
LOVE IS IN THE AIR - ( CINTA MENGUDARA )
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Jakarta, Indonesia ..
“Don’t, Kak ..Jangan pada akhirnya Kakak menerima Val dalam hidup Kakak, berdasarkan rasa kasihan ...”
Itu Val yang sedari tadi masih terus bicara, tanpa memberi celah pada Kafeel untuk berbicara, meski pria itu sudah akan angkat bicara.
“Jangan membuat Val membenci Kak Kafeel, karena Kakak mengasihani Val.. Please, don't....” lirih Val. Lalu ia menggerakkan kakinya untuk berbalik dan pergi dari hadapan Kafeel.
Grep!.
Tubuh Val tertahan, karena sebuah cekalan yang cepat di tangannya sekali lagi.
Cekalan yang lebih kuat, dari cekalan yang sebelumnya. Kafeel yang mencekal pergelangan tangan Val itu.
Yang mana tanpa Val lihat, jika rahang Kafeel telah mengeras.
Pria pujaan hati Val itu tak lagi mencoba buka suara.
Hanya sebuah cekalan berikut tarikan tangannya, hingga tubuh Val kembali berbalik menghadapnya.
Lalu tanpa ada jeda dari cekalan dan tarikan Kafeel yang tak kasar pada Val itu ...
Cup!.
Wajah Val telah berada dalam tangkupan kedua tangan Kafeel, dimana Kafeel langsung menyambar bibir Val dengan cepatnya.
“Apa itu cukup menjelaskan bagaimana perasaan Kakak pada Val?....”
Kafeel berucap kemudian, kala bibir Val sudah ia lepaskan dari rekatan bibirnya.
Namun wajah Val masih ditangkup oleh Kafeel, dengan kening gadis yang nampak membatu itu, Kafeel tempelkan di keningnya.
Val nampak syok. Dan...
“Val!”
Lutut Val menjadi lemas, hingga gadis itu merosot di tempatnya.
Sampai si AA Kafeel jadi berseru panik.
💞💞💞💞
“Val!”
Kafeel spontan berseru, saat Val merosot di tempatnya berdiri.
“Hey, baby –“
Kafeel langsung dengan sigap menopang tubuh Val dengan menempatkan kedua tangannya pada apitan ketiak Val. Sementara Val masih diam tak bicara.
Agak-agak syok, sembari memandang tak putus pada Kafeel.
“Val?....”
“Ba, barusan itu....” Val bersuara dengan terbata.
Pada akhirnya Kafeel mengulum senyumannya, karena melihat reaksi Val, yang dipastikan lemas karena mendapat ciuman tiba-tiba darinya.
“Kenapa, hm?....” ucap Kafeel, yang pada akhirnya membawa Val duduk di atas pasir dibawah mereka berdiri. Dan Val mengerjap-ngerjapkan matanya dengan cepat.
“Ka, Ka-kak----“
“Cium Val?” potong Kafeel.
“I-iy-a,” Val menyahut dengan masih terbata.
Kafeel tersenyum.
“Iya....”
Kafeel menyahut dan mengangguk, sambil satu tangannya menahan rambut Val dari terpaan angin pantai.
“Kakak barusan cium bibir Val.”
Kafeel berucap lembut, dengan tangan lainnya yang membingkai wajah Val, yang masih nampak tak percaya dengan apa yang baru ia rasakan.
Bibir si AA.
Lalu bibir Val kembali terbuka, untuk berbicara.
“Ma – ma –“ Val terbata.
“Mau lagi?”
💞💞💞💞
Val dan Kafeel masih sama-sama duduk di atas hamparan pasir, setelah tadi sempat Val merosot karena lututnya serasa copot dari tempatnya, kala Kafeel menangkup wajahnya, lalu dengan cepat menyambar bibir Val. Dan kini Val sedang menyembunyikan wajahnya, pada dua lututnya yang sedang ia tekuk-kan. Val sungguh tidak percaya jika beberapa menit yang lalu AA Kafeel pujaan hati Val itu sampai mencium bibir Val.
Val benar-benar tidak mempercayai jika Kafeel telah mencium bibirnya tadi. Hal, yang bagaikan sebuah mimpi nan indah bagi Val.
Yang memang itu juga menjadi impian Val, yang ingin mendapatkan sebuah ciuman manis dari Pangeran impian Val. Dan mimpi Val itu, baru saja menjadi kenyataan.
