
( BENARKAH? )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,
Mika mengalami demam tinggi, setelah ia ditemukan oleh Ann di dalam kamar pribadinya dalam keadaan tak sadarkan diri---tergeletak di atas lantai kamar di dekat ranjang dalam kamar pribadi Mika tersebut yang untungnya tidak terkunci.
Hingga setidaknya Ann merasa lega walaupun panik melihat Mika yang tergeletak di atas lantai dalam kamar pribadi salah satu saudarinya itu.
Tapi setidaknya---dengan Ann yang menemukan Mika dalam kondisi tersebut meski rasanya Mika sudah lama terbaring di atas lantai kamar pribadi Mika tersebut, namun paling tidak tindakan cepat untuk menolong Mika bisa Ann lakukan dengan bantuan Melly yang segera masuk setelah mendengar pekikan Ann dari dalam kamar Mika ketika ia hendak pergi ke kamar Val.
Dan beruntung juga, Dad R juga tahu-tahu datang dan masuk ke kamar Mika.
Hingga kemudian Dad R yang mengambil alih untuk menangani Mika dengan bantuan Ann dan Melly.
Lalu Melly menginformasikan tentang keadaan Mika pada semua orang yang berada di dalam The Great Mansion of The Adjieran Smith yang berada di London tersebut, dimana beberapa orang tua dan tetua sedang hendak pergi sarapan.
“Bagaimana May, R? ...”
Papa Lucca yang datang bersama mereka yang bersamanya saat hendak sarapan tadi, sontak bertanya pada Dad R perihal keadaan Mika lebih dulu dari lainnya.
Namun pertanyaan Papa Lucca itu juga merupakan perwakilan dari para orang tua dan tetua yang seyogyanya juga hendak menanyakan hal yang sama seperti Papa Lucca, ketika mereka sudah masuk ke dalam kamar pribadi Mika di The Great Mansion mereka yang berada di London itu.
♥♥♥♥
“Ar ...”
Mika masih sesekali meracau dalam tidurnya.
Uncle Owen yang merupakan salah satu Dokter kepercayaan keluarga The Adjieran Smith sejak lama dan sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga tersebut, telah datang dan memeriksa kondisi Mika setelah tadi Melly menghubunginya.
Lalu memberikan Mika suntikan untuk membantu menurunkan suhu panas di tubuh Mika yang cukup tinggi itu, karena kondisi Mika yang tidak memungkinkan meminum obat dari mulutnya saat ini.
Sementara itu seluruh keluarga The Adjieran Smith yang berdomisili di London, termasuk beberapa orang kerabat akrab yang menginap sejak semalam, hanya bisa menatap Mika dengan perasaan yang mencelos selain tak tega.
“Kalian jika ingin melanjutkan sarapan silahkan saja, biar aku yang menjaga May ...”
Rery berucap pada para anggota keluarganya yang lain berikut para kerabat dekat keluarganya itu.
“Iya, Dads, Moms, Gappa, Gamma, Oma, Uncles, Aunts. Rery was right. Sebaiknya kalian makan saja duluan, biar kami yang menjaga May sekarang ini-“
__ADS_1
“Ya, I agree ( aku setuju ) ...” Felix menukas dan menimpali ucapan Val yang mendukung usulan Rery sebelumnya.
“How about you guys who take the breakfast first, and also three of you. Dad, Mom, Mama ( Bagaimana kalau kalian saja yang sarapan duluan, juga kalian bertiga. Dad, Mom, Mama ) ...”
Uncle Ezra bersuara, menanggapi ucapan Rery dan Felix.
"Kami sarapan di sini saja, sekaligus minta tolong dibawakan sarapan juga untuk May, karena siapa tahu dia terbangun tidak lama lagi-"
"Baiklah, Val," tukas Momma yang mewakili para orang tua dan tetua yang mengiyakan usulan Val --- yang usulannya itu juga perwakilan dari para generasi muda lainnya di dalam kamar Mika saat ini.
♥♥♥♥
Terpukul perasaannya.
Hal yang menyebabkan Mika mengalami demam tinggi hingga diperkirakan jika batin Mika sedang merasa sangat tertekan hingga kondisi badannya jadi menurun drastis.
Yang membuat orang-orang terdekat Mika mencelos hatinya, selain merasa miris dalam hati mereka melihat Mika menjadi rapuh seperti sekarang ini.
Mika masih nampak tertidur di atas ranjang pribadinya itu, selepas Uncle Owen memberikan obat penurun panas tinggi melalui injeksi. Dan setelah mereka semua yang berbagi waktu untuk sarapan sudah selesai, yang kemudian bergantian menjaga Mika di kamar pribadi pewaris muda The Adjieran Smith pada urutan ke 4 itu hingga pada suatu waktu, mereka yang sebelumnya bergantian menjaga Mika menyingkir dari kamar si pewaris muda nomor 4 tersebut untuk memberikan sebuah ruang untuk Mika yang panasnya sedikit turun dan sesekali terdengar mengigau dalam tidurnya itu.
♥♥♥♥
“A,r ...“
Mika yang sudah diberi ruang oleh orang-orang terdekatnya yang dengan cekatan menemaninya sejak satu kabar yang membuat kondisi tubuh Mika menurun drastis terdengar, itu nampak masih memejamkan matanya ketika lirihan getir keluar dari mulutnya.
Satu bentuk suara tunggal, sayup-sayup rasanya Mika dengar di telinganya---dimana mata Mika masih terpejam.
