
Saat masuk kembali ke dalam sel penjara bawah tanah itu. Xiuhuan lansung merasa bosan, ia tak tahu mau berbuat apa? Hanya ada suara rembesan air dari celah-celah dinding batu sel dengan penjagaan level tinggi itu.
Bahkan Xiuhuan lebih suka berada di ruang makan tadi, walaupun kebanyakan tahanan tak suka padanya. Namun Xiuhuan merasa itu sebagai hiburan saja. Karena ia merasa sanggup mengatasi mereka semua kecuali Wang Pan, pria sepuh yang cukup misterius di matanya.
Kenapa Wang Pan sangat diwaspadai oleh Xiuhuan? Itu karena sikap tenang yang ditunjukkan oleh pria sepuh itu. Seperti pepatah yang Xiuhuan selalu pegang. “Lebih baik melawan Pendekar Pedang Mengaku Kuat dari pada Pendekar Pedang yang bersikap tenang dihadapan musuhnya.”
Pepatah itu cukup beralasan, karena kehebatan Xiuhuan tak perlu diragukan lagi saat tadi. Ia berhasil keluar dari jurus Pesona milik Qin Yue dan mengalahkan Zhao Xiong. Itu berarti dua Ketua Geng telah ia taklukkan. Namun Wang Pan tetap tenang dan tidak tunduk padanya.
Xiuhuan jadi ragu-ragu, apakah Wang Pan itu seorang Pendekar Pedang tahap Melawan Kehendak Langit sepertinya. Kalau tebakannya itu benar, itu sangat berbahaya bagi Xiuhuan. Karena qi dalam Rongqinya cuma ada 20% saja saat ini. Itu belum cukup menghadapi Pendekar Pedang yang setara dengannya.
***
“Kenapa banyak tahanan yang di bawa keluar?” gumam Xiuhuan melihat sipir penjara mondar-mandir membawa tahanan. “Apakah mereka akan dieksekusi mati, mengingat ini adalah penjara bagi kriminal kelas tinggi,” katanya lagi.
Zhao Xiong yang terluka parah juga di bawa oleh sipir penjara bawah tanah itu.
Xiuhuan kemudian mendengar seorang tahanan bertanya pada sipir penjara, kenapa tahanan anggota Geng Ular dibawa semua. Sipir itu kemudian mengemukakan alasannya, bahwa mereka mendapatkan Remisi atau pengurangan masa tahanan, karena telah berbuat baik selama ini.
Dia juga mengatakan Walikota menurunkan status mereka dari kriminal kelas tinggi menjadi kriminal kelas menengah. Dengan demikian mereka akan dipindahkan ke penjara bawah tanah bagian tengah. Di mana kehidupan para tahanan, jauh lebih layak dari pada mereka tahanan level tinggi.
Anggota Geng Ular itu tersenyum, ia tampak sangat bahagia. Apalagi rekan-rekannya sesama anggota Geng Ular juga ikut dipindahkan ke sana.
“Hmm ... Aku mencium bau-bau konspirasi di sini. Apakah mereka sengaja memindahkan Geng Ular, supaya Geng lain bisa menghadapiku. Mereka mungkin takut dengan jurus Pesona milik Qin Yue, sehingga ragu mengahadapiku ramai-ramai alias keroyokan.”
__ADS_1
Itulah yang disimpulkan oleh Xiuhuan, setelah mendengar percakapan antara anggota Geng Ular dan sipir penjara bawah tanah itu.
Xiuhuan kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang batu, dengan berbantalkan dari batu juga. Ia mulai memejamkan matanya, agar besok tak mengantuk saat menghadapi musuh yang akan menuntut balas padanya.
***
Di dalam Kamar Penginapan tempat Gu Yao menginap. Saat ini Gu He, Gu Xu dan Gu Ruyan sedang minum arak bersama. Sedangkan Gu Qian tak ikut bergabung dengan mereka, ia merasa sudah tua dan tak ingin tubuhnya dirusak oleh meminum memabukkan itu.
“Yao gege!” seru Gu Ruyan memanggilnya dengan suara pelan, namun masih terdengar jelas ditelinganya, begitu juga dengan Gu He dan Gu Xu.
