HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
BUKA DIKIT --- BELUM JOSS!


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama keluarga The Adjieran Smith, Jekardah, Indonesiah,


“Val! Kenapa jalan kamu begitu?”


Adalah Isha yang nyeletuk, saat ia melihat Val berjalan dengan nampak hati-hati kala berpapasan di area lantai 3 KUJ, tempat kamar para adik berada.


Val langsung terkesiap saat mendengar suara Isha yang bertanya padanya, sambil yang bersangkutan nampak berjalan mendekatinya—membuat Val seketika jadi kikuk.


Val juga spontan menggigit bibirnya sendiri. “Eum..” sambil ia bergumam. “Itu.. kaki aku terantuk meja,” ucap Val kemudian, dan Isha langsung lagi bertanya. Sedikit terkesan mencecar Val.


Namun memang seperti itulah Isha.


Ceriwis macam ibu kandungnya.


“Meja mana? Kok bisa?..” Dengan 2 pertanyaan yang langsung Isha cetuskan pada Val. “Gara-garanya?”


“Aku..”


♥♥


A Flashback,


“Val tidak suka padanya.. Dan Val yakin jika dia ada rasa pada Kakak. Val ingin Kak Kafeel memecatnya sekarang juga.”


“Ih mana bisa begitu?—“


“Bisa!”


“’A?!—“


“Dan seperti apa yang calon istri gue bilang, lo gue pecat sekarang—“


“’A! Please jangan gitu.. Dona kan udah banyak bantu AA disini—“


“Ga cuma lo yang banyak bantu gue disini tapi semua pegawai!.. Ambil barang-barang lo, dan cepet pergi dari sini. Gaji dan pesangon lo gue transfer nanti—“


----


“Kamu sudah makan, Baby?—“


“Sudah di jet, Kak.”


“Mau Mocha Chocolate? Kakak sendiri yang buatkan..”


“Mau!”


“Mau yang hot or cold?..”


“Hot saja.”


“Mau cake dan pastry juga? Semua cake dan pastry yang ada disini adalah kesukaan kamu.”


“Ah iya benar!”


“Mau yang mana?”


“Mille cripes ini Val mau..”


“Siap, Nona. Yon, tolong ambilin? Sekalian tanyain itu bodyguard-bodyguard calon istri gue mau minum apa sama tawarin cake sama pastry. Habis itu kalau kalian udah selesai dan mau pulang, silahkan aja. Biar gue yang closing—“


“Nanti Val bantu, Kak.”


“Makasih, Tuan Putri. Kakak buatkan Mocha Chocolate kamu dulu ya?..”


“Okay, My Future Husband!”


“Yuk, kita ke ruangan aku aja. Kamu bisa istirahat sebentar, baru nanti aku antar kamu kembali ke KUJ.”


“Iya, Kak.”


----


( Cup! )


“I miss you so much, Kak.”


“I miss you more, Tuan Putri..”


( Cuup )


“Sshh.”


----


“V, al.. Sayang.. jangan ter, lalu sering.. bergerak..”


“Ma-maaf.. Kakh.. apa Val menyakiti Kakak?—“


“Engga.. aku hanya takut ga bisa tahan diri kalau kamu terus-terusan bergerak seperti tadi—“


“I’m yours, Kak—“


----


“Jangan bilang begitu saat kita sedang berduaan seperti ini, bahaya..”


“Tetapi Val memang dengan senang hati menyatakan kalau Val milik Kakak—“


“Iya, tapi makna ucapan kamu itu, akan terdengar ambigu saat posisi kita seperti ini, Sayang—“


“Ambigu bagaimana?—“


“Ya udahlah ga usah dibahas, hm? Ga penting juga—“


“Maksud Kak Kafeel ambigu dengan kalimat I’m Yours itu, apa mengarah ke ranah dewasa?—“


“Ya seperti itu kira-kira.”

__ADS_1


“Jadi Kak Kafeel berhenti mencium Val dengan tiba-tiba karena takut melewati batas?—“


“Iya—“


“Atau yang sebenarnya, karena Kak Kafeel yang memang tak berhasrat kepada Val?—“


“Aku justru sedang mati-matian menahan itu saat ini, Tuan Putri—“


“Val rasa tidak, Val rasa, meski Kak Kafeel mencintai Val dengan sangat, tapi di mata Kakak, Val hanya gadis kecil yang tidak bisa membuat Kakak tergiur—“


“Kok ngomongnya gitu sih?—“


“Ya sudah, Val lebih baik kembali ke K—“


( Syuut! )


“Ah!—“


“Aku ga suka kamu bilang aku ga punya hasrat sama kamu. Dan karena kamu ngomong begitu, setelah ini, kamu jangan menyesal—“


Cuuupp.. ( Bibir )


“K-ak Kafeel.. hosh..”


Cuuupp.. ( Leher )


( Sreeett.. )


“You’re mine right?”


“I—“


“Maka ini milik aku juga..”


