
Kompetisi Sekte Teratai Biru berakhir juga dengan murid Tetua pertama tetap mendominasi peraihan juara, disusul murid Tetua kedua dan Tetua keenam menyelipkan dua muridnya, Huanran dan Shuyan menjadi juara di level Pendekar Pedang masing-masing.
Ini merupakan prestasi yang mengesankan, mengingat tetua yang lain selain tetua Xiao bersaudara, tak ada yang sanggup melangkah sampai ke sana.
“Kalian cukup mengesankan dalam pertandingan tadi. Sesuai janji guru, besok kita akan liburan ke kota Tianwu. Kalian boleh belanja sepuasnya, tapi jangan buat guru jatuh miskin lagi, ya! Hahahaha ....” Xiuhuan tertawa senang dengan prestasi anak muridnya tadi saat di kompetisi Sekte.
“Wah senangnya ... Aku belum pernah ke ibukota Kerajaan. Apakah kotanya megah kakak Huanran?” tanya Shuyan yang tak pernah meninggalkan kota Hua itu pada Huanran yang berasal dari kota Tianwu.
“Tentu saja jauh lebih megah dari kota Hua. Di sana juga kan, pusat hiburan terbesar di Pulau Niao ini,” jawab Huanran yang membuat mata Shuyan berbinar-binar mendengar penjelasan Huanran.
“Aku juga belum pernah ke sana, walaupun Kota Tianwu tak terlalu jauh dari kota Yan Luo,” sahut Liu Ya.
“Tapi aku bagaimana guru?” tanya Dou Yi yang merupakan incaran pihak Paviliun Shadow dan Jendral Qian Shing itu.
“Untuk mengelabui pihak-pihak yang ingin mengganggu kita. Kalian akan memakai cadar atau penutup wajah dan kecuali Huanran. Dia akan memakai baju kebesaran keluarga Raja dan guru akan bertindak sebagai pengawal pribadi. Bagaimana? Hebat, kan!” seru Xiuhuan memberi tahu idenya untuk keselamatan Dou Yi tersebut.
“Bagus sekali!” jawab mereka serempak.
Xiuhuan kemudian mengirim pesan melalui merpati pesan pada Kelompok Judgment untuk mempersiapkan diri menjadi pengawal murid-muridnya saat di ibukota kerajaan Han tersebut.
“Hah ... pertama aku lapor dulu pada Ketua Sekte, bahwa besok kami akan ke kota Tianwu,” guman Xiuhuan melangkah pergi menuju aula utama.
Seperti biasa, Xiuhuan lansung melompat dan masuk melalui jendela saat tiba di aula utama.
“Yo, ketua ... aku mau ijin besok liburan bersama murid-muridku ke kota Tianwu!” sapa Xiuhuan saat berada dalam ruangan Tang Yin, ketua Sekte Teratai Biru itu.
“Bukannya kau ingin menghindari masalah untuk murid-muridmu? Kenapa tiba-tiba kau bawa mereka ke sarang Harimau!” sahut Tang Yin yang kebingungan dengan perkataan Xiuhuan itu.
“Tenang saja Ketua Yin, aku sudah memikirkan ide untuk keselamatan mereka. Lagi pula saat di ibukota nanti, aku akan meminta Kelompok Judgment menjadi pengawal mereka,” kata Xiuhuan lagi.
“Terserah kaulah, yang penting mereka aman. Jangan sampai penyerangan terhadap kota Hua kita ini nanti makin cepat dilaksanakan oleh Paviliun Shadow gara-gara tindakanmu,” balas Tang Yin.
“Asiiiaaaapppp Ketua Yin!” sahut Xiuhuan lansung melompat kembali melalui jendela.
***
Esok harinya, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh para murid-murid Xiuhuan itu telah tiba.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali seluruh muridnya telah selesai berkemas dan siap untuk berangkat. Sedangkan Xiuhuan masih molor di kamarnya.
“Guru! Guru! Guruuuuuuu!” Shuyan menggedor-gedor pintu kamar Xiuhuan. “Guruuuuu! Ayo bangu!” teriaknya lagi.
“Astaga! Padahal masih pagi begini,” gerutu Xiuhuan beranjak bangun dari tempat tidurnya. “Iya ... Guru mandi dulu sebentar!” sahut Xiuhuan dari dalam kamar.
“Buruan! Nanti kita kemalaman sampai di sana!” kata Shuyan lagi dengan suara teriakannya yang melengking tersebut.
“Iya-iya ... sabar!” sahut Xiuhuan lagi.
“Mana guru?” tanya Liu Ya yang baru turun dari lantai ketiga, aula timur tersebut.
“Baru juga mau mandi!” gerutu Shuyan yang tampak kesal. Karena ia sudah berdandan cantik.
Mereka semua memakai cadar, kecuali Huanran yang mengenakan pakaian kebesaran keluarga Raja.
