HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )

HEIRS OF THE ADJIERAN SMITH ( Kisah Para Pewaris )
EPISODE 168


__ADS_3

Happy reading my Bebi Bala-Bala semua....


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥


Rumah Keluarga Cemara, Bekasi, Jawa Barat, Indonesia,


“Assalamu’alaikum!”


Para Incess telah kembali ke rumah Keluarga Cemara.


“Wa’alaikumsalam!”


Dimana sahutan salam para Incess itu pun, terdengar dari dalam rumah dimana semua orang yang berada disana sejak beberapa hari yang lalu sedang berkumpul semua di halaman depan.


♥♥♥


Termasuk mereka yang semalam begadang dan tidur setelah bercengkrama sebentar habis sarapan juga sudah bangun dan nampak segar, duduk-duduk sambil melakukan macam-macam aktfitas santai.


Tanpa masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, para Incess yang baru saja kembali itu langsung ikutan kumpul di tempat kebanyakan anggota keluarga mereka di rumah Keluarga Cemara itu sedang berkumpul ria, bercengkrama dengan santai.


Ada yang menjadi gitaris dan vokalis musiman, ada yang lagi maen kejar-kejaran sama dua bocil terbocil yang nampak begitu senang, terlihat dari tawa lebar keduanya, dan lain sebagainya.


♥♥♥


“Aro! Tuh henponnya bunyi....”


“Pacarnya telpon tuh!”


Ares yang ikutan melirik ponsel milik Aro yang tergeletak di meja itu ikut bersuara setelah Ake Herman.


Aro pun lekas menyahut dan datang ke tempat ponselnya tergeletak dan langsung meraihnya untuk menerima panggilan masuk tersebut.


♥♥♥


“Eh iya Aro, soal kamu dan gadis bernama Daisey itu.”


Dimana Ann lalu bersuara untuk bertanya pada Aro, setelah Aro selesai menjawab panggilan telepon pada ponselnya, lalu kembali untuk meletakkan ponselnya di atas meja.


“Kenapa lagi Ann?” Aro lekas menyahut pada Ann.


“Kalau dari kata-kata kamu tadi yang aku ingat, kamu dan gadis bernama Daisey itu menolak untuk berpacaran karena kalian berbeda keyakinan?” tanya Ann kemudian yang lalu langsung diiyakan oleh Aro. “Kalau sama-sama cinta, kenapa keyakinan yang berbeda harus jadi penghalang?“


“Karena prinsip yang berbeda yang bisa saja menimbulkan konflik diantara pasangan berbeda keyakinan itu kalau memaksakan bersama,“ Bukan Aro, tapi Rery yang menjawab pertanyaan Ann.


♥♥♥


Dari jawaban Rery, beberapa pendapat dan komentar pun terlontar dari beberapa orang yang sedang berkumpul bersamanya itu.


“Prinsip kamu sendiri,Re – An?....”


Hingga pada akhirnya pertanyaan tersebut keluar dari mulut Ann sambil memperhatikan Rery.


“Aku seperti Aro. Maunya yang seiman....”


Rery tidak ada maksud apa-apa dengan jawabannya itu sebenarnya.


Rery bahkan tidak sadar soal perbedaannya dan Ann ketika menjawab pertanyaan Ann soal prinsipnya mengenai pasangan. Yang mana hal itu terasa sensitif untuk Ann.


Santai saja Rery menjawab, namun Ann merasa tercubit hatinya.


Ann terdiam sesaat hingga kemudian sebaris kalimat yang mencengangkan orang-orang yang bersamanya itu keluar dari mulut Ann.


“Kalau begitu aku akan berpindah keyakinan ke agama yang kalian anut,” cetus Ann. Dimana semua orang langsung menoleh padanya.


“Pindah keyakinan bukan suatu hal yang bisa kamu pikirkan dengan gegabah, apalagi dengan alasan karena seseorang,” tegas Rery yang paling tercengang diantara yang lainnya, sambil Rery spontan mendelik pada Ann.


Rery bukan bagaimana-bagaimana.


Hanya rasanya dia perlu membenarkan pola pikir Ann.


Yang mana pola pikir tentang satu hubungan lawan jenis itu terlalu dini untuk dibicarakan oleh Ann yang bahkan belum berusian tujuh belas tahun, sama seperti dirinya.


“Tapi jika aku tidak begitu, kita tidak bisa bersama menjadi sepasang kekasih kan Re-An?” tanggap Ann atas ucapan Rery sebelumnya.


