HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
TANPA BATAS WAKTU ( Kafeel's Part )


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Little Star Island, Italy ....


‘Ya Allah, ampuni aku!’


Sementara Arya sedang asik bermesraan bersama gadis yang dicintainya, dan beruntung telah kembali merajut ikatan cinta dengan sang gadis tercinta setelah sempat putus, Kafeel tak seberuntung itu.


Jangankan kembali merajut ikatan cintanya dengan Val yang telah putus—apalagi bisa bermesraan kembali bersama Val.


Diingat oleh Val saja tidak.


Sungguh tidak beruntung sekali dirinya—pikir Kafeel.


🔸🔸🔸


‘Jika semua hal buruk yang menimpaku sejak kematian ayah adalah balasan dari dosa-dosaku, aku ikhlas menerima apapun ketentuan-Mu..’


Monolog Kafeel dalam hatinya, setelah ia kembali ke dalam kamarnya di kastil pada Little Star Island.


Dimana Kafeel berbagi kamar itu dengan Arya.


‘Tapi tolong Ya Rab, berbaik hatilah padaku,’ mohon Kafeel kemudian sambil ia mengurung wajahnya dalam tangkupan tangannya. ‘Kau sudah mengambil ayahku. Salah seorang yang paling aku cintai di dunia ini. Jadi mohon, jangan satu lagi orang yang juga paling aku cintai, kau jauhkan dariku. Aku mencintai Val, Ya Rab. Tolong jadikan dia jodohku, meski Engkau berikan banyak rintangan sebelum ia benar-benar menjadi milikku..’


Permintaan Kafeel pada Tuhannya, dengan besarnya harap yang ia punya dalam hati—jika doanya didengar dan dikabulkan oleh Sang Pemilik Semesta dan Seisinya. Karena sungguh, Kafeel benar-benar berharap jika dia dan Val akan kembali bersama untuk merajut cinta dan asa yang pernah terhenti sebelumnya.


🔸🔸🔸


Kafeel tak tahu, bahkan tak pernah menyangka, jika suatu hari poros cintanya akan berhenti pada seorang gadis yang jika dilihat dari usia Kafeel saat ini, katakanlah gadis yang berhasil membuatnya tergila-gila itu—masuk dalam kategori remaja.


Namun yang Kafeel tahu saat ini, ia merasakan cinta yang begitu besar pada sang gadis remaja tersebut.


Hingga dulu, sebelum sebuah tragedi memporak-porandakan hidup Kafeel—setelah pernah hidupnya dan keluarga porak-poranda setelah kematian sang ayah, Kafeel menyadari dirinya sering sekali bertingkah bodoh, karena sudah terjangkit virus bucin akut gegara itu gadis remaja.


Yang Kafeel masa bodohkan, karena kebahagiaan selalu Kafeel rasa setiap harinya selepas ia dan sang gadis remaja tercintanya itu telah mengikat diri dalam sebuah ikatan cinta.


Yang sayangnya, hanya sebentar saja hal itu Kafeel rasa dan jalani. Karena pada suatu hari, Kafeel dihadapkan pada situasi yang merubah awan kebahagiaan pada langitnya menjadi kelabu, sampai dengan sekarang.


Dulu, gadis remaja itu—Val, yang lebih dulu mengejarnya. Memepetnya bahkan.


Hingga Kafeel luluh, dan menjadi pria dengan sindrom bucin akut—yang sering kali Kafeel tidak percaya jika dirinya menjadi seperti itu hanya karena gadis remaja.


Namun Val, membuat Kafeel tidak memikirkan hal itu. Mensyukuri saja hidupnya yang sebelumnya tanpa arah dan fokus menguak kebenaran atas kematian ayahnya, serta menata lagi hidup keluarganya yang sempat begitu direndahkan orang lain, dengan bantuan keluarga Val juga—menjadi selalu bersemangat di setiap harinya, dengan buncahan bahagia dalam dada—kadang macam orang yang otaknya kurang setengah ons juga, karena seringkali Kafeel senyum-senyum sendiri saat teringat Val.


Namun yah, apa mau dikata—jika masa-masa bahagia dan otak Kafeel yang kurang setengah ons karena Val, kini berganti dengan banyak kesedihan dan air mata dalam kurun waktu belakangan.


Bahagia dan hati yang berbunga-bunga itu digulung oleh kesedihan, kegetiran dan kepahitan untuk Kafeel. Masa-masa terberat dalam hidup Kafeel selain tragedi ayahnya, Kafeel ulang merasakan masa terberat itu lagi sekarang.


Yakni, melepaskan Val, lalu dipaksa untuk menjauh sejauh-jauhnya dari gadis remaja tercintanya—tanpa boleh sedikitpun berkomunikasi, apalagi bertemu.


Lalu sempat lebih hancur sehancur-hancurnya, ketika mendengar kabar gadis remaja tercintanya itu telah bunuh diri—yang membuat Kafeel gelap mata, sampai hampir membunuh wanita yang terpaksa ia nikahi—lalu Kafeel mencoba juga bunuh diri.

