HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 107


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Unit apartemen Kafeel, Jakarta, Indonesia....


“Ini kan kamar Kak Kafeel? –“


Adalah Val, gadis yang barusan menggumam, kala telah menyadari dimana ia berada sekarang.


Dimana Val telah benar-benar menyadari jika dirinya sedang berada di kamar kekasih setengah om-omnya itu.


Lalu matanya membola ketika lebih menyadari jika ia tengah berada di atas ranjang, ranjang pribadi Kak Kafeelnya.


Dimana si pemilik kamar tidak Val lihat setelah matanya berkeliling di sekitar tempat tidur. ‘Kenapa aku berada di kamar Kak Kafeel ya?’.


Kemudian Val dengan cepat bangkit dan mendudukkan dirinya.


‘Apakah terjadi sesuatu dengan aku dan Kak Kafeel?’


Val bertanya-tanya dalam hatinya.


‘Tapi seingatku aku sedang tiduran di sofa tadi, dan Kak Kafeel duduk di dekatku saja....’


Lalu Val menundukkan kepalanya, mengevaluasi keadaan dirinya-pakaiannya terutama.


‘Pakaianku masih lengkap.’ Batin Val lagi. ‘Atau.... setelah ‘melakukannya’ Kak Kafeel memakaikan kembali pakaianku agar aku tidak sadar kalau dia sudah ‘mengiya-iyakan’ diriku?’


Val berpikir sejenak.


‘Tapi masa sih, Kak Kafeel sebejat itu?.... Ah tidak mungkin sih rasanya.... Ah tapi kan hanya kami berdua disini, dan apapun bisa terjadi. Iya kan??? ---‘


Lalu Val nampak berpikir.


‘Tidak mungkin sih Kak Kafeel berlaku kurang ajar padaku saat aku tidur----‘


Val masih bermonolog dalam hatinya.


‘Tadi saja, saat Kak Kafeel menciumku dengan dahsyat sambil memangkuku, dia memintaku melakukan pengalihan agar dia tidak sampai khilaf ---‘ batin Val lagi. ‘Eum.... tidak ada salahnya aku cek.’


Si gadis ‘ulat bulu’ itu kemudian menggerakkan tubuh bagian bawahnya, dengan mengangkat bergantian kakinya seraya miring ke kanan dan ke kiri.


‘Tidak sakit.... Biasa saja rasanya. Berarti tidak terjadi apa-apa kan?.... Kalau Kak Kafeel sampai ‘mengiya-iyakan diriku, bukankah seharusnya bagian intimku terasa sakit seperti cerita-cerita teman-temanku yang sudah melakukan hal ‘itu’ serta seperti beberapa artikel yang aku pernah baca soal keadaan wanita saat berhubungan badan untuk yang pertama kalinya?....’


Val bermonolog panjang dalam hatinya. Sambil ia nampak berpikir.


‘Bersih juga seprai ranjang, tidak ada noda apapun. Berarti Kak Kafeel tidak ‘mengiya-iyakan’ diriku yang polos ini.... Ah terima kasih Tuhan.’


Val pun menghela nafas lega, dalam posisinya yang telah berdiri di samping tempat tidur Kafeel-setelah Val memeriksa keadaan seprai tempat tidur Kafeel tersebut.


*


Val kemudian keluar dari kamar Kafeel setelah ia membasuh mukanya di dalam kamar mandi yang tersedia di kamar Kafeel itu.


“Kasihan kalau Kak Kafeel tidur di sofa karena aku menempati kamarnya. Eh tapi jika aku dari sofa lalu tahu-tahu ada di kamar Kak Kafeel, berarti aku digendong oleh Kak Kafeel dong ya?.... ”


Val menggumam seraya ia keluar dari kamar Kafeel.


‘Aih romantisnyaaa....’


Dan si ‘ulat bulu’ mesam-mesem sendiri.


‘Eh, tapi kok Kak Kafeel tidak ada di sofa?....’

__ADS_1


*


‘Mungkin Kak Kafeel tidur di kamar tamu dalam apartemennya ini ya?---‘


Val membatin di ruang tamu sambil matanya berkeliling sekitaran tempatnya berdiri yang sedikit agak redup itu.


