HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 200


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


Terima kasih masih setia baca yawgh.


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Kediaman Utama The Adjieran Smith, Jakarta, Indonesia ..


Ada mereka yang sedang berkumpul di ruang santai keluarga, meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Meski tubuh dirasa cukup lelah, namun keinginan untuk merebahkan di atas peraduan masing – masing tidak ada sama sekali.


Hanya membersihkan wajah yang tadi terias dengan make up ( para wanita ) berikut membersihkan badan sekenanya sekaligus mengganti pakaian mereka dengan pakaian rumahan.


Sementara para pria juga sama membersihkan wajahnya meski tidak memakai make up, berikut tubuh sekenanya --- sekaligus mengganti setelan jas mereka dengan pakaian rumahan. Setelahnya, para penghuni inti KUJ ( Kediaman Utama Jakarta ) --- begitu para penghuni bangunan mewah itu menyebutnya, berkumpul kembali di ruang santai keluarga mereka dalam kediaman mereka tersebut.


“You’re not feeling tired ( Kamu tidak merasa lelah ), Elen?-“ tanya Mommy Ara pada Elena, anak Uncle Nino dan istrinya --- yakni Aunt Eve, mantan sekertaris pribadinya Poppa.


Dimana Elena memang menginap di KUJ bersama kedua orang tuanya, selama mereka berada di Jakarta setelah ikut serta menghadiri acara tahunan rutin yang diadakan oleh keluarga dari Bos Besar sang ayah --- sekaligus sahabat dari ayah Elena.


Yang mana ayah kandung Elena sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga The Adjieran Smith, dari jaman sang ayah belum menikah dengan ibundanya.


Dan kini, Elen --- sebagaimana orang tuanya, juga membina hubungan baik dengan para pewaris muda dari keluarga Bos Besar sang ayah sekaligus sahabat yang sudah menjadi keluarga itu.


Elen yang ikut bergabung ke ruang santai keluarga di KUJ The Adjieran Smith itu menggeleng selepas Mommy Ara bertanya padanya. “No, Mom Peri..” jawab Elena setelahnya. “I’m also curious beside worry about all of my brothers who were on battle now ( Aku juga penasaran selain khawatir kepada para saudara laki – lakiku yang sedang pertarungan saat ini )”



“Memang si Felix bisa berantem itu dia?” Ada Momma yang bertanya, ketika semua orang yang tidak menyertai Varen dan kawan – kawan yang sedang mengurus para berandalan itu telah berkumpul di ruang santai keluarga KUJ The Adjieran Smith tanpa terkecuali.


Para personil keluarga inti, berikut kerabat terdekat yang datang dari London dan tinggal di Jakarta selama beberapa hari.


“Yes he can-“


Uncle Nino yang menjawab pertanyaan Momma yang mempertanyakan kemampuan anak lelaki sulungnya itu, yang ikut serta bersama Varen dan kawan-kawan yang sedang mengurus para berandalan untuk digulung dan dibabat habis kalau perlu.


Seperti halnya Papa Lucca, dan para kerabat yang tidak memiliki darah Indonesia – Uncle Nino berikut istri dan anaknya sudah paham bahasa Indonesia, setelah sekian lamanya hidup berdampingan dengan para anggota keluarga Adjieran Smith yang lain --- dimana rata – rata dari mereka berdarah Indonesia, baik campur ataupun murni.


Namun ya itu, asal pelan saja bicaranya.


Baru Uncle Nino berikut istri dan anaknya akan paham maksud ucapan yang dikatakan dalam Bahasa Indonesia.



Mereka yang merupakan keluarga inti berikut kerabat terdekat yang sedang ada di KUJ dan kesemuanya telah berganti pakaian dengan pakaian rumahan, kini sudah fokus menatap layar televisi.


Dimana dalam layar televisi tersebut sudah terdapat sebuah gambar yang dikirimkan dari sebuah laptop yang sedang dipangku oleh Val, kemudian gambar yang diterima dalam laptop dikirimkan ke televisi dalam ruang santai keluarga di KUJnya Adjieran Smith melalui sambungan bluetooth.


