HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 113


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Episode sebelumnya:


“Dad R decided to holding off the plan for get back to London after we’re finish here ( Dad R memutuskan untuk menunda rencana kembali ke London setelah kita selesai disini )”


Mommy Ara bersuara, sambil menatap pada tiga orang anak mereka yang ikut berdomisili di London bersamanya dan para orang tua serta beberapa tetua itu.


“Tentu kami tidak mau kembali ke London sebelum melihat kondisi Ake terlebih dahulu, meskipun kalian mengatakan jika Ake hanya sekedar turun kondisinya....”


Ann bersuara, mewakili Val dan Rery yang mana keduanya langsung mengangguki ucapan Ann barusan.


“Iya betul itu.”


*


“Abang .....”


Val memanggil sang Abang kandung, selepas turnamen tenis babak semi final yang diikuti Aro telah selesai.


“Hem?” sahut Varen.


“Kak Kafeel banyak sekali kerjaannya kah?”


“Lumayan.”


“Pasti ga lumayan.” tukas Val.


“Kenapa memangnya?”


“Val sulit menghubungi Kak Kafeel, dan sejak Val disini Kak Kafeel tidak sekalipun menghubungi Val atau mengirimkan pesan---“


“Mungkin lupa setting ponselnya.” sambar Varen.


“Setting ponsel?”


Val bertanya dan Varen mengangguk-angguk.


“Kak Kafeelmu sedang mengurus proyek di Dubai—“ jawab Varen cepat.



Singapore ..


“Kau jangan berpikir untuk menyusul Kaka ke Dubai, ulat bulu.”


Ucapan Varen yang barusan terdengar, seolah menggambarkan jika kakak kandung dari Val itu dapat membaca pikiran orang lain.


“Jangan mengganggunya jika itu berurusan dengan pekerjaan.”


Val merasa sebal dan kesal pada Varen karena tidak dapat menjalankan rencananya untuk menyusul Kafeel yang sedang berada di sebuah kota yang berada dalam kawasan negara Uni Emirat Arab itu.


Namun tetap saja Val tidak dapat membantah ucapan sang kakak kandungnya itu jika sudah mengeluarkan peringatannya.


Varen di mata Val itu jauh lebih menyeramkan jika marah daripada para Daddynya.


Dan meski Varen berbicara dengan nada suara yang normal saja, tetap kalimat Varen adalah penggambaran sebuah peringatan bagi Val.


“Iya Abang ..”



Satu keluarga yang sedang berada di Kota Singa itu kini sedang duduk dengan wajah antusias di satu sudut lapangan tenis yang terlihat apik selain luas, pada tempat duduk yang melingkari lapangan tenis tersebut di dua barisan tempat duduk paling depan.


Tempat duduk VVIP lebih tepatnya.


“Go Uncle Aro, Go!”


Suara teriakan imut nan ceria terdengar dari sebuah mulut mungil bocah lelaki tiga tahunan yang sedang berada di atas pangkuan seorang pria yang duduk berdampingan dengan satu pria lainnya, dimana pria tersebut sedang memangku seorang bocah perempuan dua tahunan.


“Goo!!”


Dimana bocah perempuan itu juga berteriak antusias tak kalah imutnya dengan seorang bocah lelaki yang sedang dipangku berdiri oleh ayah kandung dari bocah perempuan tersebut.


Kedua bocah imut nan menggemaskan yang sedang berteriak menyemangati salah satu Uncle mereka itu, adalah Putra dan Gadis, anak dari dua pasang kakak di Klan The Adjieran Smith. Dimana keduanya sedang dipegang silang oleh ayah kandung masing-masing.


Kedua Papah muda itu tersenyum lebar dengan tingkah bocah-bocah kecil mereka tersebut yang juga menjadi perhatian keluarga mereka yang lain, bahkan juga menjadi perhatian beberapa penonton lain yang tak tahan melihat dua bocah menggemaskan dengan pahatan wajah bak lahir dari rahim seorang Dewi kecantikan, yang bersuamikan Dewa Ketampanan.


Alamahoy!.



“Yeaah!!!!”


Teriakan antusias berikut tepuk tangan yang riuh menggema di area lapangan tennis pada babak final satu turnamen tennis internasional untuk para pemula.


