HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
MENCARI SOLUSI


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Jangan lupa dukungannya.


Baca dulu tapi episodenya, okeh?


Tenkyu


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia,


“Abang, Ammar udah datang....”


Drea berkata, saat melihat seseorang yang ia sebut namanya itu berada di ambang pintu kamar pribadi Val dan tengah memberi anggukan salam hormat padanya ketika Drea melihat salah satu orang kepercayaan Varen itu yang kini akan menjadi satu – satunya, karena yang satu sudah tidak mau Varen anggap lagi sebagai apapun dalam hidupnya.


Lalu Varen dengan spontan menoleh ke arah pintu kamar Val, dan Ammar juga memberikan sapaan hormat pada Varen dengan anggukan kepalanya saat Varen menoleh padanya.


🍃🍃


Hanya tinggal Drea dan Varen saja di kamar Val setelah keluarga mereka yang sebelumnya berada di kamar adik kandungnya itu satu per satu keluar dari kamar pribadi Val.


“Drea rasa tidak apa kita meninggalkan Val sendiri sebentar,” ucap Drea lagi. “Toh yang penting, walau hanya sedikit, sudah ada makanan yang masuk ke perut Val.”


“Ya,” tanggap Varen, seraya menganggukkan kepalanya. Lalu menggerakkan kakinya bersama Drea untuk keluar dari dalam kamar Val.


Dimana si pemilik kamar itu nampak sudah terlelap setelah memakan beberapa potongan kecil cake dan seteguk air minum.


“Abang jika memang ada urusan pekerjaan dengan Ammar silahkan saja. Nanti Drea yang sering – sering menengok Val.”


Drea kembali berbicara kala ia dan Varen telah berada di hadapan Ammar.


“Iya Little Star.... Abang hanya ada keperluan sedikit saja dengan Ammar. Kamu pergi beristirahat saja dulu.”


🍃🍃


“Aku minta maaf karena tidak membiarkanmu langsung beristirahat setelah kau pulang dari Jepang, Am....”


Varen sudah berada di dalam ruang kerja yang berada di lantai dua kediaman bersama Ammar.


“Tidak masalah itu, Tuan Alva,” tanggap Ammar yang berlaku layaknya karyawan saat ini karena Varen tampak serius.


Seiring waktu --- bahkan dari sebelum ada Kafeel, Ammar sudah lebih sering mendampingi Varen baik dalam berbagai macam kesempatan yang kemudian membawa Ammar dianggap Kafeel lebih dari seorang tangan kanannya.


Namun begitu, Ammar tidak seperti Kafeel atau sahabat lain Varen yang seorang dokter, yang terkesan lebih santai pada Varen yang memanggil pria itu dengan namanya saja lebih seringnya tanpa embel – embel Tuan.


Sementara Ammar akan melihat situasi dulu jika ia ingin berbicara dengan santai pada Varen layaknya sahabat.


Dan sekarang, Ammar memposisikan dirinya sebagai tangan kanan Varen yang adalah pekerjanya Varen, melihat wajah Varen yang nampak serius saat ini.


Selain, Ammar melihat ada beban di wajah tuan sekaligus orang yang sudah menganggapnya sebagai sahabat itu. Jadi Ammar memposisikan dirinya sebagai seorang karyawan dulu sekarang.


“Kau sudah mendengar apa yang terjadi di sini?”


“Sedikit banyak, sudah.”


Ammar menjawab pertanyaan Varen dengan jujur seperti selalunya.


Karena sedikit banyak dia sudah mendengar dari Achiel, tentang berita yang mengejutkan saat ia tiba di kediaman The Adjieran Smith yang berada di Jakarta itu.


Varen yang memanggilnya secara mendadak dan terkesan tergesa saja sudah membuat Ammar bisa menerka jika ada sesuatu. Lalu saat tiba, Ammar memperhatikan carport kediaman ramai mobil dan beberapa bodyguard yang biasanya bertugas di London sedang ada di Jakarta.


Makanya Ammar coba cari tahu dulu ada apa sebelum ia masuk ke dalam kediaman lalu menemui Varen yang memintanya untuk segera datang ke KUJ, yang mana orangnya kini sedang terduduk lesu di sofa ruang kerja yang biasa Varen gunakan.


“Saya turut prihatin dengan berita yang saya dengar dari Achiel tadi,” ucap Ammar. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Nona Val sekarang –“


“Kacau, Am.... Hancur....” tukas Varen.


