HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
KEPASTIAN #1


__ADS_3

Hai-hai, terima kasih untuk kalean yang masih teteup setia baca.


Semoga selalu suka...


Mohon Supportnya juga untuk karya ini.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia


Di tepi sebuah pantai wisata....


“Perasaan Kak Kafeel yang sesungguhnya pada Val, seperti apa?...”


Itu Val yang bertanya pada Kafeel dengan menampakkan senyuman, namun keseriusan dari pertanyaannya cukup terbaca di wajah Val.


Dimana Val menginginkan jika saat ini Kafeel menjawab dengan jujur dan juga serius padanya. “Val ingin tahu, sangat ingin tahu....” ucap Val.


Kafeel tak langsung menjawab.


“Val serius bertanya pada Kak Kafeel sekarang,” sambung Val.


Namun sejak Val bertanya padanya, Kafeel sudah memfokuskan matanya pada Val.


“Kalau Kakak boleh tahu, kenapa Val tiba-tiba bicara serius seperti ini?....” kata Kafeel.


“Karena Val benar-benar mencintai Kak Kafeel.”


Val berucap.


Entah untuk yang keberapa kali Val menyampaikan hal itu pada Kafeel, namun kali ini Val mengatakannya dengan tanpa terlihat slengean, nampak benar-benar serius.


Terpancar dari sorot mata Val yang menatap Kafeel dengan teduh diselimuti kelembutan, namun juga, ada kecemasan didalam sorot mata Val yang sedang menatap Kafeel itu.


“Val tahu apa itu cinta?”


Kafeel bertanya, dengan matanya yang juga menatap Val penuh arti. Dimana tanpa menunggu lama, Val mengangguk atas tanggapan pada pertanyaan Kafeel padanya barusan.


“Cinta itu adalah emosi dari afeksi yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta juga dapat diartikan sebagai perasaan dalam diri seseorang akibat faktor pembentuknya. Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang....”


Val berucap dengan lugas, dan Kafeel mengulum senyuman, lalu tersenyum geli.


“Kakak seperti sedang kuliah dan mendengarkan dosen memberikan materi perkuliahan,” canda Kafeel..


“Hehe....”


Val cengengesan.


“Tapi benar kan jawaban Val?....”


Kafeel kembali mengulum senyuman.


“Yah, sebenarnya, kalau Kakak boleh jujur, Kakak sungguh tidak mengetahui definisi cinta secara harfiah....”


Lalu Kafeel berbicara.


“Kakak tidak pernah memikirkannya.” sambung Kafeel.


Kafeel menatap pada Val, dengan melipat bibirnya.


“Maaf....” ucap Kafeel dengan raut wajah menyesal.


Tapi Val tetap menampakkan senyuman. “Jadi Kak Kafeel tetap menganggap jika apa yang Val rasa pada Kak Kafeel ini, hanya main-main?....”


Kafeel tidak langsung menjawab pertanyaan Val. Kafeel menipiskan bibirnya.


“Jujur Val, Kakak tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Val yang barusan....”


Kafeel menjeda ucapannya, lalu memalingkan wajahnya sejenak dari Val.


“Sampai detik ini, Kakak memang tidak menganggap serius apa yang sering Val katakan pada Kakak.....”


“......”


“Maaf....”


Kafeel sejenak tertunduk seraya meminta maaf sekali lagi pada Val.


Val memperhatikan pria pujaan hatinya itu.


Ada rasa kecewa dalam hati Val sebenarnya, tapi Val tetap menarik sudut bibirnya.


Meski tipis saja.


“Tapi bukan Kakak tidak percaya akan cinta --”


Ucapan Kafeel terjeda, karena ada dua orang pelayan dengan membawakan dua gelas minuman dingin berbeda jenis. Juga membawa dua porsi snack pesanan Val dan Kafeel, berikut sebuah meja kecil yang tidak terlalu tinggi.


“Terima kasih.”


Val dan Kafeel sama-sama berucap pada kedua orang pelayan tersebut, setelah mereka menyajikan pesanan keduanya, diatas sebuah meja yang telah juga kedua pelayan itu bawakan untuk meletakkan makanan dan minuman pesanan Val dan Kafeel.


“Sama-sama, Kak.”


Kedua pelayan tersebut membalas ucapan terima kasih Val dan Kafeel.


