HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
KALA ITU


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami terlupa atau kami tersalah. Dan janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.”


♦♦♦♦


Kala itu..


A Safe House---The Great Mansion of The Adjieran Smith, London, Inggris,


“Kakak Jo..“ Sebuah suara terdengar ketika yang bersangkutan telah berada di dalam safe house yang letaknya di bawah tanah The Great Mansion of The Adjieran Smith London.


“VAALL!”


Dan suara teriakan sebuah kesedihan langsung saja terdengar di dalam satu ruangan dalam safe house, ketika yang barusan disebut panggilannya masuk dan melihat pemandangan mengiris hati di atas sebuah brankar.


Adalah Nathan yang berteriak histeris ketika seseorang yang Nathan teriakan namanya itu nampak bergeming tenang di atas brankar. Dan bersama Drea serta Via yang sama histerisnya dengan Nathan, ketiga orang itu mendekati brankar.


“ALLAAHH, VAALL!!..” Nathan kembali histeris ketika ia sudah berada di dekat brankar tempat Val dibaringkan. Memanggil nama salah satu adik angkatnya itu dengan melirih, begitu juga dengan Drea dan Via.


Tapi Val, tetap bergeming.


“A-pa... Kalian sudah memeriksanya dengan benar?...”


Varen bertanya, dengan suara yang pelan tercekat.


“Kamu, hanya sedang mengerjai kami, kan, Val?...”


Varen yang tidak mendapat jawaban dari siapapun yang ada di ruangan yang sudah ia masuki itu, pun tak menunggu atau memaksa pertanyaannya tadi di jawab oleh sesiapun yang ada di dalam ruangan yang sama dengannya sekarang---Varen telah mendekati Val yang ada di atas brankar.


“Val... Maafkan Abang, jika Abang ada salah pada Val. Bangun, sayang. Abang sudah rembukan dengan Kak Drea... Kalau Val maunya Abang sama Kak Drea dan Putra tinggal di sini... Abang, bersedia... Tapi, Val harus memintanya langsung pada Abang. Abang ga akan jawab ‘Abang pikirkan dulu’... Abang janji akan langsung Abang iyakan...”


Terguncang, Varen mengajak Val bicara dengan wajahnya yang nampak sendu serta mata yang berkaca-kaca.


Varen belai kepala dan surai Val dengan penuh perasaan, pun Varen genggam tangan adik kandungnya itu dengan penuh kelembutan.


Senyum Varen nampak, walau tipis. Namun Varen merasakan hatinya begitu pedih.


“Bangun dong... Val... Nanti Abang akan tunjukkan pada Val pulau rahasianya Abang sama Kak Drea. Kita ke sana sama-sama?----Yuk, bangun, adik Abang... Nanti kalau Val peluk Abang, Abang tunggu, Val-yang melepaskan duluan... Janji sepenuh hati, Abang ga akan lepaskan kalau Val belum melepaskan pelukan Val pada Abang... Bangun, Val... Ayo Abang gendong belakang?... Abang gendong sampai Val bosan... Buka yuk, matanya, Val?...” Varen meracau.


Meski tangan Val yang ia genggam itu tidak Varen rasakan denyutan nadinya.


“Ayo, cepat ah!...”


Namun masih seolah menolak kenyataan, hingga Varen menjadi sedikit ‘kacau’.


Iya, Varen begitu kacau.


Karena tubuh Val yang ia tahu sudah tak bernyawa itu Varen angkat dengan tiba-tiba, dan bicara seolah Val itu hanya sedang mager untuk bergerak.


“Ini mumpung Abang sedang mau menggendong Val... Ayo... V-all...”


Semua orang berseru ketika Varen seolah sedang berusaha membangunkan Val yang keenakan tidur.


Namun setelah lagi Varen berkata, pehaman pada diri masing-masing yang melihat sikap Varen itu muncul.


Varen terguncang.


Sangat.


“V-al, ga sayang A-bang?...  Karena Abang... Sa-yaang, Val...”


Runtuh kemudian pertahanan Varen yang berusaha tegar, namun lebih kepada menolak sebuah kenyataan.


Tangisan pilu kemudian terdengar dari Varen. Melirih, tersedu sedan. “Adik Abang, ke-napa selemah ini?...“ lalu Varen memeluk erat tubuh Val setelah ia kecupi pucuk kepalanya itu. Dan didetik berikutnya tangisan Varen kian pecah dengan begitu memilukan.


-----


“ANN!”


Suara Rery terdengar kencang dari satu ruangan berbeda dari tempat Val berada.


Membuat semua orang yang berada di safe house menjadi terkejut dan spontan bangkit dari duduk mereka dan melesat ke sumber suara.


“IT’S ALL MY FAULT RERY!—“

__ADS_1


“Bukaan, Ann... Yang terjadi pada Val—“


“Hey, Baby...”


Daddy R yang sampai duluan ke sumber suara langsung meraih Ann yang saat dia datang sedang dipegangi oleh Rery yang nampak khawatir wajahnya, selain sembab.


“Salahku, Daddyy... Salahku hingga Val sampai seperti ini...”


Ann melirih dan meluruh dengan wajahnya yang sudah amat basah.


“No, Baby, ini bukan kesalahanmu—“


“SALAHKU DADDY! SALAHKUU!—“


“Hey, Ann...”


Papa Lucca mendekati putrinya yang sedang dipeluk Daddy R.


“Seandainya saja... hari itu, aku----tidak mengatakan, pada Val... tentang penelitian laknatku—“


“Hey, Baby. Look at me...”


Daddy R menangkup wajah Ann.


“Bukan salah kamu, Sayang. Bukan...”


“Tapi Dad-dyy—“


“Sudah ya, sudah?”


Daddy R menenangkan Ann.


“Tenangkan diri kamu, Baby. Jangan membuatku merasa lebih bersalah denganmu yang seperti ini—“


“I’m so-sorry Daddy----“


“Sshh...”


“Ini—“


“Ann...”


“ANN!”


Semua yang menyusul ke tempat Rery berada berseru dengan serempak ketika Ann menggeser kasar semua barang yang ada di atas satu kabinet dalam ruangan yang digunakan olehnya sebagai sebuah laboratorium.


Membuat Papa Lucca melesat cepat meraih anak kandungnya itu yang langsung ia peluk dengan erat.


“I’m so bad, right (Aku sangat jahat, kan), Papaa. Val meninggal karena akuuuu—“


“No, Baby No...” tukas Dad R pada Ann yang sedang dipeluk Papa Lucca.


Sementara lainnya menatap Ann yang kacau itu dengan miris yang kemudian meracau dalam lirihan di pelukan Papa Lucca. “Jika... ada cara, untuk menukar nyawa Val dengan nyawaku... Aku mau, Dad-dyy...”


Oh Ann, membuat Dad R dan Poppa serta dua kakak lelaki tertua dan satu saudaranya kemudian memeluknya secara bersamaan.


Lalu dengan bergantian, Ann ditenangkan hingga dapat dibujuk untuk pergi ke kamarnya bersama Mika dan Rery serta tiga anak dari dua orang kepercayaan Dad R dan Poppa.


Sementara Mama Fabi dan Momma sedang menemani Mommy Ara dan Oma Anye yang masih sangat syok. Drea dan Via masih di ruangan di mana Val berada, karena setelah mendengar teriakan Rery dan Drea serta Via hendak juga menyambangi, Varen dan Nathan sama meminta agar keduanya tetap bersama Val saja. Drea dan Via pun mengikuti saran suami mereka itu.


Menanyakan ada apa ketika para pria telah kembali ke dekat mereka, Drea dan Via langsung merengkuh Papa Lucca.


“Papa temani Ann saja.” Via yang berucap. “Poppa dan Dad R juga... kalian beristirahat saja. Biar aku, Drea, Abang dan Jo yang bersama Val di sini—“


“Thank you, Sweety—“


“Via benar.” tukas Varen. “Kalian istirahatkanlah diri kalian sejenak. Biar kami yang disini.”


Berucap dengan suaranya yang parau. Lalu memandang ke arah di mana Val berbaring dengan tenang.


“Sambil aku, Drea, Nathan dan Via mengatur semua untuk... pemakaman—“


“Jangan terlalu terburu-buru...” tukas Poppa. “Jangan seolah-olah kita ingin lekas mengusirnya dari sini—“


“Pop—“


“Aku masih...”

__ADS_1


Poppa menggigit bibirnya, menjeda ucapannya akibat tenggorokannya ia rasa begitu tercekat.


“Aku masih ingin memandangi wajah satu putriku ini...”


Lalu menargetkan salah satu bagian dinding ruangan sebagai tempat pelampiasan sesal yang ada di dalam hatinya atas apa yang menimpa Val, yang Poppa hantam dengan kepalannya sangat kuat.