Satu sudut di jejeran kursi penonton VVIP nampak begitu heboh dari barisan penonton yang lain.


Tak lain dan tak bukan adalah para anggota keluarga inti Dinasti The Adjieran Smith yang sedang menyemangati salah satu anggota mereka yang sedang bertanding di babak final ajang olahraga yang cukup bergengsi itu.


“Show them what you got Boy ( Tunjukkan pada mereka kemampuanmu Nak )!”


Papa Lucca nampak paling antusias menyemangati Aro, bahkan lebih antusias dari bapak kandungnya Aro sendiri.


“Aro we love youu!!” Selain Papa Lucca ada para saudari Aro yang ceriwis, tak kalah antusiasnya menyemangati Aro yang sedang bertanding di final.


Sisanya sama antusias, namun bergeming di tempat duduk mereka. Meski akan spontan menegakkan diri dan bertepuk tangan jika Aro berhasil mencetak angka.


Sementara Aro yang disemangati habis – habisan oleh para anggota keluarga yang menyertainya itu hanya kadang – kadang terkekeh saja dengan kelakuan heboh para anggotanya yang menyempatkan diri untuk datang ke turnamen dan menyemangatinya secara langsung.


Val juga ikut bersikap antusias seperti para anggota keluarga yang lain, yang sedang menyemangati Aro itu meskipun sebagian hati Val sedang merasa galau pada Kafeel.


Karena sejak kemarin, kekasih setengah om-omnya itu sudah mulai sedikit sulit dihubungi. Terakhir hanya sebuah percakapan dalam aplikasi chat saja, setelah Val mengetahui fakta tentang keberadaan Kak Kafeelnya saat ini dari Varen.


Val tetap memasang wajah cerianya saat sedang menyemangati Aro. Namun ia juga sering sekali mengecek ponselnya.


Dan wajah Val akan nampak sendu setelahnya.


Seperti saat ini...


Val menghela lagi nafas frustasinya, melihat pesan chatnya dari semalam masih setia dalam posisinya, yakni belum dibaca Kafeel.


‘Kak, Kakak sedang di Dubai?’


‘Iya.’


‘Kenapa tidak bilang?’

__ADS_1


‘Urusan pekerjaan Val.’


‘Sebelum berangkat ke Dubai seharusnya Kakak bisa mampir sebentar menengok Val kesini.’


‘Hal yang mengenai pekerjaan, aku tidak bisa menyepelekannya Val.’


‘Dan Val Kakak anggap sepele?’


‘I’m sorry Val, aku harus kembali bekerja.’


Val menatap sendu percakapannya dengan Kafeel dalam sebuah aplikasi chat sejuta umat.


‘Bahkan menghubungi aku saja tidak. Aku menghubunginya pun tidak boleh dengan alasan macam-macam. Lalu sekarang, ponselnya tidak dapat dihubungi. Jangankan menelepon, pesan chat aku dari kemarin pun belum dia baca.’


Val membatin lirih.


’Kenapa Kak Kafeel seolah sedang menghindariku ya? ..’


Dan praduga pun muncul di hati Val karena sikap Kafeel padanya itu.


Membuat Val jadi sedikit tidak konsen pada pertandingan final Aro yang sedang berlangsung sengit itu.


‘Apa Rara membuat Kak Kafeel menjadi mengabaikanku?. Kan Kak Kafeel pernah mengatakan jika mereka cukup dekat?-‘


“What’s wrong Baby ( Ada apa Sayang )?----“


Daddy Jeff yang duduk di samping Val itu sontak bertanya, kala Val nampak sedang bermuram durja dengan pandangan yang sedikit nanar ke selurusan matanya.


‘Apa Rara sedang berusaha menggoda Kak Kafeel di Dubai sana??’ Val tak sadar pada Daddy Jeff yang sedang bertanya padanya itu. ‘Tapi mereka kan sepupu? ....’ Val masih membatin. ‘Tapi sepupu jauh. Yang memungkinkan bila mereka bersama.’


Val mengusap kasar wajahnya dengan ponselnya yang ia letakkan di atas kedua pahanya.


