
Hai-hai, terima kasih untuk kalean yang masih teteup setia baca.
Semoga selalu suka...
Mohon Supportnya juga untuk karya ini.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Happy reading yah....
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Meski Ku Bukan Yang Pertama Di Hatimu Tapi, Cintaku Terbaik Untukmu.
Meski Ku Bukan Bintang Di Langit, Tapi Cintaku Yang Terbaik.
♥♥♥
Jakarta, Indonesia
“Kak Kafeel bisa merasa tenang, karena ulat bulu ini tidak akan menempel lagi pada Kak Kafeel ...”
Itu Val yang telah panjang lebar mengungkapkan perasaannya, sekaligus unek-unek hatinya pada Kafeel.
Dimana Val terkekeh kecil, setelah ia mengucapkan kalimat yang barusan ia katakan itu.
“Pasti, pria matang seperti Kak Kafeel ini, menginginkan seorang wanita matang juga ya, sebagai pendamping hidup Kak Kafeel. Bukan gadis remaja labil seperti Val ini.”
“Val---“
“Jadi yah, setelah Val menimbang-nimbang dengan seksama, meski setelah ini Val pasti akan menangis banyak.... sekarang saja Val sudah mau menangis...”
Val menggerakkan tangannya untuk melepaskan pipi Kafeel, yang dengan mengumpulkan keberaniannya untuk menyentuh pipi Kafeel seperti Val menyentuhnya saat ini.
“Tapi Val tidak boleh egois, bukan?. Dan yah, Val menyadari, jika berada di dekat Kak Kafeel saat ini, membuat Val bahagia dan sedih secara bersamaan... karena kini Val tahu, jika Kak Kafeel tidak akan pernah bisa Val miliki ... Jadi mulai sekarang, Val akan belajar untuk perlahan melepaskan ... melepaskan jeratan cinta konyol Val pada Kakak ....”
Val melepaskan tangannya dari pipi Kafeel. Tapi sesaat kemudian tangan Val yang tadi memegang pipi Kafeel itu menggantung di udara.
Ada yang menahan tangan Val, yang ingin ditarik si empunya.
Tangan Kafeel.
“Tidak boleh!”
“Tidak boleh apa, Kak?”
Dengan polosnya Val bertanya.
Menatap dengan juga sedikit keheranan pada Kafeel.
“Melepaskanku ....”
Kafeel berucap.
“Aku tidak mengijinkan.”
Lantang sambungan ucapan dari mulut Kafeel tercetus. Ucapan yang merupakan sebuah larangan.
Larangan untuk mencegah Val, melakukan hal yang ingin Val lakukan terhadapnya.
Kafeel sendiri bingung sebenarnya. Dilema lebih tepatnya.
Kafeel merasa dia hanya sebatas menyayangi Val. Tapi mendengar Val berencana menjauhinya dari mulut gadis itu sendiri, Kafeel rasanya tidak rela.
“Val...”
Kafeel menggantungkan ucapannya.
Lalu Kafeel melipat dan membasahi bibirnya, dengan lebih lekat menatap Val.
“Kakak .. minta maaf,” sambung Kafeel.
Kafeel tertunduk, dengan tangannya yang masih menggenggam satu tangan Val yang tadi menyentuh pipinya untuk beberapa saat.
“Kakak –“
Kembali Kafeel menggantungkan ucapannya, bingung untuk bicara apa.
Dan saat Kafeel telah tahu apa yang ingin ia katakan, Kafeel bingung untuk memulai darimana ucapannya yang ingin ia jelaskan pada Val.
Sungguh Kafeel merasa dirinya bodoh sekarang, padahal otaknya cukup pintar.
Namun dihadapkan pada persoalan perasaan seperti ini, Kafeel merasa jadi orang yang bodoh sedunia.
Selain, sedikit banyak, ia merasa konyol atas dirinya.
__ADS_1
Bukan apa, Kafeel tidak pernah menyangka saja jika ia akan berada diposisi seperti ini. Jika dirinya sampai dihadapkan pada permasalahan hati yang melibatkan perasaan.
Terlebih permasalahan hati yang melibatkan perasaan yang menjurus ke sebuah kata yang memiliki arti tersendiri untuk mereka yang saling jatuh hati itu, adalah dengan seorang gadis belia yang usianya terpaut hampir sepuluh tahun dengan dirinya.
Kafeel juga bukan baru ini terlibat dengan seorang wanita yang menjurus pada suatu hubungan. Namun sebelumnya tidak terlalu melibatkan hati. Tapi yang Kafeel rasa pada Val, rasanya berbeda.
Setidaknya, Kafeel menyadarinya saat ini.
Kafeel menyayangi Val. Dan apa karena rasa sayang itu, maka Kafeel merasa dirinya tidak rela jika Val ingin menjauhinya?.
Kafeel benar-benar bingung pada dirinya sendiri.
Sadar, jika dirinya memiliki pola pikir yang rumit untuk masalah hati, masalah cinta.
Rasanya Kafeel ingin menenggelamkan dirinya ke lautan di sebrang pantai yang terhampar di hadapannya itu.
