HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
D E B A R


__ADS_3

Happy reading yah....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Jakarta, Indonesia


'I spy with my little eye, that a guy who kissed our little girl.... Our, Val'( Aku mengintip dengan mata kecilku, bahwasanya ada seorang pria yang telah mencium gadis kecil kami.... Val, kami ).


Gluk!.


Kafeel spontan menelan salivanya setelah ia membaca pesan dari salah satu ayahnya Val, yang mana adalah ayah kandung Val.


Daddy R.


‘Oh God!...’


Kafeel pun berkesah was-was dalam hatinya.


“Kenapa, Kak?”


Val yang melihat jika Kafeel menjadi nampak sedikit gugup setelah membaca sebuah pesan yang masuk ke ponsel pria pujaan hati Val itu, jadi bertanya pada Kafeel.


“Kakak ga kenapa-kenapa kok, Val...”


Kafeel yang mendengar Val bertanya padanya barusan itu spontan menoleh dan menjawab pertanyaan Val seraya ia menggeleng.


‘Tapi sepertinya kenapa-kenapa di dalam pandangan aku setelah Kak Kafeel pesan yang baru masuk ke ponselnya itu?... Soalnya senyum Kak Kafeel look mysterious ( terlihat misterius )...’


Val membatin dan bertanya-tanya sendiri dalam hatinya setelah mendengar jawaban Kafeel yang menjawab pertanyaannya tadi dengan menyertai senyuman di bibirnya.


*


“Apa ada masalah di pekerjaan Kak Kafeel?...” tanya Val lagi, saat Kafeel telah mulai mengemudikan mobilnya.


“Everything are okay in my works ( Semua dalam pekerjaan aku baik-baik aja ), Sweety... don’t worry ( jangan khawatir ), hm?...”


Kafeel menjawab pertanyaan Val dengan tetap menyertakan senyuman teduhnya seperti tadi.


“Tapi Val perhatikan, ekspresi Kakak menjadi nampak gugup setelah membaca pesan chat yang masuk ke ponsel Kakak?...”


Val pun memaparkan apa yang ia tangkap dalam pandangannya mengenai ekspresi wajah Kafeel pada kekasihnya itu.


“Itu hanya perasaan Val aja.”


Kafeel menyahut dengan tetap menampakkan senyumnya.


“Semua baik-baik saja. Nothing serious.”


Kafeel berbicara lagi, seraya mengelus satu sisi pipi Val dengan lembut disela ia mengemudi.


Val menarik sudut bibirnya.


Val masih penasaran sebenarnya, “Tapi jika memang Kak Kafeel ada pekerjaan mendesak, lebih baik Kak Kafeel jangan mengantar Val kembali ke kediaman...”


Tapi pada akhirnya Val berpikir seperti itu. Siapa tahu pesan chat yang masuk tadi adalah sebuah sebuah pesan yang memberitahukan jika Kafeel memang sedang ada pekerjaan mendadak dan mendesak hingga Kafeel terlihat menjadi sedikit tidak tenang dalam pandangan Val.


Lalu pikirannya itu, Val sampaikan pada Kafeel.


Karena Val akan memaklumi, jika memang soal pekerjaan.


Val cinta pada Kafeel tanpa syarat. Dan untuk itu, Val tidak mau membebankan Kafeel dengan  kepentingannya, sampai Kafeel harus mengorbankan kepentingannya sendiri-begitu pikir Val.


Meskipun seringkali bersikap kekanakkan, tapi Val bukan seseorang yang egois.


Selain pada Kafeel pun, Val juga seperti itu pada orang lain. Terkadang, ia dengan senang hati mengorbankan kepentingannya, untuk mendahului kepentingan orang lain.


Sifat sang Mommy kandungnya Val, yang menurun pada Val.


Mommy Ara, si Ibu Peri dalam keluarga mereka. Karena memang Mommy Ara itu baik dan tulusnya luar biasa.


Val memiliki sifat yang ini dari Mommy kandungnya itu. Baik dan tulus pada orang lain. Paras dan hatinya, sama-sama cantik.


*


“Tapi jika memang Kak Kafeel ada pekerjaan mendesak, lebih baik Kak Kafeel jangan mengantar Val kembali ke kediaman...”


