlihat tertawa-tawa segala dengan asyiknya.”


Lalu Val merungut.


“Menyebalkan sekali!”


Juga menggerutu.


“Hatiku rasanya bergemuruh melihat Kak Kafeel bercanda tawa dengan wanita lain! ...”


Lalu wajah Val nampak sendu.


“Jangan terlalu kamu pikirkan soal itu Val... setidaknya jangan langsung mengambil keputusan yang gimana-gimana soal kedekatan mereka hanya karena kamu melihat interaksi Kak Kafeel dengan cewe itu. Siapa tahu mereka hanya bercanda biasa saja ...”


Drea coba menghibur Val.


“Lagipula kamu juga tidak ada hak untuk marah jika Kafeel dekat dengan wanita lain. Secara dia itu pria bebas!”


Varen kembali berbicara dengan cibiran.


Val juga kembali merungut. “Ya itu makanya tadi Val minta Dad R untuk melamarkan Kak Kafeel untuk Val, jadikan Kak Kafeel bisa menjadi milik Val sepenuhnya?”


Val pun berkesah lagi.


“Dengan begitu, jadi Val berhak marah kala Kak Kafeel dekat dengan wanita lain, karena Kak Kafeel akan menjadi pria tidak bebas lagi...”


Lalu Val mendengus kasar.


“Tapi Dad R malah menyuruhku pacaran dengan beruang kutub!”


Dimana Val kemudian memonyongkan bibirnya, dan Drea terkikik kecil.


Kalau Abang sih masa bodoh saja, dan Harsena mencoba fokus saja dengan Bos Besarnya.


Karena kalau mendengarkan adik dari Bos Besarnya itu bicara, ada saja kata-kata dari kalimatnya yang membuat perut Harsena rasa geli, lalu sakit karena menahan agar tidak sampai tertawa, bahkan tersenyum saja.


Harsena sedang berharap jika Varen segera selesai memeriksa berkas, agar ia juga bisa segera hengkang dari dalam ruang kerja pribadi Bos Besarnya langsung itu. Jadi tidak ada celah bagi Harsena untuk mendengarkan Val bicara yang kemungkinan bisa membuat perut Harsena menjadi kram.


“Ya udah gini deh....” Drea bersuara. “Daripada kamu menerka-nerka lalu membuat kamu galau sendiri, lebih baik kamu tanya aja langsung tentang cewe itu ke Kak Kafeel ...” sambungnya.


“Gitu ya Kak Drea? ...”


“Val lancang ga ya, kalau menanyakan soal pribadi Kak Kafeel? ------”


“Tumben otakmu waras ...” potong Varen seraya menyambar ucapan Val, tanpa melengoskan kepala dan matanya dari berkas yang sedang Varen pegang dan lihat.


“Ih Abang begitu deh sama adiknya sendiri ...” cebik Val. “Aku ini waras tahu. Hanya aku terlalu mencintai Kak Kafeel saja, makanya aku ingin dia segera menjadi milikku seutuhnya ...”


“Cih!”


Varen berdecih kecil.


Lalu ia kembali lagi pada berkas-berkas yang ada di tangannya.


Yang Varen rasa tidak selesai-selesai ia periksa gegara fokusnya terbagi, antara pekerjaan, sama mendengarkan itu dua ciwi yang sedang menggibah.


Jadi membuat Varen kadang gatal untuk menimpali beberapa bahasan dari dua cewe yang sedang gibahan itu, terutama pada ucapan Val.


“Ya kalau menurut Kak Drea sih lebih baik kamu tanyakan langsung ke Kak Kafeel daripada kamu galau sendiri, menerka-nerka sendiri, terlepas entah lancang atau tidak perihal itu.”


“Gitu ya? ...”


Val menggumam.


“Kak Drea juga pernah kayak kamu soalnya ...”


Drea lanjut bicara.


“Pernah jadi galau sendiri, waktu Abang dekat sama Danita---“


“Jangan sebut namanya!”


Dimana suara Varen yang tadinya suka menimpal dengan nada suara yang datar dan sedikit sinis pada Val, kini sudah terdengar tajam dan penuh penekanan, memandang pada Drea.


