
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Little Star Island, Isola, Italia,
"Mana May, Arya dan Kaka?--"
"Mereka singgah di London dulu. Drea dan Abang serta mereka yang bersamanya langsung ke Indo saat mereka sedang keluar dari sini. Jadi May ingin mengecek Red Tulip Garden di mansion. Dan Kaka ingin ikut serta merawat kebun itu --"
"Kalian bertemu dengan Rico dan Sean?..."
"Ya, tapi hanya sebentar. Karena mereka dan Lingga langsung mengurus wanita bernama Maura itu dan kedua orang tuanya --"
"Proses perceraian Kaka?"
"Sudah resmi jadi duda itu satu bocah tengik."
"Hem."
"Bukankah katanya wanita itu sedang hamil?"
"Iya. Tapi dia keguguran di hari dimana Drea menemukannya di gudang rumah Magda."
"Sudah dipastikan memang bukan anaknya Kaka?"
"Sejuta persen bukan. Karena itu anak dari pria yang selama ini menjalin hubungan tanpa status dengannya di Dubai."
"Dia terobsesi pada Kaka? --"
"Seperti itu kira - kira. Yang mana kalau menurut cerita Rico setelah dia mencecar si Maura itu, dia mengatakan sudah mencintai Kaka sejak lama. Kelanjutannya kalian bisa terka sendiri --"
"Hem --"
----
“Sepertinya Val sudah tidak mencintaimu lagi, Kafeel Adiwangsa. Toh sudah satu bulan kau disini dan berada di sampingnya, tetapi putriku satu itu tidak memberikan kemajuan.“
“........”
“Tak berguna sebenarnya kehadiranmu di sini.”
“........”
“Seperti yang R katakan, jika Val tidak selamat, kau, akan kami sertakan bersamanya.”
“........”
“Tapi jika Val selamat... Di hari dia membuka mata, kau, harus pergi sejauh-jauhnya...”
----
“Satu jam lagi aku akan memberikan penawar yang ketiga.”
“Lakukanlah, Cel.”
“Pahit, tapi hal ini harus aku katakan. Dalam tiga puluh hari ke depan, jika kondisi Nona Valera tetap stagnant---aku tidak bisa menjanjikan apa-apa lagi, karena usahaku dalam mencari alternatif lain terkait kondisi beliau, sampai dengan tadi pagi belum membuahkan hasil. Untuk itu aku sangat-sangat meminta maaf... Jadi, jika penawar yang ketiga ini tidak juga bisa membantu membuat Nona Valera membuka mata, semua kembali kepada anda semua. Apakah ingin tetap mempertahankan Nona Valera dengan alat bantu pernafasan, atau ‘merelakannya’”
...****************...
Seminggu telah berlalu dari pemberian penawar ketiga sekaligus yang terakhir untuk Val dalam usaha orang-orang yang amat menyayangi gadis itu agar ia segera terjaga dari tidurnya yang cukup panjang.
"Bagaimana, Cel? Ada kemajuan yang berarti?..." adalah Momma yang bertanya pada Celine dalam ruangan Val, kala tiba gilirannya dan Poppa berikut Dad R dan Mommy Ara untuk menemani Val.
Celine melipat bibirnya sembari memandang sedikit putus asa pada Momma dan bergantian memandang juga pada tiga orang lainnya yang bersama Momma.
Dimana empat orang plus satu orang lain yang ada di dalam ruangan Val itu memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama setiap gerak-gerik dan ucapan Celine.
...****************...
"Maaf, belum ada tanda-tanda dari Nona Valera dimana dia akan sadar --"
"Tak perlu merasa bersalah Cel, sudah berapa kali kan kami bilang itu ke kamu?..."
Mommy Ara mengelus pelan pundak Celine yang tertunduk lesu, sementara itu satu orang yang berada di bagian terpisah dari lima orang yang kiranya sedang bercakap di ruang rawat Val itu --- sudah menggenggam erat tangan Val ketika Celine memberikan jawabannya atas pertanyaan Momma sebelumnya.