Dan setelahnya, dua orang pelayan itu hengkang dari hadapan Val dan Kafeel, setelah menanyakan jika kedua pelanggan eksklusif restoran mereka hari ini tersebut memiliki pesanan tambahan atau tidak.


♥♥♥♥


“Jadi Kak Kafeel percaya akan adanya cinta? ...” Val bertanya setelah ia selesai menyedot setengah dari isi di gelas minumannya, dan kembali meletakkan gelasnya di meja yang tadi diletakkan oleh pelayan restoran.


Kafeel yang baru saja meletakkan gelas yang isinya telah ia sedot sedikit itu, mengangguk.


“Kakak percaya,” jawab Kafeel.


Kafeel menoleh dan memandang lagi pada Val.


“Kakak percaya jika cinta itu ada. Toh sudah Kakak lihat bukti atas perwujudan cinta itu....” ucap Kafeel. “Tidak usah jauh-jauh, Varen dan Andrea buktinya. Juga para Dad dan Mom kalian.”


Kemudian Kafeel memalingkan wajah dan tatapannya dari Val. Memandang pada laut yang terhampar berjarak dari tempatnya dan Val duduk.


“Hanya saja...”


Kafeel menggantungkan kalimatnya.


“Hhh...” Kafeel menghela nafasnya kemudian. “Entahlah Val, Kakak bingung menjelaskannya ..”


Kemudian Kafeel menoleh lagi pada Val.


“Tapi intinya Kak Kafeel tidak percaya kan dengan perasaan Val ke Kakak?”


Val menyambar untuk bicara.


“Kak Kafeel tidak percaya dengan Val yang sungguh-sungguh mencintai Kakak. Karena Kak Kafeel menganggap jika Val ini hanya gadis kecil yang naif atas apa yang namanya cinta.”


Kafeel menggelengkan kepalanya. “Bukan seperti itu Val. Hanya..”


Lagi, Kafeel menggantungkan kata-katanya.


“Hanya, apa ya?. Sulit kakak menjelaskannya pada Val.”


“Sulit, karena bagi Kak Kafeel, perasaan Val yang sering Val sampaikan dan tunjukkan itu seperti sebuah lelucon bagi Kak—“ tukas Val, tapi ucapannya terpotong.


“No!” sergah Kafeel dengan cepat. “Kakak ga pernah menganggap perasaan Val pada Kakak adalah sebuah lelucon.” Sambungnya.


“......”


“Yang membuat Kakak tidak percaya, justru, kenapa Val bisa merasa jika Val jatuh cinta pada Kakak?”


Kafeel berujar.


“Val, selalu memikirkan Kak Kafeel sejak pertama kali Val melihat kakak. Mungkin memang seperti lelucon jika ada seorang gadis yang mengatakan jika ia jatuh cinta pada seorang pria matang. Tapi memang itu yang sebenar-benarnya Val rasa, Kak ...”


“......”


“Val akan merasa senang dan gugup secara bersamaan bila bertemu dan berdekatan dengan Kak Kafeel. Ya seperti sekarang ini contohnya.”


Kafeel menarik sudut bibirnya dengan masih menatap pada Val, mendengar penuturan gadis belia didekatnya ini.


“Jantung Val akan mendadak berdebar, walau hanya berbicara saja dengan Kak Kafeel.”


Val kembali berujar.


“Padahal Val tidak memiliki riwayat sakit jantung..”


Kafeel spontan mendengus geli.

__ADS_1


“Menggemaskan sekali sih adiknya Alvarend!..”


Kafeel mencubit gemas satu pipi Val.


Val tersenyum. “Val sering terlihat menggemaskan buat Kak Kafeel ya?..”


“Selalu---“


“Tapi Val yang bagi Kak Kafeel selalu menggemaskan ini, nyatanya selama bertahun-tahun kita saling mengenal, hanya sampai sebatas itu ya? .. Hanya rasa gemas. Ga lebih. Ya, Kak?..”


Val menyampaikan opininya.


Senyuman manis Val, kini menjadi senyuman yang menampakkan kesenduan.


“Karena dimata Kak Kafeel, Val hanya seorang gadis kecil yang naif soal cinta—“


“Bukan seperti itu Val. Kakak ga berpikir seperti itu soal perasaan Val ke Kakak..” potong Kafeel.


Tangan Kafeel kembali menyentuh pucuk kepala Val. Memberikan belaian lembut disana.