🍃🍃

__ADS_1


Sedikit banyak, Varen bercerita dan berbagi soal perasaannya pada Ammar.


Dan Ammar merespons dengan kalimat pemberi dukungan pada Varen. Yang Ammar tahu, jika bos sekaligus sahabatnya pun juga sedang kacau perasaannya.


“Jika memang kau tidak letih, tolong ke perusahaan minta Har juga untuk datang serta bawa beberapa orang untuk membersihkan ruangan Kaka di R Corp. Dan suruh Har menempati ruangan itu.” Varen memberikan perintah kemudian.


Ammar mengangguk dan menyahut mengiyakan.


“Jangan ada satupun barang milik Kaka yang tertinggal di sana.”


“........”


“Minta Har hitungkan uang penghargaan masa kerja untuknya yang sesuai dengan apa yang tertera di peraturan perusahaan, untuk barang – barang miliknya yang ada di R Corp. Dan satu hal yang harus ditegaskan kepada pihak keamanan perusahaan, jika Kafeel Adiwangsa sudah tidak diperkenankan lagi menginjakkan kakinya di R Corp. atau pun di setiap perusahaan milik para Dads dan keluargaku.”


Varen bertutur, dengan lagi menyematkan perintah dalam penuturannya yang cukup panjang itu. Yang mana langsung diiyakan oleh Ammar.


“Tidak perlu ambil aset yang sudah aku dan keluargaku berikan padanya. Kembalikan saja barang – barang miliknya yang ada di perusahaan, lalu berikan haknya selama ia bekerja padaku dan keluargaku. Serta buatkan surat perjanjian, untuk menjauh dari kami jika tidak ingin melakukan sesuatu yang merugikan Bunda....”


Varen menjeda ucapannya, lalu menghela nafas yang terdengar frustasi selepas menyenggol panggilan pada ibu kandung Kafeel yang sudah Varen anggap seperti layaknya para Moms yang Varen punya dalam keluarga besarnya itu.


Hati Varen kembali tak menentu jika mengingat ibunya Kafeel itu yang ia hormati serta sayangi juga, namun kini kena imbas atas perbuatan anak lelakinya pada Val.


Karena semua tentang Kafeel Adiwangsa, sudah diputuskan untuk tidak lagi ada hubungan dengan The Adjieran Smith.


Terlepas dari apa yang sudah anak lelakinya lakukan pada Val dan bagaimana sikap ibunya Kafeel dalam apa yang sudah Kafeel perbuat, Varen tetap menganggap jika wanita yang ia panggil dengan sebutan sama selayaknya Kafeel pada wanita itu --- adalah wanita yang baik dan penuh kasih sayang padanya serta pada para adik-adiknya.


Jadi berat memang untuk Varen atas sebuah keputusan yang sudah ia ambil terkait Kafeel.


“Buat surat perjanjian untuk seorang Kafeel Adiwangsa untuk berada sejauh mungkin dari kami, jika tidak ingin aku melakukan sesuatu yang menyulitkan ibu dan adik perempuannya.”


Namun mau bagaimana lagi?....


Kafeel sudah menorehkan luka dalam keluarganya, terlebih pada Val.


Jadi Varen mengambil keputusan seperti itu saja, karena tidak mungkin juga berhubungan dengan dua anggota keluarga Kafeel yang selama ini dekat dengannya dan keluarganya---sementara hubungan dengan Kafeel sudah tidak baik adanya.


🍃🍃


“Apa perlu memasangkan infus di tubuh Val? Agar asupan makanannya bisa dicukupkan jika dia terus seperti ini dalam jangka waktu yang lama.”


Ini Poppa yang berbicara.


“Jika memang nanti Val menolak lagi saat kita memintanya untuk makan, aku rasa itu perlu dilakukan –“


“Tapi yang aku rasa perlu dilakukan adalah membawa Kaka –“


“Ara –“


“Aku belum terbiasa untuk tidak menyebut namanya, jika kita membahas tentangnya.”


Mommy Ara menanggapi Poppa yang memungkas ucapannya setelah ia menyebut panggilan kecil Kafeel yang biasa mereka sematkan pada mantan calon menantu mereka itu.


Poppa hanya menghela nafasnya saja setelah mendengar ucapan Mommy Ara.


“Aku lanjutkan bisa? –“


“Go ahead....”


