HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 102


__ADS_3

Noted: Terima kasih untuk apresiasi kalian, tapi baca dulu episodenya sebelum memberikan LIKE / KOMEN yuah...


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia ..


‘Tunggu, apa ini gedung apartemennya Kak Kafeel???...’


Val telah mendapatkan dugaan mengenai tempatnya berada sekarang.


Tempat kemana Kak Kafeelnya membawa Val saat ini.


‘Sepertinya iya –‘ bisik hati Val, yang kemudian terkesiap kala merasakan helm milik Sony yang masih ia kenakan itu disentuh oleh seseorang.


Yang mana orang tersebut adalah Kafeel tentunya.


“Ini .....” Val menggumam, saat Kafeel sedang membuka kaitan helm yang Val kenakan.


Meski ia sudah menduga dimana dirinya dibawa oleh Kafeel saat ini, tapi Val ingin memastikan saja.


“Apartemen aku.” Ucap Kafeel yang mendengar gumaman Val barusan.


Val yang menggumam untuk bertanya pada Kafeel walau sebenarnya ragu, akhirnya diam setelah Kafeel berbicara-yang seolah tahu perihal apa yang ingin Val tanyakan padanya.



Author’s POV...


Val baru merasa yakin bahwa Kafeel benar-benar membawanya ke unit apartemen kekasih setengah om-omnya yang sekarang statusnya digantungkan oleh Val, setelah ia mencapai lantai dua puluh, dan pintu lift yang ia masuki bersama Kafeel dimana hanya ada mereka berdua itu telah terbuka di lantai dua puluh tersebut, dimana Val mengenali desain interior yang terhampar di pandangannya pada lantai yang Val pijak sekarang.


Bukan sembarang mengenali saja, tapi Val lekat sekali dengan desain interior pada tempatnya berada sekarang, karena gedung ini – bangunan gedung apartemen ini, ada sebagian rancangan Val di dalamnya.


Dan terkadang tidak hanya interiornya saja, namun rancangan bentuk gedungnya pun ada beberapa yang memiliki ‘sentuhan’ Val, yang memang ingin menjadi seorang perancang, namun bukan perancang busana alias desainer seperti ibu kandungnya, melainkan Val ingin menjadi seorang Arsitek profesional nan handal.


Jadi, bilamana ada sebuah bangunan milik The Adjieran Smith, atau siapa – siapa di dalamnya yang mempunyai ‘sentuhan’ tangan Val baik langsung atau tidak langsung – baik interior ataupun eksterior, Val pasti tahu.


Dan setiap bangunan yang memiliki ‘sentuhan’ Val disana, sudahlah pasti properti milik keluarganya secara keseluruhan, atau perorangan – walau tidak kesemua gedung milik keluarganya  - baik perorangan ataupun secara keseluruhan dalam kapasitas bisnis apapun yang memiliki keikutsertaan Val di dalamnya.


Tapi gedung yang sedang Val sambangi ini, adalah unit apartemen yang Val kenal, karena ada andil dirinya dalam desain interior di gedung tersebut.


Dan yah, Val juga tahu, jika memang benar adanya jika Kafeel membawa dirinya ke unit apartemen milik Kafeel yang berada di lantai paling atas gedung yang sedang Val sambangi saat ini.


Yang mana memang Val juga ketahui, jika Kafeel mendapatkan satu unit apartemen yang eksklusif di kawasan gedung apartemen tersebut, dimana gedung yang Val sambangi saat ini, adalah suatu kawasan tempat tinggal yang keluarganya miliki, khusus untuk mereka yang bekerja di beberapa Perusahaan milik keluarganya – yang ada tersebar di Jakarta.


Bukan tempat tinggal cuma-cuma, hanya miring harga – berikut kemudahan pembayaran bagi para karyawan yang mengabdi bekerja pada keluarga The Adjieran Smith dan ingin memiliki apartemen bagus dengan fasilitas yang dirasa lebih dari cukup – dengan harga yang amat terjangkau oleh para karyawan mereka.


Tapi meskipun terjangkau harga unit apartemen milik The Adjieran Smith yang disediakan untuk para karyawan mereka - sesungguhnya harga yang dibayarkan baik cash ataupun kredit untuk setiap unit apartemen yang dibuka untuk dimiliki para karyawan keluarga tersebut, sangat memberikan keberuntungan bagi para karyawan yang membeli unit apartemen dengan harga di bawah rata – rata, namun fasilitasnya kurang lebih setara dengan apartemen lain dengan kelas – yang katakanlah mewah.


Beruntunglah mereka yang bekerja pada keluarga The Adjieran Smith yang dermawan orang – orangnya itu.


