HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
SPEECHLESS


__ADS_3

( PS : Kalau mau membubuhkan LIKE, mohon setelah selesai baca episodenya yah?. Jangan kasih LIKE duluan ) – Thank you.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England....


Di dalam hunian megah itu, satu momen yang meremat hati sedang terjadi.


Semua orang telah berlari dengan tergesa dan sekuat tenaga dari area dalam, untuk menuju ke satu bangunan rahasia di dalam mansion tersebut.


“Let me ( Biarkan aku yang melakukannya )”


Seorang pria yang merupakan seorang Dokter dan kawan lama dari Dua Dads of The Adjieran telah melesat dengan cepat ketika sebujur tubuh yang lemas dengan mata terpejam rapat dan tanpa lagi bernafas dibaringkan dengan juga cepat dan tergesa namun hati-hati, di atas sebuah tempat tidur yang menyerupai tempat tidur rumah sakit.


Dokter yang bernama Mario itu telah memegang sebuah alat kejut listrik yang biasa digunakan dalam dunia kedokteran di tangannya, setelah alat itu telah siap digunakan.


“Push the button when I said ready (Tekan tombolnya saat aku katakan siap)”


Dokter Mario berbicara, pada Rery yang berdiri di samping alat yang tersambung dengan sepasang alat yang sudah berada di tangan Dokter Mario.


“You understand don’t you? (Kamu mengerti bukan?)” tanya Dokter Mario dengan cepat pada Rery yang langsung mengangguk mantap, namun wajahnya nampak dipenuhi oleh jejak air mata. “Ready!”


Dokter Mario berucap cepat, dan Rery juga dengan cepat menekan sebuah tombol di perangkat alat kejut yang sedang ditempelkan Dokter Mario pada dada seseorang yang di baringkan di atas media yang biasanya disebut brankar itu.


Yang mana seseorang itu adalah Val.


“One... two...”


Dad R yang sedia disisi yang lain brankar melakukan CPR pada tubuh putri kandungnya itu setelah Dokter Mario memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan detak jantung Val yang sudah tidak ada sejak ia ditemukan di dalam bathtub kamar mandinya.


“C’mon, Baby...” lirih Dad R sambil melihat arah monitor, dengan besarnya harapan jika garis di sana-----yang terhubung oleh sebuah alat yang telah juga ditempelkan ke tubuh Val sebelum diberikan kejutan listrik dari alat yang disebut AED, akan bergerak membentuk ke atas-----tidak datar semua seperti sekarang.


“Step aside, R.”


Dokter Mario kembali bersuara, karena setelah diberikan kejutan listrik dan disambung dengan CPR, kondisi Val masih sama.


Sekali lagi, Dokter Mario memberikan kejutan listrik di dada Val dengan tergesa namun hati-hati.


Karena salah-salah, alat tersebut dapat meremukkan tulang dada Val.


🍂🍂


Sekali lagi juga, Dad R melakukan CPR pada Val, dengan dirinya yang menggumam lirih memanggil-manggil putri kandungnya itu.


Namun garis di monitor tidak menunjukkan perubahan, pun Val bergeming pada posisinya dengan mata yang tertutup rapat. Dokter Mario menggigit bibirnya.


“R...” ucap Dokter Mario pada kawan lamanya itu sambil memegangi tubuh Dad R yang nampak semangat memberikan CPR pada Val dengan air mata yang berderai.


Lalu Dokter Mario menarik nafasnya dengan tertekan dan tak tega menatap satu-satu orang di hadapannya.


“Very sorry.. She’s, gone ( Mohon maaf.. Dia, sudah tiada )...”


Dokter Mario tergugu berucap sambil memandangi semua orang yang ada bersamanya dimana dirinya sendiri pun, sudah berkaca-kaca matanya.


“Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith, Time of death ( Waktu kematian ), 10 AM.”


Setelahnya Dokter Mario berucap dengan lirih lagi, setelah ia melihat ke arah monitor yang terhubung dengan tubuh Val.


Seketika, teriakan histeris bercampur tangisan hebat itu terdengar ramai dalam satu ruangan dalam bangunan yang dinamakan safe house oleh pemiliknya itu.


“TAKE BACK YOUR WORDS (TARIK KEMBALI KATA-KATAMU), MARIO!”