‘Tidak! Tidak! aku tidak boleh berpikiran negatif!’ Val masih asik bermonolog ria, dan tidak menyadari Daddy Jeff sedang memperhatikannya, berikut beberapa anggota keluarganya yang lain. ‘Tapi kan si Rara itu gatal?!” cibir Val dalam hatinya. ‘AAA!!!! jika Kak Kafeel masih sulit dihubungi rasanya aku bisa gila dengan praduga aku ini!’


“Baby?” tegur Daddy Jeff.


Dan Val pun terkesiap kala ia merasakan bahunya disentuh.


“Eh, iya, Papa Bear?..”


“Kamu kenapa?..”


“I’m okay kok Papa Bear..”


“Ya sudah.” sahut Daddy Jeff. “Sana bergabung bersama saudarimu yang sedang heboh itu-“ kata Daddy Jeff kemudian. “Sepertinya Aro akan keluar jadi juara jika ia mencetak angka dua kali lagi-“


“Iya Papa Bear.” Angguk Val.


Lalu Val pun beringsut dari tempatnya untuk mendekati saudarinya yang lain yang memang seperti yang dikatakan oleh Papa Bear, jika mereka nampak heboh, meski pertandingan tenis yang sedang di ikuti Aro belum selesai, dan Aro belum dinyatakan sebagai juara.


“Kak Kaf, jadi sama keputusannya Bang?” Nathan berbisik setelah Val melangkah untuk bergabung dengan para saudara dan saudarinya di barisan depan kursi penonton, yang mana sedang berdiri semua.


“Menurut lo?.” Sahut Varen.



Kehebohan dari para ciwi-ciwi saudari Aro itu kian riuh kala hasil akhir turnamen tenis ajang internasional untuk pemula itu sesuai dengan harapan mereka, termasuk keluarga yang lain-yakni Aro keluar sebagai pemenang, mengalahkan atlit tenis junior yang selama ini sudah langganan jadi juara dalam ajang pertandingan tenis.


Dan rekor si langganan juara itupun kini sudah putus, karena Aro yang menyandang predikat petenis pemula berbakat di ajang tersebut.


“Congrats Aroooo!!-“ pekikan dari para saudari Aro itu terdengar kian riuh, bersamaan mereka yang memeluk Aro satu per satu saat Aro menghampiri mereka yang berdiri sangat antusias di balik papan pemisah lapangan tenis dan barisan kursi penonton. “Mantap Mabrooo!!!!.....”


Senyuman para personil inti The Adjieran Smith yang datang untuk menyemangati Aro secara langsung itu mengembang sempurna. Tidak hanya para saudara dan saudarinya Aro saja yang nampak bahagia, tapi juga para orang tua dan tetua yang ikut serta, berikut kerabat dekat keluarga mereka yang menyempatkan datang untuk ikut menyemangati Aro.



Kebahagiaan Val bertambah, saat melihat pesannya dari semalam yang belum dibaca Kafeel sudah berubah statusnya.


Centang pada pesan chat Val pada nomor kontak Kafeel yang tadinya satu, berubah jadi dua dan telah berwarna biru. Itu tandanya, ponsel Kafeel telah aktif, dan pesan chat Val telah dibaca oleh kekasih setengah om-omnya itu.


Namun ....


“Ck!”


Val terus saja berdecak kala ia sedang melakukan panggilan telepon ke nomor kontak ponsel Kafeel.


Bukan tanpa sebab Val berdecak terus-terusan.


Pasalnya, di bagian atas kolom chatnya dengan Kafeel terlihat Kafeel baru saja aktif kurang dari lima menit, namun panggilan Val tidak diterima.


“Masa hanya dua menit saja pegang ponsel?”


Val yang sudah melipir dari hadapan para anggota keluarganya yang sedang bercengkrama dengan sesama anggota keluarga dan beberapa kenalan mereka sambil menunggu saat penyematan juara, menggumam sambil masih menempelkan ponsel di telinganya.


Lalu Val berdecak lagi saat panggilannya benar-benar diabaikan Kafeel. ‘Kak –‘


Val hendak menuliskan pesan pada Kafeel untuk memberitahu jika ia kesal karena Kafeel mengabaikan panggilannya.