‘Ah iya, ini kan waktu Subuh.’ Batin Val, saat melihat langit di luar kaca tinggi yang ada di dekat ruang tamu apartemen Kafeel dimana tidak ada tirai yang menutupinya.


Val hendak kembali ke kamar Kafeel, namun kemudian ia kembali menghentikan langkahnya.


‘Aih aku lupa. Aku tidak membawa peralatan ibadahku. Tapi mungkin Kak Kafeel menyimpan peralatan ibadah untuk wanita? ----‘


Val masih asik bermonolog ria dalam hatinya.


‘Eh tapi kan Kak Kafeel katakan hanya baru aku saja wanita yang dia ajak kesini? Berarti rasanya tidak ada peralatan ibadah untuk wanita disini....’


Val pun menghempaskan bokongnya ke sofa.


Lalu Val melirik ke sisi kirinya, pada sofa panjang yang ada di ruang tamu apartemen Kafeel.


Disaat dimana Val menggigit sedikit bibirn bawahnya sendiri sambil dirinya tersipu, kala otaknya mengingat sesuatu yang sempat terjadi antara dirinya dan Kafeel.


‘Ya ampun, aku jadi malu sendiri kalau ingat bagaimana Kak Kafeel tadi menciumku seperti itu!’ bisik hati Val sambil orangnya menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya.


Hanya sebentar saja Val menutup wajahnya, lalu cengengesan.


‘Aku tidak terbayang bagaimana mesranya Kak Kafeel saat kami sudah menikah nanti, lalu si ‘iya-iya’ oleh Kak Kafeel. Iiih aku jadi tidak sabar....’


Dan si gadis ulat bulu itu jadi gemas ga jelas sendiri.


‘Oh ya ampun Val!’


Masih Val membatin.


Val menoyor kepalanya sendiri.


‘Gara-gara Melly dan Elena ini yang pernah mengajakku menonton film dewasa. Kan otakku jadi sering berpikir tentang melakukan yang ‘iya-iya’ dengan Kak Kafeel?!.... Huh!’


Lalu Val menggerutu serta juga merutuk dalam hatinya.


*


Memilih meninggalkan sofa yang menjadi saksi terciptanya kenangan sedikit nakal antara dirinya dan Kafeel, Val kemudian menyusuri apartemen Kafeel untuk mencari keberadaan kekasih setengah om-omnya itu.


‘Oh Tuhan, beruntungnya aku-‘ Dan disaat Val menemukan keberadaan Kafeel pada suatu kamar yang kemungkinan-menurut Val adalah kamar tamu itu, Val sontak membatin, merasa bersyukur. Kala ia menemukan Kafeel sedang duduk di atas sajadah, nampak khusyuk beribadah.


Val tidak melangkah lebih masuk ke dalam kamar dimana ada Kafeel didalamnya. Val hanya berdiri diam dan bersandar di dekat pintu yang memang sudah terbuka lebar. Tak hanya diam berdiri, namun Val pun mengatup rapat-rapat bibirnya. Tak ingin keberadaannya disadari oleh Kafeel yang sedang beribadah, lalu akan mengganggu kekhusyukan kekasih setengah om-omnya itu.


Namun sudut bibir Val tertarik sambil memandangi Kafeel.


Tidak ada manusia yang sempurna, begitupun Kak Kafeelnya.


Sejenak, angan Val melayang pada satu saat dirinya sedang bersama para Momsnya baik sang ibu kandung dan para ibu angkatnya, berikut dengan para saudarinya.


Hari itu, Val bertanya pada mereka yang sudah menikah- pada para Mom, Kak Drea dan Kak Via. Para Mom terutama, karena Val terpikir pada para Dadnya, yang sudah Val ketahui seperti apa dan bagaimana mereka jika berada di luar lingkup keluarga, terutama jika berhadapan dengan para musuh.


Val tahu-sedikit banyak tentang bagaimana para Dadnya bisa berubah, termasuk juga Abang Varen, Kak Tan-Tan, meskipun tidak seperti Abang yang dapat berubah drastis menjadi sosok berbeda jika Abang Varen sedang murka, pada orang yang menyakiti orang-orang yang dikasihinya, serta orang yang paling dicintainya.


