HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
WELCOME, KEBUCINAN!


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia...


“Val....” panggil Kafeel lagi, setelah melirik lampu pada kotak interkom merangkap kunci kamar Val yang masih berwarna hijau-dimana itu menunjukkan jika Val belum memutuskan sambungan dari dalam kamarnya.


Dan sahutan pun dari Val pun terdengar, walau hanya sebatas deheman dan sedikit agak jauh suaranya.


“Heemm??....”


“Ya udah gini, Val maunya apa? –“


Kafeel pada akhirnya pasrah pada sikap Val yang sedang merajuk padanya.


Sebal dan sedikit kesal juga pada Val yang sulit dibujuk dan bahkan menyahut terus dengan entengnya pada setiap ucapan Kafeel.


“Tidak mau apa-apa, karena Val sudah punya semua.” potong Val sekali lagi dengan entengnya ia berbicara seperti sahutan-sahutan Val pada setiap perkataan Kafeel sebelumnya.


‘Aduuh Gustii!!....’ Kafeel rasanya ingin membenturkan kepalanya ke pintu kamar Val. "Val...." panggil Kafeel. 'Mau digigit?'


Tapi ya itu, meski sebal dan sudah mengarah pada kesal atas sikap Val, kaki Kafeel seolah enggan untuk melangkah pergi dari depan pintu kamar Val yang terkunci. Jadinya Kafeel merasa gemas sendiri.


♥♥


“Val....”


Kafeel memanggil lagi dengan lembut dari interkom luar yang terhubung dengan interkom di dalam kamar Val.


Menyabarkan saja dirinya, karena Kafeel tidak mau juga pergi kalau Val masih merajuk seperti ini. Masa lover newbie udah berkurang kemesraan di hari kedua pacaran?....


Begitu kiranya yang Kafeel pikirkan. “Val?....” panggil Kafeel lagi karena tidak ada jawaban dari panggilan Val yang sebelumnya, sambil Kafeel melirik lagi pada kotak interkom yang ada di dinding luar kamar Val.


Lampu yang menyala menandakan jika Val yang berada di dalam kamarnya itu masih terhubung dengan Kafeel. ‘Haish, malah nyuekin gue sekarang!....’ gerutu Kafeel dalam hatinya.


Tok.... Tok.... Tok....


Merasa tak puas karena tak mendapat sahutan dari Val, Kafeel langsung saja mengetuk pintu kamar Val.


“Val, Sayang....”


Menimbang dan memutuskan agar Val berhenti merajuk yang mengarah pada ngambek yang lama seperti peringatan Mommy Ara dan Rery, Kafeel pun lebih melembut lagi menyikapi Val.


Sangat melembut, seperti bukan dirinya saja.


Memang Kafeel tak sedingin dan setega Varen pada wanita selain Andrea dan para wanita dalam keluarganya, tapi Kafeel juga pantang membaik-baikkan wanita selain ibundanya.


Apalagi pada mereka yang berstatus pacar.


Pada wanita yang pernah Kafeel cintai pun rasanya tidak sampai seperti lembut dan sabarnya ia memperlakukan Val, bahkan saat sebelum wanita belia ini menjadi kekasihnya yang begitu Kafeel manjakan, bahkan jauh lebih sabar menghadapi Val ketimbang adik kandungnya.


“Katanya Kak Kafeel mau pulang?. Kenapa masih ada?” suara Val yang datar dan terkesan cuek itu kembali terdengar dari kotak interkom, membuat Kafeel kembali lebih mendekat pada interkom tersebut. “Val sudah letih nih berdiri terus!—“


“Ya sudah makanya bukakan pintunya dulu---“ sambar Kafeel.


“Tidak mau!—“ sahut Val cepat, dan Kafeel menghela nafas frustasi.


Menyabar – nyabarkan dirinya lagi menghadapi Val yang sedang merajuk karena keinginan tak masuk akalnya itu, pada Kafeel sekarang ini.


Meski tidak tahu bagaimana jika Val merajuk berkepanjangan – yang mana Kafeel juga enggan merasakan hal itu karena rasanya tidak nyaman juga diacuhkan Val nanti, jadi Kafeel tidak ada pilihan untuk sabar dan mengalah menghadapi Val saat ini.