Namun pergerakan jempol Val terhenti saat ada pesan masuk dari orang yang sedang ingin Val kirimkan pesan chat. Yang mana pesan chat masuk itu sontak terbaca otomatis oleh Val, karena kolom chat Val dengan nomor kontak ponsel Kafeel sedang terbuka.


Dan didetik berikutnya Val nampak mematung dengan tatapan yang nanar ke layar ponselnya.


Berhenti menghubungi aku Val.


Sebaris kalimat dalam pesan Kafeel membuat Val rasa ambigu dan sedih disaat yang bersamaan.


Apa Val terlalu mengganggu Kakak?


Val mengetikkan pesan balasan pada Kafeel yang langsung tertanda telah dibaca.


Bye.


Dan lagi-lagi Val dibuat ambigu sekaligus sedih.


‘Kak Kafeel ---‘


Val membatin lirih.


‘Kenapa?..’


Bertanya juga Val dengan lirih dalam hatinya.


‘Bye itu maksudnya, apa?? .. Apa .. Apa .. itu, maksudnya Kak Kaf memutuskan aku kah??? ..’


Val tidak dapat menahan matanya untuk tidak berkaca-kaca.


‘Tapi salah Val apa, Ka-ak? ...’


__ADS_1


Val terlihat nanar, sambil ia mendudukkan dirinya di kursi paling belakang dalam area kursi penonton yang sebarisan dengan tempat keluarganya duduk. Val tercenung sesaat, lalu ia kembali lagi menghadapkan ponselnya dan mengetikkan pesan ke nomor kontak Kafeel.


Namun sayang, pesan Val tergantung statusnya. Tanda centang satu, kemungkinan besarnya adalah Kafeel telah mematikan ponselnya. Membuat Val jadi semakin tak karuan hatinya, lalu mata Val yang tadinya hanya berkaca-kaca kini mulai basah seiring rasa getir yang Val rasakan dalam hatinya.


Membuat tangan Val spontan menutup wajahnya dan tidak memperdulikan ponselnya yang jatuh ke lantai di bawah kakinya. ‘Kak Kafeel kenapa berubah drastis pada Val??’ Val bertanya-tanya sendiri dalam hatinya. ‘Bye, Kakak itu maksudnya apa?—‘


Val sedikit terisak, membayangkan hal yang sedang membuatnya begitu khawatir bahkan takut atas hubungannya dengan Kafeel, karena kalimat dingin yang Kafeel katakan padanya melalui pesan chat.


‘Jika memang aku harus ke Dubai, demi sebuah penjelasan, aku akan pergi kesana. Tidak perduli jika Abang mengamuk!....’


Monolog Val dalam hatinya. Seriring suara yang berasal dari area dalam lapangan tenis terdengar, dan Val menyadarinya, namun tak mau ia perhatikan.


Val tahu itu pasti pihak penyelenggara turnamen yang akan menyematkan juara di undakan tiga tingkat pada bagian ujung lapangan yang menyerupai panggung.


Val mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai dekat kakinya itu.


Lalu Val membuka lagi kolom chatnya dan Kafeel dan memandangnya dengan sendu.


“HEY YOU!”


Sebuah suara terdengar menggema di pengeras suara sekitar lapangan tenis tempat turnamen yang diikuti dan juga dimenangkan Aro, namun Val tak memperhatikan.


“KAMU YANG SEDANG DUDUK SENDIRIAN DI UJUNG SANA.”


Suara di pengeras suara lapangan terdengar lagi. Namun Val tidak ambil peduli.


Lalu Val mengusap wajahnya, setelah menghapus jejak air matanya yang tak banyak, namun cukup membuat pipi Val basah.


Val terpaku lagi pada ponselnya yang hanya ia tatap saja, lalu nampak tercenung kemudian.


Val juga menutupi kembali wajahnya dengan kedua tangannya yang tertopang di atas paha.


“JANGAN TUTUPI WAJAH CANTIK KAMU.”


Kali ini Val menangkap suara yang menggema di pengeras suara itu. Namun wajah Val masih tertutupi dengan tangannya.


“KARENA AKU TIDAK PERNAH PUAS MELIHATNYA.”


Val membuka tangkupan tangan di wajahnya, namun masih duduk bergeming di tempatnya dengan mata yang ia pejamkan.