Betapa Val bahagia, disela rasa tak percayanya.
Sekaligus, Val rasa malu.
Makanya sekarang Val menyembunyikan wajahnya dari Kafeel, yang tak putus memandanginya.
Dimana sejak tadi, Kafeel telah meninggikan sudut bibirnya karena tingkah Val yang seperti biasa menggemaskan di mata Kafeel.
Bahkan kian menggemaskan, karena Kafeel sudah mencoba mengangkat wajah Val yang gadis itu sembunyikan di atas lututnya, yang kemudian Val sempatkan melirik pada Kafeel, namun kemudian Val sembunyikan lagi.
‘Menggemaskan banget makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini, Ya ampuun.’
Kafeel mendekatkan wajahnya pada wajah Val yang sedang disembunyikan oleh si empunya itu.
“Val cantik, angkat dong kepalanya.” Ucap Kafeel di telinga Val.
“Val, malu....” jawab Val dengan masih menyembunyikan wajahnya.
Kafeel pun tersenyum geli.
'Ugh, rasa pengen gue bawa ke bawah pohon kelapa!' batin Kafeel.
Kafeel membatin dengan gemasnya memang karena tingkah Val itu.
“Jadi, Kakak akan diabaikan terus begini?”
Tangan Kafeel terulur ke puncak kepala Val, dengan masih tersenyum, meski Val belum mengangkat wajahnya yang disembunyikan itu.
“Val, malu – Kak....” Baru Val mengangkat wajahnya dengan perlahan.
Namun begitu, Val tidak menolehkan kepalanya itu ke arah Kafeel.
“Itu.... ciuman pertama Val....”
Val menyembunyikan lagi wajahnya, namun tidak lagi ia letakkan di atas lututnya. Tapi wajah Val itu, ia tutup dengan kedua tangannya. Yang kemudian langsung Kafeel buka kembali, lalu menghadapkan wajah Val padanya.
“Hey, Val cantik,” ucap Kafeel, sembari menyentuh dagu Val yang setelah wajahnya ditolehkan Kafeel agar menghadapnya, Val menundukkan kepalanya.
Kafeel membuat wajah Val yang menunduk itu menjadi terangkat, dan mengunci dagu Val dengan dua jarinya, agar wajah yang sudah Kafeel puja itu, tidak lagi berpaling darinya.
“Maaf ya? .. Maafkan Kakak yang sudah mengambil ciuman pertama Val tanpa permisi.”
Kafeel berucap lembut. Sembari matanya menatap lekat netra Val yang mau tidak mau jadi menatap Kafeel, karena Kafeel yang mengunci wajah Val lewat dagunya.
“Ha –“
“Ke, kenapa Kak Kafeel .. cium, Val? ..” tanya Val dengan tergugu, tepat sebelum Kafeel yang ingin melanjutkan bicara itu, berucap.
Kafeel tersenyum teduh.
“Karena Kakak sudah bingung harus dengan cara apa lagi membuat Val percaya ..”
Tangan Kafeel yang bebas, sekali lagi mengusap kepala Val, dengan masih menatap gadis itu dengan sorot mata yang teduh.
__ADS_1
“Percaya pada perkataan Kakak yang menyayangi Val dengan begitu dalamnya,” sambung Kafeel. “Kakak ..” Kafeel merubah posisi tangannya.
Semakin lekat Kafeel menatap Val. Agar sekiranya Val dapat membaca ketulusan dari apa yang ia ucapkan pada gadis belia yang telah memikat hati Kafeel secara keseluruhan itu.
“Menyayangi kamu terlalu dalam .. Sangat dalam. Dan rasa sayang itu, kini Kakak yakini adalah karena satu hal.”
“......”
“Cinta.”
Kafeel berkata dengan menampakkan segala keyakinan.
“Kakak mencintai kamu, Val.”
Kafeel menampakkan lagi senyum teduhnya pada Val.
“Dan ciuman tadi, adalah usaha terakhir Kakak untuk membuktikan pada Val. Bukti, jika Kakak tidak memaksakan diri, tidak juga mengasihani Val.”
“Kak Kafeel, cinta .. pada Val? ..”
“Iya.”
“Benar cinta?”
“Iya.”
“Bukan karena kasihan?”
“Sama sekali bukan.”
“Kak Kafeel tidak sedang membesarkan hati Val, dengan berbohong jika Kakak mencintai Val? ..”