Ada getir di hatinya, ketika orang itu --- Kafeel --- mendengar ucapan Celine terkait kondisi Val. Karena bagaimanapun, Kafeel rasanya tak siap jika dalam tiga minggu ke depan --- andai harus mendengar kabar terburuk terkait kondisi Val yang sampai dengan saat ini masih tidak menampakkan kemajuan.
Jadi setelah ia mendengar jawaban Celine, perhatian Kafeel penuh ia tujukan ke Val saja, tak lagi mengambil perhatian dari percakapan lima orang yang berada di sudut terpisah dengannya.
Tangan Val, Kafeel genggam dengan erat seolah takut ia akan kehilangan tangan itu untuk selamanya.
Harap dan Doa, tak putus Kafeel rapalkan dalam hatinya agar Val segera membuka mata.
...****************...
Harap dan doa yang tak putus itu terus bergulir tak hanya dari Kafeel saja, tapi tentunya dari seluruh keluarga Val dan para kerabat yang menyayanginya.
Hingga waktu dua minggu dari pemberian penawar untuk racun yang terlanjur bercampur di dalam darah Val sampai, dan kondisi Val masih tampak sama.
Hingga rasanya, mereka yang tersiksa dalam ketakutan menunggu dua minggu ke depan tiba, berharap waktu berhenti saja sekarang, karena dua pilihan yang Celine berikan sebagai ujung dari usaha --- sungguh butuh banyak pertimbangan dan kiranya berat dilakukan, jika Val harus direlakan.
...****************...
Keputusan, sedang berat dipikirkan dan ditimbang oleh keluarga Val.
Sementara bagi seseorang yang mencintai Val, semua hal tentang Val akan memberikannya sembilu apapun ujungnya nanti.
Jika Val harus direlakan, rasanya hidup sudah malas ia jalani. Namun andai Val membuka mata, dirinya dihadapkan oleh sesuatu yang juga akan menyiksanya di esok hari.
Kafeel merutuki dirinya yang ia pikir tal beruntung itu entah sudah berapa kali.
Makanya saat ibu kandung dari Val memintanya untuk beristirahat di dua minggu yang terasa menyiksa ini atas dasar pola makan tidur dan makan Kafeel yang diperhatikan menjadi agak kacau karena Kafeel ingin terus-terusan berada tepat di sisi Val --- Kafeel menjawab,
"Aku ga apa-apa kok, Mom, sungguh..."
Yang kemudian penolakannya pada teguran Mommy Ara itu ditimpali sinis oleh Nathan.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, demi tidak ingin menjadi sumber keributan atas mereka yang masih sentimen dengannya, Kafeel memutuskan untuk hengkang sejenak dari Val, sampai dia yang katanya ingin berada di sisi adiknya tanpa ada Kafeel yang bikin sepet matanya --- ada di dekatnya.
Didetik itu, satu Mom of The Adjieran Smith yang ada, ingin menyergah tegas ucapan satu anak lelaki angkatnya tersebut.
"K - ak... Tan... Tan..."
Namun sebelum sempat Mommy Ara hendak menegur Nathan dengan tegas, sebuah suara teramat sangat pelan lebih ke lemah itu membuat Mommy Ara urung untuk menegur Nathan.
Yang ada, Mommy Ara membekuk di tempatnya.
Termasuk juga dengan tiga orang yang sedang berada bersama satu Mom of The Adjieran Smith itu, sama membeku.
Namun mata mereka menoleh ke arah sumber suara untuk memastikan pendengaran mereka.
Benarkah suara itu adalah suara dari dia gerangan yang dinanti untuk bangun dari tidurnya yang sudah cukup lama itu?
...****************...
Lalu setelahnya, lidah dibuat kelu. Kala mata mereka menangkap pergerakan samar di atas ranjang perawatan, dimana Val terbaring di atasnya.
Pergerakan samar, yang perlahan menunjukkan jika pergerakan itu bukanlah pergerakan atas reaksi saraf, karena tangan yang tadinya hanya terkulai dimasing-masing sisi tubuh Val, kini terlihat dicoba diangkat oleh si empunya tangan.
"V - Val?..."