__ADS_1


🔸🔸🔸


Kafeel berpikir untuk mengakhiri hidup, karena setahunya kala itu—Val sudah tidak ada di dunia yang sama dengannya lagi.


Sudah habis sudah harapannya untuk hidup karena hal itu.


Namun nyatanya, takdir membuat keputusan dan tindakan sangat nekatnya itu—menjadi sesuatu yang Kafeel lagi-lagi syukuri dengan teramat sangat.


Kafeel selamat dari percobaan bunuh dirinya, yang mana sempat Kafeel rutuki, bahkan sempat Kafeel rencanakan lagi untuk yang kedua kali—demi bisa berada di dunia yang sama dengan Val, meski nantipun tidak akan ketemu juga sepertinya.


Namun Kafeel jadi benar-benar bersyukur saat ia telah selamat dari usaha percobaan bunuh dirinya itu, karena apa yang Kafeel dapati setelahnya, adalah kabar bahagia. Yang membuat Kafeel banyak menangis karena bersyukur dan bahagia. Gadis remaja tercinta, pemilik hati Kafeel seutuhnya ternyata masih hidup.


Bahkan lebih dari itu, Kafeel bisa kembali berdekatan dengan dia gerangan, meski yang bersangkutan sedang dalam keadaan koma. Namun segitu saja, Kafeel sudah penuh syukur sekali rasanya.


Semakin bersyukur, ketika gadis remaja tercintanya itu tersadar dari koma. Membuncahnya rasa di dalam hati Kafeel, seiring sujud syukur kepada Tuhannya yang langsung ia lakukan. Lalu asa dan tekad untuk merajut kembali apa yang pernah putus dengan Val, pun mulai tumbuh dengan suburnya kembali di hati Kafeel.


Toh alasan mengapa dia sampai tega menyakiti hati Val dengan dalamnya, telah keluarga Val ketahui dengan sendirinya—sebelum Kafeel ditanya secara langsung oleh keluarga Val mengenai fakta alasan Kafeel sanggup menyakiti hati Val sampai sebegitunya.


Bahkan setelah melewati segala sikap dan ucapan ketus dari beberapa anggota keluarga Val sejak Kafeel sudah diperbolehkan berdekatan dengan Val yang koma dan dirawat intensif dalam sebuah pulau, yang mana tak berlangsung lama.


Karena sekarang, sikap keluarga Val yang pernah sangat ketus padanya itu telah kembali seperti semula. Telah merangkulnya sebagai keluarga—seperti dulu lagi. Tentu, Kafeel bahagia karenanya.


Hanya tinggal sedikit lagi saja, lalu kebahagiaannya akan Kafeel rasa sempurna—yakni, menghampiri Val yang telah tersadar dari komanya itu—kemudian menceritakan segalanya pada Val, tentang alasan mengapa Kafeel tega menyakiti hatinya.


Pasti!—dengan yakin Kafeel merasa, jika Val percaya pada ceritanya—dan toh memang cerita itu benar adanya, Kafeel dalam kondisi yang katakanlah terpaksa harus memutuskan jalinan cinta mereka yang sebentar lagi saja akan berujung di pelaminan.


Meski agak was-was, sekalipun Val masih mencintainya—apa Val mau menerima Kafeel yang statusnya sekarang adalah duda?


Tapi Kafeel kebelakangkan pemikiran satu itu, karena Kafeel sedang bahagia dengan harap yang meninggi jika dia dan Val akan bersama lagi.


Cium bibir Val juga yang menjadi candunya Kafeel—itu pasti. Tidak perlu direncanakan, karena pastilah Kafeel akan mencuri-curi kesempatan saat ia dan Val telah kembali sering berdekatan setelah merajut kembali jalinan cinta mereka, macam Mika dan Arya.


Pada akhirnya, takdir baik berpihak padanya juga—pikir Kafeel dengan bahagia.


🔸🔸🔸


Namun sayang, sekali lagi Kafeel merasa jika takdir sedang mempermainkannya.


Entah apa rencana Tuhan padanya, Kafeel yang sudah memiliki harapan yang meletup untuk bisa meraih bahagia bersama Val—dibuat lagi merasa terpuruk denga kepahitan.


Iya, Kafeel dapat melihat Val lagi yang ia kira telah tiada. Bisa berdekatan, memegang tangan—menciuminya. Bahkan mengecup ringan setiap bagian wajah Val. Namun itu saat Val masih jauh dari kesadarannya.


Dan setelah Val membuka mata, kiranya Kafeel telah tinggi berangan-angan--semua itu dapat dia lakukan lagi, dengan senyuman Val dan kemanjaannya juga setelah ia melihat Kafeel.


Namun sayang seribu sayang, semua itu hanya berupa angan-angan Kafeel semata.


