
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
“Gue paham posisi lo --- sebagai anak, lo melakukan hal yang benar --- tapi di sisi lain, lo ga hanya membuat satu hati bersedih, tapi satu keluarganya juga --- luka yang lo beri pada Val, berimbas pada semua orang .... May, contohnya...”
Adalah Arya yang sedang berada melamun, mengingat ucapan Varen saat di rumah sakit kala Varen sedang berbicara dengan Kafeel dan Arya mencuri dengar.
“Dia yang terluka atas jalan pintas yang dipilih saudarinya, takut jika dia tidak dapat memberikan kepastian masa depannya dengan Arya --- Lalu mencari cara agar Arya membencinya, hingga sampai Arya mau melakukan perjodohan bisnis dengan anak rekan bisnis ayahnya ...”
‘Lo bener – bener ya, Mi? ...’
Kembali ada rasa geram yang timbul di hati Arya pada Mika, setelah sebelumnya ia juga merasa geram saat mendengar sedikit cerita Varen pada Kafeel yang menyebut dirinya dan Mika, dan alasan Mika yang sampai mencari cara untuk putus dengannya dengan sebuah kesalahpahaman. Namun begitu, Arya juga mencelos hatinya.
‘Kenapa sih Mi, lo sampe ngelakuin itu? Padahal gue udah pernah serius ngomong kalo gue akan nunggu sampe lo siap nikah sama gue, selama apapun itu. Apa susah sih, membicarakan hal itu sama gue?’ lirih Arya dalam hatinya. ‘Cukup dengan ada di deket lo dan lo cinta sama gue, digantung seumur hidup gue rela, Mi ... Mi ... lo egois.’
🌷🌷🌷
Little Star Island, Isola, Italy ...
“Sebagian tinggal di Ravenna?”
Arya yang banyak melamunkan Mika sepanjang perjalanan dan penerbangannya dari Jakarta hingga sampai ke sebuah pulau yang di mata Arya terkesan amat sangat dirahasiakan keberadaannya oleh satu keluarga yang amat dekat dengannya berikut keluarganya itu, kini tengah makan siang bersama dengan keluarga The Adjieran Smith yang sedang ada di tempat pada pulau tersebut, kala ia datang bersama Varen - Drea serta Kafeel.
“Tidak. Baru tadi pagi mereka pergi ke sana untuk sekedar mengajak Putra dan Gadis bermain di luar tempat ini. Selain mencari beberapa kebutuhan untuk di sini, serta sedikit refreshing ....”
Mommy Ara yang menjawab pertanyaan Arya barusan.
Arya pun mengangguk menanggapi jawaban Mommy Ara.
“Terkadang memang kami sesekali menginap di Ravenna. Tapi malam ini jadwal kami berkumpul tanpa terkecuali di setiap tanggal ini sejak tiga bulan lalu, jadi nanti sore mereka akan kembali.”
‘Berarti, gue bisa ketemu Mika?‘
Hati Arya lalu berbisik.
‘Gue akan buat perhitungan sama dia.’
Lalu Arya mencetuskan ancaman untuk Mika dalam hatinya itu.
🌷🌷🌷
“Kalian berdua ingin berada di satu kamar yang sama, atau mau ditempatkan di kamar yang terpisah?”
Mommy Ara bersuara seraya bertanya dan memandang pada Kafeel serta Arya.
“Arya---“
“Heum?---“
“Kamu ingin satu kamar dengan Kaka atau mau kamar yang berbeda?”
Mommy Ara sedikit mengulang pertanyaan pada Arya yang sempat melamun itu.
“Bebas aja aku, Mom ...” jawab Arya. "Terserah Kak Kaf aja."
Mommy Ara pun tersenyum pada Arya.
“Bagaimana, Ka? ...” Lalu Mommy Ara memandang pada Kafeel.
“Aku ... terserah aja, M – Nyonya –“
“Panggil aku seperti biasa kamu memanggilku, Kaka ...”
Mommy Ara dengan cepat menginterupsi ucapan Kafeel yang memanggilnya Nyonya.
“Tidak, Nyonya ... aku rasanya tidak pantas –“
“Kau, sudahlah bodoh. Otak pendek. Pembangkang juga? ....”
Ucapan nyelekit ini keluar dari mulut Dad R.
