HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
CONFESSION


__ADS_3

CONFESSION - ( PENGAKUAN )


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama, The Adjieran Smith, Jakarta , Indonesia...


“Ini ada apa sih?!” Mom Ichel berucap sambil memandang dengan heran pada apa yang sedang ia lihat itu.


“Itu, Kak Kafeel kami curigai kerasukan penghuni pantai –“


Val bersuara, disaat kemudian ucapannya disambar dengan kesahan keterkejutan,


“HAAH?!” Oleh semua yang berada di ruang tamu, termasuk tersangka yang dicurigai kesambet penghuni pantai.


Val pun manggut-manggut.


“Yang benar saja???....” Mom Ichel membelalak tak percaya.


“Kak Kafeel kemasukan roh begitu?!” celetuk Ares.


“Apaan, engga!” sambar Kafeel yang orangnya sedang meronta.


Sementara empat pelaku kejahilan akibat kurang kerjaan, juga mencari hiburan unfaedah, masih memegangi Kafeel sambil cekakakan.


“Argh! Than! Sakit, an ----“


Kafeel memekik dengan meronta.


Hampir mengumpat kasar, karena Nathan yang kadar kejahilan-nya tingkat dewa itu memencet lagi dua jempol kaki Kafeel melalui kukunya.


“Sudah!” seru Mom Ichel yang langsung maju ke arah Kafeel. “Lepaskan dia!”


Mom Ichel berseru lagi sambil menarik pelan tubuh sang suaminya yang sedang ikut menjahili Kafeel itu.


“Kalian ini, benar-benar kurang kerjaan!”


Mom Ichel geleng-geleng.


“Habis dari tadi tingkah Kak Kafeel itu aneh, Mom....“


Val berucap.


“Mom Ichel ga lihat saja tadi Kak Kafeel seperti apa tingkahnya. Aneh, senyum-senyum sendiri. Ya kan Kak Tan-Tan, Dads? Trus tadi berhalusinasi, dan sempat tahu-tahu teriak di dalam mobil saat kami sedang menuju kesini. Apa namanya kalau Kak Kafeel tidak terindikasi kerasukan?”


Kemudian Val pun bercerocos ria.


“Makanya jempolnya di tekan oleh Kak Tan-Tan, agar arwah yang menempel di tubuh Kak Kafeel segera pergi. Ya kan Kak Tan-Tan? Kalau yang pernah Val lihat kan juga begitu di salah satu acara televisi negara ini....”


Val masih bercerocos, sementara si Tan-Tan terkekeh geli-geli, berikut tiga Dads mereka yang sudah melepaskan si ‘korban’ kejahilan akut empat orang tersebut.


“Ah mana ada seperti itu!” Mom Ichel segera menukas.


“Iya, ish! Gila aja mikir aku kerasukan?!”


Kafeel pun menggerutu sebal setelah dirinya terlepas dari empat pria super jahil yang baru saja mengerjai-nya itu.


Ups.


Kafeel yang spontan saja menggerutu bernada protes sambil meringis mengusap jempol kakinya yang sedang ngebet itu, tidak sadar jika ada yang sedikit tersungging-eh tersinggung dengan ucapannya.


“Kak Kafeel mengatai Val gila???” Ah, Val merasa Kafeel mengatainya gila.


‘Eh?’


Kafeel langsung mendongak melihat pada Val yang nampak sendu menatap padanya.


“Dua kali sudah Kak Kafeel mengatai Val gila!. Dihari yang sama pula!” Val kini merungut.


“Eh Val, bukan begituu....” Kafeel dengan cepat menyergah.


“Tega ih!”


Tapi sayang sungguh sayang,


“Vaall!”


Ulet bulu jadi ngambek.


‘Ah elaaahhhh. Sial dua kali ini gue!’


Kafeel merutuk dalam hatinya.


“Val, tunggu jangan marah!.... Kakak ga ada maksud bilang Val gila kooook....”


Val sudah menghentakkan langkahnya meninggalkan ruang tamu Kediaman dengan bersedekap.


Membuat Kafeel jadi serba salah sekarang ini. ‘Duh!’ Kafeel merutuk lagi dalam hatinya.


Soalnya si Val nampak pergi masuk berjalan ke dalam lift di ujung koridor Kediaman Utama keluarganya tersebut.


‘ingin gue kejar.... tapi....’ batin Kafeel, lalu menoleh pada tiga Daddy Val yang tadi menjahili-nya itu.


"Nah lo, nah lo.... Kak Kafeel bikin Kak Val ngambek...." ledekan terdengar dari mulut pewaris ter-bocil The Adjieran Smith, yang mengundang cekikikan dari anggota keluarga lainnya.