“Pekerjaan Kakak di kantor sudah selesai semua untuk hari ini.” tanggap Kafeel pada ucapan Val barusan. “Kakak tidak juga ada pekerjaan diluar.”


“.....”


“Tadi makanya Kakak terkesan seperti mengabaikan Val saat di perusahan, karena Kakak memang sedang ngebut untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan Kakak yang tersisa hari ini di kantor...”


“.....”


“Agar Kakak bisa fokus untuk menemani Val,” sambung Kafeel.


“Sampai begitu, Kak.” tukas Val dan Kafeel tersenyum lagi.


Kafeel menoleh sedikit pada Val yang barusan berkomentar, dan kini sedang melihat ke arahnya, yang sedang mengemudikan mobil itu.


Lalu tangan kiri Kafeel terulur ke puncak kepala Val, dan mengacak rambut Val pelan. “Kan Kakak sudah bilang... kalau Val itu, tidak pernah Kakak anggap sebuah gangguan meskipun Val itu seperti ulat bulu...” kekeh Kafeel.


Membuat Val jadi ikutan terkekeh juga.


“Kakak memang sengaja ngebut untuk menyelesaikan pekerjaan Kakak hari ini...”


Lalu Kafeel lanjut bicara.


“Karena Kakak menebak jika keberadaan Val di Jakarta saat ini, singkat saja. Jadi Kakak, terlepas dari apa yang sudah terjadi diantara kita di pantai pada restoran tadi, Ya Kakak memang sudah berencana untuk meluangkan waktu, menyenangkan hati Val hari ini, menemani Val kemanapun jika Val memang ingin pergi ke suatu tempat...”


Kafeel pun bicara panjang lebar.


“Eh taunya ngambek Nona Valera sama Kak Kafeel sebelum pekerjaan Kakak selesai,” sambung Kafeel.


Kafeel tersenyum geli sambil memandangi Val yang tersenyum setelah mendengar penuturan panjang lebarnya barusan, saat rambu lalu lintas di jalanan yang mobil Kafeel lewati jadi berwarna merah.


Kafeel bisa sedikit santai untuk memuaskan matanya memandangi Val sejenak.


“Karena buat Kakak, meski tidak menyadari, atau memang Kakak yang selalu mencoba menepis perasaan Kakak ke Val selama ini, tapi jika Kakak bisa melihat senyuman Val yang lepas dan ceria itu, rasanya Kakak senang sekali.”


Dimana hati Val terasa gimanaa gitu, setelah mendengar penuturan Kafeel tersebut. Ya bahagia, senang, ge-er.


Kafeel kemudian kembali fokus pada kemudi saat lampu lalu lintas telah berganti warna menjadi hijau. “Dan ternyata itu adalah refleksi cinta dari perasaan Kakak pada Val yang selama ini selalu Kakak coba tepiskan...”


Kafeel melanjutkan bicara sembari ia fokus pada kemudi. Namun setelah Kafeel mengucapkan kalimat soal refleksi cinta, ia menyempatkan untuk menoleh sebentar pada Val dan tersenyum hangat pada gadis belia kekasihnya itu yang wajahnya nampak merona.


Val rasanya terenyuh hingga ia tersipu, mendengar kata-kata Kafeel yang terdengar manis untuknya itu. “I love you, Kak,” ucap Val kemudian.


“Love you more, Val cantik...” sahut Kafeel dengan lembutnya. ‘Hanya saja aku jadi kepikiran tentang bagaimana tanggapan keluarga kamu mengenai hubungan kita ini?’

__ADS_1


Kafeel kemudian membatin.


*


Telah menembus seperempat perjalanan dari sebuah kawasan wisata yang menjadi saksi penyatuan hati dan janji antara Val dan Kafeel, Kafeel masih tetap fokus dibalik kemudi, sambil sesekali melirik pada Val yang orangnya nampak terlelap di kursi penumpang samping Kafeel.