Membuat Drea langsung melipat bibirnya. “Maaf, Abang .....”


Drea berucap pelan, sekaligus ia mendadak menjadi sedikit tegang.


Val juga jadi ikutan tegang, karena gurat ketidak-sukaan yang serius kini tampak di wajah Varen yang sedang menatap pada Drea.


Niat Drea tadi itu sebenarnya hanya ingin berbagi pengalamannya saat ia pernah merasa berada di posisi Val, saat Drea merasa mencintai Abang yang mana sudah dari kecil itu, mengetahui jika Abang sedang dekat dengan seorang wanita yang sebaya dengan Abang Varen.


Dimana Drea tidak tahu, jika Varen telah mencintainya bahkan dari sejak Drea lahir, lalu atas sangkaannya secara sepihak itu, Drea yang mendapat profokasi dari wanita yang namanya ia sebutkan tadi itu, menghindari Varen, yang mana membuat Varen tidak terima, hingga menyelidiki mengapa Drea jadi menjauhinya.


Varen memang cemburu pada Arya, tapi ia tidak merasa murka pada fangirl istrinya itu. Namun pada wanita yang namanya Drea sebutkan tadi, Varen sudah merasa murka.


Karena atas profokasi wanita itu, Drea menjadi menghindarinya, serta bersedih hati.


Hal yang tidak bisa Varen tolerir sama sekali.


Atas besarnya cinta Varen pada Drea, yang bahkan Varen sendiri merasa cintanya sudah terlalu gila pada Drea.


Dan peringatan keras pun keluar dari mulut Varen untuk wanita yang bernama Danita itu. Dimana peringatan tersebut berlaku untuk seumur hidup.

__ADS_1


Tidak hanya peringatan, tapi juga ancaman yang keluar dari mulut wanita yang bernama Danita itu.


Dan sampai sekarang, wanita tersebut juga tidak pernah berani menunjukkan diri di hadapan Varen, Drea dan keluarga mereka.


( cerita selengkapnya tau dah yak ada dimana? 😝 )


*


“Kamu tahu betul namanya sangat terlarang untuk aku dengar di telingaku bukan, Little Star?......”


Varen bersuara lagi, namun nada suaranya sudah tidak setajam dan penuh penekanan seperti sebelumnya.


“Iya Abang, Drea tahu betul soal itu ...” ucap Drea pelan.


Drea menggigit bibir bawahnya sendiri.


Lalu Drea menundukkan kepalanya, tak berani menatap pada Varen, jika sudah mendengar nada suara Varen yang serius dan penuh penekanan.


Sementara itu Varen kembali fokus pada apa yang dia kerjakan, lalu nampak berinteraksi dengan Harsena.


“Maafin Val ya Kak?” bisik Val pada Drea. “Gara-gara Val, Kak Drea jadi dimarahi Abang? ...” ucap Val lagi. Tapi Drea tersenyum dan menggeleng.


“It’s okay....” sahut Drea pelan pada Val yang sedang menggenggam tangannya itu, dimana Drea nampak sedang sedikit takut-takut karena Varen sempat berucap tajam padanya.


Karena sesungguhnya juga Drea macam adik-adiknya Varen yang lain, yang akan otomatis memiliki rasa takutnya sendiri jika wajah Varen, berikut nada suaranya sudah terdengar serius.


Varen bukan orang yang temperamental memang, terlihat datar dan dingin memang, namun juga tenang.


Persis seperti Daddy R pembawaannya. Tapi seperti juga Daddy R, Varen memiliki sisi yang lain dibalik sikap tenangnya itu.


Yang Drea tahu, dari sejak Drea kecil. Jadi Drea akan merasa takut, jika Abang Varennya sudah bersikap seperti tadi.


Bukan takut jika Varen akan memarahinya.


Tapi Drea lebih takut mengenai tindakan suaminya pada orang yang bersangkutan, dimana bukan Drea.


“Jika aku dengar kamu membahas tentangnya lagi, aku tidak akan memperdulikan bagaimana perasaan Uncle Vla nanti, namun yang jelas akan aku singkirkan orang yang kamu sebut namanya tadi, agar tidak lagi kamu sampai menyebut namanya.”