“Tidak cukup kau menggores hati kami dengan kebodohan dan otak pendekmu itu, dan kini kau tidak mau mendengar ucapan kami? –“
“Engga, Tuan –“
“Kau dengar apa yang istriku katakan tadi? ...” tukas Dad R. “Panggil kami kembali seperti biasa kamu memanggil kami sebelumnya.”
Dad R lalu memberi penegasan pada Kafeel yang kemudian mengangguk pelan dengan matanya yang kembali berkaca – kaca. “Iya, Tu – Dad ...” jawab Kafeel setelahnya. “Terima ... kasih –“
“Ck!”
Dad R berdecak.
“Sejak kapan kau menjadi cengeng begini, hem?”
Dad R mencibir kemudian. Dan Kafeel lalu terkekeh kecil mendengar cibiran dari Dad R.
Sisanya mendengus geli dan mengulum senyuman mereka saja.
🌷🌷🌷
“Setelah ini kalian berdua beristirahatlah dulu –“
“Aku .... ingin langsung ke tempat Val saja, Dad –“
“Udah gue bilang lo ga ada hak buat meminta sesuatu di sini.”
Varen menukas ucapan Kafeel yang merespon ucapan Daddy Jeff sebelumnya.
__ADS_1
“Abang ....”
Mommy Ara menginterupsi ucapan sinis Varen pada Kafeel.
“Sorry, Va .... gue ga ada maksud untuk minta apa – apa .... gue hanya –“
“Dah lah. Paling engga lo denger apa yang orang tua gue minta ke elo! Lo berkaca coba dan lo lihat kondisi lo sekarang –“
“Abang, turunkan suara kamu.” Sekali lagi Mommy Ara menginterupsi anak sulung kandungngya itu, yang kemudian mendengus sedikit berat.
“Ya –“
“Ka, Val ga kami bawa kemana – mana, kalau itu yang kamu takutkan tentang kami yang meminta kamu beristirahat ....”
Momma angkat suara.
“Sedikit banyak, kami udah denger apa yang belum lama kamu lakukan. Dan terlihat kondisi kesehatan kamu belum stabil –“
“Lagipula Alva memang benar. Kau terlihat kacau, Boy. Kau sudah macam mayat hidup.”
Papi John menimpali ucapan Momma yang orangnya langsung tersenyum geli sesaat bersama lainnya.
Kemudian tersenyum hangat pada Kafeel dan mengangguk.
“Beristirahatlah dengan cukup dulu dan perbaiki kondisimu. Setelah itu kau mau menunggui Val seumur hidupmu pun terserah.” Daddy Dewa ikut menimpali.
“Iya, Dad. Mom. Terima kasih ....” Lalu Kafeel pun mengangguk mengiyakan.
“And don’t forget to shave ( Dan jangan lupa bercukur )” celetuk Papa Lucca. “Jika Val tiba – tiba tersadar dan melihat wajahmu yang sangat berantakan macam sekarang, aku yakin dia akan meloncat ketakutan.”
Dimana semua orang kemudian terkekeh geli atas celetukan ocehan si Papa Syaiton itu, termasuk Kafeel sendiri.
🌷🌷🌷
“Oy Ar.”
“Yes, Pop? –“
“Ada baiknya kau sekamar saja dengan Kaka.”
Poppa setengah berbisik pada Arya ketika selepas makan, Kafeel nampak sedang di ajak bicara oleh para nenek dan Mommy Ara dan Mama Fabi.
Sementara Momma dan Drea sedang pergi ke ruang rawat Val bersama Aro dan Ares.
“Nanti tahu – tahu dia gantung diri? Hemm, pasti akan merepotkan sekali ....”
Arya dan para pria yang bersamanya dan Poppa itu sontak terkekeh selepas mendengar selorohan Poppa barusan.
“By the way, aku dengar kau keluar dari WI – TECH, Boy?”
Gappa yang bertanya pada Arya yang langsung mengangguk.
“Apa memang kau ingin membantu mengelola perusahaan ayahmu, atau karena Mika sampai kau hengkang dari WI – TECH?”
Gantian Daddy Dewa yang bertanya.
“Tentu saja poin ke dua adalah alasannya, Dad ....” jawab Arya mantap.
The Dads of The Adjieran Smith serta Gappa dan Varen yang bersamanya pun mendengus geli kemudian.
“Aku malas tinggal di London setelah salah satu putri kalian itu mengkhianatiku,” tambah Arya santai dan menyertakan kekehan kecil di akhir ucapannya itu.