“Sudah aku bilang kan berkali-kali, jodoh itu sudah ada yang mengatur, Ann –“


“Tapi kan –“


“Sudah deh, jangan pikirin pacaran terus. Dimasa depan kita berjodoh atau tidak, ya itu sudah suratan takdir, Ann.”


Rery mencubit gemas pipi Ann yang orangnya tersenyum tipis, dimana Ann berbisik melirih dalam hatinya.


‘But Rery, I’m a star with no light, a day with no night, if I don’t have you ( Tapi Rery, aku bintang tanpa sinar, hari tanpa malam, jika aku tidak memilikimu )’


Ann menatap Rery, namun pikirannya menerawang jauh. Memang Rery benar, yang mengatakan, jika seharusnya Ann tidak perlu memikirkan soal hubungannya dan Rery dimasa depan terlalu-lalu.


Toh masih muda usia mereka, jalan menuju masa depan pun masih panjang, yang mana masih banyak hal yang perlu diprioritaskan. Soal pendidikan contohnya, atau prestasi lainnya. Ann tahu dan sadar betul akan hal itu.


Tapi hati Ann tidak mau tahu. Toh hati-mau muda ataupun tua, keinginan yang tahu-tahu muncul di dalamnya, kan tidak dapat ditahan, bukan?..


Seolah ada gemuruh dalam hati Ann sekarang.


‘Apa aku dan Rery akan terpisah karena agama?..’


♥♥♥


If I Don’t Have You.. To Hold On To..


I Can’t Go On In This World Alone, Baby It’s True..


If You Said Goodbye.. And I Would Die..


I’m A Star With No Light, A Day With No Night,


If I Don’t Have You..


( Jika Aku Tidak Memilikimu.. Sebagai Tempatku Berpegang..


Aku Tidak Bisa Berada Di Dunia Ini Sendirian, Sayang Itu Benar..


Jika Kamu Mengucapkan Selamat Tinggal.. Maka Aku Akan Mati..


Aku Bintang Tanpa Cahaya, Hari Tanpa Malam,


Jika Aku Tidak Memilikimu.. )


♥♥♥


Galau, penyakit standar para belia yang merasa jika mereka merasakan ada perasaan yang disebut cinta pada seseorang. Rasa gelisah yang akan hadir membuat tak nyaman, kala cinta yang para belia itu rasa sedang terusik akan sesuatu. Dan hal itu sedang dirasakan oleh satu belia di jajaran Pewaris Muda The Adjieran Smith.

__ADS_1


“Hhhh.”


Suara kesahan pelan keluar dari mulut seorang gadis belia yang sedang dilanda kegalauan itu.


Dialah Ann.


Yang sedang mendengarkan sebuah lagu melankolis di pemutar musik yang ia hubungkan dengan sebuah earphone-dimana earphone itu menyumpal rapat telinganya.


Ann sedang merasa ketidaknyamanan atas pembicaraan hubungan lawan jenis yang berbeda keyakinan.


“Kepalaku jadi sakit memikirkan hal itu..” gumam Ann yang memang sedang rebahan di atas ranjang itu, setelah ia selesai membersihkan diri selepas para saudarinya yang sudah lebih dulu membersihkan diri mereka, kemudian keluar dari kamar.


♥♥♥


“Kak Ann mana deh?” Ares yang bertanya.


“Masih mandi kali? Ann kan mandinya lebih lama dari aku-“


“Ohh....”


Ares manggut-manggut saja mendengar jawaban Isha.


♥♥♥


“Kak Mika, Kak Ann mana sih ga turun-turun???....”


Ares kembali bersuara menanyakan tentang Ann.


“Masa mandi satu jam lebih ga selesai – selesai sampe mau maghrib begini???....”


“Ya sudah liat sana-“


“Lagian kenapa sih nyariin Ann?....”


“Kak Ann janji mau ngajarin aku soal kimia yang susah pake metodenya Kak Ann yang katanya bisa bikin gampang ngerjainnya....”


“Memangnya kamu sudah belajar kimia di sekolah?-“


“Udah ada, Kak Rery....”


Ares lekas menjawab.


Lalu decakan kecil terdengar dari mulut Varen.


“Halah kimia masih masuk dalam pelajaran IPA Terpadu aja-“


“Ya aku mau pelajarin dari sekarang kimia yang susah-susah-“


“Ya udah sini sama Kak Drea belajar kimianya,” celetuk Drea.


“Ah sama Kak Ann aja ... Kak Ann jago banget kimianya kan? ...” sahut Ares.


“Masih jagoan gue lah.”


“Alah Kak Tan-Tan, hukum dasar perhitungan kimia aja ga tau ...”


Ares dengan cibirannya pada Tan-Tan. Dimana membuat mereka yang sedang bersama dua orang tersebut kemudian terkekeh.