Val bertanya terus untuk memastikan, dengan menatap lekat Kafeel sekarang.
Bukan apa, selain Val rasa bagai mimpi mendengar pengakuan Kafeel berikut pernyataan cinta pria pujaan hati Val itu, tapi Val juga ingin menemukan jawaban dari satu sisi hatinya yang ragu, jika Kafeel mencintainya. Hal ini memang mimpi tertinggi Val selain bisa menikah dengan Kafeel.
Tapi Val juga tidak mau, jika AA Kafeel nya itu, mengatakan cinta padanya, padahal sesungguhnya hati Kafeel tidak begitu.
Kafeel menarik lagi sudut bibirnya.
“Tidak sama sekali.” Jawab Kafeel mantap.
Tersenyum lagi dengan teduhnya, sembari Kafeel lebih memposisikan wajah Val dengan tangan Kafeel yang masih menangkup wajah Val.
“Val bisa menangkap kejujuran seseorang dari sorot mata kan?”
Setelah Kafeel berucap seraya bertanya itu, Val pun mengangguk.
“Jadi Val tatap mata Kakak baik-baik .. katakan, jika Val tidak menemukan kejujuran atas ungkapan perasaan Kakak ke Val.”
Selanjutnya Kafeel berucap, tanpa mengalihkan sedikit pun tatapan matanya dari mata Val.
Sejenak, Val dan Kafeel hanya beradu tatapan lekat.
Val sedang memindai kejujuran Kafeel atas kata-katanya pada Val, atas pernyataan cinta pria pujaan hatinya itu lewat mata Kafeel.
“Apa Val menemukan kebohongan?” ucap Kafeel seraya bertanya, setelah beberapa saat terdiam sembari menatap lekat pada Val.
Val tidak langsung menjawab.
“Tidak Kak,” ucap Val kemudian.
“Jadi Val percaya dengan ucapan Kakak? ..”
Kafeel kembali bertanya pada Val.
“Memang seharusnya Val percaya sih---“
Kafeel menyambar untuk bicara lagi sebelum Val sempat menjawab pertanyaannya.
“Kalau Kakak memang takut kehilangan Val,” sambung Kafeel. “Kakak ga rela dijauhi Val.”
Kafeel masih terus bicara, tanpa melepaskan tangkupan tangannya dari wajah Val.
“Karena Kakak cinta.”
“Kak,” panggil Val dengan pelan.
“Hey, Val cantik ..” Kafeel nampak sedikit gusar.
“Terima kasih ..”
Val berkata dengan nada suara yang sarat ketulusan.
“Terima kasih untuk cinta kakak –“
“No, Val ..”
Kafeel langsung menyergah ucapan Val.
Menahan kepala Val, yang tadinya ingin gadis itu tundukkan lagi.
“Kakak yang seharusnya berterima kasih pada Val.”
Dengan mata Kafeel yang kembali menatap pada sepasang netra indah di mata Kafeel milik Val.
“Terima kasih sudah mencintai Kakak dengan cara Val selama ini.” sambung Kafeel. “Maafkan Kakak sikap Kakak yang selama ini meremehkan perasaan Val pada Kakak ..”
“Tidak, Kak. Kak Kafeel tidak perlu minta maaf untuk itu.”
Val berucap kemudian, menanggapi permintaan maaf Kafeel.
“Harus, Val .. Baby.”
Dimana netra Val nampak berbinar, saat kata panggilan mesra tercetus dengan lembutnya dari mulut Kafeel barusan.
“Kakak harus meminta maaf pada Val, agar rasa bersalah Kakak pada Val bisa hilang.” Ucap Kafeel. “Ya?”
“Iya Kak ...”
Val menjawab seraya mengangguk.
Dan Kafeel pun tersenyum senang.
“Maafin Kakak yang selama ini meremehkan perasaan Val pada Kakak, ya?”
Kafeel kembali mengutarakan permintaan maafnya pada Val, dan Val merespon dengan anggukan berikut senyuman. Lagi, Kafeel tersenyum senang.
“Jangan meragukan perasaan Kakak ini pada Val, karena itu yang sebenar-benarnya, Val.”
“Iya, Kak.”
“Makasih Val Cantik ..”
Senyuman Kafeel semakin melebar.
Dimana senyuman Val merekah dengan cantiknya.
“Val cantik, Val nya AA Kafeel sekarang ..” ujar Kafeel.
