HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
JANGAN KASIH KENDOR


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Terima kasih masih setia baca yawgh.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Episode sebelumnya :


Jakarta, Indonesia,


“Lena udah dapet ancaman soal video keparat itu bakal di sebar sama si anjng dengan segera....” - Kafeel.*


“Dan lo udah berubah jadi idiot karena ga tau gimana mencegahnya selama ini lo ikut gue, ha? Kafeel Adiwangsa? ....” – Varen.


“Gue cuma ga tega kalau gue sampai lihat itu video ....” – Kafeel.


“Biar Ann dan Rery yang kerjakan itu kalau begitu-“ – Varen.


--


Dua orang yang disebutkan Varen untuk membantu menangani hal yang sedikit berat untuk Kafeel lakukan, kini sudah ada dihadapan si Abang saat Varen dan Nathan kembali ke Kediaman.


“Halo Abang, Kak Tan-Tan! ...”


Ann yang menyapa Varen dan Nathan kala kedua kakak lelakinya itu muncul di hadapannya dan Rery yang sedang berada di ruang tamu Kediaman, dengan Ann yang sedang duduk sambil memangku laptop milik Rery.


“Kalian belum tidur?” tanya Varen yang langsung mengambil tempat di samping Ann.


“Sudah, tapi saat aku aku mendengar nada notifikasiku mengatakan jika Abang mengirim pesan, mataku langsung terbuka!”


Varen dan Nathan langsung tersenyum selepas mendengar cerocosan Ann.


“Dan dia langsung membangunkanku –“


“Ya kan jika Abang mengirim pesan di jam seperti ini pasti berupa hal yang penting, Re-An.”


Varen dan Nathan kembali tersenyum. “Aku tidak menyuruh kalian melakukannya malam ini juga sebenarnya.” Varen berucap kemudian.


“Lebih cepat lebih baik kan, Abang?”


Ann menyahut dengan ceria.


Varen tersenyum lagi sambil menggoyangkan kepala Ann dengan gemas.


“Iya sih, menyangkut harga diri Lena soalnya..”


“Aku sungguh prihatin soal Kak Lena –“


“Iya, betul! –“ Ann menimpali perkataan Rery.


“Biadab sekali pria itu,” geram Ann.


Rery manggut-manggut.


“Anj*ng! Bukan orang!”


Nathan mengumpat sangat geram.


“Kalian dapat dengan mudah melakukan apa yang aku minta kan?”


“Very Piece of cake (Sangat gampil) –“


“Dia seorang bisa kok, Bang..”


“Tentu saja aku bisa membuat pria biadab itu tidak dapat menyebarkan video menjijikkan yang merugikan Kak Lena.”


Ann berucap percaya diri.


“Jangankan mengacaukan semua akun social medianya, aku juga sudah menonaktifkan sim card miliknya, serta mengirim virus ke ponsel pria biadab itu..” tambah Ann.


“Anak setan Italy mantep bener!” cetus Nathan asal.


Yang dibilang anak setan malah cekikikan, begitu juga Varen dan Rery.


“Jika memungkinkan, aku kirimkan Nandito ke rumahnya. Bersama dengan Pupuma Junior, agar mereka dapat berkolaborasi mencabik-cabik tubuh pria biadab itu..” cerocos Ann dengan tampang geregetannya.


“Wadidaw, ga kebuang kejamnya Papa Syaiton ke kamu, Ann!..”


Nathan berucap geli, Varen dan Rery termasuk Ann terkekeh kemudian.


“Kirimkan virus tidak hanya ke ponsel keparat itu, Baby. Kirimkan virus ke semua kontak yang ada dalam ponsel keparat itu..”


“Aye Abang!”


♥♥♥♥


“Kak Kafeel, hati – hati ya? ... Val sungguh takut terjadi hal yang buruk pada Kakak ... Meski Val tahu, banyak orang yang sudah siap untuk pergi bersama Kakak –“


“Iya, Tuan Putriku sayang ... Aku kan –“


“Valera Madelaine Adjieran Smith! ...”