Sudut bibir Kafeel selalu tertarik secara otomatis ketika melihat Val yang sesekali tertidur jika habis pergi bersamanya, dari sejak hubungan satu arah, dimana Val yang gencar mengejarnya sebelum hari ini. Tangan kiri Kafeel rasanya gatal ingin mengusap pipi Val yang kulitnya selembut kulit bayi itu.


Tapi Kafeel urungkan, karena takut mengusik tidur Val yang orangnya nampak lelah itu.


Namun ada senyuman kecil yang terpasang di bibir yang sudah dua kali Kafeel cecap saat di pinggir pantai tadi. Membuat Kafeel yang mengingat bibir Val yang sudah dua kali ia cium itu, Kafeel inginkan lagi.


Kafeel menelengkan kepalanya ke kiri se per sekian detik sambil tersenyum geli.


‘Damned, gue benar-benar ga sangka bisa jatuh hati pada Val. Gimana ga jatuh hati, kalau tidurnya aja imut begitu.’


Kafeel membatin sambil mengulum senyumnya. Lalu ia kembali fokus pada jalanan di depannya. Namun Kafeel masih senyam-senyum sendirian.


Karena Kafeel masih merasa tidak percaya pada dirinya sendiri yang telah jatuh cinta pada seorang gadis belia, yang bahkan dapat membuatnya menjadi bersikap sedikit kekanak-kanakan karena cemburu pada bodyguard khusus gadis belia yang telah resmi menjadi kekasihnya itu.


‘I spy with my little eye, that a guy who kissed our little girl.... Our, Val’ ( Aku mengintip dengan mata kecilku, bahwasanya ada seorang pria yang telah mencium gadis kecil kami.... Val, kami ).


Namun disela dirinya yang sedang tersenyum-senyum ga jelas sendirian, Kafeel kemudian teringat kembali pesan chat yang tadi ia terima dari Daddy kandungnya Val.


Kafeel langsung menggigit bibir bawahnya sendiri.


Satu saja pesan chat dari Daddy R yang masuk ke ponsel Kafeel.


Dan tidak ada pesan-pesan chat dari para Daddy Val yang lainnya.


Tapi satu itu saja, sudah lumayan membuat Kafeel tak tenang. Padahal pesan chat Daddy R pun tidak menyertakan kalimat ancaman didalamnya.


Namun itu sudah cukup membuat Kafeel bergidik adanya.


‘Gila ya, Uncle R itu?... hanya lewat chat aja bisa bikin gue jantung gue rasa ga tenang!’ batin Kafeel. ‘Sampai sebegitunya kemampuan itu satu naga, hingga gue cium anaknya pun dia bisa tahu???’


Kafeel yang mulai resah itu geleng-geleng.


‘Stupid juga gue yang cium Val di tempat terbuka!’


Kemudian Kafeel merutuk.


‘Haish! Kafeel, Kafeel, masa lo lupa kalau mata naga yang katanya kecil itu, banyak cabangnya kayak franchise ayam geprek!’


Kafeel mendengus kasar kemudian.


‘Dahlah, Val banyak banget Daddynya!’


Kafeel mendengus lagi.


‘Bokap kandungnya aja naga, ga cuma dia seorang lagi yang merupakan titisan naga!. Belum lagi empat orang lainnya yang sama over protektif ke semua anak-anak mereka!’


Lalu Kafeel merutuk, masih dalam hatinya.


‘Baik sih mereka memang sama gue, tapi apa mereka semua setuju kalau gue berhubungan serius dengan salah satu anak perempuan mereka satu ini?’


Pra-duga Kafeel dalam pikiran dan hatinya lagi.


‘Gue dan Val kan jauh banget beda umurnya... Apa mereka akan percaya, kalau hal itu ga mempengaruhi ketulusan cinta gue pada Val? kalau gue benar-benar serius menjalin hubungan dengan Val, meski usia gue dan Val timplang jauhnya...’


Kafeel berkesah khawatir.


‘Duh! Mana gue ga langsung jawab itu chatnya Daddy R!’


‘Bisa-bisa tersinggung kalau gue ga cepat balas chatnya dia.’


Kafeel hendak mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celananya.


‘Tapi baiknya gue telepon langsung Uncle R daripada balas chat.’


Kafeel melirik pada Val yang terlelap disampingnya.


