
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa – Barat, Indonesia....
“Ya sudah sana. Hati-hati.”
Ada Poppa yang sedang bercakap dengan Rery dan Aro, berikut juga dengan Momma yang bercakap dengan dua anak bujang mereka itu.
Yang mana keduanya sedang meminta ijin untuk pergi keluar malam-malam untuk menyambangi beberapa teman mereka yang ada di suatu tempat yang sedari jaman Momma muda, tempat itu sudah digunakan sebagai salah satu arena balap liar.
Bahkan Momma sudah sering sekali ‘main’ disana.
“Thanks, Pop-“
“Ann ikut?”
Momma bertanya.
“Langit akan terbelah jika dia tidak mau ikut.”
Aro menjawab dengan selorohan, yang membuat Momma, Poppa dan Rery mendengus geli.
♥
“Meskipun kalian menggunakan motor, tapi Achiel dan beberapa lainnya tetap akan menyertai kalian.”
“Iya, Pop.”
Aro, Rery dan Ann yang telah ada di tengah-tengah empat orang yang sebelumnya telah bercakap duluan, menyahut serempak menanggapi ucapan Poppa.
“Dan ingat ya, jangan sok jagoan –“
“Iya, Mom.”
“Aku tahu kalian berdua memiliki kelompok disana. Tapi sekali lagi kukatakan, jauhi masalah. Karena jika masalah itu kalian yang memicunya sendiri, kalian tanggung akibatnya sendiri dan aku serta para Dad kalian lainnya berikut Abang dan Kak Tan-Tan, tidak akan membantu kalian.”
“Paham, Pop,” jawab Aro, Rery dan Ann dengan serempak sekali lagi sambil mengacungkan jempol mereka menanggapi ucapan Poppa yang bermakna peringatan tersebut.
“Ya sudah sana.”
“Iya, Pop,” jawab Aro, Rery dan Ann. “Nitey nite, Pop, Mom.”
♥
“Mau kemana?”
Varen yang terlihat baru selesai dengan Varen, spontan bertanya ketika ia berpapasan dengan tiga adik yang terlihat rapih hendak pergi dengan pakaian kasual berikut jaket kulit yang membungkus tubuh bagian atas ketiganya.
“Mau ke RR, Bang,” Aro mewakili untuk menjawab.
“Heemm.”
“Aku pinjam motor Abang, ya?”
Aro meminta ijin pada Varen.
“Pakai saja....” jawab Varen. “Sudah ijin pada Poppa dan Papi?....”
“Tadi Papi sudah keburu masuk ke kamar dengan Mami saat kami mau meminta ijin.... Hanya bertemu Poppa dan Momma saja –“
“Ya sudah,” tukas Varen.
“Abang dan Kak Kaf tidak mau ikut?....”
Ann yang iseng bertanya, lalu Varen dan Kafeel sama mendengus geli.
“Sudah tidak ada lawan untuk kami disana.”
Varen menjawab enteng.
“Tapi Kak Bagus masih suka ada disana, Bang?....”
“Dia disana buat nertibin bocil-bocil senga yang sok jagoan kan emang. Selain buat ngawasin adenya juga –“
“Iya, sih –“
“Ya sudah sana.”
“Oke, Bang –“
“Ingat, motor gue jangan lecet!”
“Ya elah Bang, Aro ganti kalo lecet juga –“
“Ganti sama baret di muka lo, mau?....” Varen menyambar, dan empat orang yang bersamanya terkekeh kecil.
“Tega amat sama adenya sendiri?”
“Tahu, motor Abang kan masih ada lagi di KUJ.”
Rery berkomentar.
“Sudah sana, Hush!” usir Varen.
♥
Dua buah motor sport ber-CC besar telah keluar dari garasi rumah Keluarga Cemara.
“Seperti biasa Kak Achiel, Kak Fajar....” Rery berucap pada dua bodyguard yang akan menyertainya serta Aro dan Ann ke tempat yang ketiga Pewaris muda itu hendak tuju. “Tetap dijarak kalian saat kami sudah disana.”