Val sudah mendengar cerita, jika para Dad dan Abang Varen itu ‘gila’ saat mereka sedang murka di luar sana.


Bahkan julukan Psikopat pun tersemat pada para Dad dan Abang Varen tentang kegilaan dan kekejaman mereka dalam menghabisi orang-orang yang pernah mengancam keselamatan keluarga mereka.


Lalu pertanyaan, apakah para Mom dan Kak Drea atau Kak Via tahu tabiat para pria pasangan mereka itu-kekejaman dan kegilaan mereka, bahkan mungkin menghabisi nyawa seseorang?.

__ADS_1


Yah sekalipun musuh, tetap saja menghabisi nyawa orang terdengar mengerikan bukan?.


Terlebih, ada cerita The Dads dan Abang, tidak segan untuk menghabisi musuh dengan cara yang paling mengerikan, hingga sakitnya tidak dapat dibayangkan.


“Tahu.”


Jawaban para Moms, Kak Drea, serta Kak Via, walau Kak Tan-Tan tak sedominan The Dads dan Abang dalam perlakuan mereka terhadap orang-orang yang pernah mengusik keluarga mereka.


Dimana jawaban itu memicu suatu pertanyaan,


“Kalian tidak keberatan akan hal itu?”


“Keberatan.” Jawaban dari mereka yang ditujukan pertanyaan tadi.


“Lalu kenapa masih bertahan? ...”


Dan beberapa jawaban kemudian terdengar.


“Cinta.”


“The Dads dan Abang terutama, sekejam apapun mereka diluar sana, namun saat kembali ke rumah, kekejaman itu mereka tinggalkan di luar rumah. Dan wajah serta tatapan penuh cinta kasih sajalah yang mereka bawa masuk ke dalam rumah.”


“Selain, seburuk-buruknya mereka, The Dads, Abang Varen, bahkan Kak Tan-Tan yang pernah juga menghabisi nyawa musuh, atau mungkin Gappa, mereka tetap ingat siapa dirinya, masih tunduk pada Tuhannya.”


Dan Val masih bergeming di tempatnya, memandangi Kafeel yang sedang khusyuk beribadah itu.


Kak Kafeelnya tidak sempurna, sama seperti para pria dalam keluarganya.


Tapi tetap, pria itu masih ingat siapa dirinya.


Makhluk Tuhan, yang ingat jika ia harus tetap tunduk terhadap Tuhannya.


Sudut bibir Val tertarik ke atas, menciptakan senyuman teduh di wajah cantiknya.


Dalam hati Val, kekagumannya bertambah satu lagi pada Kafeel, selain kekasih setengah om-omnya itu masih ingat untuk bersujud meminta ampunan pada Penciptanya.


Sekalipun kapan-kapan, entah sadar atau tidak dosa itu akan dilakukan lagi, bahkan berulang.


Manusiawi.


Karena setan kan dibiarkan bebas di dunia?.


Tapi ya itu, saiton tadi sempat-mungkin hinggap di otak Kafeel, kala pria itu membawa Val untuk bercumbu sedikit lebih intim.


Hampir menyentuh titik hubungan yang disebut dosa besar.


Tapi Kak Kafeelnya mampu menahan dirinya atas godaan saiton yang menciptakan kesempatan untuk ‘menyentuh’ Val lebih jauh.


Makanya Val tersenyum bahagia sekarang dan merasa jika tak salah hatinya yang memilih dan mencintai Kafeel sampai sebegitunya.


Kak Kafeelnya yang begitu dewasa itu, tidak mengedepankan nafsunya pada Val.


Padahal jika Kafeel merayu Val untuk bertindak lebih jauh, mungkin Val akan mudah terbujuk.


Tapi tidak pada kenyataannya.


Val dijaga betul oleh Kak Kafeelnya.


Itu yang Val rasa.


‘Ah Kak Kafeel, bagaimana Val tidak terus dan terus mencintai Kakak, kalau cara Kakak memperlakukan Val sebaik ini?.


**

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2