Lagian Kafeel sudah merasa mencintai Val, dan bahagia karena sudah menjadikan Val kekasihnya. Jadi ya itu, Kafeel enggan diacuhkan Val, selain ia sudah sangat terbiasa dengan tingkah manja Val padanya. Selain was-was juga kalau Val malah tahu-tahu berubah pikiran – mengingat pemikiran Val yang kadang diluar nalar, yang bisa saja malah Val berpikir untuk membatalkan jalinan asmara mereka, Kafeel memilih bertahan untuk membujuk Val agar berhenti merajuk padanya.


♥♥


“Val, Sayangnya Kak Kafeel, jangan begini please?....” bujuk Kafeel.


“Salah Kakak sendiri!” sahut Val.


“Iya Kakak yang salah -----“


Kafeel yang pasrah itu menyahut lembut.


“Kakak minta maaf ya??.... Maafin, please? ----”


Kafeel lanjut bicara seraya memohon.


“Nanti Val pikirkan.” Sahut Val.


‘Haish.’ Membuat Kafeel spontan mendengus frustasi lagi.


Namun Kafeel belum menyerah.


“V---“ hendak lagi memanggil Val untuk membujuk kekasih kecilnya itu.


Namun....


“Sudah ah Val sudah benar-benar letih berdiri!---“


Sebelum Kafeel hendak bicara, Val sudah keburu menyambar.


“Lagipula Val mau mandi!” kata Val.


‘Ituutt!!!....’ batin si AA yang ngarep.


♥♥


“Ya sudah, Kak Kafeel tunggu disini sampai Val selesai mandi.”


“Terserah saja.... Tapi habis mandi Val mau tidur.”


‘Tenang Kaka, sabar.... Hati lo seluas samudra....’


Kafeel membesarkan hatinya.


“Iya sudah, ga apa-apa.”


“Mau pulang? –“ tanya Val dengan entengnya lagi.


“To the point sekali?....”


Kafeel menyahut setelah mendengus geli mendapat pengusiran halus sekali lagi dari Val.


“Tadi kan bilang katanya mau pulang lalu mau menonaktifkan ponsel Kakak?”


“Kakak hanya bercanda, masa Val ambil serius?....”


Kafeel tersenyum geli saja sambil ia menyahuti perkataan Val.


“Serius juga tidak masalah.” Sahut Val lagi. “Val cinta memang pada Kakak, tapi selain Val benci dikasihani, Val juga benci diancam-ancam.”


Val menegaskan dengan nada suaranya yang datar.


“Ya sudah, Kakak minta maaf untuk itu....” jawab Kafeel lembut.


“Hemmm....”


Val menyahut dengan deheman.


“Kalau begitu, Val silahkan mandi dan tidur seperti yang Val bilang tadi. Kakak akan tetap menunggu Val---“


Kafeel berkata dengan lembutnya lagi.


“Ya sudah.... Kalau bosan menunggu Val silahkan saja kalau mau pulang, tidak usah berpamitan lagi pada Val....”

__ADS_1


“Kakak tidak akan bosan menunggu Val---“ ujar Kafeel. “Kalau Val sudah tidak marah, lalu Val sudah mau menemui Kakak, Kakak ada di lantai bawah ya?---“


“....”


“Love you....”


♥♥


Kafeel tersenyum saja di depan pintu kamar Val, meski kalimat romantisnya tidak mendapat balasan dari Val, bahkan kekasih kecilnya itu telah memutuskan sambungan interkomnya dengan Kafeel.


‘Gila, bucin banget gue??!!....’ batin Kafeel seraya ia geleng-geleng dan tersenyum geli. ‘Bucin sama bocil lagi!’ hati Kafeel berbisik lagi seraya ia melangkahkan kakinya menjauh dari kamar Val, untuk kembali ke lantai bawah kediaman keluarga besar Val tersebut.


Kafeel masih memikirkan dirinya yang ternyata masuk ke dalam geng bucin macam Varen. Benar-benar Kafeel tak sangka, jika dirinya bisa jadi anggota The Buciners hanya karena anak perempuan belia.


‘Haahh.... Jika cinta sudah bicara, Kafeel Adiwangsa lemah juga.’ Kesah Kafeel dalam hatinya. ‘Val, Val....’