“Iya Tuan Muda, Rery. Ini bukan yang pertama kali kami menyertai kalian kesana.”
“Iya loh, awas aja ya deket-deket sama negur kami disana. Yang ada kita orang disangka cepu nanti....”
Aro menimpali ucapan Rery sambil memandang dua orang bodyguard perawakannya tegap macam tentara atau polisi militer.
“Siap, Bos Muda,” tanggap satu bodyguard bernama Fajar.
♥
“Kak Achiel sama Kak Fajar aja kan yang ikut?”
Aro bertanya.
__ADS_1
“Kalian kan bertiga?....” ucap Achiel. “Jadi tidak mungkin hanya kami berdua saja yang incharge....”
“Kalau Kak Bie dan Kak Harun ikut segala, nah yang jaga disini siapa? –“
“Bie dan Harun tetap disini –“
“Simon dan Bram yang akan meluncur dari Kediaman Utama.”
Achiel dan Fajar menjawab pertanyaan Aro.
“Alah ribet banget. Kalian berdua juga cukup. Dan seharusnya ga repot jagain kami kalo kami mau ke RR. Lupa, aku sama Rery juga ga ‘sendirian’ disana? –“
“Kami hanya menjalankan tugas dari para Tuan Besar kan Tuan. Dan lagi kami tidak pernah mengganggu kesenangan anda – anda disana, bukan? –“
“Ya, ya whateverlah,” tukas Rery.
“Ayo lah,” cetus Aro. “Kalian naik mobil?”
“Pinjam motornya Nyonya Besar Fania ...” Achiel yang menjawab.
Aro, Rery dan Ann manggut-manggut kecil saja, sambil mereka bersiap untuk berangkat.
"Jangan sampai lecet itu motor Momma, kalau ga mau kena cerocosan Momma seharian...." Aro memperingatkan.
"Kalo gitu Chiel, kita pinjem motor si Ateng aja, kalau engga mending naik ojol?!"
♥
Di sebuah tempat Eks Bandara....
Dengan mengendarai dua motor yang berbeda, Aro dan Rery yang membonceng Ann, telah sampai di sebuah tempat dimana banyak orang-orang seusia Aro, Rery dan Ann berkumpul.
Sebuah tempat yang mana adalah Eks Bandara, telah dipenuhi dengan banyaknya kawula muda baik laki-laki dan perempuan, berikut dengan sepeda motor ragam tipe.
Sudah juga ada yang melaju saling adu kecepatan di sebuah track bergaris buatan sebagai penanda garis finish. Hal yang sudah Rery dan Aro kenal sejak setahun yang lalu. Dan dalam masa setahun itu, dua bujang The Adjieran Smith dapat dengan mudah berbaur disana.
Bahkan dalam setahun itu, Aro dan Rery sudah memiliki kelompok mereka sendiri, dengan dua bujang itu sebagai pemimpinya, setelah keduanya telah sempat terlibat perseteruan dengan sebuah kelompok, yang mereka hadapi berdua saja, selain mengalahkan juga pemimpinnya di arena balap.
Hanya Aro dan Rery tidak mau terlihat mencolok, meski katakanlah satu geng motor yang ada di bawah pimpinan mereka itu tergolong lumayan besar-dikarenakan sudah banyak anggotanya.
Selain Aro dan Rery berteman dengan beberapa pemimpin geng motor lain yang tidak banyak tingkah seperti mereka yang sering berada di ‘balik layar’. Maksudnya, selama setahun ini, nama geng motor Aro dan Rery yang begitu mencuat di permukaan kalangan mereka di arena balap liar itu, tanpa ada yang mengetahui siapa yang memiliki mandat sebagai pemimpin di kelompoknya Aro dan Rery tersebut.
Dan sulit memang jika ingin mencari tahu kelompok geng motornya Aro dan Rery, yang syukurnya, ga ada yang lemes sepasang bibirnya.