Sama seperti karyawan yang lainnya, Kafeel juga mendapatkan kemudahan untuk memiliki satu unit apartemen di salah satu properti milik keluarga Val tersebut.


Dimana atas dasar kedudukannya sebagai orang kepercayaan Varen dalam bisnis, Kafeel mendapatkan hak spesial untuk memiliki unit apartemen pada bagian paling eksklusif, walau tidak semewah Penthouse – Penthouse pribadi milik anggota keluarga Val.


Yang mana sempat Kafeel tolak hak khusus itu melalui Varen, karena Kafeel yang merasa dirinya bujangan dan belum mau menikah kala itu – rasanya terlalu berlebihan untuk tinggal di sebuah unit apartemen sekelas Penthouse. Tapi yah berhubung Varen tidak bisa menerima penolakan orangnya, jadi Kafeel menerima untuk mendapatkan tempat paling eksklusif di kawasan gedung apartemen yang mana penghuninya adalah para karyawan yang bekerja pada setiap Perusahaan yang berada dalam lingkup keluarga The Adjieran Smith.


Tapi ya itu, bagaimana Varen yang tidak suka pemberiannya ditolak oleh orang yang ia kehendaki, Kafeel pun punya prinsipnya sendiri.


Kafeel mau menerima hak eksklusif atas sebuah Penthouse yang terletak di lantai paling atas gedung dengan semua akses yang sangat privasi dari Varen, hanya jika Varen membiarkannya membayar setidaknya setengah dari harga Penthouse tersebut.


Bukan sok – sok – an, tapi Kafeel tidak mau orang lain menilainya aji mumpung hanya karena ia begitu dekat dengan keluarga The Adjieran Smith, bahkan Kafeel sudah menjadi anak angkatnya Papi John dan juga Uncle Rico, dua pria yang dekat dengan almarhum ayahnya.


Author’s POV off...



Semarah, sekesal dan sejengkel-jengkelnya Val pada Kafeel dan dengan sikap serta ucapannya yang datar, dingin serta ketus dan sinis pada Kafeel, Val tetap dibuat agak-agak takut juga dengan sikap dan ekspresi Kafeel yang nampak serius saat ini.

__ADS_1


“Karena kamu tidak memberikan clue tempat yang kamu inginkan agar kita bisa bicara berdua, jadi apartemen aku yang terlintas di otak aku, sebagai tempat kita untuk bicara.”


Begitu ucapan Kafeel pada Val, sebelum Kafeel menggandeng tangan Val dan membawanya berjalan masuk melalui pintu otomatis yang menghubungkan area parkir dengan area dalam gedung.


Setelahnya Kafeel kembali diam sampai ia-yang satu tangannya menggandeng Val dan tangan lainnya memegang dua buah helm, membawa Val masuk ke dalam sebuah lift yang memerlukan kartu akses agar lift tersebut dapat digunakan.



‘Ih Kak Kafeel serius membawa aku ke unit apartemennya---‘ batin Val, saat ia telah keluar dari lift dan menapaki lantai dua puluh pada kawasan gedung apartemen yang Val akhirnya kenali itu.


Tapi meskipun mengenali, baru ini Val menginjakkan kakinya di kawasan gedung apartemen tersebut, karena Val hanya ikut mendesain saja, dan tidak pernah datang – karena berhalangan akibat satu dan lain hal, saat peresmian kawasan gedung tempat tinggal milik keluarga besarnya ini.


Dan walau tahu jika Kafeel memiliki satu unit apartemen di gedung tersebut pun, Val juga tidak pernah datang untuk mengunjungi Kak Kafeelnya di rumah kedua kekasih setengah om – omnya itu.


Satu, karena Kafeel memang tidak pernah mengajak atau mengundang Val untuk datang berkunjung ke rumah keduanya itu. Kedua, meski – katakanlah ia gatal karena mengejar Kafeel dengan sebegitunya, tapi Val tidak mau berlaku murahan, dengan menyambangi tempat tinggal seorang pria sendirian, meskipun pria itu adalah orang yang Val cintai.


Val tidak mau hanya karena begitu mencintai seorang pria, lalu dia akan sengaja – sengaja ‘menyodorkan’ dirinya pada pria tersebut. Nah kalo ga sengaja mungkin beda. Eehhhh ..


Tapi sekarang, Val telah diajak Kafeel untuk pergi ke unit apartemen eksklusifnya itu. Sedikit banyak, hal itu membuat Val jadi deg – deg – an, takut di iya - iyain.



Val semakin deg – deg – an, kala ia telah berada di depan sebuah pintu kembar yang kemudian terbuka setelah Kafeel menempelkan kartu akses berbeda warna dari yang Kafeel keluarkan saat hendak masuk ke area parkir di bawah tadi.