Dad R menarik kerah kemeja Dokter Mario yang ia cengkram dengan kuat dan menatap kawan lamanya itu dengan tajam, namun air mata Dad R mengucur deras.


“TAKE THE AED AGAIN AND WAKING UP MY DAUGHTER (AMBIL AED NYA LAGI DAN BANGUNKAN PUTRIKU)!”


Dad R menggila, namun kemudian luruh terjatuh di atas kedua kakinya ketika Dokter Mario menggeleng lemah dengan wajahnya yang mewakilkan rasa bela sungkawa.


“Her bone can crushed if I put use again the AED (Tulangnya dapat hancur, jika aku menggunakan lagi AED nya)...” tutur Dokter Mario. “I’m sorry... But there’s nothing we can do to bring her back anymore (Aku mohon maaf... Tapi tidak ada yang dapat lagi kita lakukan untuk membawanya kembali)----“


“Sayangnya The Moms... dan The Dads...”


Lirihan Mommy Ara yang memilukan langsung terdengar tepat setelah penuturan dengan kedukaan Dokter Mario.


“Val cantiknya semua o-raang... bangun sa-yaang... Ya Allah---V-aalll...”


Tangisan telah menyelimuti satu ruangan itu sekarang dengan karena kenyaataan yang begitu terasa memulaskan hati, membebat jantung.


🍂🍂


Di satu titik di atas langit,


Selain para kru pesawat, enam orang yang hitungannya adalah pemilik sebuah jet pribadi berukuran sedang itu sedang berada dalam perjalanan mereka menuju London yang sudah setengah jalan.


“Putra dan Gadis udah tidur?”


Ada Drea yang bertanya pada Nathan dan Via yang baru saja keluar dari satu kamar yang tak seberapa besar dalam jet yang Drea, Varen, Nathan, Via berikut anak mereka masing-masing itu tumpangi.

__ADS_1


“Udah..” jawab Via sementara Nathan hanya mengangguk. Kemudian keduanya mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan area yang diduduki Drea dan Varen. Sementara dua bocil anak dari kedua pasangan yang menumpangi jet milik Varen itu sedang tertidur lelap di satu-satunya kamar yang ada di dalam jet pribadi milik Varen dan Drea tersebut.


Biasanya, jika Nathan dan Drea bertemu dalam satu kesempatan, suasana akan menjadi ramai oleh dua orang itu yang suka saling bercanda satu sama lain.


Karena Nathan dan Drea memang cukup lama hidup berdampingan di kediaman pribadi keluarga mereka yang berada di Jakarta saat Varen sedang menimba ilmu di Amerika.


Tapi saat ini sedikit berbeda, karena Nathan dan Drea menjadi lebih pendiam seperti biasanya.


Tidak ada timpal-timpalan dari keduanya, yang nanti akan disahuti oleh Varen dan Via.


Bahkan jika ada kesempatan berkumpul ber empat seperti sekarang disaat anak-anak mereka sedang tidur atau sedang bermain dan dijaga oleh dua baby sitter, biasanya Drea-Varen-Nathan dan Via akan melakukan sesuatu bersama.


Bermain kartu contohnya.


Tapi tidak saat ini.


Ke empatnya merasakan keengganan untuk melakukan sesuatu, karena ada rasa yang tak nyaman mereka rasakan menjalar dalam hati tanpa tahu sebabnya.


Kalau menebak-nebak sih, ya mungkin karena kepikiran dengan kondisi Val yang sedang terguncang karena Kafeel-----dan atas nama kasih sayang antar saudara, mereka merasakan sakit dan sedihnya Val.


Tapi yang sedikit mengherankan adalah, Kok Varen dan Nathan memiliki keinginan yang sama untuk bertolak ke London dengan secepatnya?.. Drea pun punya perasaan yang sama dengan kedua kakak angkatnya itu, dimana yang satu merangkap sebagai suaminya.


Hanya saja sebelum Drea cetuskan, Varen sudah lebih dulu mengatakan jika ia ingin pergi ke London di hari itu juga dan meminta Drea untuk segera bergegas dengan membawa anak lelaki mereka.


“Bang, call mansion deh coba. Gue penasaran aja, kenapa kita punya pikiran sama buat pergi ke sana di waktu yang bersamaan.. Gue takut ada apa-apa..”