“Tidak pernah sedikitpun Kakak meremehkan perasaan Val ke Kakak ... tidak sedikitpun Val ---“


“Tapi Kak Kafeel tidak pernah menanggapi perasaan Val dengan serius selama ini..” gantian Val yang memotong ucapan Kafeel.


“Maaf untuk soal itu, Val. Kakak –“


“Benar kata Abang ---“ potong Val lagi.


“Soal?”


Kembali Kafeel memotong ucapan Val.


“Kalau Val, tidak seharusnya mengejar sesuatu yang tidak pasti.”


Val tersenyum kemudian. Tipis, setipis harapan yang Val rasakan untuk meraih cinta Kafeel saat ini.


Kafeel terdiam. Ia kiranya sedang menelaah maksud kata-kata Val barusan. 'Kenapa hati gue merasa ga nyaman ya mendengar ucapan Val barusan?'


Kafeel membatin.


“Maafkan Val ya Kak?”


“Maaf untuk?..”


Kafeel mengernyit.


“Untuk kenyamanan Kak Kafeel yang terganggu dengan keberadaan Val, dan sikap Val yang macam ulat bulu.”


“Kok Val bicaranya begitu?..” respon Kafeel.


“Karena Val merasa seperti itu sekarang.. Saat sampai disini tadi Val sempat merenung.. Mengingat-ingat, bagaimana sikap Val selama ini pada Kak Kafeel.”


“......”


“Dan yah, Val menyadari hal itu.. Kalau kenyataannya, Val ini sudah sangat menganggu Kak Kafeel.”


Val memandang pada Kafeel seraya tersenyum.


“Kan Kakak sudah bilang, kalau Kakak tidak merasa terganggu sedikit pun dengan sikap Val pada Kakak selama ini---“


“Karena Kak Kafeel takut menyinggung perasaan Val, kan?” potong Val.


“Engga.”


Kafeel segera menampik dugaan Val.


“Kakak ga pernah sekalipun berpikir begitu, Val.” tukas Kafeel.


“......”


“Kenapa sampai Val berpikir jika Kakak merasa seperti itu dengan sikap Val?..”


“Karena.. Apa ya?.. Heemm..” Val berucap, bertanya sendiri, lalu menggumam, menggantung jawaban yang ia sendiri bingung mengenai jawaban seperti apa yang Val akan berikan pada Kafeel.


Val memalingkan wajahnya dari Kafeel, lalu mengarahkan matanya ke arah lautan.


“Val—“


“Karena Val merasa—“


Val segera lagi bicara, bersamaan dengan Kafeel yang juga hendak berbicara.


“Kalau Val terlalu memaksakan cinta Val pada Kak Kafeel..” Lalu Val kembali menoleh pada Kafeel.


“Dan sekarang Val menyadari, jika sikap Val pada Kak Kafeel sekarang ini begitu berlebihan.”


Val berbicara sembari memandangi kaki telanjangnya yang ia mainkan di pasir, di bawah kakinya itu.


“Mungkin sebenarnya Kak Kafeel jijik—“


“Val, stop!”


Dengan cepat Kafeel memotong ucapan Val. Kafeel terlihat tidak senang.


“Val dengarkan ucapan Kakak baik-baik.”


Kafeel menghadapkan Val padanya.


“Sudah Kakak bilang, kalau Kakak sama sekali tidak pernah merasa terganggu jika Val dekat ataupun menempel pada Val.”


Kafeel berucap sembari menggelengkan pelan kepalanya.


“Apalagi jijik ....” sambung Kafeel. “Mana ada begitu?....”


“Yaaa siapa tahu Kak Kafeel ternyata berpikir seperti itu pada Val. Tapi Kak ---“


“Engga, Val.”


Kembali dengan cepat Kafeel memotong ucapan Val.


“Kakak tidak pernah sedikitpun, sekalipun, berpikir seperti itu tentang Val ataupun sikap Val pada Kakak.”


Kafeel menegaskan.


“Jangan lagi Val pernah bicara seperti itu tentang diri Val pada Kakak, okay?.”


Val tersenyum, lalu mengangguk menanggapi ucapan Kafeel yang berupa sebuah permintaan tersebut.


“Iya Kak ....” ucap Val.


“Kakak marah ya, kalau Val bicara seperti itu lagi?”


Kafeel berucap lagi, dan Val pun kembali mengangguk.


“Maaf ya, Kak.”


“Iya.”


Kafeel melepaskan tangannya dari pundak Val.


