
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...
“Itu mobil yang biasa menjemput Dad R di bandara kalau ia sedang datang ke Jakarta. Berarti Dad R ada disini!”
Val berucap dengan bersemangat kala ia melihat mobil yang ia maksud.
“Jika ada Dad R, kemungkinan ada Poppa dan Papa Lucca juga.”
Val terus berbicara dengan sumringah.
“Ah iya betul, itu---“
Val menunjuk ke arah carport disisi lainnya.
“Satu lagi mobil yang biasa terparkir di Bandara untuk akomodasi, juga ada disini.”
Val melebarkan senyumnya.
“Macam tahu-tahu ya mereka, kalau kita sudah jadian, dan Kak Kafeel mau meminta restu kan sama The Daddies?!”
Val menoleh serta menatap pada Kafeel penuh antusias.
“Kak Kafeel sangat beruntung berarti. Bisa langsung meminta restu untuk kita secara langsung pada The Daddies secara serempak!”
Val bercerocos penuh semangat dan riang.
Dimana Kafeel meringis dalam hatinya.
‘Double Kill ini sih gue! Bukannya beruntung!’
AA Kafeel jadi suangat tidak santuy, dan rasanya ia enggan untuk melangkah.
Dimana Val juga sedang membatin dalam hatinya.
‘Eh tapi?...’ batin Val.
‘Seperti yang Val bilang tadi, ‘hanya’ Uncle R dan Uncle Andrew aja ... lo Cuma tinggal menunjukkan kesungguhan lo yang mencintai Val kalau benar mereka memang ada disini.’
Kafeel juga masih sibuk bermonolog di hatinya.
‘Rasanya tidak mungkin sih ...’
Itu batin Val yang berkata lagi setelah ia melirik dua mobil yang tadi ia tunjukkan pada Kafeel, yang mana kedua mobil tersebut memang dua mobil khusus akomodasi keluarga mereka dari Bandara komersial yang dapat disewa untuk menyimpan aset pribadi, berupa jet-jet pribadi.
Kemudian Val melirik pada Kafeel yang nampak sedang melamun itu.
“Kak..” panggil Val pada Kafeel.
Namun Kafeel seolah sedang larut dalam lamunannya.
‘Serius deh, Kak Kafeel aneh sekali sejak dari pantai tadi. Banyak melamun-nya.’
Val yang panggilannya tidak direspon oleh Kafeel itu membatin lagi. Lalu ia geleng-geleng sendiri.
“Kak!” panggil Val untuk yang kedua kalinya, dengan menyenggol lengan Kafeel.
“Eh?!” barulah Kafeel terkesiap. “Iya, Val?....”
“Kak Kafeel kenapa sih?”
Val sontak bertanya.
“Kak Kafeel sering sekali melamun hari ini?...”
Kafeel pun tersenyum pada Val. “Kakak ga melamun kok ....” dusta Kafeel.
“Ga melamun bagaimana?... Val panggil dari tadi Kakak tidak merespon...” tukas Val.
Dimana Kafeel tersenyum lagi. “Iya sorry, Kakak lagi ingat satu kerjaan, lupa sudah kasih ke Har atau belum.”
Kafeel berdusta lagi.
Val pun ber-oh ria, sembari manggut-manggut.
“Ya sudah, ayo kita masuk Kak!”
“Ayo ..” Kafeel pun mengiyakan ajakan Val untuk segera masuk ke dalam Kediaman.
Kafeel melangkah santai bersama Val disisinya.
Menegakkan kepala, nampak tegas dan siap untuk menghadapi apa dan siapa yang sedang menunggunya di dalam Kediaman Utama keluarga Val tersebut.
‘Ah! biarpun itu ‘hanya’ itu dua ‘naga’, kenapa jantung gue jadi dugem begini sih?!!! Mudahan ga ada itu dua ‘naga’!’
Namun meski langkah sudah tegas, kepala sudah tegak, begitupun pandangannya, tapi pada kenyataannya langkah Kafeel terasa mulai berat kala kakinya sudah hampir sampai di pintu utama Kediaman keluarga Val tersebut.