Sebuah suara husky memotong kalimat Kafeel yang sedang berbicara dengan Val.


“Cepat kau susul mereka yang sudah hendak pergi ke Kediaman, Kak Kafeelmu itu punya urusan penting dengan kami!”


“Nah, tuh kan?” Kafeel bersuara setelah suara husky tadi terdengar. “Keburu ditegur?” kata Kafeel lagi. “Yuk, aku anter kamu ke mobil ...”


“VMAS!” suara husky itu terdengar lagi, bersamaan dengan orangnya yang sedang mendelik sambil berkacak pinggang menatap pada Val dari tempatnya berdiri.


Sementara orang disekeliling sosok bersuara husky itu mendengus geli saat pria itu menyebut nama lengkap Val namun menyingkatnya dengan hanya menyebutkan huruf depan masing-masing nama Val yang lengkap.


Termasuk juga Kafeel yang tersenyum geli karenanya. Lalu Kafeel menggenggam tangan Val.


“Dengar tidak?!”


Pemilik suara tersebut yang adalah Dad R berseru lagi dengan masih menatap pada Val sambil juga masih berkacak pinggang.


“Iya, Daddyy.”


♥♥♥♥


Kafeel mengajak Val melangkah untuk pergi ke mobil yang akan kekasih kecilnya itu tumpangi untuk kembali ke Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta.


“Kalian diminta The Dads ke dalam.”


Kafeel berucap pada mereka yang sedang bergerombol dan mengobrol sambil beberapa diantaranya sedang menghisap vape dan rokok.


Dimana sahutan mengiyakan langsung terdengar dari mereka yang Kafeel beritahukan untuk segera menyusul The Dads yang sedang berada di dalam Ballroom Hotel tempat acara puncak dari Festival Tahunan telah dilangsungkan beberapa saat yang lalu, setelah para Dad yang melingkupi The Dads of Adjieran Smith serta beberapa Dad yang merupakan kerabat sangat dekat mereka.


“Gue pulang ya? ...”


Ada Mika yang berpamitan pada Arya, setelah ia melihat Kafeel dan Val.


“Iya-“

__ADS_1


“Lo hati-hati, Ar.”


“Iya, Sayang-“


“Apa sih?-“


“Yah, emang lo itu sayangnya gue kan?”


“....”


“Jawab dong ...”


Arya cengengesan.


“Gue ***** nih kalo ga jawab.”


Lalu si Eks Sadboy itu menggoda Mika.


“Iya, iya. Gue sayangnya elo. Puas lo?”


“Terus mana ucapan sayang?-“


“Apaan ih? .... Dah ah, gue balik!”


Mika hendak balik badan, menyusul Val dan Kafeel yang tengah berjalan menuju mobil yang akan Val tumpangi.


“Heits!” Arya menahan Mika. “Ucapan sayangnya dulu mana?-“


“Iihh Aryaa ..”


“Gue ***** nih ya? ..”


“Ck!”


Mika mencebik.


“Satu-“


“Sa, yang Arya.”


“Sayang Mikaelaa-“


“Rese!...” Mika mencebik dan Arya terkekeh.


“I love you, Mi...”


Arya berucap mesra kemudian, sambil mengecup tangan Mika yang sudah ia genggam.


♥♥♥♥


“Come (Ayo), Ann... Aku temani kamu ke mobil...”


Sementara itu di satu sisi yang lain, Rery mengajak Ann untuk pergi ke mobil setelah melihat Kafeel dan Val berjalan menuju mobil yang akan Val tumpangi bersama beberapa anggota keluarga mereka yang lain.


“Itu Val dan Mika sudah mau pulang, dan Mami Prita serta Isha sudah cukup menunggu lama di mobil juga. Yuk?...”


Kembali Rery mengajak Ann.


Namun yang diajak menggeleng.