Cuuupp.. ( dada )


“Eumh.. Kak—“


“Terlambat kalau ingin menghentikan aku sekarang untuk menyentuh kamu sekarang, agar kamu bisa lihat kalau ucapan kamu yang bilang aku ga nafsu sama kamu itu.. salah!—“


( Syut! )


( DUKK! )


“ADUH!”


“VAL?!”


“Aww!.. sakit sekali..”


“Maaf, Sayang, Maaf! Bagian mana yang kena meja?—“


“Ini. Punggung kaki Val ini.. perih—“


“Ya ampun, kegores juga.. maaf Sayang ya?—“


“Sshh perih sekali, Kak—“


“Iya, Kak—“


♥♥


Kediaman Utama keluarga The Adjieran Smith, Jekardah, Indonesiah,


“Val! Kenapa jalan kamu begitu?”


“Eum.. Itu.. kaki aku terantuk meja.”


“Meja mana? Kok bisa?.. Gara-garanya?”


“Aku.. itu, masih mengantuk saat ponselku berdering di atas meja belajar. Jadi aku tidak terlalu melihat sekeliling.  Lalu kakiku terantuk kaki meja dengan keras—“


“Yah ga bisa ikut seru-seruan main voli air dong? tapi btw udah diobatin tapinya kaki kamu?..” timpal Isha dengan cepat setelah Val memberikan jawabannya.


“Sudah. Tapi masih agak nyeri. Jadi aku tidak dapat bergabung main voli air dengan kamu dan lainnya nanti, maaf ya? ..”


Isha lantas tersenyum geli setelah mendengar ucapan Val barusan. “Kamu ini, Val .. masa minta maaf karena kamu terluka? ..”


‘Aku sebenarnya minta maaf karena tidak jujur pada kamu, Isha. Kakiku memang benar terantuk meja, tapi sebelum itu .. aku dan Kak Kafeel sedang .. aaa aku jadi malu kalau mengingatnya! ..’


Val membatin kemudian.


‘Apalagi .. Kak Kafeel sudah melihat dadaku dan sedikit menyentuhnya .. lalu membuat tanda di sana .. bahkan Kak Kafeel sempat juga menyentuh pahaku ..’


Val tersipu dan malu sendiri.


‘Aku jadi merinding kalau mengingatnya,’ batin Val lagi sambil ia menangkup wajahnya dan menghentikan langkahnya, lalu mengusap – usap pahanya.


“Kenapa Val?”


Suara Isha menariknya dari lamunan.


“Kaki kamu sakit banget kah? ..”


“Oh tidak kok Isha—“


“Terus kenapa berhenti dan megangin kaki kamu?—“


“Heu?—“


“Itu paha kamu, kamu pegangin begitu?—“


“Oh, eh ini .. paha aku sedikit gatal.”


Val mencetuskan alasan yang melengkapi hal yang ia sembunyikan dari Isha, dan akan Val sembunyikan dari keluarganya juga.


♥♥


Suara beberapa orang yang sedang mengobrol terdengar pada titik lain, di satu ruangan terbuka di KUJ—suara yang didominasi dengan suara pria, karena memang hanya para pria saja yang ada beberapa sedang duduk bercengkrama di satu ruangan itu—The Dads of The Adjieran Smith.


“Kalau menurut gue sih, lebih baik-daripada kita ke Bali, better minta si Recehboy datang melamar May secara resmi, termasuk juga Kaka—“

__ADS_1


“Prepare liburan di Bali sudah siap, kita pun sudah mengundang Simon dan keluarganya untuk ikut, berikut beberapa kerabat kita yang lain. Bahkan Mor dan Far akan datang juga.Tidak mungkin dibatalkan.”


“R benar—“


“Yaa jangan dibatalkan. Tunda saja sebentar.”


“John was right. Acara lamaran tidak lebih rumit dari acara pernikahan. Besok kita persiapkan, lusa sudah dapat digelar. Esok harinya kita tetap masih bisa berangkat ke Bali. Selagi ada moment berkumpul dengan lengkap dan waktunya cukup panjang, lebih baik dimanfaatkan dengan baik.”


“Setuju dengan si Donald Bebek tua ini.”


“Hah! Mengatai gue tua. Sebaiknya lo lihat diri lo sendiri di kaca, Papa Bear. Cakar beruang lo itu bahkan sudah keriput!”


Yang asyik mengobrol dengan diselilingi sesi saling meledek satu sama lain seperti seringnya.


“Heh! Mana ada!” Daddy Jeff langsung berseru setelah mendapat ledekan dari Poppa.


“Sesama pria renta ga usah saling meledek—“


“Termasuk lo, Dewa Mabuk? Yang bahkan sudah mulai membawa minyak angin kemana-mana—“


“Hahaha!”


Sesi ledek meledek antar para Dads of The Adjieran Smith itu berlanjut sampai kemudian tawa mereka membahana.


Lalu perlahan mereda dengan kompak, saat mereka mendengar suara dari arah dapur bersih yang tak jauh dari tempat para Dads itu berada.