Anggota dalam kelompok Aro dan Rery cukup solid satu sama lain, dan menghargai serta menghormati setiap ucapan dua ketua mereka itu. Dua ketua yang sudah wanti-wanti kepada kelompok mereka, agar yang mengetahui siapa ketua dalam kelompok mereka tersebut hanya para anggota saja. Tanpa mau berlagak, jika mereka adalah ketua dari satu geng yang dapat dikatakan disegani di kalangan mereka.
Biar saja orang luar menduga orang lain yang merupakan ketua dari geng tersebut, yang katakanlah wakilnya Aro dan Rery yang memang ‘on frame’ di kalangan anak-anak motor tersebut dimana rata-ratanya memang masih seusia Aro dan Rery.
Tentu saja.
Karena di usia Aro dan Rery, gejolak darah muda sedang sangat berkobarnya.
Selain sedang dalam tahap mencari jati diri, di usia mereka itu, rasa ingin dibilang keren dan hebat mendominasi gejolak dalam dada untuk membuktikannya.
Berbeda dengan pola pikir Aro dan Rery yang sebenarnya tidak ingin terlibat apalagi sampai punya kelompok ‘anak motor’.
Tapi karena banyak dari kalangan tema-teman mereka di area ‘anak motor’ tersebut yang meminta Aro dan Rery menciptakan satu kelompok, maka Aro dan Rery memutuskan untuk membuatnya.
“Dimana Aro dan Rery yang memiliki visi dalam membentuk kepribadian mereka yang bergabung dalam kelompok mereka, untuk membuat mereka yang ikut dalam kelompok dua bujang itu, lebih terarah walaupun bandel.
Selebihnya ya itu, harus fokus pada pendidikan.
“Bandel boleh, bego jangan!”
Begitu kiranya kalau kata Aro dan Rery.
Mengutip ucapannya Abang Varen.
♥
Dua motor yang dikendarai Aro dan Rery secara terpisah telah sampai di daerah yang terkenal sebagai satu dari tempat ajang balap liar kawula muda generasi dua bujang tersebut, terutama motor.
Namun di tempat yang sering didatangi Aro dan Rery ini-jika Rery sedang ada di Jakarta, tapi jika sedang berada di London, Aro biasanya datang berbarengan dengan teman-temannya.
Pernah dengan Abang dan Kak Tan-Tan, tapi itupun hanya sesekali saja, dan yang terakhir juga sudah cukup lama, karena Abang dan Kak Tan-Tan sudah memiliki ‘dunia’ mereka yang baru.
Dunia suami dan papah muda.
Yang mana ‘bermain-main’ seperti Aro, Rery bahkan Ann yang ikut serta sekarang, sudah basi untuk Varen dan Nathan.
Karena keduanya fokus meneruskan bisnis keluarga, serta fokus mengemban tanggung jawab untuk menjaga kestabilan keluarga mereka itu.
Dan jika waktunya tiba, kelak keduanya akan menjadi generasi pertama penerus The Dads untuk menjaga ‘keluarga’ mereka tetap sebagaimana harusnya. Jadi waktu ‘main’ sekarang dipergunakan oleh generasi para adik dari mulai Mika.
“Eh Re-An, Aro ...”
Ann berucap pada Aro dan Rery, saat ia telah turun dari jok boncengan motor yang dikendarai oleh Rery.
“Kenapa, Ann?” sahut Rery dan Aro bersamaan, pada Ann yang nampak mengernyit sambil memandang ke satu arah.
Ann, Rery dan Aro memang sudah berada di area yang menjadi tempat berlangsungnya balapan liar tersebut, namun ketiganya tidak berada tepat di titik area track balapan.
Ada sebuah kedai kopi kekinian yang berupa sebuah mobil model lama, yang akan menjadi kedai kopi musiman disaat sedang ada keramaian balapan liar di tempat itu sekarang.