Gambar dalam laptop yang dipangku Val itu adalah situasi dalam realtime pada sebuah tempat terbengkalai. Yang dikirimkan melalui sinyal dari dragon insectothopter – alat canggih buatan Varen yang kurang lebih sama seperti sebuah drone jaman now. Hanya lebih canggih dan khusus, karena tidak ada di pasaran.


Sinyal yang diterima dalam laptop berikut gambar bersuara itu dihubungkan oleh Achiel serta beberapa anak buah lain yang bertugas mengawasi keadaan dari atas langit – katakanlah begitu. Yang mana mata mereka harus awas terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi di sebuah tempat yang kini nampak seperti arena pertarungan antar geng.


Walaupun yakin sekali Achiel dan rekan – rekannya jika hanya satu kemungkinan yang akan terjadi, yakni pihak lawan akan hancur berkeping – keping, jika mereka menjawab tantangan para tuannya. Dimana yang satu ada yang nyeletuk, “Ambil angle yang bener Chiel! Cari angle pas kita semua lagi kesorot gantengnya!”


Sempet – sempetnya itu satu tuannya mikirin angle biar keliatan cakep. Ngeselin – kata Achiel.

__ADS_1


Dimana istri yang bersangkutan spontan menutup wajahnya ketika mendengar suara suaminya yang petakilan itu.


“Anak sama bapak sama.” Lalu celetukan keluar dari mulut Papi John. “Narsis kebangetan,” tambah Papi John.


“Ga kebuang sama sekali Si Tan – Tan sama bapaknya kalo soal kenarsisan yang hakiki,” timpal Daddy Dewa.


Dan suara kekehan berjamaah terdengar setelahnya.



“Astagfirullah.” Mami Prita spontan mengucapkan kalimat istigfar, kala matanya menangkap pemandangan orang-orang berperawakan urakan dengan memegang beragam jenis senjata khas tawuran di layar televisi yang merupakan refleksi gambar dari laptop yang sedang di pegang Val. “Itu mereka banyak banget begitu?” lirih Mami Prita.


“Iya itu, anak-anak ga akan apa-apa kah?” Kekhawatiran yang sama keluar dari mulut Mama Jihan sebagaimana Mami Prita dan beberapa wanita lainnya. Namun ada juga beberapa wanita yang woles-woles aja. Contohnya Mommy Ara.


Selain Ibu Peri satu itu memang tenang pembawaannya seperti sang suami, yakni Dad R. Dengan perbedaan, Mommy Ara tenangnya ya emang tenang beneran, karena hatinya yang memang macam bak ibu peri baik hati.


Sementara sang suami, tenangnya menghanyutkan.


Malah kadang mematikan. Yang mana terkhusus pada lawan-lawannya Dad R.


“They will survive ( Mereka akan selamat )..”


Dimana Dad R kemudian bersuara untuk merespon kekhawatiran sebagian wanita dalam keluarganya yang sedang menonton siaran langsung sebuah battle macam di film-film itu.


"And alive of course ( Dan hidup tentu saja ).."


"Win for sure ( Dengan kemenangan yang pasti ).."


“Kenapa Kak Kafeel yang menjadi mortir sih???” Lalu kalimat protes keluar dari mulut Val, saat melihat posisi Kafeel yang begitu membahayakan, karena Kafeel hanya memiliki sedikit orang bersamanya.


Sangat rumpang dengan orang-orang yang sedang mengelilingi kekasih setengah om-omnya itu. Val kan khawatir sekali jadinya, andai Kak Kafeelnya kenapa-kenapa. Meski Val percaya sekali, jika Abang Varen sudah turun tangan—rasa takut tak perlu ada.



“Second, it’s him who become another main targets those jackasses ( Kedua, dia juga target utama lainnya para keledai dungu itu )-“ Uncle Nino menimpali.


“Kak Kaf tidak akan kenapa-kenapa juga Val..”


“Yap, May betul!. Kak Kaf itu mantan atlit taekwondo, bukan? Sudah di tingkat tertinggi pula. Sudah itu Kak Kaf kan juga sangat piawai dalam menembak. Dan Kak Kaf juga bukan berdiri tanpa persenjataan tersembunyi..”