'Ga yang tua, ga bocilnya.... Pada usil banget!' rutuk Kafeel. Dalam hati aja tapi.



“Uuumm....”


Kafeel bergumam bingung setelah ditinggal Val yang nampak ngambek, dan sepertinya kekasih kecilnya itu pergi untuk masuk ke kamar pribadinya.


Karena sekilas Kafeel melihat angka tiga pada sebuah layar pipih samping.


Dimana yang Kafeel ketahui jika lantai tiga yang berada di Kediaman Utama The Adjieran Smith yang berada di Jakarta itu, adalah daerah kamar para pewaris di generasi Alvarend.


‘Gue bingung asli!’ batin Kafeel. Pasalnya Kafeel ingin sekali mengejar Val dan membujuk kekasih kecilnya yang sepertinya sedang merajuk dalam pendapat Kafeel, karena menyangka kata ‘gila’ yang diucapkan Kafeel ditujukan untuknya.


Padahal itu hanya celetukan spontan saja dari mulutnya.


Tapi sepertinya Val salah paham padanya, atas ucapan Kafeel yang menyertakan kata ‘gila’ dihadapan Val tadi.


Dan Kafeel ingin sekali meluruskan hal tersebut pada Val.


Namun Kafeel merasa dilema.


Pasalnya, meski sering wara-wiri di Kediaman Utama The Adjieran Smith, Kafeel tidak pernah sampai menyambangi bagian Kediaman Utama tersebut selain lantai bawah.

__ADS_1


Kalau mengejar Val sampai ke lantai tiga pun, Kafeel tidak tahu persis letak kamar Val. Karena memang tidak pernah ada keperluan sampai ke lantai tersebut, jadi Kafeel tidak tahu dimana kamar Val.


Jikalau ia datang untuk menjemput Val, dikarenakan sudah berjanji pada gadis itu, dan Kafeel juga orang yang selalu menepati janjinya, selain ia senang-senang saja jika Val memintanya mengantar ke suatu tempat jika memang Kafeel punya waktu luang untuk itu-Kafeel hanya akan menunggu Val di ruang tamu, ruang santai atau ruang tengah Kediaman keluarga Val tersebut.


Dan sekarang, jika Kafeel mengejar Val sampai ke lantai tiga dan kamar gadis itu, Kafeel rasanya menjadi risih sendiri.


Selain sebelum-sebelumnya Val tidak pernah merajuk seperti sekarang, dan waktu itu Val masih berstatus ade-ade-an, mungkin Kafeel akan merasa lebih santai seperti saat di kantor tadi untuk tidak mengejar Val yang sempat terlihat merajuk padanya.


Tapi sekarang kan beda sudah. Ia dan Val telah resmi menjadi sepasang kekasih, yang mana baru dirinya dan Val saja yang tahu tentang hal tersebut selain Tuhan dan Achiel.


Jadi kalau Kafeel mengejar Val sekarang, ia bingung untuk berkata pada empat orang tua Val yang kini berada di dekatnya.


Tapi entah karena efek merasa sudah ‘berpacaran’ dengan Val, Kafeel jadi gelisah sendiri kalau dia tidak mengejar Val untuk membujuk kekasih kecilnya itu.



Harusnya, adegan Val yang merajuk sesaat tadi tidak ada.


Jadi Kafeel hanya perlu fokus saja untuk mengatakan maksud hatinya yang ingin memberitahukan pada tiga Daddy Val yang tadi mengerjai-nya itu, mengenai hubungannya dan Val yang kini telah sampai ke jenjang pacaran.


Tapi karena ada kesalah pahaman dari ucapannya yang membuat Val ngambek, fokus Kafeel pun terbagi lagi.


Kafeel menjadi agak-agak bingung sekarang ini.


Antara mau langsung mengejar Val ke kamar kekasih kecilnya itu, dengan alasan yang menggunakan kebohongan, atau bicara langsung dulu pada tiga Daddy Val, plus satu Mom yang tadi muncul setelah Kafeel memekik sedikit kencang tentang hubungannya dan Val yang sudah berstatus pacaran.


‘Tapi kalo gue ngomong duluan dan nyatanya mereka ga setuju, apa kemungkinan gue ketemu Val ga malah jadi hilang untuk selamanya?....’


Ah, Kafeel jadi galau.


“Kambuh lagi itu kayaknya dia Dad?....”


“Iya, kayaknya sih....”


Nathan dan Papi John kasak-kusuk sambil memandangi Kafeel.


“Pencet lagi apa nih jempol kakinya?----“


“Sudah deh jangan mulai lagi....”