“Ar ...” Mika melirih lagi ketika suara yang barusan menyebut penggalan namanya itu Mika dengar dekat di telinganya.
“Iya, Mi ...“ suara tunggal itu merespons suara Mika yang matanya mulai mengerjap lemah kemudian terbuka secara perlahan.
“Ar-ya ... lo, dateng, Ar? ...”
Mika sudah membuka kedua matanya, namun karena merasakan tubuhnya tak bertenaga---jadi Mika membuka matanya saja, sementara tubuh Mika masih bergeming pada posisinya yang sedang berbaring di atas ranjang pribadinya tersebut.
“Iya ... Mi ... Gue dateng ... Buat lo-“
“Ar-Arya?? ... I-Ini ... beneran, elo??? ...”
Mika menyebut nama dia gerangan yang membuat Mika menjadi drop seperti sekarang ini, lalu tergugu memastikan jika apa yang ia lihat saat ini adalah pria yang namanya barusan Mika sebut itu dengan mata Mika yang mengembun.
Dimana pertanyaan Mika yang tergugu lirih itu mendapatkan sahutan lagi, dari dia gerangan yang sosoknya sedang Mika lihat, dengan perasaan bahagia bercampur dengan was-was selain takut.
“Iya, Mi ... Ini gue ...”
__ADS_1
“Kalau-ini ... kalau, lo ... dateng, tanpa raga ... please-pergi ...”
Seperti itu perasaan Mika yang bercampur aduk saat ini, hingga rasa takut andai dia gerangan---Arya, sang kekasih yang dikabarkan telah menjadi korban tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat yang Mika lihat dalam pandangannya ini---hanya sebuah bayangan.
Atau lebih parahnya, sosok Arya yang sedang Mika lihat ini, hanyalah sebuah gumpalan jiwa tanpa raga yang datang hanya untuk berpamitan.
“Pergi, Ar ...“ Kiranya seperti itu yang otak Mika pikirkan, khawatirkan, takutkan saat ini.
Hingga kalimat untuk menyuruh Arya dalam pandangan Mika saat ini, agar pergi pun---terucap lagi dari mulut Mika dengan lirih.
Dan sahutan atas ucapan Mika pun, terdengar lagi.
“Mi-“
“Per-gi ... jangan pernah, pa-mit sama gue ...” Mika luruh dengan air matanya yang sudah menganak sungai. “Gue ga mau ... gue ga mau lo pamit untuk pergi selamanya dari gue, Arya!!!! ...”
Mika kemudian histeris lalu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan disertai isakan yang membuat hati terasa miris mendengarnya.
“Pergi ... aja, kalau lo-mau pamit ... pergi, Aryaa ... pergi ...” isak Mika.
“Mi ... Ya Allah, Sayang ...” suara sahutan dari sosok Arya yang Mika lihat dalam pandangannya tadi itupun terdengar lagi. “Ini, gue, Mi ...”
Melirih, berikut tarikan nafas yang sama lirih dengan nada suaranya yang penuh kekhawatiran pun terdengar dari dia gerangan yang barusan coba meyakinkan.
“Ini gue Mii ... Arya ... Buka mata lo, Mii ... Jadi lo bisa liat, gue dateng dengan raga ... utuh, buat lo ...” Suara gerangan dari yang berbicara itu kembali terdengar.
Mika mendengarnya. Jelas, sejelas sentuhan lembut pada punggung tangannya yang kemudian Mika rasakan digenggam dengan lembut. Namun Mika masih gamang atas kekalutan yang masih menggulung hati dan otaknya.
Sentuhan berikut genggaman di tangannya itu, Mika rasakan begitu nyata di kulitnya. Namun lagi – lagi Mika tidak mau berharap.
♥♥♥♥
Mika masih merasakan ketakutan atas kekalutan jika sosok Arya yang ada bersamanya kini bukanlah sosok dengan raga. Meskipun sosok yang masih Mika ragukan adalah nyata itu telah berbicara cukup sering dan ‘menyambung’ --- istilahnya, karena sahutan dari sosok Arya yang masih Mika ragukan keasliannya itu menanggapi setiap perkataannya.
Bahkan Mika merasakan sentuhan Arya di kedua tangannya --- yang Mika rasakan juga sudah digenggam dengan lembut itu cukup nyata terasa. Namun begitu, Mika masih menolak untuk berpikir jika itu adalah benar Arya dengan raga. Dan Mika masih ketat menutup wajahnya yang sudah basah dengan air mata itu, dengan kedua tangannya. Selain dengan matanya yang masih Mika pejamkan.
Hingga Mika merasakan tangkupan tangannya yang sedang menutupi wajahnya sendiri itu kemudian direnggangkan, sebelum kemudian dibuka dengan perlahan oleh tangan yang menggenggam tangannya itu. Dimana hal tersebut membuat Mika mulai meresapi sentuhan tangan yang sedang menggenggam tangannya itu, namun Mika belum berani membuka matanya.
Takut atas kalut yang Mika rasa membuat Mika enggan membuka mata, karena khawatir jika suara dan sentuhan berikut sosok Arya itu menghilang kemudian.
“Ini gue, Mi ...” Namun kembali suara yang seolah ingin memberikan keyakinan pada Mika itu terdengar lagi.
‘Really ( Benarkah )? ...’ Mika membatin.
♥♥♥♥♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue ..