HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
NOT SOMEONE’s DREAM


__ADS_3

( Bukan Mimpi Seseorang )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Safe House of The Adjieran Smith’s Great Mansion, London, England,


“TAKE THE AED AGAIN AND WAKING UP MY DAUGHTER (AMBIL AED NYA LAGI DAN BANGUNKAN PUTRIKU)!”


Seorang ayah yang tak terima jika putrinya dinyatakan meninggal itu menatap nyalang orang yang ia cengkram kerah kemejanya dengan kuat.


Adalah Dad R, sang ayah yang tak terima jika Val telah dinyatakan meninggal oleh seorang pria yang berprofesi sebagai Dokter dan merupakan kawan lamanya serta Poppa.


“R,”


Poppa yang maju ke dekat Dad R sambil menyentuh bahunya untuk menenangkan, padahal Poppa sendiri sama hancurnya seperti Dad R dan Papa Lucca.


“Her bone can crushed if I use again the AED (Tulangnya dapat hancur, jika aku menggunakan lagi AED nya)...”


Dokter Mario berucap lirih, disaat Papa Lucca melepaskan cengkraman tangan Dad R dari kerah kemeja pria itu. Yang mana ucapan Dokter Mario itu memanglah Dad R pahami.


Namun atas nama perasaan sedih yang tak terkira, demi untuk melihat mata Val terbuka dan mengoceh padanya, Dad R kehilangan kendali.


“I’m sorry... But there’s nothing we can do to bring her back anymore (Aku mohon maaf... Tapi tidak ada yang dapat lagi kita lakukan untuk membawanya kembali)“


Satu kalimat yang begitu mengerikan terdengar di telinga Dad R, Dokter Mario katakan dengan menggeleng lemah dan wajahnya yang ikut serta berduka.


Di detik dimana Dad R jatuh di atas kedua kakinya, lalu meluruh parah. Meratapi kenyataan yang teramat pahit yang harus ia terima. Putrinya telah pergi untuk selamanya.


Tak hanya tangisan Dad R yang terdengar. Namun tangisan dari semua orang yang ada, telah menyelimuti satu ruangan itu sekarang atas kenyataan yang begitu terasa memulaskan hati, membebat jantung.


🍂🍂🍂


Lirihan, kemudian menyusul membujuk Val untuk membuka matanya.


“Val cantiknya semua o-raang... bangun sa-yaang... Ya Allah---V-aalll...”


Mommy Ara, yang paling terlihat terguncang disaat yang lain menangis pedih dan terisak parah ditempatnya.


Mommy Ara merengkuh kedua lengan Val yang kemudian ia goyangkan, sebelum akhirnya Mommy Ara jatuh kepada ketidaksadaran. Dan seruan panik terdengar kembali setelah Gamma dan Oma Anye tumbang lebih dulu ketika Dokter Mario mengucapkan waktu kematian Val.


Dad R langsung menggendong tubuh Mommy Ara yang jatuh tak sadarkan diri itu, ke dalam sebuah kamar yang memang tersedia di dalam safe house mereka itu. Lalu menitipkan Mommy Ara pada Momma yang mengekorinya dengan berderai air mata.


Setelahnya, Dad R kembali lagi ke tempat Val yang masih belum ayah kandung Val itu relakan untuk dinyatakan telah pergi untuk selamanya, walau kaki Dad R terasa berat untuk ia langkahkan menjauh dari sang istri yang amat terguncang, namun dirinya pun ingin berada di samping Val.


Otak Dad R yang kacau itu berpikir, mungkin Val memiliki kemampuan seperti Drea yang mampu menahan nafasnya lebih dari orang normal.


Dan putri kandungnya itu sedang bermain-main demi untuk memastikan seberapa besar dirinya dan semua keluarga menyayanginya kalau Val bermain  peran mati seperti ini.


‘Akan aku hukum untuk tetap tinggal di dalam rumah nanti, biar si cerewet itu tahu rasa karena sudah mempermainkan kami seperti ini!...’


Dad R meracau ngaco dalam hatinya, sambil melangkah menuju tempat Val dibaringkan tadi.