Mommy Ara mengangguk setelah mendapat persetujuan dari Poppa dan mereka yang juga sedang bersama dirinya duduk di ruang keluarga.


🍃🍃


“Aku rasa perlu mempertemukan Kaka dengan Val –“


“Itu tidak mungkin, Ra,” tukas Papi John.


“Kenapa tidak mungkin?”


“Kita sudah memutuskan hubungan dengannya.”

__ADS_1


“Iya aku tahu, tapi dengan membawa Kaka ke hadapan Val bukan berarti kita menyambung hubungan dengannya lagi, bukan?"


“Aku setuju sama Kak Ara –“


“Iya, sama....”


🍃🍃


Pro dan kontra terjadi antara The Dads dan The Moms setelah cetusan Mommy Ara yang mengusulkan solusi agar setidaknya Val dan Kafeel bisa berpisah dengan benar.


Atau setidaknya juga, bisa saja setelah Val bertemu Kafeel --- satu putri mereka itu tidak menjadi terlalu larut dalam kesedihannya.


Mungkin Kafeel bisa menenangkan Val.


Dan banyaknya kemungkinan yang diucapkan oleh The Moms atas kemungkinan yang bisa terjadi jika mempertemukan Val dengan Kafeel.


Mungkin juga akan sakit hati saat melihat Kafeel di hadapan mereka nanti.


Tapi apa penting sakit hati mereka, jika hal yang membuat rasa sakit hati pada Kafeel itu bisa menenangkan Val dan membuatnya berhenti nampak seperti manusia yang memiliki raga tanpa jiwa?....


Kiranya itu menjadi pendapat The Moms yang ada di KUJ sekarang. Yang mana sebenarnya, The Dads membenarkan pendapat The Moms itu.


Namun,


“Kami tidak mungkin menjilat ludah kami sendiri, Ara.”


🍃🍃


“Kalian kan yang sudah mencetuskan hubungan dengan Kaka?”


Atas nama seorang ibu, Mommy Ara berusaha untuk membuat anaknya menjadi lebih baik psikologisnya.


“Sementara kami tidak,” lanjut Mommy Ara. “Jika aku ataupun Fania, Jihan, Ichel dan Prita yang menghubungi Kaka, kalian tidak terhitung menjilat ludah kalian sendiri.”


Mommy Ara yang kukuh dengan keinginannya.


Yang diiyakan oleh The Moms yang tadi Mommy Ara sebutkan.


Dimana kesahan frustasi langsung terdengar dari The Dads setelahnya.


Lalu kata ‘terserah kalian saja’, tercetus dari mulut Dad R yang tak lama beranjak dari duduknya.


“Tapi aku tak mau lagi bertemu dengannya,” ucap Dad R menegaskan.


Yang ucapan Dad R itu diaminkan oleh The Dads lainnya.


“Ya sudah kalau begitu, aku akan menghubungi –“


PRAAANNGGG....


Suara benda pecah terdengar dari arah lantai tiga, yang membuat semua orang yang mendengar suara gaduh benda pecah itu langsung berhambur untuk menuju ke sumber suara.


“KENAPAA??!! KENAPA KAK KAFEEL LAKUKAN INI PADAKUU??!!....”


Lalu teriakan menyusul terdengar saat yang sedang menuju sumber suara itu tengah menyambangi satu kamar tempat suara benda pecah dan teriakan itu membahana dengan memilukan yang setelahnya dilanjut dengan isakan kesedihan yang kembali menderas.


“Usulmu, aku rasa tidak bisa dipakai, Ara,” ucap Daddy Jeff ketika ia telah sampai di kamar tempat sumber suara benda pecah dan teriakan tadi berasal, yakni kamar pribadinya Val.


Dimana banyak figura yang berhamburan di atas lantai kamar yang tertutup karpet bulu, dengan si pemilik kamar yang bersimpuh sangat rendah di atas lantai dengan beberapa figura yang kacanya sudah berserakan di dekat dinding juga nakas.


Nampak figura - figura foto yang pecah kacanya itu telah dihempaskan dengan keras ke dinding.


Yang Mommy Ara tanggapi ucapan Daddy Jeff dengan anggukan. ‘Tuhan, sampai kapan putriku begini?.... Kami harus bagaimana lagi?....’ lirih Mommy Ara dalam hatinya.


🍃🍃🍃🍃


To be continue....


🍃🍃 Ada indikasi 'bawang merah dan bawang bombay' akan bertaburan di episode - episode ke depan 🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2