‘Tapi nanti aja deh saat sampai di kediaman utama mereka, baru gue call Uncle R.’


Kafeel pun urung mengeluarkan ponsel miliknya dari saku celana, dan kembali fokus pada jalanan di hadapannya.


Tapi kini, Kafeel menyetir dengan hati yang sedikit tidak tenang, walau ia tetap mencoba fokus menyetir agar tidak sampai gegabah hingga membuat dirinya, terlebih Val jadi celaka.


‘Selain Tuan Alva, Tuan John, Tuan Jeff dan Tuan Dewa sudah menunggu di Kediaman Utama. Mau berbicara serius dengan Tuan Kafeel katanya.’


Kemudian Kafeel teringat perkataan Adri saat di restoran tepi pantai tadi. Membuat Kafeel jadi tercenung lagi.


‘Apa hal itu berkaitan dengan gue yang sudah mencium Val ya?’


Kafeel pun membatin lagi.


Lalu Kafeel menghela nafas frustasi, setelah melirik pada Val yang masih terlelap pada kursi penumpang disampingnya.


‘Pasti iya kayaknya sih... jika Uncle R yang berada di London aja bisa tahu kalau gue sudah mencium anak gadisnya ini... mereka yang berada disini pasti juga sudah tahu.’


Lalu Kafeel melirik pada Val. Dengan hatinya yang mulai merasa cemas. Ada rasa takut yang tahu-tahu menyelusup di hati Kafeel saat ini.


‘Bagaimana jika kita tidak direstui sama para Daddy kamu yang super dan over protective itu??.’ Lirih Kafeel dalam hatinya.


Kafeel kembali menoleh sesaat ke arah Val yang matanya masih terpejam itu.


Sorot mata Kafeel yang rasanya sudah mulai dipenuhi oleh cintanya pada Val dan juga bersemangat untuk merenda hari-hari dan masa depan hubungan mereka setelah ikrar cinta ia dan Val cetuskan beberapa saat yang lalu, kini menatap Val dengan sendu.


*


“Apa kau sadar terpaut berapa tahun usiamu dan Val?”


“Sadar Uncle John.”


“Lalu kau pikir hubunganmu dan Val akan berhasil dengan perbedaan usia kalian yang hampir sepuluh tahun itu?”


“Aku yakin Uncle. Jika—“


“Percaya diri sekali!”


“Bukankah Uncle dan Aunt Prita terpaut bahkan hampir dua belas tahun?....”


“Jangan samakan dirimu denganku!”



“Andai pun kami yang berada disini setuju dengan kau yang berhubungan dengan Val, apa kau pikir tiga Daddy Val lain yang berada di London akan menyetujuinya?....”


“Jangankan menyetujui, aku rasa mereka tidak akan memberikanmu kesempatan untuk itu.”

__ADS_1


“Kami yang selama ini membiarkan Val mengagumimu, bukan pertanda kami setuju jika kalian benar-benar berhubungan.”


“Sekarang, kau pergilah ke London dan temui tiga Daddy Val yang sudah menunggumu disana.”



“Uncle R, Uncle Andrew, Uncle Lucca, Aku---“


“Kau pikir siapa dirimu?!”


“Tapi aku mencintai Val, Uncle.”


“Kami menyukaimu. Tapi untuk menjadikanmu menantu. Itu tidak mungkin!”


“Tapi, Uncle—“


“Kau, tidak cukup baik bagi Val!”


“Tapi, Uncle—“


“Jauhi Val!”



“Val.... Maaf, Kakak sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan semua Daddy kamu. Tapi di mata mereka Kakak tidak cukup baik untuk Val. Jadi sebaiknya kita berpisah.”


“Tidak, Kak!”


“Dan mungkin mereka benar....”


“Kaakk....”


“Kakak mencintai kamu Val, sangat. Meski baru Kakak sadari dan akui. Tapi jika sudah seperti ini, Kakak bisa apa?.... Menentang mereka itu tidak mungkin, Val. Karena Kakak sangat menghormati para Daddy kamu ----“


“Tapi, Kaakkk....”


“Cepat pergilah Kafeel.”


“Maafkan Kakak Val, Ini bukan keinginan Kakak. Tapi.... Kakak nyatanya harus pergi dari kehidupan kamu....”


“Jangan Kaakk!!....”


“Sudah Val, dia tidak cukup baik untukmu!”


“Tidaakk!!!! Kak Kafeel baik!!....”


“Sudah!”


“Kau cepat pergi Kafeel! Pergi dan jangan pernah mendekati Val lagi!”


“Kakak mencintai kamu Val, tapi takdir tidak menginginkan kita bersama. Selamat tinggal Val....”


“Kak Kafeell!!....”


“Va-al....”


**


DUK!.


“GA!”


‘Astagfirullah!’


Itu suara hati yang matanya langsung terbuka dengan cepat karena terkejut, akibat suara pekikan kencang yang berasal dari orang yang berada disampingnya.


“ITU GA BOLEH TERJADI!”


DUK!.


Suara pekikan kencang seperti sebuah protes yang disusul dengan suara kemudi yang dipukul dengan kepalan tangan itu terdengar lagi.


Dan sungguh mengagetkan gadis yang terbangun tiba-tiba saking ia sangat terkejut itu.


“K-kak...” tangan gadis yang terkaget itu memberanikan diri untuk menyentuh lengan orang yang sedang nampak emosi disampingnya itu.


‘Eh?!’


Dan orang yang disentuh lengannya itu pun langsung terlonjak kaget juga, dan menolehkan kepalanya dengan cepat. Lalu dengan cepat orang yang nampak geram sampai berteriak dan memukul kemudi itu tersadar.


‘Oh Astagaaaaa!!...’


“Ada apa... Kak?...”


“Ma-af, Val. Maaf... Maaf, jadi buat Val kaget”


“Kak Kafeel kenapaa?...”


Itu Val, yang benar-benar terkejut mendengar suara pekikan Kafeel yang kencang, dengan disertai kegusaran, juga pukulan pada kemudi mobil yang menggambarkan kekesalan.


“Ka-kakak...” Kafeel menggantungkan kalimatnya. Lalu ia mengusap kasar wajahnya. “Kakak, ga apa-apa, hanya teringat sesuatu yang begitu mengesalkan saja... Maaf, membuat Val jadi sangat terkejut...”


Kafeel merutuki dirinya sendiri kemudian sambil memandang Val dengan rasa bersalah, selain ia merasa stupid, karena baper dengan bayangan di otaknya tentang kemungkinan yang terjadi pada hubungannya dan Val.


Yang pikiran bikin baper ga karuan itu, atas tidak direstui nya hubungan Kafeel dan Val, berikut niatan Kafeel untuk serius pada gadis belia yang telah menjadi kekasihnya itu, hanya sebuah bayangan ketakutan Kafeel atas hatinya yang dug-dug-an.


Selepas mendapat pesan chat dari Daddy R karena ayah kandung Val itu entah bagaimana dapat tahu jika Kafeel telah mencium putri kandungnya. Dan juga pemberitahuan dari Adri, bahwa dirinya telah ditunggu oleh tiga Daddy Val yang lain di kediaman utama mereka yang berada di Jakarta.


Yang mana, pada akhirnya, membuat Kafeel jadi tercenung, lalu pikiran buruk langsung memenuhi kepalanya sampai membuat Kafeel menjadi emosi tanpa sadar.


‘Ya Tuhaannn... bisa-bisanya gue kelewat baper gara-gara pikiranlucknot, karena takut ga direstuin sama para Daddynya Val?!... haish!, begini nih, kalau suka iseng ikut-ikut si Mama nonton drama ‘Ku-menangis...’!!!!. Jadi paranoid ga karuan kan gue?!’


Kafeel terus merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Karena dalam otak si AA tadi, ada gambaran 'pemisahan' secara paksa antara dirinya dan Val, versi slow motion, dengan Val yang ditarik paksa untuk menjauh darinya.


Awokwkwkwkwk.


**


Emak: Kabur ah, takut di rutuk juga ama reader.


😃


**


To be continue...


Jangan lupa bahagia.

__ADS_1


Biar agak-agak kesel ama Emak, jempol tetep jangan lupa digoyangin.


😁


__ADS_2