Namun bibirnya mengukir senyuman, sambil mengingat kekasih kecilnya itu.


‘Pakai susuk apa sih kamu, sampai aku terpikat setengah mati begini???....’ batin Kafeel yang merasa geli pada dirinya sendiri.


Karena kalau dulu ada kekasihnya yang bertingkah macam Val, tanpa pikir panjang akan Kafeel tinggal atau abaikan.


Namun semua sifat Kafeel pada perempuan itu, rasanya kini sudah tidak berlaku sejak ia jatuh cinta pada Val.


Yang entah bagaimana itu terjadi, mengingat selera Kafeel pada wanita adalah pada wanita yang seumuran dengannya, selain cantik dan seksi tentunya.


♥♥


“Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat tiba-tiba kau baru sadar cinta telah datang menyergapmu tanpa peringatan.”


Winna Efendi.


♥♥


Kafeel sudah kembali ke lantai bawah kediaman yang nampak lengang, namun suara ricuh gelak tawa masih terdengar dari area kolam renang. ‘Sambil nunggu Val apa gue sebaiknya cari The Dads yang katanya mau ngomongin sesuatu sama gue ya?’ Kafeel lalu celingukan.


“Kak Kaf! Cari siapa?....”


Aro yang datang dari arah dapur menyapa saat Kafeel sedang celingukan.


“Liat Uncle Two J sama Uncle Dewa ga, Ro?” tanya Kafeel pada Aro.


“Di Pool Lounge kayaknya sama The Dads yang lain....”


Aro pun menjawab pertanyaan Kafeel dengan cepat.


“Val masih ngambek?....” tanya Aro yang mendengar tadi Rery berbicara soal Val yang merajuk saat ia menanyakan soal Val yang ga balik-balik ke area kolam renang.


“Iya, begitulah.” Jawab Kafeel sembari tersenyum.


“Emang batu dia sih kalo lagi ngambek....” kata Aro. “Sabar-sabar aja deh Kak kalo ngadepin Val yang lagi ngambek. Dad R aja puyeng banget kalo si Val lagi on mode angotnya!”


Kafeel memandang pasrah pada Aro. “Selain sabar, emang aku bisa apah?....”


Lalu Kafeel menyahut dengan gaya yang kocak, hingga Aro terkekeh. Kafeel juga ikut terkekeh.


“Btw, Val kalo ngambek berapa lama sampe dia normal lagi?” Kafeel melontarkan pertanyaan pada Aro.


“Tergantung otaknya, lagi senget apa engga. Apalagi makin kesini, makin ada aja kelakuannya kalau menyangkut Kak Kaf.”


Aro dengan cepat menjawab.


“Dulu pernah pas sengetnya dateng maksa mau kesini pas Val lagi di London, saking dia mau nyamperin Kak Kaf, trus karena masih jadwal aktif sekolah plus lagi semesteran dan Dad R bener-bener ga kasih ijin Val kesini, mogok ngomong sama mogok makan dia—“


“Oh ya??....”


Kafeel menyambar seraya ia tercengang mendengar ucapan Aro tentang satu kasus kesengetan Val barusan.


“Sampe begitunya?....” tanya Kafeel memastikan.


Aro pun manggut-manggut.


Kafeel spontan berkesah.


Kafeel jadi merasa tidak enak sendiri mendengar Val sampai mogok bicara bahkan mogok makan karenanya.


“Abang ga pernah cerita sama Kakak?” ucap Kafeel seraya bertanya.


“Lupa kali Abang....” sahut Aro. "Atau engga udah keburu males ngebahasnya." kekeh Aro.


♥♥


“Santai Kak, ga usah merasa bersalah. Si Val kan emang cinta mati sama Kak Kaf dan ya gitu deh, ada aja kelakuannya kalau menyangkut Kak Kaf.”


Aro paham pasti Kafeel merasa tidak enak, setelah tahu jika Val itu akan ada saja model rajukannya kalau keinginannya tidak dipenuhi, terlebih soal Kafeel.


“Kapan itu?....” tanya Kafeel.


“Waktu Kak Kafeel ulang tahun—“


Kafeel pun geleng-geleng mendengar penuturan Aro.