‘Mau diservis kali itu mobil akomodasi!’ batin Kafeel yang percaya diri, setelah ia melirik cepat ke mobil akomodasi yang tadi Val katakan padanya. ‘Aduh, hati! Biasa aja kenapa?! Yang mau dihadapi kan ‘naga’ sudah tua ini!... Ah tapi biar tua kan, tetep aja yang namanya ‘naga’ nyeremin! Apalagi kalo anaknya udah dua kali gue cium, sebelum gue minta ijin untuk mendekat terlebih dahulu sama dia! Entah akan diapakan gue bisa-bisa???!! ....’
Kafeel kembali sibuk bermonolog di hatinya.
*
“Assalamu’alaikuumm!!....” Val mengucapkan salam dengan riang kala ia sudah masuk ke dalam Kediaman.
“Assalamu’alaikum.” Berbeda dengan Val yang tampak riang mengucapkan salam, Kafeel mengucapkan salamnya dengan gaya sok cool.
Namun ‘cool’ nya Kafeel berkurang saat sudah masuk dan berada di ruang tamu Kediaman Utama keluarga Val tersebut.
*
“Kamu ke pantai tidak mengajak kami, Val Baby?”
‘Kalau disinggung soal gue yang mencium Val, gue harus jawab apa coba?! ..’
Kafeel kembali membatin.
Ia berdiri saja setelah memberi salam.
“Kok Dad tahu, jika Val habis dari pantai?”
Suara Val yang menyahut, terdengar di telinga Kafeel.
__ADS_1
“Well, I spy with my little eye....”
‘Demi apa ini ya ampuunn.... masa diumbar depan keluarganya Val soal gue cium ini satu anak perawan mereka?!’
Kafeel masih sibuk sendiri dengan pikirannya, terpaku di tempatnya.
‘Aish, Dad R ga usah berdiri dan jalan ke arah gue bisa ga?...’ kata Kafeel lagi, yang matanya menangkap sosok yang sedang mendekati dirinya, namun pandangan Kafeel seolah kosong.
“Kak?..”
“Ka?”
‘Cium bibir gitu doang masa jadi perkara?...’
Kafeel masih termangu, tak sadar jika dirinya sedang sangat diperhatikan.
“Hoy, Kak Kaf!” Hingga sebuah seruan salah satu orang yang berada di ruang tamu Kediaman terdengar, barulah Kafeel terkesiap dan berucap dengan cepat.
“Aku siap bertanggung jawab jika memang hal itu menjadi masalah!”
Kafeel bicara dengan lugas dan sikap sedia.
Namun ...
Krik ... Krik ...
Sunyi sejenak.
Dimana Kafeel terdiam.
Terpaku, tergugu, dan terheran.
Lalu ...
“Kak Kaf, lo sehat? ....”
Suara seseorang dimana sosoknya telah berada di hadapan Kafeel membuatnya terkesiap.
‘Eh??’
Kafeel sedikit menarik kepalanya, seperti orang yang terkaget.
Lalu keningnya mengernyit ketat, memperhatikan orang yang berada dihadapannya.
Aneh.
Selain Kafeel yang merasa aneh, orang-orang yang berada disekeliling si AA pun sama merasa lebih aneh lagi sekarang ini kala melihat gelagat Kafeel yang bak orang linglung.
Termasuk, Val.
“Kak?.....”
Yang mana orangnya langsung memanggil Kafeel seraya menyentuh lengan pria setengah om-om – kalo kata Val, yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.
Suara Val berikut sentuhan di lengannya, membuat perhatian Kafeel langsung teralih pada Val.
“V-val?? ...” Kafeel yang nampak tergugu itu menyebut nama Val.
Kafeel nampak bingung, Val lebih bingung lagi melihat si AA.
Namun belum ada yang berkomentar. “Kak Kafeel kenapa?..” Val pun bertanya.
Kafeel tidak langsung menjawab. Hingga...
Tik!.
Sebuah jentikan jari, membuat Kafeel mengalihkan pandangannya dari Val dengan cepat, lalu langsung dengan cepat juga berucap.
“Maafkan aku Uncle R, sungguh aku tidak bermaksud –“
“Uncle R? Dad R maksudnya?”