“Masuklah ..”


Kafeel yang sudah membukakan pintu unit apartemennya itu, meminta Val untuk masuk ke dalamnya.


Val melangkahkan pelan kakinya untuk masuk ke dalam unit apartemen Kafeel. Dimana Val kemudian tertegun berdiri setelah mencapai bagian dalam unit apartemen Kafeel tersebut, saat Kafeel sedang menutup pintu unit apartemennya kembali.


“Duduklah Val, aku akan ambilkan kamu minuman,” ucap Kafeel mempersilahkan Val, sementara ia melangkah mendahului Val – lalu Kafeel meletakkan dua helm yang ia pegang ke atas sebuah buffet minimalis modern dan melangkah menuju ke bagian lain dalam unit apartemennya tersebut.


Val tidak menyahut kala Kafeel mempersilahkannya untuk duduk pada sofa yang terbentang di ruangan setelah pintu kembar yang barusan Val masuki. Val juga tidak membuat dirinya duduk seperti yang Kafeel minta padanya. Val tetap berdiri di tempatnya, sambil mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan unit apartemen Kafeel yang cukup luas itu – yang dapat Val tangkap dengan matanya.


Memperhatikan isi ruangan unit apartemen Kafeel – walau tidak keseluruhan ruangan dapat Val lihat dari tempatnya berdiri sekarang.


Hanya sebagian saja, dan cukup lowong karena tidak banyaknya terdapat barang – barang di sana.


Tapi Val memiliki kekaguman juga - dan menangkap jika Kafeel ini rapih orangnya, jika melihat keadaan unit apartemen Kafeel yang teratur dan juga bersih serta wangi.


‘Aku tidak menyangka, jika aku sampai juga diajak berkunjung ke apartemen Kak Kafeel ini...’


Val membatin kemudian.


‘Aih, pinggangku pegal sekali duduk di motor sedikit lama dengan posisi seperti tadi---‘


Val membatin lagi.


‘Sofa itu sepertinya cukup nyaman...’


Val rasanya ingin segera duduk selonjoran ketika melihat sofa panjang yang terbentang di hadapannya itu.


Val sudah akan melangkahkan kakinya menuju sofa di ruang tamu dalam unit apartemen Kafeel itu. Tapi kemudian ia urung untuk menggerakkan kakinya yang sudah hampir melangkah itu, lalu mengembalikan posisi kakinya ke tempat semula.


‘Tapi apa Kak Kafeel juga bermesraan dengan kekasihnya dulu di sofa itu lalu apa mereka juga sampai melakukan ‘itu’ disana? –‘ bisik hati Val.


Entah karena efek dia sedang jengkel dan kesal pada kekasih setengah om – omnya itu atau apa, tahu – tahu sekelebat pikiran soal gaya berpacaran Kafeel dengan para mantan kekasihnya itu mampir di otak Val dan membuat Val jadi merasa dongkol sendiri.


Val merasa dongkol bercampur sendu juga sih.


Teringat cara berpacaran Kafeel dengan para mantan kekasihnya itu, membuat Val jadi memikirkan bagaimana manisnya Kafeel memperlakukan para mantan kekasihnya itu.


Bahkan Val membandingkan bagaimana perlakuan Kafeel padanya dan pada para mantan kekasih Kafeel yang pernah berbagi kehangatan dalam konteks dewasa, dengan Kafeel.


Lalu, ingatan tentang Kafeel yang menceramahinya di depan Rara ikutan nyangkut juga di kepala Val, membuat Val jadi kesal lagi, selain ia merasa gundah gulana.


Val pada akhirnya merasa cemburu.


Baik pada Rara, dan para mantan kekasih Kafeel yang sudah lebih dulu ‘menjamah’ tubuh pria yang paling Val cintai di dunia – selain para pria di dalam keluarganya.


__ADS_1


“Sorry aku ganti ba---“


Kafeel muncul setelah sedikit agak lama muncul kembali ke hadapan Val dengan membawa dua gelas serta dua jenis minuman kaleng dalam pegangan tangannya.


Kafeel telah berganti atasan dengan kaos sekarang dan hendak meminta maaf pada Val jika ia sedikit lama karena berganti pakaian dulu sebentar, walau hanya atasannya saja. Namun Kafeel tak meneruskan kalimat permintaan maafnya karena membuat Val menunggu lama, karena Kafeel mendapati Val masih tetap berdiri di tempatnya seperti saat Kafeel tinggal beberapa saat yang lalu.