Karena jangankan bisa memegang tangan atau mengecupi Val, atau bahkan memeluk dan benar-benar berciuman dengan Val.


Hal yang tidak akan mungkin Kafeel rasakan dalam waktu dekat—pikirnya, karena Val yang telah terbangun dari komanya itu—tidak mengingat siapa Kafeel.


Parahnya, Val memandanginya dimana Kafeel yakin, jika bagi Val—dia adalah orang asing, dan orang asing—akan diberikan sikap antipati oleh Val.


Kafeel pun merasa, takdir begitu mempermainkan dirinya. Sial sekali dirinya—Kafeel merasa, selain bertanya-tanya—dosanya yang mana yang harus ia tebus dengan cara seperti ini?

__ADS_1


🔸🔸🔸


Tapi ya sudah, daripada Tuhan semakin tidak berbaik hati padanya—lebih baik Kafeel menegarkan diri dan membuat hatinya ikhlas menerima ketentuan yang terjadi.


Yang jelas, cintanya pada Val sudah Kafeel kunci dalam hati, sambil menunggu bagaimana didepannya nanti hidupnya akan berjalan. Terlebih, bagaimana nanti nasib cintanya pada Val.


Karena dalam beberapa hari pasca Val terbangun dari koma, sesuatu yang menguntungkan bagi Kafeel belum juga terjadi, bahkan jauh dari genggaman.


Val yang antipati padanya, membuat Kafeel memutuskan agar jangan lagi memaksakan diri untuk cepat-cepat mengatakan pada Val soal dirinya. Itupun, atas pertimbangan Kafeel pada kondisi Val sekarang.


“Alih-alih mengenalkanku pada Val, Dad. Sepertinya kalian fokus saja dulu membuat Val menerima keadaannya saat ini.. Jadi lebih baik aku menjauh saja dari Val dulu..”


Begitu yang Kafeel katakan di hadapan satu Daddy-nya Val.


Lalu perkataan lain juga Kafeel sampaikan di hadapan dua Daddy Val yang lain, menanggapi satu pertanyaan yang tercetus dari satu Daddy.


“Kau sudah bertemu Val?”


“Belum Dad,” jawab Kafeel. “Nanti saja, kalau Val sudah menerima dirinya yang sekarang..”


Yang mana diharapkan, jika Val dapat menerima keadaan dirinya yang sedang terjebak dalam memori empat belas tahunnya itu—setelah diceritakan kenyataan usianya yang sekarang, berikut foto-foto sebagai dukungan pembuktian.


Membuat Kafeel membangun lagi harapannya walau kecil saja, Val akan menerima dengan cepat kondisi dirinya sekarang—lalu Kafeel akan mencoba masuk.


🔸🔸🔸


Namun sayang, sekali lagi sayang bagi Kafeel yang tak harus menelan pahit kembali—karena Val nampak belum dapat menerima kenyataan dalam dua hari setelah ia diberitahukan masa dimana dia berada sekarang.


“Dads, Va, Than, Gappa, Ake, aku ingin bicara..”


Kafeel yang angkat suara, ketika dua hari berlalu—dan tak ada tanda-tanda dia dapat masuk untuk mengatakan pada Val siapa dirinya, atas dasar Val yang Kafeel lihat masih nampak sulit menerima keadaannya sekarang, pun masih sering terlihat linglung.


Dan mereka yang Kafeel ajak bicara itu, kemudian duduk bersama. Yang mana setelahnya, Kafeel katakan apa yang menjadi rencananya, setelah semalaman Kafeel memikirkan soal keputusan yang pada akhirnya dia ambil.


“Besok aku akan pergi dari sini..” ucap Kafeel pada semua yang sedang bersamanya itu, dimana kesemuanya menampakkan ekspresi keterkejutan.


Berikut pertanyaan, semacam -- ‘kenapa?’ – ‘apa lo sudah menyerah?’


Yang Kafeel jawab dengan sergahan, lalu Kafeel katakan alasannya.


“Val butuh ruang. Begitu juga kalian, untuk membuatnya menerima dirinya sekarang. Bahkan membuat ingatannya kembali.”


“Dan rasanya, untuk hal itu.. sebaiknya aku menyingkir saja dari sini terlebih dahulu. Jadi fokus kalian tidak akan terbagi antara membuat Val menerima kondisinya bahkan sampai ia lepas dari amnesianya sekarang, dengan kalian yang ingin mengatakan siapa diriku padanya..”


Seperti itu kurang lebihnya yang Kafeel katakan dihadapan mereka yang sedang Kafeel ajak bicara itu, walaupun sergahan tercetus dari kesemuanya.


Namun Kafeel sudah membulatkan tekad, untuk menjaga jaraknya dengan Val untuk sementara waktu—walau entah sampai kapan.


Yang pasti, Kafeel akan menunggu.


Tanpa batas waktu.


🔸🔸🔸🔸🔸🔸

__ADS_1


To be continue..


__ADS_2