“Val mau jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke Kak Kaf secara langsung—“


Benar-benar Kafeel tak sangka kalau Val pernah sampai sebegitunya, hanya untuk datang mengucapkan ulang tahun padanya secara langsung, demi menjadi orang pertama yang mengucapkannya.


‘Gue harus nasehatin dia kalo kayak gitu sih.’ Batin Kafeel. “Tapi emang ga ada yang nasehatin waktu dia mogok ngomong sama mogok makan begitu?....”


“Batu Kak, udah diancem sama Dad R aja masih batu. Malah makin ngurung diri di kamar, ga mau keluar.” Jawab Aro. “Makanya dapet ijin dari Dad R dia hari disini waktu Kak Kaf ultah.”


Kafeel mendengus frustasi. “Kalau ada yang ngomong sama Kaka, pasti Kakak nasehatin deh Ro, biar ga sampe begitunya....” ucap Kafeel kemudian. “Soalnya Val bilang waktu itu sekolahnya lagi libur, dan Kakak juga ga merhatiin banget jadwal sekolah Val kan.”


“Woles Kak.... Ga ada yang nyalahin Kak Kaf juga.”


Aro segera berucap karena melihat wajah Kafeel yang seperti merasa bersalah itu.


“Ya walau gitu Ro, Kakak juga ga mau Val terlalu seperti itu soal keinginannya yang menyangkut Kakak....” Kafeel berucap lesu.


“Tapi kalo lagi ngambek gini jangan dinasehatin Kak, mental nasehatnya bakalan!.... Tunggu Val udah bae hatinya kalo mau nasehatin dia.” Saran Aro yang memang sudah paham semua sifat-sifat saudara dan saudarinya.


“Gitu ya?”


“Iya---“ sahut Aro. “Kalo Val ngambek, ya bae-baein aja dulu.” Tambah Aro.


Kafeel pun manggut-manggut.


“Ya itu kalo Kak Kaf bisa sabar ngadepin Val.” kekeh Aro kemudian.


“Insya Allah, aku sabar.... serta ikhlas bae-baein itu satu saudarimu wahai Ki Sanak....”


Kafeel berkelakar. Dan Aro spontan cekakak.


“Ya udah, Kak Kaf ke The Dads dulu ya?....”


“Okay!”


Aro menyahut mengiyakan ucapan Kafeel.


Kemudian keduanya berpisah untuk pergi ke tujuannya masing-masing dalam kediaman keluarga besar The Adjieran Smith yang ada di Jakarta itu. Yang mana Aro kembali ke area kolam renang, dan Kafeel pergi ke Pool Lounge untuk menemui tiga Daddies yang kemarin bilang ingin membicarakan sesuatu dengannya.


♥♥


Waktu berlalu, dan Kafeel juga telah selesai bicara dengan The Dads secara keseluruhan di Pool Lounge. Dan kini otak Kafeel kembali memikirkan Val.


Mendengar dentingan suara gitar dari arah ruang santai kediaman yang disertai dengan suara nyanyian beberapa orang, Kafeel mengarahkan kakinya kesana.

__ADS_1


“Mungkin Val sudah keluar dari kamarnya dan gabung sama mereka....” gumam Kafeel sambil ia melangkah menuju ruang santai kediaman.


♥♥


“Eh Kak Kaf!” Ares yang bersuara kala melihat Kafeel datang ke ruang santai keluarga dalam kediaman utama keluarga besar mereka itu.


“Sini Kak Kaf, sambil nunggu maksi!”


Kafeel mengangguk dan tersenyum dan masuk mendekati beberapa sultan dan sultanah belia yang sedang duduk bersama Arya dan Sony sambil mereka gitaran dan nyanyi-nyanyi, yang kesemuanya sudah nampak telah bebersih diri sehabis main di kolam renang.


Namun Val tidak ada diantara mereka semua yang sedang berada di ruang santai tersebut. “Val belum gabung?....” tanya Kafeel pada mereka yang ada dihadapannya itu, yang kesemuanya menggeleng secara serempak.


Kafeel pun mengangguk sambil melipat bibirnya dan melirik arlojinya.


‘Tidur beneran dia jangan-jangan....’