Walau Val bukan putri kandungnya, tetapi bagi Poppa, Val sama macam Drea.


Begitu juga empat putrinya yang lain, bahkan juga Via yang seorang menantu dalam keluarga.


Poppa menyayangi mereka dengan kadar yang sama. Sebagaimana orang tua lainnya menyayangi tiap-tiap anak dalam generasi para pewaris muda, tak kisah dia anak kandung siapa.


Jadi saat ini, sesak yang Dad R rasa.


Poppa juga sama merasakannya. Begitu juga Papa Lucca.


Rasanya tak rela... meski Val telah dinyatakan tutup usia----Poppa sebagaimana dua Dad lainnya, jika harus mengembalikan Val kepada Sang Pencipta.


Sungguh, membayangkan harus meletakkan Val di dalam tanah----rasanya Poppa, Dad R dan Papa Lucca tidak sanggup melihatnya. Jadi untuk sementara waktu, toh masih juga menunggu keluarga inti dari KUJ tiba----makanya diminta oleh tiga Dad itu, Val----dibiarkan dahulu ditempatnya itu.


-----


“Saya, turut berduka cita, Tuan. Nyonya...”


Salah satu orang penting dalam bagian The Adjieran Smith datang dengan wajah yang ikut berduka.


Dirinya yang berencana datang ke Great Mansion The Adjieran Smith untuk sekedar berkunjung, sungguh tidak menyangka juga jika akan mendengar berita yang memilukan ketika ia tiba di kediaman satu keluarga yang mempekerjakannya itu.


“Terima kasih, Celine,” Varen yang menjawab. Karena Varen dapat dikatakan adalah atasan langsung dari wanita yang bernama Celine itu.


-----


“Apa yang membawamu ke London, Cel?”


Dad R yang bertanya pada wanita yang bernama Celine itu, setelah sebelumnya Celine menyapa empat pria lain di dalam Safe House The Adjieran Smith tersebut.


Dimana dua orang diantaranya sudah sangat Celine kenal baik, dan yang dua lainnya baru Celine temui.


Yakni Chaisay Keit dan Dokter Mario yang kemudian diperkenalkan pada Celine.


“Hanya berbelanja sedikit kebutuhan untuk di Isola...” jawab Celine. “Lalu aku berpikir untuk mampir ke sini sebelum aku kembali ke sana...”


“Jika apa yang sedang kau kerjakan saat ini sudah selesai di Isola. Kau ambillah libur dulu, Cel...” tukas Varen. “Pergilah ke tempat-tempat yang ingin kau datangi.”


“Iya, Tuan,” jawab Celine. “Aku tidak ingin kemana-mana. Aku betah sekali kok di Isola,” tambahnya.


“Kalau kau ingin beristirahat, kau tahu kemana arahnya kan?...” Poppa yang bicara, dan Celine mengangguk mengiyakan.


“Maaf sebelumnya, apa saya boleh melihat Nona Muda Valera?” ijin Celine yang langsung diiyakan oleh tiga Dad Val dan lainnya yang ada di dalam satu ruangan tersebut.


“Alat-alat itu tidak dicabut kah, Dad?”


Via angkat suara untuk bertanya, ketika Celine mendekati Val. Karena maaf----Val kan sudah dinyatakan tutup usia, dan garis pada satu monitor pun lurus semua.


“Maaf Dad, bukan maksud Via lancang—“


“It’s okay, Sweety.”


Dad R menukas ucapan Via.


“Aku dan dua Dadmu yang melarang Mario mencopotnya tadi----kami masih sangat sulit menerimanya sebelum kalian tiba disini---mungkin saja, mesin itu rusak—““


“Maaf, Dad...” lirih Via.


Via merasa tak enak hati, karena Dad R yang kemudian nampak terluka lagi, meski pria itu terkekeh.


Namun mata Dad R memerah lagi. Hati Via pun ikutan merasa nyeri. “Maaf, Dad... Via—“


“It’s okay, Baby...”


Dad R merangkum wajah Via yang bersimpuh di hadapan dirinya yang sedang duduk itu.


“Terima kasih sudah mengingatkanku. Bahwa sekarang aku harus menerima kenyataan kalau Val, sudah harus dilepaskan----hatiku memang belum ikhlas... tapi mau bagaimana? Dia sudah tiada bukan?—“


“Nona Valera masih hidup.”


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2