“Don’t you ever dare (Jangan berani-berani), Mario.”


Ada Poppa yang menatap tajam kepada Dokter Mario, ketika pria itu hendak menarik seprai putih brankar untuk menutupi tubuh Val secara keseluruhan, saat Dad R sampai di ruangan tempat Val berada.


Sadar jika Poppa pun sama kacau seperti Dad R, Dokter Mario mengurungkan niatnya untuk menutup tubuh Val yang terbaring di atas brankar dengan kain putih yang tersambung dengan brankar tersebut.


“And you all ( Dan kalian semua )!...”


Lalu suara Papa Lucca terdengar seperti menghardik dengan wajahnya yang juga sudah basah karena air mata.


“Don’t you see Val still using a wet clothes ( Tidakkah kalian melihat jika Val masih menggunakan pakaian yang basah )?!...” seru Papa Lucca yang selalunya ia lakukan jika ada yang maid lalai dalam tugasnya, terutama jika ada anak mereka yang terluka karena terjatuh atau semacamnya.


🍂🍂🍂


Tiga Dads bergeming di tempat mereka, memandangi satu kesayangan yang benar-benar tidak lagi menunjukkan pergerakan.


Menggigit bibir, mengusap sayang rambut yang basah menutupi keningnya tadi.


Memegangi tangan yang dingin sekali akibat cukup lama berada di dalam air.


Setelah dua orang maid yang merupakan kepala maid, bergegas untuk melakukan apa yang tadi Papa Lucca serukan.


“Kenapaa, anak Daddy begitu bo-doh seperti ini, haa??...”


Dad R kemudian merunduk dan menangkup wajah Val dengan air matanya yang kembali berderai.


“Jika Kau Memang Masih Menginginkannya Seharusnya Kau Katakan Padakuu!!! Akan Aku Seret Kafeel Adiwangsa Kehadapanmu Dan Akan Aku Langsung Nikahkan Kalian Tanpa Ragu! Tidak Peduli Kau Akan Menjadi Istri Keduanya Sekalipun! Kalau Perlu Akan Aku Habisi Istri Berikut Calon Anaknya Terlebih Dahulu!...”


Dad R meracau parah seolah sedang memarahi Val dengan hebatnya.


Dad R bahkan sampai mengguncang wajah Val yang sudah terkulai lemas adanya, hingga Poppa sampai menegurnya. Pelan saja suara Poppa, hampir tak terdengar dengan menyentuh bahu Dad R.


Baru Dad R tak lagi membentak Val.


Namun berganti jadi lirihan dengan ratapan yang terdengar mengiris hati.


"Tapi sekarang... Tolonglah... Bu-ka, matamu dulu... Bangun, Baby... Bangun... Dan merengeklah padaku... Ba-ngun Vaal... Sa-yang... BANGUUNN!!!!!... Wake up, Baby... Dad mo-hoon... Bangun, sayang... Dad janji... semua permintaanmu akan Dad kabulkaan... V-aalll...”


Yang Papa Lucca dan Poppa rengkuh pundak Dad R, menyalurkan rasa jika mereka merasakan pedih yang sama seperti Dad R yang terlihat begitu hancur itu. Sudah sangat lama sekali, dari Dad R yang pernah terlihat hancur dalam hidupnya.

__ADS_1


Yang pertama ketika ibunda tercintanya meninggal dunia, yang kedua adalah saat Momma dinyatakan telah juga pergi untuk selamanya. Dimana dua hal itu, terjadi sekitar puluhan tahun yang lalu.


Dan setelah selama itu, Dad R selalu terlihat gagah adanya.


Tapi jauh berbeda dengan sekarang.


Begitu hancurnya Dad R lebih dari sebelumnya, sungguh jelas terlihat.


Yang mana hal itu, Poppa yang memahaminya dengan sangat.


Karena Poppa pernah mengalaminya saat Momma juga pernah dinyatakan telah pergi untuk selamanya setelah mengalami kecelakaan parah saat hamil Drea.


Namun mukjizat Poppa dapat.


Momma hanya mati suri, katakanlah begitu.


Dan Poppa berharap, sekali lagi mukjizat Tuhan berikan pada mereka.


Agar kengerian ini segera berakhir, agar sesak dan sakit dalam dada pergi dengan cepat.


Val hanya sebentar saja ‘pergi’.


🍂🍂🍂


Di bagian lain London,


“Tuan, Nyonya..” ucap seorang pria yang penampilannya kasual, namun jelas terlihat jika profesinya adalah seorang pengawal pribadi. “Kita sudah sampai..” ucap pria itu lagi, kepada 4 orang yang mempekerjakannya. Dimana 4 orang itu nampak termangu di tempat mereka dengan wajah yang begitu sembab setelah kabar duka mereka dengar beberapa jam yang lalu.


Adalah Drea, Varen, Nathan dan Via ke 4 orang yang sedang sangat bersedih hati itu. Setelah menangis dan terisak hebat ketika mendengar berita yang membebat hati mereka dengan sangat, Varen dan Nathan yang duduk terpisah bersama masing-masing istri mereka, merengkuh erat tubuh Drea dan Via yang masih terus terisak.


Namun Varen dan Nathan bungkam seribu bahasa, dengan pandangan mereka yang nampak kosong.


Kedua anak mereka masing-masing, sengaja ditahan oleh para baby sitter penjaga dua pewaris paling junior itu di dalam sebuah kamar dalam jet pribadi Varen dan Drea.


Karena kiranya dua pasang orang tua yang tadi mereka dengar menangis dengan hebatnya serta juga histeris, butuh waktu dan ruang karena perasaan yang pastinya sangat bersedih.


“V-al, dimana, Ky?..”


Nathan yang angkat suara bertanya pada bodyguard yang barusan bicara padanya dan 3 orang yang sedang bersamanya itu.


“Dari informasi yang saya dapatkan dari Dave, Nona Muda Valera masih berada di safe house dari sejak percobaan untuk menolongnya dilakukan, Tuan Jo---“


🍂🍂🍂


The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, England,


Safe house,


“Kakak Jo---“


Nathan berteriak histeris, disaat Melly, anak Uncle Ezra dan Aunt Seraphine yang menyadari kehadiran Nathan dan tiga lainnya yang tiba-tiba muncul di safe house itu menyebut namanya.


Melly tak lama tiba ketika ia hendak menyambangi empat orang kerabat kental yang seumuran dengannya sebelum ia berangkat kuliah, namun berita yang didengarnya saat sampai membuat Melly sama histerisnya dengan satu kerabatnya dan orang tua yang sedang dirundung duka itu.


Dan kini orang tua Melly telah juga tiba atas informasi darinya tentang apa yang terjadi di mansion kerabat kental mereka itu. Lalu disusul oleh Uncle Nino dan keluarganya yang kemudian langsung datang ke mansion The Adjieran Smith yang berada di London itu, setelah diberitahukan oleh salah seorang bodyguard tentang sebuah berita duka dalam keluarga tersebut. Karena selain Uncle Ezra dan keluarganya, Uncle Nino berikut keluarga adalah yang paling dekat dan sering menghabiskan waktu dengan personel The Adjieran Smith yang tinggal di London.


“ALLAAHH, VAALL!!..”


Teriakan histeris Nathan terdengar, seiring dirinya mendekati Val yang masih terbaring tenang di atas brankar----dengan cepat.


Diikuti dengan Drea dan Via yang juga berlari mendekati Val.


Sementara Varen nampak berat melangkah untuk mendekat ke tempat Val dibaringkan.


Dimana wajah keterkejutan terlihat dari tiga Dads yang masih setia dalam ruangan tempat Val berada, melihat kedatangan 4 anak mereka secara tiba-tiba. Yang sebelumnya tidak ada pemberitahuan jika ke 4 nya akan datang ke London.


🍂🍂🍂


Namun begitu, tidak ada pertanyaan yang terlontar untuk menanyakan kenapa tahu-tahu empat orang anggota keluarga mereka itu sudah muncul di safe house. Yang ada, air mata luruh lagi saat melihat Nathan, Drea dan Via menangisi Val lalu dibuat kembali merasakan pedih di hati, ketika Varen dengan nampak berat hati dan memandang nanar mendekati Val.