Jangan mati tapi.
Cukup amnesia setengah aja.
Agar Kafeel tidak bingung untuk bagaimana memberikan penjelasan pada gadis belia yang sedang menatapnya saat ini, yang jantungnya sedang berdegup kencang, karena tangannya sedang di genggam oleh Kafeel.
“Aku –“
Lagi-lagi Kafeel tidak langsung berbicara dengan lengkap.
Suara Kafeel tidak selantang sebelumnya.
Sementara Val?.
Gadis itu sedang merasakan degupan jantungnya yang tak karuan karena tangannya yang digenggam oleh Kafeel. Hal yang tidak pernah Val dapatkan sebelumnya.
Namun Val juga memperhatikan dengan serius Kafeel yang nampak ragu untuk bicara itu.
Yang mana, Kafeel memang sedang ragu untuk meneruskan kalimatnya.
Tepatnya Kafeel sedang bingung untuk menjelaskan pada Val, karena otaknya juga belum penuh mengumpulkan kata untuk ia rangkai agar dapat ia mengatakannya pada Val.
Rumit.
Kiranya cinta itu memang rumit. - Dalam pandangan Kafeel.
Atau dirinya sendiri lah yang rumit.
Entahlah. Kafeel benar-benar sedang dilema yang jelas saat ini.
♥♥♥
Kafeel tak merasa jika perasaannya pada Val itu cinta.
Yah, setidaknya itu yang Kafeel percayai.
Berkali-kali Kafeel telah menampik dugaan hatinya sendiri, yang mengatakan bahwasanya ia telah jatuh cinta pada Val, sejak akhir-akhir ini.
‘Masa iya gue jatuh cinta sama bocil?? ...’
Begitu sanggahan Kafeel pada hatinya.
Berpikir bahwa rasanya tidak mungkin jika dirinya mencintai Val selayaknya pria yang mencintai seorang wanita.
Kilah Kafeel selama ini, sejak pada suatu hari hatinya mengeluarkan celetukan saat ia tak sengaja membuka galeri foto dalam ponselnya, dimana ia memiliki beberapa foto Val disana.
Baik Val yang sendiri, atau foto dirinya dan Val, bahkan dengan keluarga Val dan keluarganya juga, yang memang sudah cukup akrab, sejak acara berpesiar besar-besaran yang diadakan oleh keluarga Val.
Dikala Kafeel yang tidak sengaja memperhatikan foto Val itu, sudut bibirnya spontan terangkat, dan ibu jarinya mengusap foto Val yang ada di galeri ponselnya itu.
Disaat yang sama, ada desiran aneh yang mulai menjalari hatinya, kala ia sedang memperhatikan foto Val itu. Hingga tangannya secara otomatis akan mencari nomor kontak Val dalam aplikasi chatnya, kemudian langsung mengirimkan pesan dengan beragam bahasan.
Setelahnya, setelah pesannya berbalas, dan obrolan di chatnya selesai bersama Val, sudut bibir Kafeel akan tertarik lagi. Dan saat melihat kedatangan Val di kantor hari ini, seperti ada kelegaan dalam hatinya yang Kafeel rasakan. Seperti kelegaan karena telah melunasi hutang cicilan apartemen.
Atau ... lega, karena rindu yang terbayar karena kedatangan Val yang tak Kafeel sangka-sangka. Sehubungan yang Kafeel tahu, Val sudah akan memulai perkuliahan-nya dalam beberapa hari kedepan. Entahlah. Kafeel tak mau larut memikirkan alasan kenapa ia begitu senang melihat Val datang ke Jakarta hari ini, dalam waktu gadis itu yang mepet untuk kuliah di negeri yang berbeda.
Pasti karena ia yang menyayangi Val, makanya Kafeel merasa seperti itu – kilah Kafeel sih begitu pada hatinya.
♥♥♥
Hanya menyayangi Val saja.
Kata Kafeel pada dirinya.
Jika begitu ...
Jika hanya sayang saja,
Kenapa disaat Val mendeklarasikan jika gadis itu ingin menghentikan dirinya untuk mendekati Kafeel guna mengejar cintanya, ada rasa tidak rela di hati Kafeel jika Val sampai melakukan hal yang Val katakan itu.
__ADS_1
Namun disatu sisi hati Kafeel yang lain, dirinya merasa jika ia menahan Val untuk melepaskan diri darinya seperti sekarang ini, betapa egoisnya ia. Sungguh egois menahan kebebasan seseorang-yang memang tidak pernah Kafeel kekang-tanpa ia beri kepastian.
Terlepas bahwasanya Kafeel masih juga berpikir kalau perasaan Val padanya, atas cinta Val padanya, yang Val selalu elu-elukan itu, tidak akan bertahan lama.
Hanya sementara saja, rasa yang Val yakini sebagai cintanya pada Kafeel.
Entah apa nanti penyebabnya, pasti Val akan berhenti merasa jika gadis itu mencintainya setelah menyadari, saat gadis itu beranjak ke usia yang lebih dewasa, jika cintanya pada Kafeel hanya cinta-cintaan saja, bukan cinta beneran.