Kafeel menerka tentang Val, sambil ia mengeluarkan ponselnya kala Kafeel telah mengambil tempat di dekat Aro dan Rery.


Val, Baby, kamu beneran tidur?.


Lalu Kafeel mengetikkan pesan chat pada Val.


Iya.


Didetik dimana Kafeel spontan tersenyum geli, kala chatnya berbalas dengan cepat.


‘Iya kali orang tidur bisa bales chat?....’ batin Kafeel yang merasa geli. ‘Val, Val....’


Memang nyebelin ternyata kekasih kecilnya itu kalau sedang serius merajuk.


Trus sekarang masih di kamar?.


Kafeel mengetikkan dan mengirimkan lagi pesan chat ke nomor kontak Val.


Ya iyalah. Masa Val tidur di dapur?.


Kafeel tersenyum geli lagi saat ia kembali mendapatkan pesan chat balasan dari Val.


Lalu ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku.


♥♥


Sementara itu di sebuah kamar dalam kediaman The Adjieran Smith....


Kamar Val lebih tepatnya.


“Ih kok Kak Kafeel ga kirimkan aku chat lagi?!” Val berbicara sendiri sambil memandangi ponselnya kala ia sedang berleha-leha di atas ranjang pribadinya.


Wajah Val masih merungut saja.


“Apa Kak Kafeel beneran pulang dan sekarang sedang dijalan sambil menyetir makanya tidak mengirimi aku chat lagi?”


Val bermonolog lagi.


“Aku keluar untuk mengecek tidak ya?....”


Val lalu menimbang-nimbang.


“Apa aku keterluan bersikap seperti ini pada Kak Kafeel ya?....”


Lalu Val bertanya sendiri.


“Ah habisnya Kak Kafeel menyebalkan sekali sih tidak mau diajak bekerja sama agar kami bisa segera menikah!”


Val menggerutu kemudian.


🎸🎸🎸🎸


Namun didetik berikutnya ia mengernyit, kala sayup-sayup Val mendengar suara alunan musik dari arah luar balkon kamarnya.


♥♥


Penasaran, Val melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya.


Berpikir jika mungkin saudara-saudarinya sedang bercengkrama dan bermain gitar bersama.


“Tumben sekali mereka kumpul disana?....”


Val bergumam karena merasa heran dengan suara petikan gitar yang sepertinya tepat berada di bawah balkon kamarnya, karena ia dan para saudara-saudarinya tidak pernah berkumpul di bawah pohon matoa yang penghuninya adalah sahabat Kak Drea.


♥♥


Senyum Val langsung saja mengembang, kala ia telah berdiri menunduk di balkon kamarnya sambil berpegangan pada reling pembatas balkon kamarnya itu.


Dan melihat seorang 'Satria Bergitar' di bawah sana sedang memandang kepadanya.


🎸🎸🎸🎸


Aku yang terlelap sendiri....


Terlelap sampai tak sadar diri....


Kulihat sang Pujaan Hati....


Datang melangkah, t'rus menghampiri....


🎸🎸🎸🎸


Yang mana ada si AA di bawah sana, berdiri sambil memainkan gitar dan bernyanyi dan memandang ke arah Val yang berdiri di balkon kamarnya.


♥♥


🎸🎸🎸🎸


Aku bergetar disentuh dia, Mataku terbang sampai ke langit


Tubuhnya pun indah kupandangi....


Putih, mulus, dan seksi


🎸🎸🎸🎸


Dan iya, memang Kafeel lah satria bergitar yang sedang bermain gitar dan bernyanyi di bawah balkon kamar kekasih kecilnya yang sedang merajuk itu.


‘Selamat datang pada kebucinan yang hakiki Tuan Kafeel Adiwangsa!’


Hati Kafeel yang berbisik geli saat ia sedang memainkan gitarnya dan bernyanyi di bawah balkon kamar Val.


‘Ya Allah, kenapa aku jadi norak begini?....’


♥♥♥♥♥♥


To be continue....


Perhatian:


Jangan lupa tinggalkan jejak.


LIKE


KOMEN


VOTE


Jika Berkenan

__ADS_1


Hehe.


Thank you and semoga enjoy!!....


__ADS_2