Val pun tersipu.
“Val masih tidak percaya, rasanya Kak ..”
Lalu Val berujar, dimana Kafeel langsung mengerucutkan bibirnya.
“Jadi Kakak harus gimana agar Val percaya bahwasanya ini yang sebenar-benarnya Kakak rasa pada Val?” kata Kafeel.
“Bukan itu maksud Val Kak. Yang Val tidak percaya adalah apa yang terjadi pada Val ini sekarang. Keberuntungan yang Val dapat hari ini dari Tuhan.”
“Val,”
Kafeel memanggil lembut.
Lalu Kafeel menggeleng pelan.
“Bukan Val yang seharusnya merasa seperti itu.” Ucap Kafeel. “Tapi Kakak.”
Kafeel masih menatap Val dengan teduhnya.
“Kakak yang beruntung,” sambung Kafeel. “Kakak yang beruntung dicintai oleh Val.”
Dari suara Kafeel dapat terbaca, bahwa semua ucapannya pada Val itu memang sarat dengan ketulusan yang berasal dari hatinya.
__ADS_1
Karena memang Kafeel sudah yakin, gadis yang mata kecilnya selalu nampak berbinar jika bertemu dan berbicara dengannya, tawanya yang lebar dan ceria - seolah setiap hari dia memang selalu tertawa seperti itu.
Belum lagi bibir mungil sang gadis yang selalu nampak basah dan jangan lupakan warna merah muda dari bibir mungil itu, yang membuat Kafeel semakin gemas dibuatnya, jika bibir itu sudah mengerucut manja. Yang sudah beberapa waktu belakangan ini mengacaukan pikiran dan hatinya.
Yang sudah sering juga Kafeel tampik dengan kuat, kemungkinan gadis belia di depannya itu telah membuat Kafeel jatuh pada pesona kepolosan, tingkah polah yang menggemaskan, selain kecantikan parasnya. Gadis yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Yang pada akhirnya membuat Kafeel mengaku kalah, kalah pada hatinya.
Pada hatinya yang sudah terpincut dengan kuat oleh gadis belia di depannya ini.
Bukan hanya suka, bukan hanya sekedar sayang. Namun seperti yang Kafeel telah utarakan pada Val.
Rasa yang Kafeel miliki pada Val, lebih dari itu.
Rasa sayang Kafeel sangat dalam pada Val. Dan rasa sayang yang dalam itulah, yang pada akhirnya Kafeel akui sebagai rasa yang disebut dengan Cinta.
Rasa, yang sudah enggan Kafeel tampik lagi. Karena rasanya, hati Kafeel menjadi tak karuan kala Val mencetuskan keputusan untuk menjauhi dan menjaga jarak darinya. What will be, will be.
Yang penting untuk Kafeel sekarang, Val nya itu akan tetap berada dekat dengannya.
‘Val-nya.’ Kafeel ingin menjadikan Val miliknya seorang, dan menyematkan kata kepemilikan itu pada Val.
💞💞💞💞
“Kakak yang beruntung dicintai oleh Val.” ucapan berikut suara Kafeel terdengar tulus dan dalam. “Dan rasanya Kakak akan merasa semakin beruntung, jika Val akan tetap seperti itu pada Kakak.”
Kafeel melipat bibirnya, dengan masih memperhatikan wajah Val lamat-lamat, dan satu tangan Kafeel mempermainkan ujung rambut Val.
“Mencintai Kakak.”
Lalu Kafeel memindahkan tangannya yang tadi mempermainkan ujung rambut Val ke pipi Gadis itu.
“Karena Kakak juga mencintai Val,” lanjut Kafeel.
“.....”
“Dan Kakak rasanya akan sangat bersyukur, jika Val tidak berubah pikiran untuk tetap mencintai Kakak.” Tutur Kafeel dengan sorot mata yang penuh harap.
Terdengar gombal mungkin kata-kata yang keluar dari mulut Kafeel sedari ia menyatakan cinta pada Val.
Namun sesungguhnya semua itu keluar dari hati Kafeel, tanpa ada yang dibuat-buat.
“Dan sekarang Kakak ingin lagi memastikan tentang itu dari Val ..”
“.....”
“Apa Val bersedia, untuk tetap mencintai Kakak? ----”
Kafeel bertanya dengan sungguh-sungguh sembari menatap Val.