Dan disanalah Ann, Rery dan Aro kini berada, terpisah dari keramaian yang paling ramai di daerah tersebut.
Karena di satu spot kedai dari beberapa ragamnya itu, adalah titik kumpulnya kelompok anak motor yang dibawahi Rery dan Aro.
“Kalian lihat di seberang sana?” tunjuk Ann ke satu arah bersebrangan sedikit jauh dari tempat mereka berada. “Itu bukannya, Kak Lena?“ lanjut Ann.
Dimana Aro dan Rery yang sudah menanggapi Ann tadi, spontan menoleh ke arah yang ditunjuk Ann, sembari keduanya mengernyit. “Kak Lena?”
“Hu’um,” angguk Ann. “Coba aku pastikan dulu,” ucap Ann lagi, sambil ia melangkahkan kakinya dengan diekori oleh Aro dan Rery.
Yang mana keduanya masih memandang ke spot yang dibilang Ann untuk lebih memastikan.Karena sosok yang dikenali Ann, terkadang tertutup oleh lalu lalang orang disekelilingnya yang merupakan satu geng motor-jika dilihat dari penampilan mereka.
“Hoy! Mau kemana?!”
Namun baru saja Ann hendak melangkah, seseorang menjegal langkahnya.
♥
Ann terkesiap sejenak.
“Aku hendak kesana –“
__ADS_1
Dia yang menjegal langkah Ann dan tau kemana Ann ingin pergi itu menggeleng kemudian.
Membuat Ann mengernyit heran, termasuk Aro dan Rery. “Kenapa? –“ tanya ketiganya bersamaan.
“Jangan kesana,” jawab anak cowok yang menjegal langkah Ann dan sekarang sedang memberikan larangan.
Yang mana si anak cowok yang menjegal langkah Ann itu adalah sosok yang bisa disebut sebagai wakilnya Aro dan Rery, yang merupakan teman sekolah Aro.
Dimana larangan wakil Aro dan Rery yang biasa dipanggil Zio itu, diaminkan oleh para anggota lain yang sedang ada saat ini, dimana mereka telah juga mengenal Ann, meski belum selama mengenal Aro dan Rery.
Sebelumnya Ann tidak pernah tahu jika Rery dan Aro mengetahu tempat mereka berada sekarang, karena dulunya Rery dan Aro akan pergi setelah para saudari mereka tertidur. Hanya saja, lama-kelamaan aksi mengendap-endap Rery dan Aro dari para saudarinya yang suka latah pengen ikut bae itu, terendus oleh Ann.
Sebagai anaknya ‘Bos Setan’, tentunya Ann bisa mengendus sesuatu yang kasat mata bukan?...
Yang jelas, Ann yang pernah memergoki Rery dan Aro pergi diam-diam saat tengah malam itu kemudian penasaran dan mencari tahu.
Dan dengan mudahnya pun Ann tahu.
Tentu saja mudah.
Bukankah Abang Varen telah membekali mereka dengan barang-barang canggih?...
Jadi dengan mudah Ann mengetahui keberadaan Aro dan Rery yang saat itu tak sampai berpikir jika Ann secara diam-diam telah memergoki dan melacak keberadaan mereka berdua, sebelum menyusul.
Hingga kemudian setiap kali mereka ke Jakarta, dan kelompok motor Aro dan Rery itu berkumpul, Ann tidak akan pernah absen untuk ikut. Tapi hanya Ann saja yang tahu soal Rery dan Aro yang suka keluar saat para saudarinya sudah tidur disaat malam itu.
Lainnya tidak ada yang tahu, kecuali itu, ya The Dads dan Abang Varen yang sungguh sangat-sangat tidak mungkin untuk dikibuli.
Ya sama The Moms deh, yang ga mungkin ga dibagi info oleh The Dads yang sulit untuk berbohong kepada para istri yang mereka cintai sampai tercanduh-canduh.
Termasuk Varen dan Nathan yang selalu berbagi hampir semua hal dengan Drea dan Via.