Cinta Monkey, mungkin?.
Mengingat belia usia Val sekarang.
Tapi kenapa, saat waktu sementara atas perasaan Val padanya itu Kafeel rasa telah datang sekarang, perasaan menggebu-nya Val sebagai gadis belia yang baru mengenal cinta, dirinya malah merasa tak mau melepaskan Val.
Ah ralat, Kafeel yang tidak mau jika Val melepaskannya.
Kafeel tidak mau jika Val seolah mundur, lalu menarik diri dan menjaga jarak dengannya.
Karena akhir-akhir ini Kafeel merasa, ia sangat menyukai, menikmati, sikap Val padanya.
Sikap Val yang terang-terangan mengejarnya, Val yang seolah tak putus menjalin komunikasi dengannya, baik chat ataupun panggilan telepon apabila gadis itu sedang berada di London.
Atau sikap Val yang menempel seperti ulat bulu jika mereka bertemu. Mengganggu Kafeel dengan segala tingkahnya. Gangguan yang akhir-akhir ini justru Kafeel sering tunggu.
Kafeel merasa senang akan hal itu. Bukan semata-mata Karena Kafeel merasa bangga dan pongah didamba oleh seorang Nona Muda yang kekayaan keluarganya itu luar biasa banyaknya, selain sang Nona Muda adalah gadis belia yang begitu rupawan dan imut-imut, walaupun kadang amit-amit kelakuannya-kalo kata saudara-saudarinya sang Nona Muda jika sudah berdekatan dengannya.
Entah kenapa Kafeel merasa senang dengan ‘kejaran’ Val itu, Kafeel sendiri juga tidak tahu pasti alasannya.
Senang aja lah pokoknya rasa hati Kafeel akhir-akhir ini dengan ‘kejaran’ Val padanya itu. Sekali lagi, bukan karena Kafeel merasa sombong karena ‘dikejar’ sampai sebegitunya oleh Val, tapi ada perasaan terselubung yang sukar Kafeel jelaskan.
Karena seyogyanya, untuk urusan ‘dikejar’ ciwi-ciwi sih, Kafeel cukup punya ‘prestasi’ untuk itu. Dimana selain Val, bahkan sebelum gadis itu mendekat dalam dunianya, sudah banyak yang mengejar cinta Kafeel.
Yang menyatakan terang-terangan seperti Val juga ada, bahkan mengajaknya membina serius hubungan hingga ke jenjang pernikahan.
Yah, sama sih seperti Val. Sama, namun ciwi-ciwi itu tak serupa dengan Val. Serupa menggemaskannya di mata Kafeel seperti Val. Jadi ciwi-ciwi itu tidak pernah Kafeel gubris.
Kalaupun Kafeel menggubris beberapa dari mereka, yah tahulah. Namanya cowok.
Itu pun tidak ada yang diseriusi oleh Kafeel.
Sisanya, ditolak mentah-mentah oleh Kafeel.
Berbeda dengan bagaimana Kafeel menanggapi Val.
Dulu sih, karena Kafeel merasa tak enak jika melakukan penolakan secara terang-terangan pada Val, karena gadis belia itu adalah salah satu putri dari kerabat dekat almarhum ayah Kafeel.
Selain Val, adalah adiknya Alvarend yang kini sudah akrab dengannya. Sangat akrab bahkan.
Jadi Kafeel tidak enak jika melakukan penolakan atau sampai mengusir Val untuk jauh-jauh darinya.
Secara Val itu kan, bocil?. Ababil.
A-be-ge Labil.
Tapi kesini-kesini, Kafeel malah merasa ga tega duluan kalau harus melakukan penolakan pada Val.
Makin kesini, kenapa dia merasa kalau Val itu terlalu menggemaskan untuk dijauhi?. Malahan, semakin kesini, dan akhir-akhir ini, Kafeel begitu menyukai semua hal yang Val lakukan padanya, sehubungan dengan ‘kejaran’ gadis itu untuk cintanya.
Berikut perhatian serta sikap Val yang menggemaskan di mata Kafeel itu, sungguh akhir-akhir ini membuat Kafeel merasa ...
Apa ya?.
Rindu?.
Mungkin saja memang itu rindu yang mulai menyelusup dalam hati Kafeel.
Namun begitu Kafeel masih ragu.
Ragu pada diri dan perasaannya pada Val.
Ragu, jika ia dirasa telah jatuh cinta pada Val.
Tapi jika Val mengatakan bahwasanya gadis itu ingin mundur dan berhenti melakukan hal yang selama ini Val lakukan padanya dalam mengejar cintanya, sekali lagi, ada rasa tak rela yang menyelusup di hati Kafeel.
Jadi, bagaimana?.
♥♥♥♥♥♥
To be continue ...
Jadi, bagaimana?
Gemes ama AA Kafeel?
Kalo iya, jempol dulu digoyangin,
__ADS_1
Biar si AA ga bikin gemes pengen dijitak