Ucapan Kafeel terpotong, oleh orang yang menjentikkan jarinya didekat wajah Kafeel tadi.
“Iya Uncle R, aku ---“
“???? ..”
Kafeel menggantungkan ucapannya, disaat dimana mereka yang berada disekeliling Kafeel semakin mengerutkan kening mereka.
‘Eh, tunggu-tunggu ....’ Kafeel seperti menyadari sesuatu.
Memastikan lebih tepatnya.
“Loh, kok elo sih Tan?!” seru Kafeel kemudian.
Setelah menyadari jika dihadapannya sekarang bukanlah Daddy R, melainkan Nathan.
“Uncle R, mana?”
Kafeel pun celingukan, karena orang yang dalam pandangannya tadi berjalan di dalam pandangannya tidak ada.
Yang mana tak beberapa lama kemudian...
“Kak Kaf, lo, sehat??...”
Wajah Kafeel terkunci oleh tangkupan tangan Nathan, yang wajahnya nampak serius-serius geli menatap pada Kafeel.
Sesaat mereka saling pandang.
Macam sepasang insan yang sedang kasmaran.
Sampai pada akhirnya...
“Ish apaan sih!”
Kafeel tersadar dengan posisinya dan Nathan yang macam pasangan Iyuh.
Nathan cekikikan.
“Ya kok yang tau-tau ada di depan gue elo sekarang? sementara yang gue lihat Uncle R yang mendekati gue tadi?”
Kafeel langsung bersuara lagi disaat Nathan cekikikan.
“Lo abis nyimeng, Kak? ..” celoteh Nathan dengan asal.
__ADS_1
“Sembarangan lo!”
Dengan cepat Kafeel menyergah dengan ketus celotehan asal si Tan-Tan barusan.
Nathan lagi-lagi cekikikan, dan suara-suara cekikikan lain pun terdengar di belakang Nathan.
Kafeel pun celingukan.
“Nah elo halu! Mana ada Dad R?!” seru Nathan.
“Tapi perasaan tadi yang gue lihat Uncle R?...” ucap Kafeel dengan serius.
Lalu Kafeel menoleh pada Val, meminta dukungan, jika Val juga melihat Daddy kandungnya seperti dalam pandangan Kafeel.
Tapi pada kenyataannya Val menggeleng, sambil memandang aneh pada Kafeel. “Dari tadi hanya ada Kak Tan-Tan, Papi, Papa Bear dan Daddy Dewa saja, Kak ..”
“Tapi---“
Kafeel hendak lagi bicara setelah Val berucap barusan.
“Ka ...” Namun sebuah suara bariton lain selain Nathan membuat Kafeel tak lanjut bicara.
Papi, alias Daddy John yang sudah berada di dekat Kafeel, dengan satu tangannya yang merengkuh satu pundak Kafeel.
Membuat Kafeel sedikit terkejut juga, karena Papi sudah tahu-tahu ada dihadapannya. “Un-cle John....”
Kafeel menyebut nama Papi sebagaimana Kafeel yang biasa Kafeel sebut, setelah dulu sempat memanggil Papi dengan panggilan ‘Om’.
Namun Papi tidak menyahut, namun lekat memandang pada Kafeel dengan serius, sambil menangkup wajah Kafeel dengan kedua tangannya, seperti halnya Nathan tadi.
“Okay.”
Papi bersuara, dengan masih menatap lekat pada Kafeel, yang Kafeel tak paham kenapa Papi John mengatakan ‘oke’ barusan.
“Matamu tidak menunjukkan kau sedang ‘high’..” kata Papi lagi.
“Heu?”
Kafeel terhenyak.
“Jadi katakan –“ Papi lanjut bicara. “Apa kau sedang merindukan Uncle R-mu, atau kau sedang tertimpa masalah yang be-gitu berat dalam hidupmu sampai kau berhalusinasi?...”
Papi John menepuk-nepuk pipi Kafeel.
Didetik dimana Kafeel seolah tertarik kesadarannya.