Ann merepet menimpali ucapan Mika. Val merungut saja.


Sisanya mendengus geli saja pada tiga gadis muda yang masing-masing baru saja menyampaikan pendapatnya dengan segala model tanggapan.


Setelahnya, semua mata mereka yang berada dalam ruang santai keluarga The Adjieran Smith itu—kini terfokus pada layar televisi.


Lalu celetukan keluar dari Mom yang terkenal usil mulutnya, yang punya banyak kosakata sebutan nyeleneh sekate-kate meski sudah lama sekali berdomisili di luar negeri.


Tapi ya itu, satu Mom tersebut tidak pernah menanggalkan jati dirinya.


Namun mampu menempatkan dirinya dengan baik sesuai situasi dan kondisi serta lingkungan di tempatnya berada.


Tapi jika sedang berkumpul bersama keluarga atau teman-teman lamanya di Indo, sifat asli satu Mom yang gesrek itu akan keluar.


Berikut kosakata asal yang masih dia ingat jika kata-kata itu booming dimasanya, ataupun kosakata nyeleneh yang terserah aja lidahnya yang tak bertulang itu nyebut.

__ADS_1


Seperti sekarang ini.


“Ya ilaahh segala ‘jagung bakar’ dibawa itu sama tuh para berandalan jamet.”


Jika jamet, mungkin Drea, Via, Isha bahkan Mika masih paham.


Tapi satu Mom yang gesreknya ga ilang-ilang itu. Momma.


Menyebut kata ‘jagung bakar’. Dua kata yang menarik perhatian anggota keluarga yang lain hingga mereka mengernyit, kecuali segelintir orang yang satu lingkungan pergaulan dengan Momma saat dahulu kala.


“Jagung bakar?”


“Memang ada yang bawa jagung dan bakaran?..”


Komentar mereka yang tak paham, seraya bertanya.


Sementara yang paham cekikikan.


Termasuk si pelaku penyebut kata ‘jagung bakar’, yang terkikik geli macam adik dan satu kawan selingkungan pergaulan, meski dulunya tidak selekat sekarang. “Kasih tau Mama Bear, apaan tuh ‘jagung bakar’”


Momma berkata sambil memandang ke arah Mama Jihan yang cekikikan. Yang kemudian berucap,


“Ja-blay tang-Gung Ba-ru me-Kar.”



Meninggalkan Momma dan kosakata jadulnya, semua mata kini kembali ke layar televisi.


Lalu pekikan-pekikan girang terdengar.


“Aaa Kak Kaf kereenn!!!...”


Ada Val yang tersenyum lebar kala melihat pemandangan Kafeel memukul telak perut lawannya.


Namun kemudian sempat tegang ketika seruan untuk menyerang Kafeel dan kawan-kawan terdengar dari pihak lawan.


“Wes anak siapa ituuu??” lalu seruan girang terdengar lagi dari mulut Momma, saat gambar di televisi menunjukkan gambar Rery yang sedang memanah ketiga arah dimana ada bendera dari lambang geng motor kriminal yang menjadi lawan para pria muda yang sedang ada di sebuah tempat nun di sana.


“Aww Rery So Snatched!”


Yang mana pekikan girang dari Ann juga terdengar selepas Momma yang takjub melihat si bontot kandungnya yang memanah sangat tepat sasaran dengan anak panah berapi.


Dan pekikan girang dari Val, Momma dan Ann pun menular hingga membuat riuh ruang santai keluarga mereka, bak sedang nonton piala dunia.


Selanjutnya tawa mengudara, ketika perkataan Rery terdengar dari audio televisi.


“Ganti gambarnya pakai gambar babi! Atau engga kecoak!---Kelompok pecundang banyak gaya!”


“Ya ampun Rery mulutnyaa –“


“Of course lah. Tampan. Lo sama jempol kaki gue pun masih lebih tampan jempol kaki gue!”


“Nah kalo gini ga kebuang si Rery macam lo, Donald Bebek Tua!” celetuk Daddy Jeff kemudian.


“Ho oh, lemes!”

__ADS_1


♥♥♥


To be continue ....


__ADS_2