“Dan apa Val mau, menerima cinta Kakak dan mencoba menjalani hubungan ini?”
Val membalas tatapan mata Kafeel yang sedang berbicara dengan memandanginya itu.
Lalu senyuman terbit di bibir Val, dan ia terkekeh kecil.
“Bukannya terbalik ya?. Seharusnya kan Val yang bicara seperti itu pada Kak Kafeel.” Val kemudian berucap.
Kafeel menggeleng pelan.
“Kan Val yang selama ini mengejar-ngejar Kak Kafeel?”
Kafeel menggeleng lagi.
“No, Val ..” sergah Kafeel. “Mulai sekarang anggap Kakak yang mengejar-ngejar kamu selama ini.”
“Tapi kan,---“
Val tak lanjut bicara, karena telunjuk Kafeel ditempelkan oleh si empunya di bibir Val.
“Sekarang jawab aja .. Apa Val mau, menerima cinta Kakak? ..”
Dimana jantung Val terasa bergetar saat Kafeel bertanya seperti itu padanya.
“Would you be my girlfriend ( Maukah kamu menjadi pacarku ), Nona Muda Valera?”
Kafeel bertanya dengan serius, juga penuh harap.
“Would you? ( Maukah? ) ..”
Val tidak langsung menjawab.
Namun setelahnya satu kata keluar dari mulut Val.
“Tidak.”
Sungguh Kafeel tidak mengira jawaban itu yang keluar dari mulut Val.
“Val-----“
“I don’t want to be your girlfriend ..”
Val memotong ucapan Kafeel, dengan kalimat penolakan.
Membuat senyuman pahit terbit di wajah Kafeel.
“Val tidak mau jadi pacar Kak Kafeel ..” Val meneruskan untuk bicara.
Dan semakin Kafeel menunjukkan senyuman nan pahit, ungkapan kekecewaan dari rematan yang ia rasa di hatinya atas penolakan Val.
‘Apa Val masih meragukan kesungguhan gue, ya?. Atau mungkin Val sudah terlalu lelah mengejar gue selama ini, jadi sekarang dia udah enggan untuk menerima gue?’
Kafeel membatin miris.
‘Lo sih kelamaan mikir Ka! Jadi pernyataan cinta lo udah basi buat Val!’
Lalu Kafeel merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
“Val ..”
Dan suara Val yang terdengar, membuat Kafeel tertarik dari lamunan.
“I don’t want to be your girlfriend. What I want is to be your wife ( Aku tidak mau jadi pacar kamu. Yang aku mau itu jadi istri kamu )”
Dimana mata Kafeel kemudian membola, sampai dia menyentakkan kepalanya, dan menegakkan duduknya.
Lalu diraihnya pundak Val, dan membuat tubuh Val yang sedang duduk berhadapan dengannya itu, menjadi tegak berhadapan dengannya.
“Apa kamu bilang, Val? ..”
“I don’t want to be your girlfriend. What I want is to be your wife ..”
Val mengulang ucapannya.
“Jadi, jadi Kakak diterima?!” Kafeel bertanya dengan antusias.
“Diterima. Tapi Val maunya -----“
Val tak jadi melanjutkan kata-katanya, karena tubuhnya telah Kafeel terjang untuk Kafeel peluk dengan erat.
Membuat Val sedikit terkejut, namun kemudian sebuah senyuman bahagia terbit di wajah Val.
“Oh Val ..”
Kafeel bersuara.
Tersirat kelegaan dinada suaranya.
Dengan Kafeel mengeratkan pelukannya.
Entah sadar atau tidak, Kafeel menghujani kepala Val dengan banyak kecupan.
Jangan ditanya bagaimana perasaan Val saat ini.
Rasanya kebahagiaan Val berlipat ganda sekarang.
“Makasih ya? ..” ucap Kafeel setelah mengurai pelukan eratnya pada Val.
Dan kini wajah Val yang sedang tersenyum bahagia itu telah kembali berada dalam tangkupan kedua tangan Kafeel.
Val meninggikan sudut bibirnya seraya mengangguk, menanggapi ucapan Kafeel yang wajahnya nampak sumringah itu.
“Tapi ingat loh ya, Val tidak mau jadi pacar Kak Kafeel ..” ucap Val. “Val maunya jadi istri----“
“Sekarang?”
__ADS_1
💞💞💞💞 💞💞💞💞 💞💞💞💞
To be continue ..