Delapan pria yang bersama Arya itu kemudian sama menarik bibirnya, namun sebaris lengkungan di bibir mereka yang nampak sedang tersenyum itu seperti memiliki makna tersendiri.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
Arya bersuara, setelah ia menangkap lengkungan kurang lebih sama bentuk dan makna di bibir delapan pria yang bersamanya itu.
“Silahkan saja.” Dad R yang menjawab Arya mewakili tujuh lainnya.
“Aku mendengar apa yang Abang bilang tentang Mika waktu Abang bicara saat Kak Kaf siuman di rumah sakit.”
Arya bicara sambil memandangi ke delapan pria yang sedang bersamanya itu dengan wajahnya yang kini nampak serius.
Dimana ke delapan pria The Adjieran Smith yang ada di hadapan Arya itu kemudian terdiam fokus memandang pada Arya, setelah saling lirik sejenak.
“Sorry Bang, gue ga sengaja nguping waktu lo ngobrol sama Kak Kaf di ruang rawat dia kemarin,” lanjut Arya yang kemudian memandang pada Varen. Lalu menatap lagi bergantian tujuh lainnya.
“Apa yang lo dengar? –“
“Kalau hubungan Mika dan Felix hanya sandiwara.”
Arya menjawab lugas pertanyaan Varen.
“Benar begitu? ....” Lalu bertanya lagi untuk memastikan.
🌷🌷🌷
“Dan apa kalian juga ikut membantunya dalam hal itu? .... menciptakan sandiwara yang membuatku teramat sangat kecewa dan sangat menghancurkan hatiku?”
“Apa yang kau dengar tentang bagaimana Mika membuat hubungan kalian putus itu benar.”
Papi John angkat suara untuk menjawab Arya yang kini fokus menatap satu Dad of The Adjieran Smith itu.
“Awalnya kami tidak tahu –“
“Lalu setelah kalian tahu, kalian mendukungnya? –“
“Tentu saja tidak,” tukas Papi John cepat.
__ADS_1
“Apa kalian sudah mengetahuinya setelah pertunanganku? ....”
Arya terus bertanya.
“Ya.” Papa Lucca yang kemudian menjawab.
“Dan kalian tidak menghentikannya? –“
“Kami tidak mungkin masuk campur dalam ranah pribadimu setelah kau tidak memiliki hubungan lagi dengan May, Boy.”
Papa Lucca menukas ucapan Arya untuk memberikan pengertian.
“Bukan itu yang aku maksud. Yang aku maksud adalah menghentikan Mika untuk menyakitiku –“
“Listen, Boy –“
“Maaf, Gappa, tapi ijinkan aku menyelesaikan semua pertanyaanku dulu.” potong Arya.
Gappa pun mengangguk.
“Apa kalian tahu kenapa aku bertunangan dengan cepat? –“
“Kami sudah menduga alasanmu, Boy ....”
“Dan kenapa kalian bukan membantuku dan Mika untuk bersama?”
“Lucca sudah mengatakan padamu kalau kami tidak mungkin mengganggu ranah pribadimu, Boy. Dan lagi May memiliki alasannya sendiri –“
“Apapun alasan Mika, dia memutuskan secara sepihak. Dan aku, terlepas aku sudah bertunangan sekarang .... aku tidak terima atas apa yang sudah Mika lakukan padaku .... Dan mohon maaf, ini masalah hati. Hati aku yang satu putri kalian hancurkan, berimbas pada kehidupanku secara keseluruhan –“
Arya gusar.
“Jadi aku katakan, aku akan meminta pertanggung jawaban dari Mika untuk keegoisannya padaku itu.”
Arya menegaskan.
Nampak gusar, namun matanya mulai nampak berkaca – kaca.
“Apa kalian tahu sebesar apa aku mencintai Mika? Sebesar apa harapanku untuk bisa hidup bersama dengannya walau mungkin terdengar klise? –“
“Kami tahu, Boy ....” Daddy Dewa menepuk – nepuk pundak Arya yang memang duduk di sampingnya. “Tapi sekeras apapun kami menentang keputusannya untuk membuat hubungan kalian berakhir, May lebih keras lagi –“
🌷🌷🌷
“Sebagai ayah kandung May, aku mohon maaf untuk apa yang sudah ia lakukan padamu ....”
Daddy Dewa lagi berucap.
“Untuk egoisnya, untuk keputusan yang ia ambil secara sepihak atas hubungan kalian.”
Sambil tetap memegang pundak Arya yang orangnya kini tertunduk lesu.