“Tidak mau!” tolak Ann. “Aku ingin ikut serta dengan kalian yang akan pergi menghadapi para berandalan itu!”


Dan Rery pun berdecak. “Tidak ada perempuan yang ikut, Ann-“


“So ya kamu juga tidak perlu ikut.”


Rery berucap sambil kembali mengajak Ann untuk segera hengkang dari tempatnya.


“Ayo.”


“Tidak mau!”


Ann tetap kekeh dengan keinginannya. “Pulanglah, Baby. Kembali ke Kediaman –“ Namun kemudian Varen bersuara.


“Tapi aku ingin ikut memberi pelajaran kepada para pria sok jagoan itu berikut komplotannya.”


“Jika kamu ikut dengan pakaian seperti ini, yang ada kita seperti akan mengikuti karnaval ketimbang bertarung,” kata Rery sambil matanya menelisik pada pakaian yang sedang Ann kenakan saat ini, dimana tema pakaian yang Ann pakai sama dengan yang dipakai oleh para wanita dalam keluarga mereka untuk acara puncak festival tahunan yang baru saja berakhir beberapa saat yang lalu.


“Eh iya, ya.” Ann tersadar.


“Sudah ayo cepat ke mobil!” Rery meraih tangan Ann. “Kasihan Mami yang sudah lama menunggu untuk kembali ke Kediaman.”


“Pulanglah, Baby. Kamu juga harus melakukan satu tugas lagi bukan?” ucap Varen dan Ann mengangguk.


♥♥♥♥


“Kak Kafeel hati-hati ya?-“


Val sudah diantar Kafeel ke mobil yang akan ditumpangi kekasih kecilnya itu untuk kembali ke Kediaman, dimana sudah ada Mami Prita dan Isha yang sudah duduk di dalamnya berikut seorang supir.


Lalu beberapa bodyguard juga sudah sigap berdiri, dimana satu orang akan menumpangi mobil yang sama dengan Mami Prita dan lainnya yang ikut dalam mobil tersebut. Sementara empat sisanya akan mengawal mobil yang ditumpangi Mami Prita dan beberapa incess itu di depan dan belakang, dengan dua jenis kendaraan.


Arya dan Mika juga sudah ada di belakang Val dan Kafeel yang mengangguk dengan tersenyum selepas mendengar pesan Val padanya.


“Iya Tuan Putri...”


“Kabari Val jika sudah selesai.”


“Iya Tuan Putri...” jawab Kafeel lagi dengan lembutnya.


♥♥♥♥


Saat semua anggota keluarga The Adjieran Smith, khususnya para wanita berikut juga Gappa telah meninggalkan Hotel tempat acara sebuah festival tahunan dimana keluarga tersebut adalah penggagas sekaligus donatur utama—mereka yang hendak melakukan suatu ‘kegiatan’, kini sudah kesemuanya berada di dalam Ballroom Hotel yang telah ‘diamankan’ oleh para bodyguard.


Bahkan tidak ada satupun staf hotel yang diperbolehkan ada di dalam Ballroom yang masih belum dibereskan dari acara puncak festival tahunan yang tadi berlangsung.


Meski hotel tempat acara bukanlah hotel pribadi milik Dad R yang memang dikenal sebagai penguasa bidang perhotelan itu ataupun hotel milik keluarga mereka, terutama Daddy Jeff yang sebagaimana Dad R membidik bisnis perhotelan seperti Dad R---namun pemilik dari hotel yang disewa secara khusus itu adalah sahabat baik para Daddy dalam klan The Adjieran Smith.


Jadi bebas saja para pria dalam Klan The Adjieran Smith mau berbuat apa dalam Ballroom Hotel tersebut, bahkan dalam keseluruhan hotel yang khusus hari ini serta beberapa hari kemarin—para tamu yang menginap adalah mereka yang memang memiliki kepentingan dalam festival tahunan yang telah selesai dilangsungkan dalam satu hari ini.