Lalu Val menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


‘Aku harus bahagia untuk Aro.’ Batin Val, sambil menyeka ujung matanya yang masih basah.


“BOLEH AKU YANG HAPUS AIR MATANYA?”


Val menghentikan pergerakannya.


‘Kenapa suara di pengeras suara sepertinya mengikuti gerak-gerikku? –‘


Val membatin.


‘Dan rasa-rasanya suaranya mirip dengan suara Kak Kafeel?..’


Val kembali membatin.


‘Ah ya Tuhan, Sikap Kak Kafeel membuatku jadi berhalusinasi!’


Val kembali menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“DIBILANG JANGAN DI TUTUP MUKANYA.”


Dan didetik berikutnya tangkupan tangannya di wajah, Val buka dengan dahinya yang sedikit mengernyit.


“NAH, BEGITU KAN AKU BISA PUAS MELIHAT WAJAH CANTIK KAMU, NONA BERKAOS WARNA TOSKA DENGAN INISIAL ‘V’, YANG SEDANG DUDUK SENDIRIAN DI UJUNG SANA----“


Val makin mengernyitkan dahinya, lalu ia celingak-celinguk ke samping kiri dan kanannya. Kepala Val kemudian meneleng dan mengingat kata-kata yang diucapkan oleh pemilik suara yang tadi terdengar lagi di pengeras suara.


‘Warna kaos aku kan, tosca? –‘


Val membatin bingung, dengan wajahnya yang sudah sedikit merunduk ke arah atasan yang sedang ia kenakan.


‘Dan ada inisial nama aku didepannya?. Ini, maksudnya, aku? ....’


Lalu Val menegakkan kembali wajahnya. Kemudian ia celingukan lagi, dan mengecek lagi kaos yang sedang ia kenakan.


“YES YOU, THE ONE THAT I MEAN ( Iya kamu, seseorang yang aku maksud )”


Val terhenyak, saat mendengar ucapan tersebut dengan wajah bingungnya yang masih belum imun dengan keadaan.


“VALERA MADELAINE ADITAMA ADJIERAN SMITH, KAN? NAMA LENGKAPNYA?”


Kali ini Val langsung imun saat nama lengkapnya yang panjang itu disebutkan dengan lengkap di pengeras suara, hingga Val langsung berdiri.


“JANGAN HANYA BERDIRI DISANA. TURUN DAN MENDEKATLAH KESINI.”


Didetik dimana Val kemudian imun lagi pada keadaan di sekelilingnya, dimana mata semua orang kini tertuju padanya, termasuk para anggota keluarganya yang nampak senyam-senyum di tempat mereka.


Lalu Val yang nampak kebingungan itu menggerakkan kakinya seolah terhipnotis, masih dengan wajah yang bingung sekali ekspresinya.


“MOHON MAAF KALAU AKU SEMPAT MEMBUAT KAMU SEDIH.”


Kini Val melangkah dengan matanya yang lurus ke depan, lalu berhenti saat ia sudah sampai di dekat keluarganya.


“I-----“ Val hendak bertanya.


“TAPI AKU SEDANG MEMPERSIAPKAN INI.”


Dan Val urung bertanya, karena suara di pengeras suara itu terdengar lagi, bersamaan dengan para anggota keluarganya yang menggerakkan kepala mereka serempak ke satu arah.


Dimana....


Sosok orang yang tadi sempat membuat hatinya mencelos bahkan sedih, Val lihat sedang berjalan menghampirinya dengan memegang mikrofon sambil melantunkan penggalan bait sebuah lagu romantis, dimana suara gitar akustik elektrik jadi backsound musik pengiringnya.


Yang mana terdengar syahdu petikannya, se-syahdu suara pria yang kini sudah berada tepat di hadapan Val.


Tak main-main hatiku-lantunannya itu.


Val mengerjap-ngerjapkan matanya.


Apapun rintangannya, kuingin bersama


Hingga kemudian Val dibuat menganga, dengan mata yang berkaca-kaca, kala..


“JADI, TUAN PUTRI VAL, WOULD YOU MARRY ( Maukah kamu menikahi ) OM-OM INI? ..”


♥♥♥


To be continue ....

__ADS_1


Salam sayang terblaem,


Emaknya Queen.


__ADS_2