“Bukan kami tidak mau mempertahankanmu, Boy. Tapi May, hanya seorang saudari yang amat sangat menyayangi saudarinya. Yang merasa tak pantas bahagia di atas penderitaan saudarinya, karena May tahu --- sebagaimana kami semua juga tahu, bahwa mimpi tertinggi Val adalah menikah muda .... yah, dengan Kaka setelah si ulat bulu itu jatuh cinta padanya ....”
“Tapi jika Mika mengatakan padaku untuk membatalkan saja acara lamaran kami, aku akan menerimanya tanpa susah, Dad,” lirih Arya.
“Kami tahu itu, Boy. Dan May pun tahu itu.”
Papi John yang menanggapi ucapan Arya.
“Itu yang mendasari, mengapa sampai May membuat sandiwaranya dengan Felix.”
Arya menghembuskan nafasnya dengan berat.
“May tahu, kau tidak akan keberatan sama sekali jika dia mengatakan untuk menunda lamaran kalian sampai waktu yang tidak terbatas .... dan karena itu, May tidak mau kau menyia – nyiakan waktumu dalam ketidakpastian akan keputusannya untuk hubungan kalian di masa depan. Walau sudah kami semua beri pencerahan, namun ia kukuh dengan keputusannya.”
“Aku mencintainya, Dad. Sangat. Aku sampai sebegitu putus asanya karena Mika, hingga saat aku tahu ada teman Papa yang menginginkanku menjadi menantunya, aku tak pikir panjang untuk mengiyakan demi bisa melupakan Mika dan move on untuk seterusnya. Semata – mata hanya untuk menunjukkan pada Mika, bukan hanya dia seorang yang bisa cepat berpindah hati. Walau sampai aku belum mendengar tentang kebenaran ini, aku masih belum dapat move on .... belum bisa berhenti mencintainya ....”
“Kami menyesal mendengarnya, Boy.”
“Dan sekali lagi kami mohon maaf atas kesulitan dan luka yang May torehkan padamu. Serta juga mengacaukan hidupmu.”
“Kami terima jika kau marah pada May atau pada kami.”
Gappa, Papa Lucca dan Daddy Dewa berbicara bersahutan untuk membesarkan hati Arya yang orangnya nampak lesu itu.
“Aku bahkan sudah akan menghubungimu di hari di mana kami tahu jika hubungannya dan Felix hanya sandiwara .... tapi di hari itu, untuk yang pertama kalinya, dia mengeluarkan ancaman pada kami. May yang mengatakan akan mengikuti jejak Val jika kami membongkar sandiwaranya padamu, sungguh membuat kami kelu. Dimana kami tahu, dia tidak main – main dengan ucapannya ...”
“Dan saat itu kami tidak memiliki pilihan, selain mengiyakan apa yang ingin May lakukan .... di tiga bulan ke belakang, semua terasa begitu berat, Ar. Hal buruk di masa itu, terjadi secara beruntun dan membuat kami sulit untuk berpikir cermat. Dan yah, saat kami sudah mulai normal lalu kami tahu kebenaran tentang sandiwara May dan Felix, kami ingin menstabilkan semua .... hanya saja seperti yang Dad R bilang, May yang berani melontarkan ancamannya pada kami, membuat kami memiliki banyak pertimbangan atas masalahmu dan May. Very sorry for that –“
“Gue paham, Bang –“
“Sekali lagi mohon maaf, Boy .... untuk apa yang sudah May lakukan padamu, untuk sikap kami yang terkesan tidak mempedulikan perasaanmu .... untuk apapun dari May atau dari kami yang tidak mengenakkan hatimu, menyusahkanmu, kami mohon maaf untuk semua itu,” tutur Gappa.
Arya menggeleng lalu tersenyum kecil selepas Gappa berkata barusan.
“No, Gappa .... Dads, Bang Alva ....”
Arya lalu berbicara.
“Kalian tidak perlu meminta maaf padaku ....”
Menatap bergantian delapan pria The Adjieran Smith yang ada di hadapannya itu.
“Aku paham seberapa terguncangnya kalian dengan apa yang menimpa Val,” sambung Arya. “Tapi terkhusus Mika, dengan apa yang sudah ia lakukan padaku .... sekali lagi aku katakan, aku tidak terima .... dan aku akan meminta pertanggung jawaban pada Mika untuk itu.”
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
To be continue ....
__ADS_1