“Gue headshot juga lo!” sewot Nathan.


♥♥♥


“Wa’alaikumsalam.” Sahutan otomatis pun keluar dari mereka yang mendengar suara yang mengucapkan salam itu.


“Kak Kafeeel!!” Lalu pekikan sumringah pun spontan keluar dari Val melihat kekasih hatinya yang menepati janji untuk datang kembali ke rumah Ake Herman dan Ene Bela.


“Halo, Tuan Putri.”


Sapaan dan usapan lembut di kepala Val yang menyambut gadis itu saat berhambur kepada Kafeel.


“Baru sebentar berpisah tapi Val sudah rindu pada Kak Kafeel ..” ucap Val dengan nada suara yang manja pada Kafeel.


“Alamahoy-“


“Lebay!-”


“Elah!”


Lalu timpalan-timpalan iseng pun terdengar yang ditujukan untuk Val, sementara Kafeel nyengir ajah.


“Pas banget kamu datang Ka, yuk sekalian makan?-“


“Iya Nek, makasih ....” Kafeel menjawab tawaran Ene Bela untuk makan malam dengan sopan, sambil Kafeel mencium takdzim punggung tangan si Ene, serta juga Ake Herman dan dua pasang orang tua yang ada di sana.


“Call Ann ( Panggil Ann )”


Poppa berucap.


“Biar aku yang panggilkan,” sahut Mika.


♥♥♥


Mika yang datang sendiri setelah kembali dari lantai dua, mengundang pertanyaan yang salah satunya kemudian tercetus dari mulut Drea.


“Mana Ann?-“


“Masih di kamar.”


“Lagi ngapain sih dia betah banget di kamar?”


“Tidur,” jawab Mika.


“Tidur?-“


“Iya, Mi.”


♥♥♥


“En?”


Sapaan memanggil nama seseorang terdengar ketika pintu kamar yang ditempati oleh para Incess terbuka dengan pelan.


“Eh, Ene?”


Dia yang disapa dengan nama panggilannya oleh seseorang yang berusan membuka pintu kamar  dan sudah ada didekatnya kini pun, menyahut dengan pelan.


Dialah Ann.


Dimana yang baru saja memanggil seraya mendekati Ann itu adalah Ene Bela.

__ADS_1


“Kata Mika, En lagi tidur?” ucap Ene Bela yang memanggil Ann sesuai dengan apa yang telinganya dengar. ‘En”, tanpa peduli jika yang benar adalah ‘Ann’.


Sebagai orang Indonesia yang baik, jadi Ene Bela memanggil sesuai ejaan yang dia dengar. ‘En’ panggilan untuk anak tunggal kandungnya pasangan Italia itu.


Sebagaimana Ene Bela dan Ake Herman memanggil ‘Endru’ pada Poppa Andrew.


Sesuai ejaan kan tuh?


“Eengg, iya, Ne ....“


Ann menyahut kikuk pada Ene Bela, karena dirinya yang tadi meminta Mika mengatakan pada anggota keluarganya yang hendak makan malam itu, jika dirinya sedang tidur.


“En, sakit?”


♥♥♥


Sementara itu di lantai bawah,


“Va-“


“Yup?” Varen merespon Kafeel yang memanggilnya.


“Yang lo minta-“


“Pegang dulu. Nanti sambil makan kita bahas bareng.”


Kafeel mengangguk dan kembali memasukkan flashdisk yang tadi ia sodorkan pada Varen, ke dalam saku celana jeansnya lagi.


♥♥♥


“Papapap ..”


Suara imut terdengar memanggil-manggil Varen.


“Gadis mau Papap gendong?-“


“Papapap ..” suara imut dengan pemiliknya yang sama imut itu yang mana adalah putri kecilnya Nathan dan Via itu tidak menyahuti Varen dengan kalimat, namun dengan gestur yang menampakkan jika ia ingin digendong oleh ayah angkatnya itu.


Varen tersenyum lebar, lalu meletakkan piring berisi makanan miliknya, kemudian merentangkan tangannya untuk menerima Gadis ke dalam gendongannya yang sedang berada dalam gendongan baby sitternya itu. Dimana si baby sitter sempat menahan satu anak majikannya itu agar tidak merepotkan Varen, selain Varen tampak memang hendak makan sekaligus membahas pekerjaan dengan Kafeel di ruang tamu rumah Keluarga Cemara.


Namun Varen meminta baby sitternya Gadis, agar memberikan saja Gadis padanya setelah Varen meletakkan piring berisi makanannya di atas meja ruang tamu. Yang mana Gadis yang tadinya sedikit rewel itu, kini sangat tenang duduk di atas pangkuan Varen.