‘Tuh kan, ini nih yang gue takutin dari Abang,’ batin Drea. ‘Padahal kan kalo yang harusnya benci pada Danita itu gue ya?....’ Drea masih bermonolog dalam hatinya. ‘Tapi gara-gara itu Danita, Abang anggap ingin membuat gue menjauhi Abang, jadinya malah Abang dendam sama dia...’


Drea jadi menghela nafasnya.


‘Entah ini karunia atau kutukan gue dicintai sampe sebegitunya sama Abang....’


Lain ladang lain belalang, lain hati yang membatin selain hatinya Drea.


‘Ish, crazy ( gila ) ya, Abang mencintai Kak Drea sampai seperti itunya coba?’


itu hatinya Val yang berbicara.


‘Mau pria atau wanita, jika orang itu Abang nilai telah mengganggu kenyamanan Kak Drea, akan Abang babat habis tanpa pandang bulu.....’


Hati Val masih bermonolog.


‘Aku sepertinya harus belajar banyak dari Kak Drea agar aku bisa membuat Kak Kafeel jadi seperti Abang, yang bucin habis padaku!’


Ah, Val, Val...


*


Beberapa menit berlalu dalam keheningan....


Varen nampak telah menyelesaikan apa yang sedari tadi dia kerjakan, lalu memberikan semua berkas pada Harsena yang kemudian berjalan keluar dengan cepat, setelah berpamitan pada sang Bos Besar, juga pada Drea dan Val.


“Maafkan aku....” ucap Varen sembari mengelus pelan kepala Drea, selepas kepergian Harsena dari ruang kerja pribadinya itu. Varen sudah berada di dekat Drea yang sedang mendongak dan tersenyum pada Varen setelah suaminya itu kini telah berdiri disampingnya. “Aku tidak bermaksud membentak mu....”


“It’s okay Abang ...”


Drea menyahut mesra.


“Drea ngerti kok.....dan Drea sama sekali ga marah atau tersinggung.”


Drea menyentuh dan mengusap pelan pipi Varen yang kini sudah duduk di dekatnya itu, pada sanggahan sofa.


“Makasih ya?”


Cup!.


Varen mengecup pipi Drea setelah mengucapkan pernyataan terima kasihnya.


‘Ish, mereka anggap aku ini vas bunga apa?!!!!’ Val membatin kesal pada sepasang anak manusia yang sedang uwu-uwu-an di depannya itu.


Mata Val rasanya sakit, selain ia merasa iri pada kemesraan dua insan di depannya itu.


‘Aku harus bisa membuat Kak Kafeel menjadi seperti Abang pada Kak Drea!’


Ada tekad baru di hati Val.


‘Kalau tidak bisa membuat Kak Kafeel memperlakukanku selayaknya Abang memperlakukan Kak Drea, biar aku saja kalau begitu yang menjadi seperti Abang. Akan aku bumi hanguskan semua wanita-wanita yang mencoba menggoda Kak Kafeel!... Hm....’


Otak cantik dan seringnya gatal milik Val sedang berpikir.


‘Kalau begitu fix aku akan belajar martial arts pada Ann dan Rery saat aku kembali ke London nanti!’


Val masih memikirkan apa yang harus ia lakukan.


‘Tidak-tidak! aku harus membuat Kak Kafeel bertekuk lutut padaku hari ini juga!. Tapi bagaimana caranya???....’


Val masih sibuk dengan pemikirannya, tanpa sadar jika Varen dan Andrea sedang memperhatikan dirinya.


‘Apa yang sedang dia pikirkan? ....’ Kira-kira begitu pertanyaan dalam otak Varen dan Drea, melihat gelagat Val dengan kepala yang bergerak-gerak tak tentu arah, sambil kadang mengetuk kepala dan dagunya.


Jangan lupakan juga bibir Val sama tak tentu arah geraknya. Kadang maju, kadang manyun ke kiri dan ke kanan.


‘Ah nanti saja aku pikirkan caranya .... yang jelas hari ini aku akan menempel pada terus pada Kak Kafeel!. Kalau perlu bukan lagi macam ulat bulu, tapi macam gecko ( tokek ) yang hanya akan lepas jika ada halilintar!’


*

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2