
Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....
Jangan lupa dukungannya.
Baca dulu tapi episodenya, okeh?
Tenkyu
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Val’s POV...
Aku Val ---- Valera Madelaine Aditama Adjieran Smith ---- Nama lengkapku.
Panjang ya?
Iya, soalnya tiga penggalan nama terakhirku itu adalah gabungan dua nama keluarga. Yakni nama keluarga kandungku, dan keluarga angkatku ---- yang blaem – blaem (kalau kata satu Mom ku)
Tapi yang jelas aku menyukai namaku itu.
Sesuai dengan diriku yang memiliki garis keturunan di atas level konglomerat (bukan sombong) tapi memang keluargaku itu super duper kaya raya, dan aku mensyukurinya.
Sangat.
Bukan hanya harta kekayaan yang melimpah ruah sampai puluhan keturunan tidak akan habis, melainkan juga aku bersyukur menjadi bagian dari keluargaku yang amat sangat saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain serta kompak dari jaman para Dad dan Mom ku dulu, yang parasnya (katanya) macam dewa – dewi di kahyangan.
Memang iya sih, para orang tuaku itu sangat amat mempesona dan rupawan.
Ini aku buktinya.
High quality gadis yang cantik manis menggemaskan dan imut – imut.
Hihi...
Narsis ya aku?
Hm, para orang tuaku bilang sedari aku bayi.
Bahasanya itu, sadar kamera.
Karena setiap ada sesi foto – foto, mataku pasti tepat terarah ke kamera dengan senyum lebar yang menawan hati.
Macam tahu saja jika memang ingin difoto ---- Begitu yang dikatakan oleh para orang tua dan tiga kakakku, juga para kakek dan nenekku.
--
Aku berdomisili di London selama hampir seluruh hidupku hingga detik ini.
Bersekolah dan memiliki teman – teman (walau tidak banyak), di kota yang memiliki julukan Kota Asap tersebut.
Namun begitu, aku kerasan saja tinggal di London. Dan tidak memilih Jakarta untuk berdomisili ---- karena Demi Tuhan, Jakarta panas sekali jika tidak sedang musim hujan.
Tapi nyatanya ada kota lain yang lebih panas dari Jakarta, ketika aku mengenal satu kota tempat dimana satu pasang kakek dan nenekku tinggal di sana dari sejak dua Mom ku remaja.
Aku sampai berpikir jika satu kota itu adalah planet lain yang ada di samping matahari karena luar biasa sekali panasnya.
Heran aku tuh sama Ake dan Ene yang kerasan sekali tinggal di sana. Padahal kan mereka bisa ikut tinggal di Kediaman Utama kami yang berada di Jakarta.
--
Singkat kata, aku adalah gadis beruntung selain cantik manis menggemaskan dan imut – imut tentunya.
Hidupku sudah aku rasa sempurna selama ini, untuk ukuran sebagai makhluk sosial.
Namun sebagai pribadi, kala aku masih berumur sekitar empat belas atau lima belas tahun ---- ada kesempurnaan yang belum aku miliki.
Kekasih.
Yang terkadang membuatku minder sendiri, karena di London ---- atau di negara – negara barat kebanyakan, gadis seusiaku itu sudah mengenal yang namanya pacaran.
Tapi untungnya aku tidak punya banyak teman adalah, aku tidak mendapat cibiran dan ledekan karena belum memiliki kekasih kala itu. Dan lagi, teman – teman yang ada di sekelilingku, katakanlah mereka sama denganku.
Berasal dari keluarga berada, yang lebih mengutamakan pendidikan daripada cinta-cintaan.
Bedanya, keluargaku tidak membedakan status sosial orang. Tidak ada yang namanya perjodohan yang akan direncanakan dengan kolega bisnis atau sebagainya.
Semua bebas memilih pasangannya sendiri tanpa campur tangan orang tua, baik orang tua kandung ataupun para orang tua angkat aku dan para pewaris muda The Adjieran Smith lainnya.
Para saudara dan saudariku yang aku sayangi dengan sepenuh hati dan jiwa (ulala).
Walau sebagian dari kami ---- kebanyakan bahkan, tidak memiliki ikatan darah.