Namun begitu, empat orang yang menyaksikan hal yang menjadi harap dan doa mereka itu masih membeku di tempatnya --- tergugu menyebut nama dia gerangan yang terdengar melirih dan bergerak, walau pelan dan lemah.
Masih agak takut, jika ini hanya halusinasi ataupun sebuah mimpi.
Tapi jika memang hanya halusinasi dan mimpi, kok bisa barengan begini?
...****************...
"Mom - My..."
Dan ketika suara yang pelan dan lemah tadi terdengar lagi,
"VAALL!!..."
Mommy Ara histeris dengan spontan, kala suara yang memanggilnya itu membuka perlahan matanya dan menoleh lemah ke arah dirinya.
"Mom - My..."
"V - a - l, sa - yaang..."
"V - Al..."
"Ya Allah, Val..."
...****************...
Mommy Ara, Nathan dan Isha langsung mendekat kepada Val serta juga melirih kuat hingga tersedu-sedan karena haru menyeruak melihat momen baik yang mereka tunggu selama kurang lebih lima bulan, akhirnya datang.
Val membuat matanya.
Walau masih nampak begitu lemah, tapi Val telah sadar dari komanya.
Hatinya amat sangat ingin mendekat pada Val, tapi kakinya terasa berat. Seolah terpaku kaki Kafeel, jadi dia hanya berdiri di tempatnya dengan tangannya yang sudah beberapa kali mengusap air matanya yang jatuh ke pipi.
Sebagaimana bahagianya keluarga Val, Kafeel pun sama bahagianya melihat gadis kecil tercintanya yang sudah tertidur selama hampir enam bulan itu, bangun pada akhirnya. Namun ya itu, kaki Kafeel seolah terpaku.
Ada rasa takut yang menyeruak di hatinya. Takut andai Val syok melihatnya, atau emosi.
Dan itu mempengaruhi kondisi Val nanti.
Jadi seperti itu, Kafeel terpaku di tempatnya.
Bahkan Kafeel bergeser secara spontan, kala satu per satu orang dalam kastil, keluarga Val terutama --- berlarian dengan amat tergesa memasuki ruang rawat Val.
Dimana kesemua orang itu mendengar jeritan Mommy Ara dari dalam ruang rawat Val, yang mana tentu saja teriakan Mommy Ara yang terdengar histeris menciptakan kepanikan atas dasar ketakutan sesuatu yang buruk terjadi pada Val.
...****************...
Haru dan tangis bahagia kemudian menggema di ruang rawat Val, setelah seluruh anggota keluarga Val menyaksikan apa yang sudah Mommy Ara, Nathan, Isha dan Kafeel saksikan.
"Maaf, semua. Saya hendak memeriksa Nona Valera dulu, jadi sebentar saya meminta ruang --"
"Baik, Celine." Dad R yang menyahut, sambil ia menyusut air matanya dan tersenyum penuh arti pada Celine. "Tapi aku ingin berada di sini untuk menemaninya disaat kau memeriksanya."
Dad R lanjut bicara, dan Mommy Ara yang terus - terusan berada di sisi Val sambil mengelus sayang kepala Val yang selain nampak lemah, ekspresi wajahnya nampak seperti orang bingung.
"Tentu Tuan..." jawab Celine.
...****************...
Sementara Dad R bersama Mommy Ara berada di dalam ruang rawat intensifnya Val dan anggota keluarga yang lain serta beberapa kerabat yang ada melipir ke berbagai sudut tak jauh dari ruang tersebut, Kafeel sudah beringsut menuju kamar yang ia tempati bersama Arya selama mereka berada di Little Star Island.
"Terima kasih Ya Allah..." Kafeel sudah duduk di atas sajadah, setelah ia melakukan dua rakaat ungkapan rasa syukurnya atas Val yang pada akhirnya dibuat tersadar dari komanya selama hampir enam bulan. Kafeel sudah membaik selama dua bulan belakangan.
Baik perilaku ataupun mentalnya. Sesuai dengan janji Kafeel pada keluarga Val, ibunya, serta pada dirinya sendiri untuk memperbaiki diri, setelah sempat begitu kacau.