“A-pa... Kalian sudah memeriksanya dengan benar?...” gugu Varen sambil memandangi tiga Dad-nya yang berdiri bersandar pada sesuatu dengan wajah yang sembab dan mata yang memerah basah, setelah bergeser sedikit ketika Nathan, Drea dan Via menghampiri Val dengan tergesa.


Tapi pertanyaan Varen tidak ada yang menjawabnya. Tiga Dad membuang muka menahan air mata, dimana 2 diantaranya kini sedang memeluk Drea dan Via yang terisak hebat.


“Kamu, hanya sedang mengerjai kami, kan, Val?...”


Tak mendapat jawaban, pun tak menunggu atau memaksa pertanyaannya tadi di jawab oleh sesiapun yang ada di dalam ruangan yang sama dengannya sekarang, Varen telah mendekati Val yang di sisi sebrang Varen pada brankar Val, ada Nathan yang merunduk lemah dengan kepala yang tertunduk lunglai dan terisak.


“Val... Maafkan Abang, jika Abang ada salah pada Val. Bangun, sayang. Abang sudah rembukan dengan Kak Drea... Kalau Val maunya Abang sama Kak Drea dan Putra tinggal di sini... Abang, bersedia... Tapi, Val harus memintanya langsung pada Abang. Abang ga akan jawab ‘Abang pikirkan dulu’... Abang janji akan langsung Abang iyakan...”


Terguncang, Varen mengajak Val bicara.


Seperti halnya Dad R, Varen seolah tak bisa menerima kenyataan tentang Val yang dinyatakan telah meninggal dunia.


Val masih layaknya seperti Val yang sedang tertidur, walau pucat wajahnya.


Tapi tubuhnya masih hangat, tidak mendingin layaknya mayat.


Jadi Varen katakan dalam hatinya yang sulit menerima kenyataan yang sesungguhnya itu, ‘Val, hanya sedang kurang sehat.’


Varen belai kepala dan surai Val dengan penuh perasaan, pun Varen genggam tangan adik kandungnya itu dengan penuh kelembutan.


Senyum Varen nampak walau tipis, namun hatinya ia rasa begitu pedih.


“Bangun dong... Val... Nanti Abang akan tunjukkan pada Val pulau rahasianya Abang sama Kak Drea. Kita ke sana sama-sama?---- Yuk, bangun, adik Abang... Nanti kalau Val peluk Abang, Abang tunggu, Val-yang melepaskan duluan... Janji sepenuh hati, Abang ga akan lepaskan kalau Val belum melepaskan pelukan Val pada Abang... Bangun, Val... Ayo Abang gendong belakang?... Abang gendong sampai Val bosan... Buka yuk, matanya, Val?...”

__ADS_1


Yang bujukan Varen, ia mulai sadari percuma. Tangan Val yang di genggam pergelangannya memang tidak Varen rasa denyutannya.


“Ayo, cepat ah!...” Namun masih seolah menolak kenyataan, hingga Varen menjadi sedikit ‘kacau’.


“Abang!...”


Seruan itu terdengar, karena Varen mengangkat setengah tubuh Val yang sangat lunglai itu.


“Ini mumpung Abang sedang mau menggendong Val... Ayo... V-all...” Tapi yang berseru itu akhirnya kembali membuang muka, melihat dukanya Varen saat ini. “Val, mau membantah Abang?...” ucap Varen lagi dengan terlihat nampak tegar dan normal.


Namun kemudian suara Varen mulai bergetar.


“V-al, ga sayang A-bang?...”


Lalu runtuh pertahan seorang Alvarend kemudian.


“Karena Abang...” karena suara Varen terdengar mulai tersendat. “Sa-yaang, Val...”


Dan tangis Varen pecah dengan begitu memilukan di detik berikutnya, dengan dirinya memeluk tubuh Val sambil ia kecupi pucuk kepalanya.


🍂🍂🍂


“Daddy, bisa tidak buatkan taman tulip merah di halaman tempat semua balkon kamar menghadap?”