♥
“Hoy! Mau kemana?!” seru dia yang nama panggilannya Zio.
“Aku hendak kesana –“
Zio yang menjegal langkah Ann dan tau kemana Ann ingin pergi itu menggeleng kemudian.
Membuat Ann mengernyit heran, termasuk Aro dan Rery. “Kenapa? –“ tanya ketiganya bersamaan.
“Jangan kesana -” jawab Zio yang langsung diaminkan oleh para anggota kelompok motor Rery dan Aro lain yang sedang ada saat ini.
“Iya, kenapa?”
Ann, Rery dan Aro lagi bersuara bersamaan.
“Bang Bagus nyuruh kita ngindarin mereka. Itu anak-anak Lanang Bangor!”
Zio menegaskan.
“Kenapa memangnya?”
“Dari rumor yang tersebar, mereka geng motor kriminal yang jualin barang ke anak-anak yang ada disini, kadang pake maksa berikut ngancem, yang mana mereka itu raja tega semua –“
“Enteng banget buat hajar orang abis-abisan, kadang maen sikat pake sajam.”
Salah satu anggota menimpali penjelasan Zio.
“Jadi hindarin kontak sama mereka, mau langsung ataupun engga.”
“Tapi ada yang mau kita orang pastiin disana....”
Aro bersuara. Zio dan anggota lainnya kompak menggeleng.
“Jangan.”
“Bang Bagus sekarang intens kesini, kalo engga ya naro temen-temennya pas kita kumpul disini. Karena waktu itu ada yang kena sikat sama mereka gara-gara ga mau beli ‘barang’ mereka. Terus bentrok sama Bang Bagus, pas kelompok mereka belum sebanyak sekarang.”
“Terus?” tanya Aro.
“Ada perjanjian antara Bang Bagus sama leadernya dimana itu LB ga boleh ada yang masuk kesini. Tapi kayaknya mereka ada main curang cuma Bang Bagus belum nemu orangnya secara kata Bang Bagus mereka licin kek belut –“
“Kenapa Bang Bagus ga bilang ke kakak-kakak kita orang? –“
“Elah, soal receh disini masa iye ngelibatin Bos Gede?. Segen lah Abang gue!”
Zio berucap.
“Mending dia minta proyek milyaran sama Bang Alva, sih. Daripada minta bantuan buat ngurusin itu para lanang kampret!”
“Ya kalau sudah mengacu ke urusan nyawa, harusnya ga dibiarin kan?” tukas Rery.
“Ya emang. Tapi waktu itu mereka ga ngelakuinnya disini, jadi Bang Bagus ga bisa berbuat banyak. Dan lagi yang mereka sikat orang luar juga yang kebetulan baru main-main kesini. Tapi ya itu, buat menahan mereka ga masuk sini, Bang Bagus pasti sesering mungkin dateng kalo pas lagi harinya kita ngumpul begini.”
Setelahnya, Aro, Rery dan Ann saling tatap selepas mendengar penuturan dan cerita dari sebagian kelompok mereka untuk menjauhi gerombolan yang berada di daerah yang sama, namun berada di sudut berbeda yang terpisahkan oleh jalanan.
“Lalu bagaimana? Aku yakin sekali itu Kak Lena –“
“Lena siapa? –“
“Adiknya Kak Kafeel.”
“Yang semi-semi Arab itu mukanya?”
“Iya. Temennya Bang Bagus juga. Pernah kesini sama gue dan kakak-kakak gue juga,” timpal Aro.
“Oh iya gue inget.”
“Yang bekas pentolannya JP itu ya? –“
“Yes.”
♥
“Jadi bagaimana?” tanya Ann pada Aro dan Rery.
“Aku juga yakin itu Kak Lena. Hanya yang jadi pertanyaan aku, kenapa dia bisa ada sama-sama geng kriminal itu? –“
“Untuk itu kita harus benar-benar memastikan –“
“Rery!”
♥♥♥♥
__ADS_1
To be continue....