“Lagipula, kalau Kakak boleh tahu, kenapa Val jadi membahas hal ini?”


Kafeel lebih memiringkan tubuhnya agar senantiasa menghadap pada Val yang masih menguncangkan kakinya dengan memainkan pasir di bawah kakinya tersebut.


Val yang tadinya agak sedikit merunduk itu, kini menegakkan tubuhnya.


“Tidak apa-apa kok, Kak.” Jawab Val. “Val hanya ingin saja mengutarakan hal itu pada Kak Kafeel.”


Val menolehkan kepalanya ke arah Kafeel tanpa merubah posisi duduknya., lalu menampakkan seutas senyum pada pria pujaan hati Val itu.


“Iya, tapi kenapa tiba-tiba Val ingin mengutarakan hal itu? ... Val sebenarnya marah ya, karena Kakak sepertinya mengabaikan sekali Val, saat Val pergi dari ruangan Abang? ...”


“Tidak kok.”


“Beneran?” tanya Kafeel.


“Benar ......”


“Jika bukan karena Val yang marah soal itu, alasan Val berbicara seperti tadi apa? ...”


“Yah, seperti tadi yang sudah Val katakan pada Kakak ...” tukas Val. “Val hanya sudah merenung perihal sikap Val pada Kakak selama ini...”


“Kenapa Val harus merenungi itu? ...”


“Karena seperti yang Abang katakan pada Val ...”


“......”


“Kalau Val harus memastikan, agar Val tidak mengejar hal yang tidak pasti.”


“......”

__ADS_1


“Satu hal yang rasanya sulit Val dapatkan..... Cinta Kak Kafeel ....”


Suara Val merendah, sedikit terdengar lirih, dengan kepalanya yang kini tertunduk.


“Val kini merasa, jika cinta Val pada Kak Kafeel tidak akan pernah berbalas ...”


♥♥♥♥


Kau Boleh Acuhkan Diriku... Dan Anggap Ku Tak Ada...


Tapi Takkan Merubah Perasaanku Kepadamu


♥♥♥♥


“Val kini merasa, jika cinta Val pada Kak Kafeel tidak akan pernah berbalas ...”


“Val-----“


“Kak Kafeel, mungkin hanya akan menjadi mimpi Val saja seterusnya .....”


Ucapan Kafeel terpotong lagi oleh Val.


“Dan untuk itu sepertinya Val harus membuat garis demarkasi---“


“Garis demarkasi?...”


Val dan Kafeel saling memotong ucapan.


“Itu loh, garis---“


“Kakak tahu apa itu garis demarkasi,” potong Kafeel lagi. “Tapi untuk apa? ... untuk apa membuat garis demarkasi diantara kita?”


“Agar Val mulai tahu batasan, Kak ... Agar Val tidak mengejar yang tidak pasti...”


Val melempar senyuman pada Kafeel, yang kini mulai serius mendengarkan setiap perkataan Val lebih dari sebelumnya.


“Dan ya itu, agar Val tidak lagi mengganggu ----“


“Val!, sudah Kakak bilang, kalau Kakak tidak merasa terganggu dengan sikap kamu.”


Kafeel memotong lagi ucapan Val, dengan nada suara yang terdengar sedikit jengkel.


Entah mengapa ada rasa tidak suka dalam hati Kafeel dengan Val yang berkali-kali bilang jika gadis belia itu merasa telah mengganggunya selama ini.


Hati Kafeel yang rasanya kini merasa sedikit terganggu.


Entahlah.


Hanya Kafeel merasa, jika setiap perkataan Val sejak beberapa saat lalu, terkesan seolah Val ingin menjauhinya.


Dan Kafeel merasa sedikit gusar.


Kenapa rasanya ia tidak senang jika itu benar? – Pikir Kafeel.


“Maaf ...”


Kafeel yang menyadari suaranya sedikit meninggi tadi itu berucap.


Val masih tersenyum pada Kafeel, seraya menggeleng pelan.


“It’s okay, Kak ....”


Val berucap kemudian.


“Setelah Val kembali ke London nanti, Val akan mulai membatasi diri Val untuk tidak sering-sering menghubungi Kak Kafeel.”


“Kenapa begitu? ...” tanya Kafeel, dengan matanya yang sedikit memicing.


Val tersenyum lagi. “Val sudah mulai takut, Kak.”


“Takut apa?” tanya Kafeel.


“Takut jika nanti Val hanya bak pungguk merindukan bulan---“


“No, Val!” sergah Kafeel. “Aku tidak setinggi itu....”