“Itu saja permintaanmu?---“


“Iya, itu saja, Dad. Soalnya di green house kan sudah ada bunga-bunga kesukaannya Gamma, Oma dan The Moms. Jadi Val dibuatkan saja itu di tempat yang tadi Val katakan. Bisa kan ya, Mom? Jika tulip merah di tanam di sini?”


“Bisa saja, kok. Nanti dikondisikan.”


“Yeay! Val, Sa-yang, Dad R!... Val, Sa-yang, Mom Peri!”


“Kenapa memandangi kami seperti itu?”


“Tidak apa-apa. Hanya Val rasanya akan merindukan wajah kakak ganteng dan ibu peri.”


“Kamu hanya tinggal mendatangi kami saat kamu merindukan kami, hanya tinggal mengetuk pintu kamar ini.”


“Sayangnya Mom Peri, Sayangnya Dad R, sayangnya semua orang di sini, Mommy tungguin loh, Val ketuk pintu kamar Mommy dan Daddy...”


Ada Mommy Ara yang bicara, setelah ingatannya memutar ke satu momen yang terputar di kepalanya itu. Ada Dad R bersamanya, membelai kepala Mommy Ara yang kemudian Dad R rengkuh tubuhnya.


Sama seperti Mommy Ara yang selalu nampak murung, Dad R pun sama kondisinya dengan Mommy Ara yang setiap harinya menahan pilu serta menunggu.


Menunggu pintu kamar mereka diketuk oleh dia yang menjadi pusat pilu dan sembilu, lalu kemudian menyembulkan kepalanya dan memaksa untuk tidur di kamar Mommy Ara dan Dad R.


Namun banyak hari dua orang tua itu menunggu, pintu kamar Mommy Ara dan Dad R itu belum juga diketuk oleh dia yang selalu ditunggu untuk mengetuk pintu itu----lalu menyelusup diruang atas tempat tidur diantara Mommy Ara dan Dad R.


“Aku merasa bodoh sebagai seorang ibu, Hon—“


“Jangan bicara seperti itu, sayangku Kyara...”


Dad R menukas ucapan Mommy Ara dan mengeratkan pelukannya.


“Jika aku peka... malam itu... aku tidak akan membiarkannya pindah dari kamar kita, ya, Hon?...”


Mommy Ara melirih.


Dad R hanya mengangguk kecil saja. Lalu ia menghela nafasnya panjang dan berat.


‘Oh, Val, Baby, betapa Mom dan Dad rindu sekali mendengar suaramu dan melihat tawa menyebalkanmu itu.’


Dad R berbisik lirih dalam hatinya. Berharap semua yang telah dan masih terjadi, adalah sebuah mimpi.


Tapi kenapa sampai dua bulan berlalu, mimpi itu tidak pergi-pergi?...


Dan rasa kacau di dalam hati, juga setia menghantui.


Kacau atas Val yang gagal dalam hubungan percintaannya, lalu memberikan perasaan yang kian kacau atas keputusannya meminum cairan berbahaya milik Ann dan menenggelamkan tubuhnya dalam bathtub.


Sekarang pun ditambah lagi kekacuan hati, oleh satu hal yang berkenaan dengan Val atas kandasnya satu hubungan yang sengaja dikandaskan.


🍂🍂🍂


“Apa ini, May?...”


“Aku tidak ingin menikah. Itu saja.”


“Kau tidak perlu berkorban sampai sejauh ini, May—“


“Aku tidak berkorban, Dad. Aku hanya menjalankan kewajiban.”


“Omong kosong, May!”


“Terserah Dad R ingin bilang apa, aku tetap pada keputusanku.”


“Aku akan menghubungi Arya dan bicara padanya tentang semua yang kau lakukan ini, May—“


“Silahkan saja Dad lakukan itu, tapi aku pastikan aku akan mengikuti jejak Val...”


'Tuhan bangunkan aku, mimpi buruk ini terlalu menyiksaku--'


🍂🍂🍂 🍂🍂🍂


To be continue..

__ADS_1


__ADS_2