Tapi sungguh, aku dan mereka itu bahkan lebih – lebih dari para saudara kandung di luaran, karena sebegitu dekat dan akrab serta lekatnya hubunganku dengan para pewaris muda The Adjieran Smith lainnya.
--
Kembali ke soal kekasih, aku punya kriteria sendiri atas seorang pria impian dalam hidupku.
Kriteria atas dasar aku yang mengidap sindrom Elektra Kompleks, karena aku terlalu mengagumi para pria dewasa dalam keluargaku itu.
Jadi pria impianku adalah seperti para Dadku, Abang, Kak Tan – Tan juga, bahkan Gappa.
Tapi tidak setua para Dad ku juga yang seringkali mengomel kalau aku katakan mereka tua.
Apalagi pria yang sudah jauh sekali dari sebutan pria dewasa macam Gappa. Kesahajaannya saja yang aku inginkan seperti Gappa.
Ih, tapi Gappa tampan sekali saat muda yang aku lihat dari foto - fotonya.
Para Dad ku saja kalah tampannya.
Intinya, aku tidak mau memiliki seorang kekasih yang seusia denganku.
Kira – kira seusia Kak Tan – Tan atau Abang deh. Matang. Yakin dapat mengayomiku.
--
Dan aku temukan sosok pria impianku pada salah seorang temannya Abang.
Pun, seusia Abang.
Juga sebersahaja Abang.
__ADS_1
Tapi tidak sedingin Abang wajahnya. Ekspresi wajahnya lebih hangat.
Murah senyum pula.
Dia, Kafeel Adiwangsa.
Pria matang nan cerdas, tampan, dengan senyum yang begitu menawan.
Uhh, menggemaskan!
Membuatku langsung jatuh cinta saja.
Dan ya, aku memang jatuh cinta pada pria matang bernama Kafeel Adiwangsa itu.
Sejatuh - jatuhnya, hingga benar – benar menginginkannya jadi milikku.
Hingga aku menjadi rajin untuk berdoa di sepanjang malam pada yang kuasa, agar hati dan orangnya terpaut padaku.
Berdoa dan Berusaha.
Aku lakukan, tentu saja.
Karena aku adalah gadis tangguh dari Klan Adjieran Smith yang akan berusaha sekuat tenaga untuk menggapai sebuah cita – cita.
Apalagi cita – cita utama.
Menikah dengan seorang Kafeel Adiwangsa, yang lalu kukejar tanpa jeda.
Tanpa malu juga, karena jika bertemu aku akan menempel macam ulat bulu padanya.
Hihi.
Tapi tidak berlaku murahan ---- catat itu.
Well, doa dan perjuanganku berhasil. Kafeel Adiwangsa bisa aku dapatkan.
Baik orang dan hatinya.
Menuju kesempurnaan yang hakiki rasanya hidupku, ketika Kak Kafeel melamarku.
Bahagiaku seolah benar – benar mengumpul di dalam hatiku saat Kak Kafeel melamarku, baik lamaran secara personal namun di hadapan banyak orang yang tidak kami kenal ---- juga lamaran resmi pada keluarga dan orang tua kandungku.
Terlebih, Kak Kafeel (dengan sedikit intimidasi menggemaskan dariku), memutuskan jika pernikahanku akan dilangsungkan ketika aku bulat berusia delapan belas tahun.
Yeah!
Sesuai impianku, menikah muda.
Dan dengan pria yang aku cinta serta mencintaiku juga.
Walau kalo soal nikah muda, Kak Drea masih juara dalam keluarga.
Tujuh belas tahun usia Kak Drea kurang lebih, kala Abang menikahinya. Di jaman sekarang.
Abang bucin super akut sih sama Kak Drea soalnya.
Sama seperti aku pada Kak Kafeel. Bucin akut stadium sangat sulit untuk disembuhkan.
--
Aku akan hidup di dua dunia yang penuh bahagia. Bahagia bersama keluarga besarku, dan bahagia dalam duniaku dan Kak Kafeel.
Namun... di hari ini... satu duniaku hancur.
Ketika aku begitu bahagianya mendengar kabar jika si jantung hati yang akan menjadi suamiku dalam kurun waktu dua bulan ke depan kurang lebih, datang lagi ke London ---- padahal baru dua hari yang lalu Kak Kafeel datang ke mansion keluargaku yang berada di Kota Asap ini, tapi saat aku menerima kabar dari Mika via chat jika ada Kak Kafeel di mansion kami itu...