"Ampuni aku, Ya Allah. Dan terima kasih, diantara banyaknya dosa yang aku lakukan, Kau masih berkenan mengabulkan doaku dan membuat Val kembali membuka mata dan memberikan kebahagiaan kepada semua orang yang menyayanginya. Aku terlebih lagi."
Kafeel berucap tulus dengan tangannya yang masih menengadah. Masih Kafeel betah duduk di atas sajadah.
"Apapun rencanaMu untukku setelah ini... aku akan menerimanya dengan lapang dada. Meski aku sangat berharap, hal bahagia yang pernah aku jalani bersama perempuan yang Kau buat terbuka lagi matanya ini, perempuan yang aku cintai... bisa terulang lagi. Tapi jika tidak pun tak apa, aku pasrah, aku ikhlas. Berikan saja segala yang terbaik untuk Val, sehatkan dia selalu dan buat Val tak pernah putus bahagia."
Tulus, kata-kata itu keluar dari mulut Kafeel dalam doanya.
...****************...
"Mana Kaka?" Adalah Poppa yang bertanya sambil ia celingukan.
"Ah ya, terakhir aku melihatnya saat aku masuk ke ruangan Val setelah mendengar Ara berteriak."
Dad R lalu menimpali ucapan Poppa.
Lalu dua Daddy itu sama-sama menoleh ke arah Nathan.
__ADS_1
"Apa Kaka ada saat Val membuka mata?" Poppa lagi bertanya.
Nathan yang merasa jika pertanyaan itu tertuju padanya, lantas mengangguk.
"Lalu?" timpal Dad R lagi. "Dia sudah mendekat pada Val?"
"Kak Kaf ga lama beringsut waktu aku ngomong sinis ke dia, jadi posisinya Kak Kaf di belakang aku pas Val panggil aku--"
"Jadi maksudmu Val tidak tahu Kaka ada di sini?" tukas Poppa.
"Sampai dengan tadi kalian berhamburan ke ruangan Val sih, kayaknya engga. Tapi ga tau itu kalo cewe-cewe udah ngomong soal Kak Kaf yang ada di sini--"
"Lalu dimana Kaka sekarang?" tukas Dad R seraya bertanya sambil dirinya kini celingukan. "Hanya dia saja yang tidak ada--"
"Mungkin di kamarnya."
...****************...
"Ha, itu orangnya... berdandan untuk bertemu Val, eh?" cetus Papi John saat melihat kedatangan Kafeel yang jika Papi John tidak salah, telah berganti pakaian.
Sambil Papi John menunjuk Kafeel yang terlihat datang dari arah tangga kastil yang dekat dengan ruang rawat Val. Kemudian Papi John melontarkan ledekan pada Kafeel, setelah yang bersangkutan sudah berada di dekatnya dan beberapa pria yang bersama dengan si Papi.
Kafeel mengulas senyuman, ketika ia sudah berada di dekat Papi John dan beberapa pria lainnya.
"Jika kau ingin menemui Val, maka kau harus bersabar. Karena kamipun menunggu giliran."
Daddy Jeff yang kemudian bicara.
"Karena kami tak kuasa melawan para wanita-wanita yang kadang bisa bersikap bar-bar itu saat mereka memiliki keinginan mendesak, yang mana keinginan mereka sekarang itu menguasai Val..."
...****************...
"Ga apa, Dad... sudah cukup bagiku melihat Val membuka matanya dengan mata kepalaku sendiri. Aku ingin melihatnya sebentar lagi saja, tanpa perlu Val menyadari keberadaanku."
"Kau memang tidak ingin bertemu dengannya setelah Val tersadar sekarang?..."
Daddy Dewa yang bertanya, dan Kafeel mengulas senyumannya lagi.
"Sangat ingin..." jawab Kafeel. "Tapi aku sadar diri. Mungkin Val sudah membenciku. Dan alih-alih dia senang melihatku, yang ada Val emosi dan aku tidak mau hal itu mempengaruhi kondisinya. Jadi aku minta diberi kesempatan untuk melihatnya dari satu arah saja tanpa Val melihat aku."