“Tapi bagi Val, memang Kak Kafeel setinggi itu ...”


“Val -----“ Kafeel hendak lagi berbicara.


“Makanya Val takut.....”


“......”


“Val takut, jika nanti semakin bertambah besar perasaan dan harapan Val pada Kak Kafeel, dan pada akhirnya, Kak Kafeel hanya seperti udara yang hanya dapat Val rasa tanpa bisa Val genggam, Val akan sangat terpuruk dan sakit hati, bahkan mungkin membenci Kak Kafeel nantinya... Val tidak mau itu terjadi, Kak....”


“Val, aku ----“


“Val cinta sama Kak Kafeel setulus hati.”


Ucapan Kafeel terpotong lagi. Dan tidak diteruskan Kafeel, karena mendengar sebaris kalimat pernyataan cinta Val padanya barusan.


Memang, sudah sering Kafeel mendengar Val menyatakan cinta padanya selama ini. Yang mungkin tidak digubris oleh Kafeel yang menganggap itu hanya rasa suka Val saja yang tidak serius.


Namun pernyataan cinta Val padanya kali ini Kafeel rasa berbeda.


Sorot mata Val nampak dalam, menatapnya penuh arti, dengan keseriusan yang membalutnya.


“Tapi kini Val sadar, jika cinta tidak harus memiliki ....”


Val tersenyum dengan cantiknya pada Kafeel.


“Val.... akan mencoba menegarkan hati Val mulai sekarang... Mungkin, Val mulai harus berhenti bersikap seperti selama ini pada Kak Kafeel...” suara Val terdengar rendah.


“......”


“Val takut sakit hati, dan Val tidak ingin membenci...”


“Jadi maksud Val? ....”


“Melepaskan harapan Val atas cinta Kak Kafeel....”


Val memberanikan diri untuk menggerakkan tangannya menyentuh pipi Kafeel.


Hal yang selama ini ingin sekali Val lakukan, tapi tak pernah berani Val wujudkan.


Selama ini, meskipun menempel bak ulat bulu, namun Val hanya berani sebatas menggandeng erat lengan Kafeel.


Ataupun memeluk manja dada bidang Kafeel.


Dan itupun tak lama.


Hanya itu saja.


Tak pernah lebih dari dua hal itu.


Tapi khusus saat ini, entah apa yang mendorongnya, satu tangan Val kini telah berada di satu sisi pipi Kafeel.


“Val cinta pada Kak Kafeel, sungguh.”


Val berucap, dengan tangannya yang masih bertengger di pipi Kafeel.


“Bukan perasaan suka-suka gadis remaja. Tapi Val memang sungguh-sungguh mencintai Kak Kafeel ... Dan Val mungkin gila karenanya, hingga Val bersikap selama ini Val bersikap pada Kakak. Untuk itu Val minta maaf .... Dan untuk maaf itu, Val akan coba melepaskan perasaan Val pada Kak Kafeel.... meskipun Val, akan sangat bersedih hati setelahnya.”


Val bicara panjang lebar, menatap pada Kafeel dan tersenyum kemudian.


Kafeel terpaku.


Lidah pria itu terasa kelu.


“Kak Kafeel, Val lepaskan dari jeratan Val mulai saat ini .....”


Val berucap, setengah berkelakar, untuk menutupi wajah sendunya, dengan matanya yang Val mulai rasa sedikit panas dan mulai terasa basah.


Kafeel terdiam. Tatapannya tak putus memandang Val, dengan rahang yang terlihat bergerak sebelum kemudian terlihat mengetat.


“Kak Kafeel bisa merasa tenang, karena ulat bulu ini tidak akan menempel lagi pada Kak Kafeel ...”


Val terkekeh kecil, dan menggerakkan tangannya untuk melepaskan pipi Kafeel. Tapi sesaat kemudian tangan Val yang tadi memegang pipi Kafeel itu menggantung di udara.


Ada yang menahan tangan Val, yang ingin ditarik si empunya.


Tangan Kafeel.


“Tidak boleh!”


Bersamaan dengan suara Kafeel yang setengah memekik, menatap lekat pada Val, dengan rahang yang nampak mengeras.


"Aku tidak mengijinkan!"


♥♥♥♥♥♥♥♥

__ADS_1


To be continue...


Ciehh yang udah pada mulai senyum-senyum.


__ADS_2