*
‘Ini benar-benar gila!‘
Kafeel yang akhirnya menyadari, sosok yang tadi ia lihat, sesungguhnya tidak ada wujudnya di dalam Kediaman Utama keluarga Val yang bertempat di Jakarta saat ini.
Kafeel kini telah duduk, dengan Val yang duduk disampingnya.
Kafeel mengusap kasar wajahnya, lalu memperhatikan lagi orang-orang yang ada disekelilingnya.
‘Benar-benar tadi gue hanya berhalusinasi kalau Uncle R ada disini, Ya Tuhaaannn ...’
Kafeel membatin frustasi.
‘Hanya karena gue paranoid buat minta ijin sama Uncle R, dan takut ga dapat restu buat macarin anaknya, gue sampai bisa berhalusinasi seperti tadi!’ cerocos Kafeel dalam hatinya.
Lalu Kafeel menggeleng dan berdecih geli sendiri.
‘Gila, gila! Gue belum berhadapan langsung dengan itu ‘naga’, tapi gue sudah panik begini! Tau begini gue tahan cium bibir Val tadi!’
Kafeel berkesah.
‘Tapi gue ga punya cara lain buat menahan Val agar tidak pergi menjauh dari gue, selain mencium bibirnya agar Val percaya kalau gue juga cinta sama dia ..’
Kafeel tetap masih sibuk sendiri bermonolog di hatinya.
‘Haish, cinta memang bikin orang jadi bodoh! Dan sialnya kebodohan itu menimpa gue!’
Kafeel berkesah lagi.
‘Mana yang bikin gue jadi bodoh begini bocil pula!’
Kafeel berdecih geli sendiri lagi.
‘Bocil yang bapaknya jelmaan ‘naga’!’
Kafeel menghela nafasnya, geleng-geleng lagi, lalu mendengus geli sendiri.
Lupa, bahwa ada orang lain yang sedang berada di sekelilingnya. Dimana orang-orang itu sedang memperhatikan prilaku Kafeel yang sedang sibuk sendiri dengan pikirannya.
‘Kak Kafeel aku ajak ke Psikiater saja, apa ya? ...’
Itu batin Val yang berkata, karena melihat keanehan si AA, hingga Val rasanya jadi khawatir dengan psikis si AA.
“Apa pekerjaan yang dibebankan Abang sangat banyak dan berat sampai dia stress begitu?.... sepertinya si Kaka terlihat tertekan sekali?” Dan ini, Daddy Jeff yang sedang kasak-kusuk dengan berbisik bersama tiga pria yang lainnya.
“Sebaiknya lo bicara pada Abang agar mengurangi pekerjaan si Kaka biar agak rileks itu dia.... setahu gue kan si Kaka, weekend aja seringnya kerja dia. Meskipun kata Abang emang kemauan ini anak sendiri ... tapi kalo udah begini, keknya dia udah menuju-menuju stress akut kalo sampe halusinasi sih.”
Daddy Dewa ikut berkomentar.
Of course, tetap dalam mode kasak-kusuk.
"Iya si Pih, kasian itu, kalo stress sampe halu begitu, berarti udah berat banget keknya bebannya. Gila nanti lama-lama dia .. kasian tau Pih. Nanti ibu sama adeknya gimana itu kalo Kak Kafeel jadi gila karena stress sama kerjaan?....”
Kalo yang ini, Nathan yang nyerocos, tapi teuteup dalam mode bisik-bisik in kasak-kusuk.
“Mana dia tulang punggung keluarganya lagi ...”
Nathan menambahkan.
“Tuh liat tuh..” ucap Nathan sambil menunjuk Kafeel yang mengusap kasar wajahnya seperti orang geregetan, lalu nampak menyungging miring sendiri dalam pandangan Nathan.
Yang kemudian pandangan tiga Daddy yang bersama Nathan pun turut memperhatikan Kafeel. Lalu manggut-manggut setelah memperhatikan gelagat Kafeel seperti yang Nathan lakukan.
Dan pemandangan sikap Kafeel yang macam orang stres itu juga mereka tangkap dalam penglihatan mereka.
“Kasihan ya, padahal masih muda.” Celetuk Daddy Dewa.
*
__ADS_1
To be continue...