...****************...
"Sebentar sekali?" cetus Papi John setelah Kafeel yang akhirnya dibiarkan masuk ke ruang rawat Val lalu pria itu mengambil tempat dengan berdiri cukup berjarak dari Val yang masih nampak lemah dan tetap berbaring di tempatnya.
Dengan Val yang sesekali menolehkan kepala ke arah orang yang mengajaknya bicara. Dimana orang-orang yang sedang bersama Val itu telah mendapatkan pesan berantai untuk memberi celah agar Kafeel dapat melihat wajah Val yang memang belum tahu jika Kafeel ada di dekatnya.
Walau Kafeel terkesan menjaga jarak. Atas dasar dirinya memiliki ketakutan jika apa yang ia takutkan, yakni menghadapi kebencian Val padanya.
Jadi seperti itu saja, dengan Kafeel yang melihat Val secara sepihak dalam jarak tertentu.
Rasanya itu susah lebih dari cukup untuk Kafeel.
"Sudah cukup kok, Pih... Sudah bisa melihat senyum Val tadi, aku udah lega dan bahagia." Kafeel menanggapi ucapan Papi John.
"However Kak... gue minta maaf buat sikap gue ke elo selama lo di sini."
Ini Nathan yang bicara. Kafeel tersenyum teduh kemudian sambil menatap Nathan.
"Gue ga pernah ambil hati soal itu, Than," tulis Kafeel dan Nathan menarik sudut bibirnya.
"Biar afdol."
Nathan mengulurkan tangannya pada Kafeel.
Kafeel tersenyum geli, namun kemudian menyambut uluran tangan Nathan untuk berjabat.
Bahkan ada akhirnya, Nathan yang lebih dulu menunjukkan gelagat untuk memberikan pelukan antar lelaki dengan Kafeel.
Yang tentu saja Kafeel sambut dengan baik.
...****************...
"Aku sungguh berterima kasih atas ijin kalian hingga aku bisa dibiarkan berada di sini selama ini dan bisa berdekatan dengan Val..."
Kafeel berucap, setelah ia selesai berpelukan antar lelaki dengan Nathan. Wajah Kafeel yang sebelumnya kacau itu, kini nampak teduh dan tenang.
"Dan sekarang, aku ingin berpamitan..." sambung Kafeel, sambil menatap satu-satu beberapa pria yang ada di dekatnya itu. Yang mana para pria tersebut mengernyit kecil bersamaan.
...****************...
"Sekali lagi terima kasih," ucap Kafeel lagi yang berterima kasih dengan menyebut satu-satu pria yang ada di dekatnya itu.
"Kau sungguh tidak ingin bertatap muka dengan Val?..." cetus Poppa kemudian.
Kafeel menarik sudut bibirnya. "Seperti yang aku katakan tadi, aku takut Val tidak senang melihatku di sini... Dan lagi, aku akan memegang janjiku padamu, Pop. Aku akan pergi sejauh-jauhnya saat Val membuka mata--"
"Aku tidak serius dengan itu. Tak perlu kau ambil hati," sambar Poppa.
"Tak apa, Pop... aku sendiri juga merasa minder untuk menampakkan wajahku kepada Val. Jadi aku lebih baik segera pergi saja."
Kafeel sudah mengulurkan tangannya untuk menyalimi beberapa orang tua yang bersamanya untuk menyempurnakan sesi berpamitannya pada para orang tua yang kesemuanya sedang bersama Kafeel saat ini adalah para orang tua pria.
"Tunggu." Namun sebuah suara yang datang dari dalam ruang rawat Val, membuat Kafeel urung untuk menyalimi para orang tua berjenis kelamin yang sama dengannya itu.
...****************...
To be continue.....
Selamat Hari Raya Idul Fitri, bagi kalian yang merayakannya.
Semoga keberkahan sampai pada kita semua.
Aamiin.
Mohon maaf lahir dan batin jika ada kata-kata Emak dalam membalas komen yang kiranya tidak mengenakkan hati para reader.
Tapi tetep, Love you all banyak-banyak.
__ADS_1