HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 225


__ADS_3

Happy reading ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


London, England,


'Mati gue. Ranjau Arya Narendra aktif ..'


Ada Mika yang spontan membatin saat bibir Arya telah merayap dari bibir ke lehernya.


Dimana Mika merasakan sesuatu 'mencolek' dirinya dari bawah tempat Mika duduk, sblm benda itu perlahan terasa mengeras.


'S**t!'


Ada Arya juga yang membatin spontan, ketika ia--sebagai pemilik benda yang kiranya 'mencolek' Mika dengan tiba-tiba, merasakan benda tersebut bergerak di luar kendalinya.


Lalu Arya merutuki dirinya dalam hati, karena hal tersebut terjadi akibat ia yang terbuai dengan sesi ciumannya dengan Mika. Hingga sesuatu yang menempel di bagian bawah tubuhnya sejak lahir itu kemudian bereaksi, walaupun hal itu kiranya normal terjadi pada setiap pria jika mereka sedang berada di posisi Arya saat ini.


Mika sih, ga memberikan perlawanan ataupun penolakan saat dirinya mulai merambahkan bibirnya ke garis rahang hingga akhirnya bibir Arya jadi lancang selain keenakan, hingga sampai ke leher Mika yang menggugah selera kelakian Arya.


Begitu kiranya yang ada di benak Arya, karena dirinya hampir saja lebih jauh merambahkan bibirnya turun dari leher Mika akibat dari Mika yang diam saja ketika Arya mulai menjauhkan bibirnya dari bibir Mika namun tidak berhenti, melainkan tetap membuat bibirnya menempel di kulit leher Mika.


Yang hampir saja ingin Arya berikan sebuah 'karya seni' berupa tanda merah yang nantinya akan berubah keunguan.


Namun beruntung, hati suci sebelah kanan Arya berbisik untuk mengingatkan dirinya untuk kembali pada kesadaran dari resiko melakukan sebuah kekhilafan.


'Ya elah, setan nanggung banget godainnya.'


Tapi ya itu, hati nyeleneh Arya juga ikut berbisik.


Berkomentar lebih tepatnya. Karena si Saiton kalah sama hati lurus Arya.


...****************...


'Sadar, Arya, sadar!'


Hati lurus Arya yang mencoba menyadarkan.


'Jangan lo terusin kalo lo ga mau perjalanan pertama pekerjaan lo itu bukan ke tempat tugas lo, melainkan ke akherat karena lo keburu digorok sama para 'naga' kalau sampai lo berani garap Mika!'


Lalu si hati yang lurus milik Arya itu memperingatkan si empunya.


'Kalo cinta lo tulus sama Mika harusnya lo bisa kontrol nafsu lo,' kata si hati lurus milik Arya lagi.


'Iya bawel!'


Hati bagian lain Arya menyahut sebal pada satu sisi hatinya yang sok bijak itu.


Dan setelahnya ---- sebagaimana kata hatinya yang lurus itu, Arya bergegas menjauh kan bibirnya dari leher Mika.


Berat, tapi harus Arya lakukan. Demi menjaga kepercayaan banyak pihak yang mempercayakan Mika padanya, dengan mengijinkannya berpacaran dengan satu incess of The Adjieran Smith itu.


"Sorry, ya, Mi.." kata Arya dengan memandang lembut pada Mika yang sudah ia tak susuri lagi lehernya.


Namun masih belum menyuruh Mika beringsut dari pangkuannya, selain Arya sedang menguasai dirinya yang sempat cukup memburu nafasnya kala menyusuri bibir hingga ke leher Mika.


"Sorry, karena bibir gue agak lancang tadi -"


"Iya, ga, apa-apa," tukas Mika dengan sedikit tergugu dengan tubuh Mika yang dibekukan otomatis oleh si empunya akibat sesuatu yang sedang Mika duduki itu rasanya semakin mengeras saja.


Arya tersenyum tipis, dengan tubuhnya yang juga dibuat membeku olehnya selain Arya merasa 'tegang'. Lalu untuk sesaat Arya terdiam, begitu juga Mika. Dimana keduanya hanya saling tatap dengan otak yang sedang asik pada pemikiran masing-masing.


Pemikiran yang kurang lebih hampir sama sumbernya, yang membuat keduanya sama-sama merasa serba salah dan kikuk selain bingung disaat yang bersamaan.


Arya sedikit was-was untuk bergerak karena khawatir jika pergerakannya nanti -- dengan Mika yang masih ada di atas pangkuannya itu, kiranya membuat imannya kalah telak dengan iminnya.


Sementara Mika sendiri was-was untuk bergerak lagi setelah tadi kiranya bagian bawah tubuhnya itu seolah ada yang 'mencolek' nya.