Mom Ichel bersuara sembari memandang setengah sinis pada dua orang yang barusan kasak-kusuk lalu cekikikan lagi.


Tapi kali ini Kafeel tidak terlalu berlarut-larut dalam lamunannya, hingga pada saat Mom Ichel bersuara Kafeel langsung kembali fokus pada orang-orang yang sedang berada didekatnya sekarang.


“Tau ih, kasihan tahu Kak Kafeel!....”


Mika ikut berkomentar. Lalu ia pun geleng-geleng.


Gadis itu tak habis pikir dengan kelakuan tiga Daddy dan satu kakak lelakinya yang memang super jahil pada Kafeel beberapa saat yang lalu.


“Sabar ya, Kak Kafeel?....”


Mika tersenyum prihatin pada Kafeel.


Kafeel tersenyum pada gadis yang hitungannya adalah kakak Val itu.


"Woles Mika...." ucap Kafeel kemudian. 'Untung hati gue seluas samudera.' batin Kafeel.


"Ini pasti idenya dia nih!" Tunjuk Via pada suaminya yang sedang terkikik tanpa dosa.


Membuat Via memencet hidung Nathan jadinya.


“Adis, tolong ambilkan sandal untuk Kafeel....”


“Iya Nyonya Ichel.”


“Sekalian buatkan minum juga.”


“Siaapp....”


“No, ga perlu Aunt, jangan repot-repot---“


Kafeel menukas ucapan Mom Ichel yang meminta salah satu asisten rumah tangga Kediaman untuk membuatkan minum untuk Kafeel.


Mba Adis pun menjeda langkahnya.


“Apa sih, ga ada yang repot kok.”


Mom Ichel menyambar dengan cepat.


“Udah seperti orang asing aja kamu nih!”


“Maksud aku, kan biasanya juga aku self service disini, Aunt.”


Kafeel menimpali ucapan Mom Ichel seraya tersenyum. Mom Ichel pun membalas senyuman Kafeel.


“Ya sudah duduk lah Ka.”


Mom Ichel mempersilahkan Kafeel untuk duduk bersama dengannya dan tiga Daddy yang masih sesekali cengengesan dengan Nathan.


“Buatkan minum ya Dis.” Mom Ichel meminta kepala asisten rumah tangga di Kediaman mereka itu melakukan apa yang sebelumnya ia minta Adis untuk lakukan.


“Buatkan kami minuman yang baru juga, Dis.”


Daddy Jeff bersuara.


Adis pun menyahut sigap pada salah satu Tuan-nya itu.


“Non Mika sama Den Ares mau dibuatin minum yang baru lagi juga?....” tanya Adis pada dua pewaris muda tersebut.


“Iya mau. Tapi antarnya ke ruang santai aja ya, Mba Adis?....”


Ares yang menyahut.


“Kita terusin nonton aja Kak Mika ya?....” ajak Ares pada Mika.


“Okay!”


“Cus!....”


“Semua, aku sama Ares permisi ya?”


Mika berpamitan pada enam orang dewasa yang berada di ruang tamu Kediaman mereka tersebut, sambil merangkul bahu Ares.



“Sebenarnya kau sedang ada masalah apa, Ka?-----”


Daddy Dewa melontarkan pertanyaan pada Kafeel, setelah ia dan mereka yang bersamanya mengambil tempat duduk di sofa yang terhampar di ruang tamu Kediaman mereka itu.


“Benar yang Val katakan tadi kalau tingkah kamu itu aneh. Macam orang tertekan....”

__ADS_1


Daddy Dewa menyambung ucapannya.


Dimana Kafeel pun langsung meringis.


“Lalu tadi kau berhalusinasi melihat Uncle R? ---” Daddy Jeff ikut bertanya.


Dan Kafeel semakin meringis.


Kafeel tidak mungkin mengatakan dengan gamblang alasan mengapa ia sampai menjadi paranoid akut akibat panik yang berlebihan karena takut untuk mengatakan kebenaran tentang hubungannya dan Val saat ini.


Namun Kafeel sudah memantapkan niatnya untuk mengatakan hal tersebut pada empat orang tua Val yang ada dihadapannya saat ini, serta satu kakak lelaki Val.


Dengan segala konsekuensinya, meskipun Kafeel berharap agar jangan ada konsekuensi apapun.



‘Ck. Gue harus mulai darimana ini ngomongnya ya?’


Kafeel sedang mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan perihal hubungannya pada Val.


“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Ka.... Kenapa kau tadi terlihat berhalusinasi tentang Uncle R?....”