♥♥♥♥


Kesemua The Dads of Adjieran Smith tanpa terkecuali, telah mengambil tempat pada beberapa kursi yang terbungkus kain cantik dan duduk mengitari sebuah meja bekas acara yang memang ditunda untuk dibereskan oleh staff hotel yang mendapat perintah langsung dari pemiliknya, yang merupakan salah satu kerabat dekat dari Klan The Adjieran Smith tersebut—karena ia dan para pria penting low profile selalunya namun memiliki kekuatan besar di tangannya itu akan membahas sesuatu yang, yah dibilang penting banget engga juga sebenarnya—namun rasanya cukup mempengaruhi kenyamanan dan keamanan banyak orang di luar sana.


Selain memang rasanya ingin memberi pelajaran berharga, bagi mereka yang telah mengusik keluarga mereka—walau yang diusik bukanlah keluarga ini dari Adjieran Smith.


Hanya saja mereka—para kerabat yang telah dianggap keluarga hingga hubungan yang terjalin kian akrab dan eratnya, akan mendapat perlakuan sama untuk mendapatkan perlindungan dari para pria yang dikenal terlalu hebat pada masanya.


Namun rasanya kehebatan para pria itu tetap ada, dan kemungkinan besar akan berlanjut pada anak-anak mereka yang sebagian sudah terlihat kemampuannya. Kemampuan untuk meneruskan kehebatan para ayah di kemudian hari, walau satu sudah sangat terlihat sekali kehebatannya—bahkan mungkin satu orang itu bisa dibandingkan oleh segala yang ada pada diri tiap-tiap The Dads of Adjieran Smith.


♥♥♥♥


Sementara para Dad of The Adjieran Smith duduk pada kursi-kursi yang mereka duduki berikut para kerabat dekat mereka yang kurang lebih sama usia dengan para Dad Badass tersebut, dimana kesemuanya adalah pria.


Mereka yang muda berdiri melingkari para pria tua, namun masih memiliki wibawa serta pesonanya masing-masing itu diusia mereka sekarang.

__ADS_1


“Kalian ikut mereka?” tanya pria yang merupakan pemilik hotel, Uncle Arman—jika para pewaris muda The Adjieran Smith memanggilnya.


Lalu para Dads yang ditanya oleh Uncle Arman itu menoleh kepada Varen dan para pemuda yang berdiri melingkari mereka tepat di belakang para Dads dan Uncles tersebut.


“Apa kalian butuh bantuan kami wahai para bocah tengik? ...” ucap Poppa dengan tersenyum remeh kepada Varen dan para pemuda yang berdiri bersama si Abang itu.


“Lebih baik kalian pulang saja daripada nanti terkena encok karena terlalu banyak bergerak mengingat usia kalian yang rentan terkena osteporosis,” sahut Varen yang memang dikenal paling berani menimpali para Dadnya dari sejak dahulu kala.


Makanya dibilang Anak Naga. Yang sikapnya tak punya takut macam para Naga senior dalam keluarganya.


Tapi tetap, dalam keseluruhan Varen sangat menghormati bahkan mengidolai para Dadnya itu sedari ia kecil.


Hanya saja ya itu, Varen suka usil mulutnya pada para Dadnya tersebut.


“Sekali-sekali kita perlu menyayat bibir bocah tengik satu ini sepertinya?-“


Dad R bersuara. Varen mesam-mesem saja, dan sisanya terkekeh geli setelah mendengar perkataan Dad R yang ia tujukan pada anak lelaki kandungnya itu.


♥♥♥♥


“Ini sudah semua anggota geng motor bastardo itu? ...”


Papa Lucca bersuara, saat ia tengah melihat sebuah tampilan gambar bergerak yang diambil dari sebuah alat canggih buatan Varen menyerupai drone namun dengan model yang unik selain kecil.