“Jangan ngada-ngadi deh, Tan..” sergah Drea.


“Ya bukan gitu, cute girl.. Soalnya ini ga biasa-biasanya kita orang gelisah berjamaah begini. Lo ga nyadar apa?----“


“Iya sih.”


Drea menukas mengiyakan ucapan Nathan.


“Drea juga kepikiran sama mimpi Drea itu, Bebeb Abang.. Tapi kan harusnya udah terjawab ya mimpi Drea yang melihat rumah kita dinaungi hujan dan awan gelap, saat kita dihadapkan fakta pada takdir cintanya Val dan Kak Kaf?..”


Drea mengadu dan berkesah sambil memandang pada Varen.


“Tapi kok Drea bermimpi tentang gambaran itu lagi semalam. Apa itu maksudnya Val ga sembuh-sembuh ya dari luka hatinya?”


Varen menarik sudut bibirnya, lalu menarik pelan Drea hingga berada dalam dekapannya. “Bisa jadi seperti itu. Mungkin rasa gelisah yang kita alami, hanya sebuah pengingat agar kita yang akhir-akhir ini terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing, harus kembali pada poin penting dalam keluarga kita yakni kebersamaan----“


----


Drea-Nathan dan Via lantas mengangguk setelah mendengar ucapan Varen barusan.


Memang sebelum ada masalah pelik tentang Val ini, masing-masing disibukkan oleh kegiatan pribadi mereka dan waktu kumpul bersama sedikit berkurang.


Kalau para wanita lebih banyaknya membantu persiapan pernikahan Val dan Kafeel yang sekarang hanya akan jadi bangkai saja, karena sudah dipastikan pernikahan itu tidak akan terjadi seperti harapan Val dan harapan seluruh anggota keluarga.


----


Tapi tak lama kemudian Varen memanggil satu pramugari untuk mengambilkannya pesawat telepon yang setara dengan telepon satelit dan dapat digunakan dalam kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun----hasil pengembangan otak jenius Varen, dari teknologi yang sudah ada sebelumnya.


“Eh, itu tapi kayaknya teleponnya bunyi?----“


“Tuan, Nyonya..” pramugari yang tadi dimintai tolong oleh Varen datang tak berapa lama kemudian dengan memegang satu pesawat telepon nirkabel di tangannya. “Seseorang dari mansion London bernama Dave menghubungi saluran ini, Tuan..”


“Berikan padaku telefon itu.“


“Silahkan, Tuan..” jawab si pramugari yang membawa pesawat telepon nirkabel yang tersedia dalam jet pribadi Varen dan Drea itu, sambil memberikan pesawat telepon tersebut pada Nathan yang sudah mengulurkan tangan ke arahnya.


“Yes, Dave?”


“Mister Jonathan..”


“Something important (Ada yang penting), Dave?..”


“Sir.. Miss Valera..”


“What’s wrong with her? (Ada apa dengannya?)”


“Miss Valera.. just passed away.. She (Nona Valera.. telah meninggal dunia.. dia)----“


“What did you say?(Kau bilang apa?)..”


“Your family found her,drowned inside her bathtub.. and many ways was been tried to safe her.. but fail.. Miss Va (Keluarga anda menemukan dirinya, tenggelam di dalam bathtub pribadinya.. dan segala cara telah dilakukan untuk menyelamatkannya.. tapi gagal.. Nona Va)----“


“YOU DON’T TALKING BULLSHT* (LO JANGAN BICARA OMONG KOSONG), DAVE!” Nathan tiba-tiba membentak dan berteriak pada salah seorang bodyguard mansion yang menghubungi saluran telepon dalam jet pribadi Varen dan Drea itu.


“Jo----“


“Than..”


Tiga orang yang sudah sedikit terheran-heran ketika melihat Nathan mulai tergugu, langsung mengendik terkaget-kaget mendengar Nathan yang membentak itu.


“Hello, Dave..”


“Ya Allah, ga mungkin.. Ini ga mungkiiiiiin..”


Sementara Varen yang langsung merebut pesawat telepon dari tangan Nathan karena dirinya penasaran dan langsung mengambil alih untuk bicara.

__ADS_1


Nathan melirih dalam, terdengar seperti orang yang putus asa dengan sangat.