Hingga nantinya membuat Mika merasakan sensasi merinding disko sekali lagi, yang sungguh membuat dirinya tak karuan. Antara was-was dan penasaran.


Mana hujan..


Kan, kan, jadi agak-agak gimana gitu rasanya Mika dan Arya dengan suasana yang seolah mendukung untuk sebuah kekhilafan yang hakiki.


Yang membuat hawa panas dari penghangat ruangan kalah dengan hawa panas yang bermuara di tubuh Mika dan Arya sekarang.


"Mi," panggil Arya lembut.


"Y-ya? ....." sahut Mika dengan sedikit tergugu.


"Gue anter lo pulang sekarang aja, ya?" ucap Arya setelahnya.


"I-iya itu sih, terserah lo, Ar. Soalnya kan tadi lo bilang mau menghabiskan waktu lebih lama sama gue hari ini."


"Iya emang tadinya."


"Terus?"


"Tapi gue takut khilaf-"


...****************...


"Kayaknya mendingan kita dinner di mansion aja deh, Ar-"


"Kenapa emangnya?"


Mika dan Arya telah keluar dari unit apartemen Arya.


"Ada janjian mau makan malem di sana sama-sama, ini hari?"


Arya memutuskan untuk benar-benar mengajak Mika keluar dari apartemennya, atas dasar daripada-daripada.


"Engga sih....."


Mika menggeleng.


"Terus?....."


"Gue insecure aja sama penampilan gue sekarang."


Mika menjawab pertanyaan Arya sambil mereka berjalan berdampingan untuk sampai ke lobi gedung apartemen tempat Arya tinggal.


"Kenapa gitu? ga ada yang salah sama penampilan lo kok." Arya pun menanggapi ucapan Mika barusan.


"Ga ada yang salah gimana coba?! Gue belum ganti pakaian dari pagi begini. Selain rasanya ga nyaman, gue insecure kalau datang ke tempat ramai dengan kondisi ga fresh seperti ini, Ar-"


"Lo bukan sayuran yang harus fresh, Mika," tukas Arya dan Mika berdecak kecil. "Lo ga mandi seminggu juga, ga akan keliatan kalo lo belum mandi. Jadi lo ga perlu ngerasa insecure sama penampilan lo."


"Tapi-"

__ADS_1


"Lagian lo itu udah cakep mau gimana juga. Lo bangun tidur aja cakep."


Arya menukas ucapan Mika sambil memasuki lift dengan Dave dan satu orang pengawal pribadi lainnya yang ikut masuk ke dalam lift yang sama dengan keduanya.


"Lagian juga lo ga perlu cakep-cakep amat di luaran. Nanti bertambah terus ancaman dari cowok-cowok gatel yang coba godain lo, makin ga tenang gue LDR-an sama lo..." cerocos Arya.


"Lebay..." ceplos Mika.


"Bodo," tukas Arya. "Lo tunggu sini aja..."


Kemudian Arya melepaskan genggamannya pada Mika saat mereka berdua telah berada di bagian luar lobi gedung apartemen tempat Arya tinggal.


"Let Wang who get your car, Mister Arya (Biarkan Wang yang mengambilkan mobil anda, Tuan Arya)..."


Dave yang berada di dekat Mika dan Arya bersama satu rekannya itu angkat suara. "Yes Mister Arya, you mau give me your car key (Iya Tuan Arya, anda bisa memberikan pada saya kunci mobil anda)..."


Kemudian satu pengawal pribadi yang kalau salam urutan jabatan di lingkup para bodyguard adalah bawahannya Dave itu menimpali ucapan Dave, dengan sikap yang santun saat menadahkan tangannya sewaktu meminta Arya memberikan kunci mobilnya.


"No need Wang, I'll go get it myself (Tidak usah Wang, biar aku yang ambil sendiri)..."


...****************...


"Memang lo akan ditugaskan kemana, Ar?..." tanya Mika saat ia sudah duduk di kursi penumpang dalam mobil Arya yang pria itu sewa dari showroom milik dua Dadnya Mika.


"Saint Vincent dan Grenadines, Mi-"


"Heemmm," dehem Mika. "Terus Lo berangkat kapan?-"


"Lusa pagi. Ke kantor dulu nanti berangkat bareng tim dari sana..."


"Hemm..." Mika kembali berdehem pelan. "Ya udah..." ucapnya kemudian.


...****************...


"Gue berangkat dulu ya, Mi?..." pamit Arya ketika lusa telah tiba, dan waktunya untuk berangkat memenuhi tugas kerjanya tiba.


"Iya-"


"Hati-hati lo selama gue jauh dari lo..."