Ugh, aku meminta supirku untuk segera mencapai mansion.
Yah, aku memang se - excited itu jika mendengar kedatangan Kak Kafeel ke London, jika aku tidak sedang berada di Jakarta. Dari sejak aku mengejarnya sampai aku dan Kak Kafeel bertunangan pun, aku tetap se - excited itu bila bertemu dengan calon suami setengah om - om ku itu.
Maka saat mobil yang aku gunakan sebagai transportasi ke kampus itu tiba di pelataran depan mansion, aku tak menunggu mobil yang dikendarai satu supir dan satu bodyguard di kursi penumpang depan itu berhenti dengan sempurna untuk keluar dari dalamnya.
Aku tidak sabar untuk bertemu Kak Kafeel lalu berhambur ke pelukan dan gendongannya. Lalu ia akan mengecup keningku serta merengkuh hangat dan mesra.
Terkadang mencuri ciuman juga, yang membuat aku selalu tersipu jika Kak Kafeel mencium bibirku.
Kecupan, ciuman, rengkuhan, bahkan harum Kak Kafeel pun selalu membuatku rindu setiap detiknya.
Oh, aku sungguh tergila – gila pada calon suami setengah om – omku itu.
Tapi kemudian, aku dibuat hampir gila dalam konteks yang sebenarnya --- ketika aku mendengar apa yang disampaikannya di depan Dad R yang kala itu bicara berdua dengan Kak Kafeel di ruang kerja utama.
Hingga benar – benar merasa ‘gila’ kala Kak Kafeel berpamitan padaku.
Hatiku yang penuh bahagia, berganti pilu yang tak berujung rasanya.
Dan pilu itu kemudian ditimpa dengan sakit yang tak terperi, hingga hati ini... rasa ditusuk jutaan belati, kala aku mengejar Kak Kafeel ke Jakarta.
Ingin mengatakan padanya, cintaku tidak akan berubah, sefatal apapun kesalahannya.
Asalkan Kak Kafeel tetap bersamaku...
Tapi... apa yang ingin kusampaikan pada Kak Kafeel tidak pernah terucap.
Karena apa yang dapati saat aku datang ke rumahnya, membuatku kakiku seolah tak bertulang... membuatku seolah merasa... langit runtuh tepat menimpa kepalaku.
Dan di detik itu... satu duniaku hancur...
Oh tidak... duniaku itu tidak sekedar hancur...
Tapi satu duniaku itu... Luluh Lantak.
End of Val’s POV...
💔
The Great Mansion of Adjieran Smith, London, Inggris...
“Wiiwww... Terang amat, Neng?????...” celetuk Momma ketika ia telah menelisik penampilan Val yang menggunakan dress santai berwarna merah menyala, saat dirinya dan Poppa belum lama tiba di mansion utama mereka yang berada di London itu.
“Setahuku kau tidak menyukai warna merah menyala seperti ini? Tumben sekali?...”
__ADS_1
“Sepertinya aku akan menyukai warna merah terang seperti ini mulai sekarang ----“
“Pasti karena Kafeel bilang jika dia suka wanita yang memakai warna seperti itu ----“
“Daddy salah, weee... Justru Kak Kafeel itu sukanya Val memakai warna – warna soft ----“
“Lalu kenapa pake ini warna merah jablay?...”
“Jangan begitu dong, Momma. Val kan wanita baik – baik.“
Momma mendengus geli mendengar ucapan Val dengan satu incess itu yang merungut, yang tidak menangkap guyonan Momma.
“Ye, itu juga perumpamaan kelles... Trus ada angin apa make baju mere begindang?...”
**
Katanya, kalau ada seseorang yang bermimpi menjadi pengantin dengan menggunakan pakaian berwarna merah ---- itu adalah sebuah pertanda yang amat sangat tidak baik...
'Karena aku bermimpi, dimana aku dan Kak Kafeel berdiri di atas pelaminan dengan menggunakan pakaian berwarna merah ----'
‘Allah... Hilangkan gelisah yang terlalu - lalu dan takut ini ----‘
“Heart?...” Suara bariton dalam serta ngebas terdengar dari belakang dia yang baru saja membatin seraya mengingat satu hal atas sebuah perkataan.