Yang mana alat tersebut telah dipakai oleh suatu organisasi mata-mata rahasia yang bekerjasama dengan perusahaan teknologi milik Varen yang berpusat di sebuah kota di Amerini sana. Sebuah alat mata-mata berbentuk capung dengan kamera yang disebut dengan Dragonfly Insectothopter.


Namun khusus peralatan jenis tersebut dimana digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarga, Varen membedakan jenisnya dari yang sudah dikontrak oleh sebuah organisasi rahasia yang sudah bekerjasama dengannya selama bertahun-tahun untuk setiap peralatan canggih yang satu organisasi rahasia itu butuhkan untuk ragam operasi mata-mata mereka.


Jika desain alat mata-mata untuk mengintai sekaligus untuk mendengarkan percakapan tanpa orang yang sedang diintai menyadari alat tersebut ada di dekatnya adalah berbentuk capung namun lebih kecil ukuran dari capung dalam ukuran normal, maka khusus untuk kepentingannya dan keluarga—Varen membuatnya dengan desain dari hewan yang menjadi lambang keluarganya.


Naga Hitam.


Dimana alat intai dan sadap berbentuk naga dengan ukuran sangat kecil itu, kini sedang berada di area dimana target Varen dan kawanannya itu sedang berkumpul.


Dan tanpa orang-orang yang sedang diintai oleh pihak Varen itu sadari, jika setiap pergerakan dan ucapan mereka telah diintai, diperhatikan dan didengarkan dengan seksama oleh pihak yang kemungkinan besar akan menghabisi mereka tanpa sisa.


♥♥♥♥


“Iya Tuan Lucca.”


Satu orang bodyguard yang bertanggung jawab atas pergerakan alat mata-mata mereka itu menjawab pertanyaan Papa Lucca sebelumnya.


“Ga sampai seratus orang,” timpal Daddy Jeff enteng.


“Betul Tuan. Itupun gabungan, karena mereka udah liat kalau Tuan Kafeel dekat dengan adik Tuan Bagas-“


“Dan yang bergabung dengan para pecundang ini, adalah kelompok yang pernah bermasalah dengan Bagas dan kelompoknya?-“


“Iya Tuan John-“


“Hemm ...”


Papi John dan pria kawula tua lainnya manggut-manggut kemudian.


“Tuan Bagas sudah ada di luar Tuan, termasuk juga adiknya dan teman-teman mereka.”


“Okay, Thanks, Gi ...” ucap Varen pada satu bodyguard yang barusan memberikan laporan padanya.


♥♥♥♥


“Kalian berdua benar-benar akan ikut serta? ...”


Daddy Dewa bersuara, seraya bertanya pada dua bujang tengah dalam garis para pewaris muda dalam keluarga mereka.


“Wakilnya aja sudah ready, masa ketuanya engga? ...”


Rery yang menjawab, yang langsung diiyakan oleh Aro.


Daddy Dewa mengulas senyuman.


Meski ada kekhawatiran atas keselamatan anak-anaknya dan mereka yang akan pergi bersama menghadapi para manusia kriminal dan dipastikan bar-bar, namun Daddy Dewa memiliki juga kebanggaan pada anak-anak lelakinya dan para Dad lain, dimana tidak ada satupun dari mereka yang berjiwa pengecut untuk menghadapi lawan bagaimanapun bentuknya.


Para Dad lain juga mengulas senyuman tipis di bibir mereka. Toh dulupun mereka seperti Aro dan Rery saat muda.


Namun mereka yang seperti itu pun kiranya sama seperti Abang, Nathan, Rery dan Aro.


Tidak pernah bertingkah sok jagoan, namun akan maju pasang badan saat diperlukan.


“Pastikan tidak ada luka di tubuh kalian saat pulang nanti, karena jika ada akan aku dan Dad R tambahkan jadi dua kali lipat luka kalian itu.” Poppa bersuara, memandang pada Rery dan Aro.