Membuat Drea mendekatinya, setelah Via menanyakan ada apa dengan perasaan yang was-was.


“Than, ada apa, Than?----“


“This just a prank, right? ( Ini... Prank, kan? )...”


Lalu Drea mendongak dengan wajah yang diselimuti kekhawatiran yang sangat setelah mendengar Varen bicara dengan nada suara yang bergetar.


Dimana Varen terlihat syok, dengan pandangan yang nanar.


Karena di telinganya ia mendengar satu bodyguardanya itu memberikan kepastian setelah ia mengatakan pada Varen hal yang sama yang ia katakan pada Nathan tentang Valera.


Jika yang sudah terjadi adalah,


“It’s... true, Sir... Miss Valera... was gone ( Itu... benar, Tuan... Nona Valera... telah tiada )...”


“Abang!”


Drea memekik, ketika Varen tiba-tiba limbung.


“Gue.. Salah denger kan, Than????...”


“Abang.. Ada apaa?..” Melihat kondisi Nathan yang sudah terisak serta Varen yang limbung dan kini meracau, Drea kian khawatir.


“THAN! GUE SALAH DENGER KAN????!!!!”


Hingga Drea dan Via berikut semua orang dikejutkan dengan sangat oleh suara bentakan Varen yang menggelegar.


“Ga mung-kin, kan, Val----“


“Abang..” Drea melirih dengan air matanya yang sudah mulai keluar melihat Varen yang nampak kacau. “Ada apa, A-baang?...”


“Dave bilang... Val udah ga ada... Little Star...” ucap Varen dengan meratap.


Di detik dimana suara tangisan dan histerisnya Drea serta Via terdengar pecah dalam sebuah jet pribadi tersebut.


🍂🍂


🍂🍂


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,


“Kak Ara!” Pekikan langsung terdengar ketika Ibu Peri itu tersadar dari pingsannya, karena dengan tergesa ia beringsut dari ranjang tempatnya diletakkan kala pingsan, lalu berlari keluar dari kamar tempatnya berada yang di temani Momma.


Momma mengejar Mommy Ara yang dipikir akan berlari ke tempat Val yang belum dipindahkan dari sejak ia dinyatakan telah tiada.


Namun Mommy Ara berlari ke arah lift safe house dengan cepatnya.


Momma yang mengejar, dan yang mendengar Momma minta untuk tetap di safe house saja-----biar Momma saja yang menenangkan Mommy Ara yang pastinya sangat syok itu.


🍂🍂


Begitu tergesa Mommy Ara berlari, namun bukan ke kamarnya melainkan ke dapur mansion.


“Kak....”


Momma tak sempat dibiarkan bicara oleh Mommy Ara yang telah membawa sebuah toples berisikan kue kering di dalamnya dan berlari lagi dengan cepatnya ke arah safe house.


🍂🍂


“Val... lihat...”


Hingga kemudian pemandangan yang membuat orang-orang dalam safe house kian terisak, ketika Mommy Ara menyambangi tempat Val berada.


“Mommy... sudah buatkan cookies coklat almond kesukaan Val... Kan, Val bilang... Kalau cookies kesukaan Val ini... bisa membuat suasana hati Val yang sedih atau kesal... Jadi membaik...”


“......”


“Ini, sayang... sudah Mommy buatkan... Bangun sayang, Val kan juga belum makan dengan benar... Va-lll...”


Hati yang tersayat kian tersayat, melihat bagaimana hancurnya Mommy Ara.


“Nanti... Nanti... Val, tidur dengan Mommy dan Daddy, Okay??... :


Ditariknya Dad R yang sudah menganak sungai airmatanya.


“Iya, kan Dad R?... Val akan tidur sama kita, kan??... JAWAB DAD R!”


Mommy Ara histeris hebat.


“Marahi dia Hon... Dia tidak mau mendengarkan orang tuanya... Marahi diaa Hon, marahi Vaal dan dia suruh dia banguuunnn...”


🍂🍂


“Dan Tak Pernah Terpikirkan Olehku, Untuk Tinggalkan Engkau Seperti Ini. Tak Terbayangkan Jika Beranjak Pergi. Betapa Hancur Dan Harunya Hidupmu.”


🍂🍂🍂🍂


To be continue...

__ADS_1


__ADS_2