***
Beberapa puluh saat kemudian, Xiuhuan akhirnya keluar dari kamarnya dengan rambut klimis dan mengenakan jubah Pengawal Kerajaan tentunya, membuat ia kelihatan gagah, bak Pangeran khayangan.
“Menunggu guru, seperti menunggu dia yang tak kunjung memberikan kepastian!” gerutu Shuyan.
“Kau—” Xiuhuan tersenyum mendengar perkataan Shuyan. “Kecil-kecil sudah punya gebetan, ya?” tanya Xiuhuan lagi, penasaran pada siapa Shuyan jatuh cinta.
“Itu kiasan guruuuu!” gerutu Shuyan kembali dengan suara melengking tinggi.
“Maaf-maaf ayo kita berangkat!” seru Xiuhuan yang tak ingin berlama-lama lagi. Takutnya para muridnya merajuk pula nanti.
Xiuhuan dan Murid-muridnya berjalan menuju aula sumberdaya untuk menyewa kereta kuda.
Xiuhuan akan bertindak sebagai kusirnya nanti, sekaligus menjadi Prajurit Pengawal Huanran, putri Raja Qian Xun tersebut.
***
“Xiuhuan gege! Kalian mau kemana?” tanya Su Bimbing yang melihat penampilan Xiuhuan begitu klimis saat melewati aulanya.
“Tentu saja membawa mereka liburan, sayang ....” goda Xiuhuan sembari melempar senyum dan mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
“Aummmm!” Su Bimbing menirukan auman harimau dan menggunakan tangannya seolah-olah sedang mencakar. “Terkam Bing‘er dong gege!” katanya lagi dengan senyum malu-malu.
“Hei kalian dua tetua mesummmmmm! Hentikan!” teriak Shuyan yang gerah melihat tindakan dua tetua tersebut.
“Yah, kapan-kapan aku akan menerkammu saat kau lengah Bing‘er. Sekarang kami ada keperluan, sampai jumpa!” Xiuhuan melambaikan tangannya dan dibalas juga oleh Su Bimbing.
“Cih, memang kebiasaan buruk itu, susah untuk diubah!” gerutu Shuyan yang melangkah lebih dulu diiringi murid-murid Xiuhuan lainnya.
Xiuhuan hanya tersenyum masam. Padahal tadi cuma bercanda saja. Namun, muridnya lansung mengira Xiuhuan serius dengan ucapannya itu.
***
“Mau apa kau?” tanya Feng Xi kecus saat Xiuhuan memasuki aula sumberdaya.
“Menyewa kereta kuda tetua Xi,” jawab Xiuhuan yang geleng-geleng kepala dengan sikap acuh Feng Xi padanya.
Itu dikarenakan, Feng Xi sangat menyukai Su Bimbing, namun wanita pujaan hatinya itu malah memilih orang yang menurutnya paling bejat di Sekte Teratai Biru itu.
“Satu keping emas!” sahutnya cuek.
“Aku tahu kau tak suka padaku karena Su Bimbing telah ehemmmmm ... denganku, tapi masalah pekerjaan kau harus bersikap adil dong!” Xiuhuan memprovokasinya karena Xiuhuan tahu, Feng Xi menaikkan biaya sewa kereta kuda itu padanya.
“Kalau tak mau ya, sudah pergi sana!” sahut Feng Xi marah mendengar perkataan Xiuhuan. Kupingnya menjadi panas saat Xiuhuan mengatakan telah melakukan itu dengan Su Bimbing.
“Hehehehe ....” Xiuhuan tersenyum menyeringai melihat reaksi Feng Xi tersebut. kemudian berkata lagi, “Ya, sudahlah ... ayo kita berangkat. Masalah uang gampang itu! Tinggal minta sama Bing‘er saja.”
Wajah Feng Xi makin memarah, ia ingin sekali menghajar habis-habisan Xiuhuan. Namun, sebagai tetua ia harus bersikap dewasa dan tak membuat masalah yang mencoreng nama baiknya.
“Kasihan tetua Xi, dikerjain habis-habisan oleh guru Xiuhuan,” kata Xinran yang pertama kali melihatnya.
“Sudah biarkan saja! Guru kita itu tak ada urat malunya di kota Hua ini. Sekarang itu masih mendingan, sudah berkurang sedikit-sedikit,” sela Shuyan yang telah mengetahui seluk-beluk Xiuhuan.
“Hmm!” Xiuhuan berdehem. “Kalau menggosipi guru itu, jangan didepan orangnya. Bikin sakit hati tahu!” kata Xiuhuan lagi.
Murid-muridnya tertawa mendengar keluhan Xiuhuan itu. Setelah melewati kota Hua, Xiuhuan lansung menaikkan level Pendekar Pedangnya ke Pendekar Pedang tahap 90, supaya kelihatan seperti Pengawal Putri Kerajaan yang asli.
Bersambung ...
__ADS_1