Ucapan Arya membuat Mika mendengus geli.


"Ada juga gue yang bilang hati-hati ke elo, Arya Narendra..."


...****************...


"Ya Lo juga hati-hati. Jangan sampe ga bisa jaga hati Lo sampe gue balik. Gue kawinin buru-buru nanti..."


Mika sontak terkekeh kecil. "Cabul aja otak lo-"


"Lo sendiri juga gara-garanya. Lo dari ujung rambut sampe ujung kaki bikin gue gagal fokus."


"Emang otak lo aja yang cabul itu sih... Orang cabul kan ada aja alibinya-"


"Hahaha!"


Suara gelakan Arya terdengar renyah dari seberang ponsel Mika.


Membuat Mika menarik sudut bibirnya. Namun sejenak kemudian angannya terbang.


'Gue kenapa jadi membayangkan muka dia pas ketawa tadi ya?... Masa kangen?'


"Mi?-"


"Kenapa?"


"Ga apa-apa-"


"Kok diem?"


"Minum-"


"Oh-"


"Safe flight ya, Ar."


"Iya, sayang," sahut Arya.


Mika mendengus geli saja.


"Ya udah gue berangkat ya? See you soon ...."


"Iya."


"Nanti kalau memungkinkan, pas sampe gue langsung kabarin lo ...."


"Iya."


Sambungan telepon Mika dan Arya pun terputus kemudian.


Mika menarik sudut bibirnya ketika sambungan teleponnya dan Arya terputus.


Lalu Mika bersiap untuk pergi ke kampus seperti biasa, karena Mika tidak bisa mengantar Arya yang berangkat bersama teman satu tim Arya di tempatnya bekerja.


...****************...


Sebulan berlalu, Mika dan Arya positif LDR-an.


'Lagian anak perawan jangan suka bengong malem-malem.'


'Mikirin gue ya? ....'


"Iya." Gumaman keluar dari mulut seorangpun dara yang sedang membuka galeri foto di ponselnya.


Mika, adalah dara tersebut.


Yang sedang melihat-lihat beberapa foto bersama Arya yang hanya berdua saja.


Tak banyak, tapi cukup membuat Mika sesekali mengulas senyuman tipis di bibirnya.


'Ngeselin!...' Lalu Mika menggerutu dalam hatinya. 'Bisa-bisanya bikin gue kangen!...'


"Aku merindu pada yang kasih..."


Mika langsung dengan spontan menekan tombol power ponselnya ketika suara seseorang yang berdendang itu terdengar di belakangnya.


Dimana ada tiga orang mommy yang tanpa Mika sadari telah berada di dekatnya, dan ketiganya cengengesan memandang pada Mika. Terutama satu mommy yang cengengesan dengan ekspresi menggoda Mika, sambil lanjut lagi berdendang.


"Aku merayu... padamu yang sudi merinduku..."

__ADS_1


Sambil Momma mengambil tempat duduk di dekat Mika yang ia dan mommy Ara serta mama Fabi dekati karena satu anak gadis mereka itu terlihat senyam-senyum sendiri sambil menatap pada ponselnya.


"Ciee yang sudah mulai bucin."


Mommy Ara ikutan menggoda Mika seperti Momma.


"Seems that is someone who's missing her boyfriend ( Kayaknya lagi ada yang kangen sama pacarnya )-"


"Iyes, Esmeralda-"


"Kalau sudah jauh baru terasa ya, May? Yang tadinya sifat tengilnya suka buat kamu sebal, sekarang malah buat kangen-"


"Eims! Kalau sudah tiada baru terasa .." Momma menyambar lagi dengan berdendang riang.


Mantan penyanyi hajatan namanya juga.


"Bahwa kehadirannya sungguh berhargaa .. "


Hassekk!!


"Apa sih Moms ih?"


Mika menyergah tiga Moms yang sedang menggodanya itu.


"Kemajuan udah ngangenin kakanda Arya Narendra-"


"Sudah jatuh cinta pada si eks Sadboy berarti dong ya kamu, May?-"


"Cieee-"


"Terus saja meledekku-"


"Don't put too high your dignity if you miss him ( Jangan gengsi kalau kamu memang merindukannya) ..."


"Iya, betul itu yang dibilang Esmeralda ..." Momma menimpali ucapan mama Fabi. "Cinta jangan gengsi. Kangen bilang kangen


Nelpon Arya duluan ga akan membuat kamu kehilangan harga diri, May ..."


Mika menari tipis sudut bibirnya. Mommy Ara mengusap lembut kepala Mika.


"Benar yang dikatakan Momma. Jangan menyiksa diri karena gengsi-"


"Iya, Moms ..."