Dan dengan telaten juga, Varen yang berpengalaman mengurus Drea dari sejak istri belianya kecil itu menyuapi Gadis yang kemudian disusul dengan kehadiran anak lelaki kandungnya dan Drea. –Putra.


Yang mana Putra, dengan antusiasnya minta didekatkan dengan Gadis.


Seperti yang Varen lakukan pada baby sitternya Gadis agar membiarkan putri kecilnya Nathan dan Via ke dalam gendongannya, begitu juga yang Varen lakukan kepada baby sitternya Putra.


Yang sama merasa seperti baby sitternya Gadis dimana keduanya merasa tidak enak, karena salah satu Tuan mereka jadi terganggu karena kedua bocah imut yang harusnya mereka jaga disaat orang tuanya sedang beraktifitas itu jadi malah terkesan seolah mengganggu Varen.


♥♥♥


“Aduh Rosi, kenapa Gadis malah dikasih ke Abang sih?”


Via yang melihat jika Gadis sedang berada di atas pangkuan Varen itu pun, lantas menegur baby sitternya Gadis.


“Kamu juga, Yanti, itu Putra kenapa jadi dibawa kesini juga? Jadi malah ganggu Tuan Varen sama Tuan Kafeel, kan? ..”


Via menegur juga baby sitternya Putra, karena Putra sedang dipegang oleh Kafeel.


Yang kemudian teguran Via pada dua baby sitter itu dijawab oleh Varen dan Kafeel.


“Ga apa-apa, Vi.”


♥♥♥


“Ann mana?” tanya Kafeel yang masih memangku Putra, ketika sekarang akhirnya Drea dan Val juga ikut bergabung bersamanya dan Varen.


“Tidur,” Varen yang dengan cepat menjawab pertanyaan Kafeel barusan.


“Tumben?”


Kafeel spontan berkomentar.


“Mungkin karena Ann kepikiran soal dia dan Rery setelah mendengar kisahnya Aro dan Daisey.”


Val yang kemudian menyahut.


“Kak Kafeel ingin Val suapi juga?” tanya Val sebelum Kafeel sempat lagi berkomentar, karena melihat Drea menyuapi Varen yang sedang menyuapi Gadis, sementara Kafeel membantu menyuapi Putra.


“Boleh,” jawab Kafeel seraya tersenyum pada kekasih kecilnya itu.


Dimana Val langsung menyendokkan makanan dari piring Kafeel yang tadinya terbengkalai karena Kafeel memilih untuk memegangi Putra dan menunda makannya sendiri.


♥♥♥


“Katakanlah kami para gadis di keluarga ini dewasa sebelum waktunya dalam urusan percintaan ..”


Val berucap setelah menjawab pertanyaan Kafeel selepas ia memberitahukan dugaannya atas sikap Ann yang tidak biasa malam ini.


“Tapi Momma saja sudah menyukai Poppa sejak Momma masih duduk di Sekolah Menengah Pertama. Lalu Kak Drea bahkan dari dia balita sudah memiliki perasaan pada Abang. Terlebih Ann yang bahkan dari bayi sudah hidup bersama Rery. Jadi kisah Aro dan Daisey mengganggu perasaan Ann, yang mana sedikit banyak Val paham perasaan Ann saat ini.”


“Lagian si Rery juga ngomong ga pakai dipikir dulu waktu jawab pertanyaan Ann,” timpal Drea.


“Memang Rery ngomong apa?” tanggap Kafeel pada timpalan Drea.


“Si Aro ngomong, dia maunya ngikutin gimana agama kita mengatur soal pasangan hidup .. nah si Ann tanya deh tuh prinsipnya Rery juga .. dan Rery enteng aja jawab maunya yang seiman-“


“Huum ..”


“Ya ga bisa salahin Rery juga sih ‘Ya, namanya prinsip?-“


“Ya paling tidak Rery jangan sefrontal itu juga maksudnya Kak Drea, aku, May, dan Isha saat menjawab Ann tadi.”


“Namanya spontan, gimana?-“


“Iya sih.”


Drea dan Val sama menyahut menanggapi komentar Varen barusan.


“Biar nanti aku bicara dengan Rery .."


Varen kembali angkat suara.


"Berjodoh atau tidak dia dengan Ann, cinta atau tidak Rery pada Ann sebagaimana perasaan Ann padanya, satu hal yang aku ingin pastikan tidak terjadi dalam keluarga ini .. Perpecahan.”


♥♥♥♥♥♥


To be continue ..

__ADS_1


__ADS_2