Daddy Jeff kembali bertanya.


“Apa kau membuat satu kesalahan besar hingga kau merasa begitu takut sampai kau berhalusinasi jika Uncle R yang berbicara denganmu tadi?....”


“Uumm....”


Kafeel bergumam tertahan, sambil melirik Daddy Jeff yang nampak sedikit memicingkan matanya menatap Kafeel.


“Apa kau melakukan kecurangan di Perusahaan?”


Lalu pertanyaan dari Papi John yang sama terlihat seperti Daddy Jeff yang memicingkan matanya.


“Tidak!”


Kafeel langsung menyergah dugaan Papi John dengan cepat.


“Aku tidak mungkin melakukan kecurangan di Perusahaan....”


“Lalu?”


‘Eh tunggu deh....’


Kafeel membatin.


‘Mereka ga tanya soal gue dan Val. Apa Uncle R belum mengatakannya pada mereka ya soal dia yang entah dari dan bagaimana bisa tahu kalau gue sudah mencium Val?....’ sambung Kafeel yang sedang bertanya-tanya dalam hatinya. 'Mereka ini kan to the point orangnya. Jadi kalau Uncle R sudah mengatakan tentang aku yang mencium Val, pasti tiga Dad-nya Val ini akan langsung bertanya padaku untuk memastikan atas perintah Uncle R....'


“Hey Ka!”


“Eh, iya Uncle?”


Kafeel terkesiap saat mendengar suara Daddy Dewa memanggilnya.


“Kau banyak melamun hari ini,” ucap Daddy Dewa lagi.


“Iya maafkan aku Uncle Dewa.”


Kafeel menyahut seraya tersenyum sesaat.


“Jika kau tidak melakukan kecurangan pada Perusahaan, lalu apa yang membuatmu nampak gusar hingga banyak melamun?”


Papi John kembali bertanya.


Kafeel memandang pada Papi John.


“Ada yang memang ingin aku akui pada kalian.” ucap Kafeel kemudian.


“Apa itu?....”


Papi John langsung saja bertanya.


Kafeel menarik lagi sudut bibirnya, dan tersenyum sekilas sambil melihat pada Papi John, lalu matanya bergantian melihat pada tiga orang tua Val yang lainnya serta Nathan.


Kafeel diam-diam menarik nafas dan menghembuskannya pelan.


“Mohon maaf sebelumnya Uncle Dewa, Uncle Jeff, Uncle John....” ucap Kafeel setelahnya.


Kafeel sudah dapat menenangkan dirinya sekarang. Selain pada tiga orang yang barusan Kafeel sebutkan, Kafeel juga memandang pada Mom Ichel dan Nathan yang belum memberikan komentar apapun.


“Sebelum aku mengatakan hal yang ingin aku katakan, aku ingin tahu kenapa Uncles bertiga memanggilku kesini? Karena dari apa yang aku dengar dari Adri, katanya ada hal serius yang ingin kalian bicarakan padaku?”


Kafeel berbicara dengan lugas.


Dimana setelah Kafeel berbicara barusan itu, tiga orang yang Kafeel sebutkan namanya tadi saling melempar tatap sejenak.


Lalu Papi John berbicara. “Iya memang ada hal yang ingin kami bicarakan serius denganmu.”


“Tentang apa itu Uncle?” tanya Kafeel dengan spontan.


“Tapi nanti sajalah mengenai itu,” jawab Papi John.


“Kau sepertinya sedang banyak pikiran sekarang.” Timpal Daddy Jeff.


“Maaf Uncle soal sikapku, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja....”


“Nanti saja hal yang ingin kami bicarakan serius denganmu kami katakan....” tukas Papi John.


“Baiklah Uncle....” sahut Kafeel.


“Sekarang katakan hal yang kau bilang ingin kau akui pada kami tadi.”


“Itu....” Kafeel sedikit tergugu. Ia membasahi bibirnya terlebih dahulu sebelum lanjut bicara.


“Katakan saja. Tak perlu ragu....” ujar Papi John.


“Ini tentang aku dan Val.”


Kafeel telah mengumpulkan keberaniannya. Berbicara dengan penuh keyakinan.


Dimana kalimat Kafeel tersebut, membuat lima pasang mata yang berada didekat Kafeel itu langsung menyorot serius padanya.


“Aku mencintai Val.”


Kafeel menegakkan duduknya, bicara dengan serius sembari memandangi lima orang yang berada didekatnya saat ini.


“Dan telah aku sadari itu.... Telah juga aku mengatakannya pada Val. Dan kini kami telah resmi berhubungan sebagai kekasih.”


Praannngg!!.


*

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2