“D----“
“Semua orang sudah berkumpul untuk makan malam...”
Poppa dan Momma.
Dua orang yang sedang berinteraksi di balkon kamar mereka yang berada di The Great Mansion of Adjieran Smith yang berada di London itu.
“Soal kedutan di mata kiri kamu yang terlalu sering selama tiga hari berturut – turut itu masih mengganggu pikiran kamu kah?----“
“Iya...”
Momma menukas ucapan Poppa seraya menyahut pelan.
Poppa tersenyum. Lalu berjongkok di depan Momma yang masih terduduk di kursi santai pada balkon.
Satu tangan Poppa kemudian terulur untuk menyelipkan rambut Momma yang dibiarkan tergerai itu sebagian.
“Aku baru saja berpikir, mungkin kamu ada gangguan saraf mata,” ucap Poppa.
Momma pun mendengus geli. “Kira mau bilang, aku lagi genit sama kamu sering banget main mata.”
Gantian Poppa yang mendengus geli.
“Kalau aku selalu melihat setiap mata kiri kamu berkedut, aku baru akan berpikir seperti itu.”
Poppa berujar kemudian, menanggapi candaan kecil Momma yang mendengus geli sekali lagi.
“Sudah ya? Jangan berpikir yang tidak – tidak. Nanti kamu terbebani, dan berpengaruh pada kondisi badan kamu...”
“Iya, ta----“
“Lebih baik kita turun sekarang. Kasihan sudah banyak insan – insan kelaparan yang menunggu kita bergabung di ruang jamuan...”
Poppa keburu bicara sebelum Momma melanjutkan kalimatnya yang pada akhirnya Momma urung untuk lanjutkan. “Ya udah, ayuk...”
**
“Kalian tumben pulang cepat sekali dari sekolah?...”
Ini Mommy Ara yang bertanya pada Rery dan Ann, kala dua pewaris muda bergabung dengannya yang sedang minum teh di sebuah gajebo yang ada di pekarangan belakang mansion.
“Mau ada study tour kan lusa, Mom----“
“Oh iya, ya?... keseluruhan siswa atau kelas tertentu aja?...”
“Hanya para junior saja, Mom.” Ann yang menjawab selanjutnya.
“Mommaa, Poppa tanya nih, kenapa chatnya ga Momma balas sedari tadi?...”
Rery menyambar setelah ia memeriksa ponselnya yang mengeluarkan suara notifikasi.
“Mom?...”
“Heu?----“
“I noticed that you seems that you are musing alot, Mrs. Duck (Aku perhatikan, kamu banyak melamun, Nyonya Bebek?)”
Mama Fabi berkata seraya bertanya, dimana Rery – Ann dan Mommy Ara, sontak memandang serempak pada Momma kemudian menarik sudut bibirnya ke atas.
Namun bukan senyum sumringah Momma yang selalunya Momma tampakkan.
Melainkan ada sedikit makna dibalik senyumnya Momma itu.
“Mata kiri aku nih, kedutan dari beberapa hari ga berhenti – berhenti, Kak. Kayak orang mau nangis sampe air matanya se – ember.”
Momma menghela nafasnya lagi.
“Gelisah banget----“
“Ck, Momma, masih percaya saja hal seperti itu.”
Rery menukas ucapan ibu kandungnya itu.
“Percaya ga percaya, Ry. Tapi Momma ngerasa tuh ini akan ada something yang ga mengenakkan.”
**
Momma memang bukan cenayang, tapi hatinya begitu tajam jika kiranya akan ada satu hal yang akan terjadi. Hal yang tidak mengenakkan, seperti yang Momma katakan pada Rery.
Karena disela mereka yang sedang duduk santai menikmati ragam teh itu, lima orang tersebut --- kemudian dikejutkan oleh suara teriakan yang datang dari dalam mansion.
“KAK KAFEEEELLLL!!...”
Dengan sangat histeris, dimana suara teriakan histeris itu kemudian terdengar lirih bercampur tangisan nan memilukan.
__ADS_1
💔💔💔💔💔💔💔💔
To be continue...