“Hoek!“ ada seseorang yang terdengar sedang mengeluarkan isi perutnya di area dapur bersih. Membuat para Dads of The Adjieran Smith yang berkumpul itu kemudian memanjangkan kepala mereka.


Sambil juga memasang telinga, mengira-ngira, siapa orang yang dari suaranya adalah seorang wanita—yang sepertinya sedang muntah-muntah di wastafel dapur bersih. Samar soalnya, meski dapur bersih berada tak jauh dari tempat para Dads yang sedang berkumpul itu berada, namun wastafelnya agak lebih menjorok ke dalam sedikit letaknya.


Jadi hanya suara Hoek-hoek saja yang terdengar, tanpa jelas siapa pemiliknya—selain memang KUJ agak bising juga dengan suara obrolan dari sudut lain yang juga nampak seru, sampai ada gelakan yang membahana juga.


Penasaran, para Dads kemudian kompak berdiri. “Biar aku saja yang melihat, karena aku ingin juga meminta dibuatkan juice ..” Namun kemudian Papa Lucca angkat suara, dan lima Dad lainnya pun kompak menahan langkah seraya mengangguk.


Selain ada juga yang menyelipkan pesanan minuman.


Papa Lucca sudah mengayunkan satu langkahnya, namun sontak terhenti ketika ada satu sosok yang terlihat keluar dari arah dapur bersih—satu incess mereka yang muncul itu. “May? ..” para Dad kompak berucap. “Kamu yang baru saja muntah-muntah?—“


♥♥


Another flashback,


“I want you, Mi....”


( Syut! )


Arya yang berucap, lalu mengangkat tubuh Mika didetik berikutnya. Ia dan Mika kemudian berpagutan dengan cukup memburu hingga ke dalam kamar di apartemen Arya yang bertempat di London.


Sampai detik dimana dua insan itu saling pangku-memangku, dalam keadaan nafas yang terengah dan wajah yang memerah karena gairah—setelah tangan sampai sempat bergerilya dan saling meremat.


Lalu satu kain yang melekat di tubuh masing-masing telah terhempas ke lantai.


Dan keintiman terjadi lagi, walau baru sebatas kembali memagut dan meremat—mengusap hingga gelenyar asing namun menagih kian menggulung keduanya.


“Eumh, Ar-h ..”


Lenguhan sensual keluar dari mulut Mika, saat Arya sudah mulai menjadi sedikit liar dengan menciumi tubuhnya hingga sampai pada bukit kembar milik Mika yang masih tertutup dengan sebuah kain berwarna hitam yang memiliki diameter yang sama.


Namun penutup itu hanya menutup setengah saja bukit kembar milik Mika.


Yang mana setengah dari bukit kembar Mika yang terekspose indah di mata Arya itu, sedang ‘diserang’ Arya.


“Ar-h ..” Mika mendesah.


Saat tangan Arya sudah menelusup ke punggung Mika, hendak membuka pengait yang kiranya mengganggu pemandangan indah dua bukit kembar secara keseluruhan.


“Sorry .. Mi ..”


Suara Arya terdengar, bersamaan dengan tangannya yang ia jauhkan dari pengait penutup dua bukit yang hendak dibuka Arya sebelumnya.


“Sorry kalau gue sampai sejauh ini, Mi—“


“It’s okay, Ar. Toh gue juga terbuai,” timpal Mika cepat. “But thanks, karena elo bisa menahan,” tambahnya.


“I have to ( Memang seharusnya aku begitu )” balas Arya. “Tapi gue udah cukup brengsek sampai bisa-bisanya gue bertindak sampai sejauh .. selancang ini ke elo—“


“Sadar diri ..” sambar Mika sambil ia terkekeh, dan Arya tersenyum miris. “Tapi kalau lo brengsek, sekarang lo pasti udah lepasin ini underwear gue, dan udah mengambil virginity gue. So no, lo ga brengsek—“


"Tapi tetep gue salah Mi--"


"Kita sama-sama salah, Ar--"


♥♥


“May? .. Kamu yang baru saja muntah-muntah?—“


“No .. not me,“ jawab Mika cepat pada Papa Lucca yang bertanya padanya.


Lalu Mika membatin kemudian.


‘Aku dan Arya bahkan belum membuka baju kami secara keseluruhan. Mana mungkin aku hamil?—‘


“Then who?” sambar Daddy Jeff setelah Mika menjawab Papa Lucca, dimana Mika juga sedang membatin.


Lalu Mika dengan cepat kembali fokus pada Papa Lucca yang sudah berada dekat dengannya yang juga sudah memajukan langkah.


Tapi juga Mika memberikan fokusnya pada beberapa Dad lain yang sedikit berjarak darinya.


“Little Star atau Via yang sedang isi lagi?—“


“Kak Drea dan Kak Via belum lepas spiral mereka setahu aku—“


“Lalu siapa itu yang muntah-muntah?—“


“Momma—“


“What???!!! ..”


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2