Dua pewaris remaja itu mendapat ancaman tidak main-main dari Poppa yang wajahnya meski biasa saja ekspresinya, namun terdengar jika apa yang Poppa ucapkan bukan sekedar guyonan semata.


Dimana yang mendengar, pasti bergidik punya dengan kata-kata Poppa yang memandang datar pada dua anak lelaki remajanya itu—namun tatapan Poppa fokus, menandakan jika ia sedang dalam mode serius.


Namun hal itu seringnya Poppa lakukan pada anak-anaknya, sekedar untuk mengetes nyali mereka jika mendapat ancaman darinya atau Dad R yang memang paling mendominasi dalam keluarga. Terlebih soal yang namanya ketahanan fisik dan kemampuan membela diri yang cukup diterapkan dari sejak jaman Varen.


♥♥♥♥


“Jika masih ada setitik ragu, lebih baik ikut kami ke Kediaman lalu cuci kaki dan tidur,” Dad R menimpali ucapan Poppa yang berupa ancaman bagi Rery dan Aro yang sedang bersiap untuk pergi—turut serta dengan mereka yang akan memberi pelajaran pada orang-orang yang telah mengusik keluarga mereka melalui Lena, hingga kerugian fisik dan mental mengenai adik perempuan Kafeel tersebut—yang sudah juga dianggap anak oleh para orang tua dari Klan The Adjieran Smith.


Rery dan Aro tersenyum tipis menanggapi cibiran Dad R barusan. “Yang lemah kalah dengan yang kuat. Yang kuat takut pada yang nekat,” setelah Rery menjawab Poppa, Aro yang kini menjawab cibiran Dad R.


“Sementara kita kuat dan nekat, bukan?-“ timpal Rery atas kalimat Aro yang merespon cibiran Dad R itu.


Dad R pun tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Rery dan Aro yang nampak tak gentar dengan ancaman Poppa pada mereka.


Dimana Poppa sama mengulas senyuman tipis di bibirnya setelah mendengar dua bujangnya dan para orang tua lainnya berucap penuh keyakinan tanpa terlihat gentar sama sekali, meski bukan tidak mungkin Poppa akan mewujudkan kata-katanya.


Karena jangankan Rery dan Aro yang anak lelaki, Drea yang anak perempuan—namun karena Drea selalu meminta diajarkan ragam jenis bela diripun akan mendapat ancaman dari Poppa jika andaikan Drea mengatakan akan menghajar orang karena tidak terima lalu ada luka yang Drea dapat, minimal hukuman berlatih bela diri selama berjam-jam akan Poppa berikan pada Drea.


Tapi lihat bagaimana Drea tumbuh dengan Poppa yang terkadang keras padanya. Sama macam suaminya serta sang ibu kandung, Drea tidak gentar untuk melawan para pengganggu. Drea pernah menghajar lebih dari lima orang pembuli di sekolahnya sendirian, bahkan menghadapi anak buah para penjahat dari orang yang pernah berusaha menculik dan menjualnya serta Via.


Tak tanggung-tanggung, para pria yang lebih biasa dari Drea kala itu, KO oleh anak kandung satu naga itu. Jadi, masa Rery sama Aro yang notabene anak lelaki, kalah sama Kak Drea mereka yang perempuan?.


♥♥♥♥


“Tenang saja Dads, jika kami terluka, tak perlu kalian yang menambahkannya.”


Aro berucap lagi.


“Kami sendiri nanti yang membuat luka tambahan untuk satu luka yang kami punya saat pulang nanti.” Rery menimpali ucapan Aro barusan.


“Anak Naga, pada ngeri-ngeri nyalinya!” gumam mereka yang ada di dekat Rery dan Aro beserta para Daddynya.


♥♥♥♥


“Let’s get rid those losers ( Ayo kita habisi para pecundang itu )”


“Passwordnya apa, Abang Varen??!! ...”


“Bantai tanpa sisa.”


♥♥♥♥♥♥♥♥


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2