“Kenapa masih berdiri Val?... Duduklah---“ ucap Kafeel sambil meletakkan gelas dan minuman kaleng yang ia bawa di atas sebuah meja kaca yang ada di hadapan beberapa sofa di ruang tamu Kafeel. “Sofanya bersih kok, kalau kamu takut kotor. Setiap tiga hari sekali ada yang membersihkan apartemen ini... Sini yuk...”


“Katakan saja apa yang ingin anda katakan pada saya.”


Val kembali menunjukkan sikap dan ekspresi datar dan dinginnya pada Kafeel.


“Dan tolong katakan dengan cepat, karena saya tidak punya banyak waktu...”


“Aku sudah katakan sama kamu tadi untuk berhenti membahasakan diri kamu ke aku dengan ‘saya’ dan menyebut aku dengan ‘anda’...”


Kafeel menegakkan dirinya dari tempat ia berdiri dengan cukup berjarak dari tempat Val berdiri, dengan menatap serius pada Val.


“Suka atau tidak suka, akan seperti itu seterusnya... bagaimana saya menyebut anda. Sebagai orang kepercayaan kakak lelaki saya –“


“Jangan menguji sabar aku Val. Jadi please, kemari dan duduklah, kita bicara dengan tenang.”


Kafeel dengan cepat menukas ucapan Val, dengan nada bicaranya yang sama datarnya dengan Val.


“Saya rasa saya berubah pikiran—“


Val melemparkan pandangan sungguh – sungguhnya pada Kafeel.


“Saya ingin pulang. Permisi.”


Val membalikkan tubuhnya, dan didetik yang sama...


“Valera!”


Suara yang biasanya bicara lembut pada Val itu, kini berseru agak tajam kala Val membalikkan tubuhnya untuk melangkah menuju pintu kembar yang tadi Val dan Kafeel masuki.


Val sampai mengendikkan bahunya saking ia terkejut mendengar Kafeel yang berseru padanya barusan. Namun Val bergeming, tidak berbalik, dan melanjutkan kembali untuk melangkah menuju pintu.


“Akh!” namun belum sampai Val melangkah lebih dari satu, langkahnya terhenti dengan keras, seiring tubuhnya yang tertarik sedikit keras hingga membuat Val lagi terkejut, bahkan spontan memekik. Karena Kafeel sudah agak mencengkram tangannya.


Lalu Kafeel membawa Val dengan sedikit memaksanya berjalan mengikuti, dimana Kafeel menggiring Val ke arah sofa. “Sorry, tapi tadi aku sudah bilang, jangan kamu menguji sabar aku...”


Kafeel menghadapkan Val padanya, sambil memegang kedua lengan Val.


“Duduk.”


Lalu Kafeel berucap sambil memandang serius pada Val, kali ini dengan ucapan bernada perintah – walau tidak keras.


Val bergeming, tidak mau mengikuti ucapan Kafeel untuk duduk. “Tidak mau!” seru Val.


Dimana wajah tampan yang digilai Val itu kemudian nampak mengeras rahangnya.


“Mau duduk sendiri atau aku paksa?... hm?”


“Lepas!”


Val menggerakkan kasar bagian lengannya, untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan Kafeel.


Dimana hal itu membuat Kafeel mendengus kasar. Lalu dengan amat terpaksa Kafeel berlaku sedikit kasar, membuat Val duduk dengan pemaksaan.


“Val!” seru Kafeel lagi. “Berhenti bersikap kekanak – kanakan!” sambil Kafeel memegangi kedua tangan Val yang berontak ingin dibiarkan untuk bangun dari tempatnya.


“Sudah tahu aku kenakkan kenapa masih mau berhubungan denganku?! kalau tidak suka memiliki kekasih yang kekanakkan ya sudah batalkan saja hubungan kita.”


Mata Kafeel melebar setelah mendengar cerocosan Val. “Kamu bilang apa barusan? ---“


“Aku katakan batalkan sa – hmphh----“ Val yang kembali menyahut pada Kafeel itu, tidak sampai meneruskan kata – katanya, karena bibirnya telah dibungkam oleh bibir Kafeel yang bahkan mencium Val dengan sedikit ganas.


Dimana Val yang terkejut dengan tindakan tiba – tiba Kafeel yang menyambar dengan cepat bibirnya, bahkan Kafeel memegangi kuat tengkuk Val dan sebelah tangan Kafeel memegangi kedua tangan Val yang ia satukan demi menahan Val agar tidak dapat menarik dirinya dari Kafeel.


“Bicara tentang mengakhiri hubungan kita, akan aku lakukan lebih dari ini, tak perduli jika para Dad dan para saudara lelakimu memukuliku sampai mati.”

__ADS_1


♥♥


To be continue...


__ADS_2