...****************...


Mengikuti saran tiga Moms yang juga berdomisili di The Great Mansion mereka yang ada di London, Mika pada akhirnya menyusutkan gengsinya untuk menghubungi Arya terlebih dulu sebelum pacarnya itu menghubunginya duluan seperti selalunya.


Namun begitu, tetap Mika masih sedikit memiliki rasa sungkannya untuk menghubungi Arya duluan saking Mika rasanya sedang ingin mengobrol secara tiba-tiba dengan Arya.


Yang sebenarnya rasa itu adalah intepretasi atas rindu Mika pada Arya, yang Mika perhalus bahasanya. Sedikit penyangkalan mungkin lebih tepatnya.


'Ar'


Dan meski Mika lebih dulu menghubungi Arya, namun bukan lewat sambungan telepon secara langsung --- melainkan Mika mengirimkan pesan chat.


Selain Mika rasa canggung --- sedikit gengsi yang masih mendominasi, takutnya Mika juga jika Arya sedang tidak dalam kondisi yang pas waktunya untuk ditelepon.


Dan tepat seperti dugaan Mika, Arya sepertinya sedang tidak dalam kondisi dapat menerima panggilan telepon. Karena pesan chat nya tidak langsung dibalas Arya.


Bahkan pesan chat Mika tidak juga dibaca Arya setelah sekitar dua puluh menit pesan chat tersebut Mika kirimkan ke nomor kontak Arya, yang nampak juga si pemilik nomor belum aktif pada sebuah aplikasi komunikasi yang sering digunakan untuk berbalas chat --- terlihat dari waktu aktif nomor kontak Arya yang keaktifannya sudah sekitar satu jam yang lalu.


Mika santai saja dengan Arya yang sepertinya sedang sibuk itu.


Tadinya.


Tapi setelah dua puluh menit berlalu dan belum ada balasan dari Arya, Mika agak-agak jadi ga tenang juga --- entah kenapa Mika jadi sangat menunggu Arya membalas chatnya.


...****************...


Mika sampai jatuh terlelap di atas sofa dalam kamar pribadinya saat menunggu Arya membalas chat nya.


Hingga saat sebuah lagu terdengar dari ponsel Mika yang merupakan sebuah nada dering itu, Mika tersentak dari lelapnya.


'Arya'


Mika menarik tinggi kedua sudut bibirnya kala nama itu terpampang di ponselnya, meminta panggilan video.


Yang tidak langsung Mika terima, karena sejumput gengsi Mika tidak ingin Arya berpikir kalau Mika sedang memang sangat menunggu panggilan atau chat dari pacarnya itu.


Mika menghela nafasnya sebelum menggeser ikon terima panggilan di layar ponselnya. "Hei, Ar," sapa Mika saat wajah Arya sudah terpampang di layar ponselnya dan tersenyum hangat pada Mika.


"Hei, Mi."


Arya membalas sapaan Mika.


"Sorry lama baru bisa hubungi lo-"


"It's okay, Ar."


Mika berujar.


"Obat lo abis? ...."


Lalu berkelakar kemudian melihat Arya mesam-mesem di layar ponsel, lalu terkekeh kecil setelah mendengar kelakar Mika.


"Gue seneng tau," ucap Arya. "Mimpi apa gue lo kirim chat duluan ke gue, Mi? ...." sambung Arya dan Mika mengulum senyum.


...****************...


"Sibuk ya? ...." tanya Mika basa-basi.


"Tadi iya, ngerampungin kerjaan karena gue bakal bertolak ke London hari ini-"


"Serius?!" pekik Mika dengan wajahnya yang nampak sumringah, yang kemudian Mika sadari jika ia menampakkan rasa senangnya mendengar Arya akan segera kembali ke London setelah baru hanya satu bulan dari masa kerja yang Arya bilang tiga bulan.


"Iya .... Ini gue sama beberapa temen gue udah di bandara ...." tutur Arya. "Sebenarnya besok sih jadwal balik bareng dari sini, tapi pas gue tanya bisa minta dipercepat atau engga, ternyata bisa. Jadi gue ambil penerbangan hari ini bareng tiga rekan kerja gue lainnya yang juga pengen buru-buru balik ke London karena kurang betah di sini ...."


"Heem ...."


Mika nampak santai menanggapi berita kepulangan Arya ke London yang dipercepat.


"See you soon, Neng Judes-"


"See you soon, Ar," tukas Mika.


Arya kemudian memutuskan panggilan teleponnya, dimana setelahnya Mika mesam-mesem di tempatnya.


"Miss you, Ar," gumam Mika.

__ADS_1


...****************...


To be continue ....


__ADS_2