Keduanya lansung diam, padahal tadi mereka bernyanyi-nyanyi atau berkaraoke tanpa musik untuk melepas penat. Kini mereka penasaran, kenapa Gu Ruyan memanggil Gu Yao sembari menundukkan wajahnya menghadap gelas arak miliknya. Belum lagi ia memainkan kedua jempol jari tangannya dan pipinya juga memerah, seperti pengantin baru yang malu-malu kucing menghadapi terkaman pejantan amatir saja.
“Ada apa Yan‘er!” sahut Gu Yao seadanya. Ia sedari tadi melamun saja memandang ke arah jendela. Menatap kelap-kelip bintang di langit, Gu Yao juga tampak seperti memikul beban berat saja. Ia kemudian menoleh ke arah Gu Ruyan. “Katakan lah, tidak perlu dipendam,” katanya lagi.
Gu Ruyan lansung senang, ia mengira Gu Yao telah mengerti perasaannya. Sedangkan Gu He dan Gu Xu yakin Gu Ruyan sedang salah paham sekarang.
Gu Ruyan yang awalnya sudah senang, kini dibuat cemberut. Ia merasa betul juga ucapan Gu Xu itu.
“Apa yang kalian bisikkan?” tanya Gu Yao penasaran. Namun keduanya hanya senyum-senyum saja menanggapinya.
“Apakah Yao gege sudah memikirkan, siapa pendamping hidupmu?” tanya Gu Ruyan malu-malu.
Gu He yang sedang menenggak arak lansung terkejut, ia menyemburkan arak yang diminumnya sehingga mengenai wajah Gu Xu.
__ADS_1
“Hei, apa-apaan kau ini?” gerutu Gu Xu sembari menyeka air diwajahnya.
“Maaf-maaf! Aku tak sengaja,” katanya ikut membantu membersihkan air di wajah Gu Xu dengan jubah miliknya.
Gu Ruyan tertawa terkekeh-kekeh melihat insiden lucu itu, ia sebenarnya menyadari Gu He mencintainya. Namun mau bagaimana lagi, cinta itu tak bisa dipaksakan.
Gu Yao bimbang mengambil keputusan, ia juga menyukai Gu Ruyan. Namun ia menyadari kalau Gu He dan Gu Xu juga menyukai gadis cantik yang ia perlakuan selama ini sebagai adik perempuannya itu.
Gu Yao tak ingin konsentrasi mereka terpecah gara-gara percintaan. Jadi ia memikirkan alasan apa yang cocok agar sahabatnya itu tak kecewa mendengar jawaban darinya.
“Yan‘er!” seru Gu Yao pelan, sembari menatap wajah Gu Ruyan yang juga menatapnya dengan tatapan penuh harap. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam, kemudian berkata, “untuk saat ini tak bisa kujawab. Kamu tahu keuangan kita dibantu oleh Paman selama ini. Aku harus berkonsultasi dulu padanya, setelah kita memenangkan pertarungan ini.”
Bak disambar petir, jantung Gu Ruyan berdegup kencang. Hatinya terasa sakit, walaupun tak berdarah. Namun, ia tetap melayangkan senyuman palsu dari wajahnya.
“Aku sudah mengantuk. Tuan muda, kakak Xu dan Kakak He, aku undur diri dulu,” ucap Gu Ruyan lansung meninggalkan kamar Gu Yao itu.
Gu He sangat senang, Gu Yao menolak cinta Gu Ruyan. Sehingga harapannya untuk mendapatkan gadis cantik itu, kini terbuka lebar. Ia langsung menenggak arak dari botolnya untuk merayakan telah terbentangnya jalan menuju hati Gu Ruyan.
“Hei, jangan kebanyakan minum. Nanti aku juga yang repot memapahmu,” gerutu Gu Xu, namun Gu He tak mendengarkan peringatan dari partnernya dalam menjalankan tugas rahasia dari Gu Yao itu.
Gu Yao tak memperdulikan perdebatan mereka, ia kembali menyeduh arak dari gelas ditangannya. Ia merasa sepertinya telah salah bicara dan menyakiti hati Gu Ruyan. Walaupun gadis itu melempar senyum saat meninggalkan kamarnya ini.
***
__ADS_1
“Yao gege jahat! Aku yang selama ini menemaninya berjuang. Tapi ia lebih memilih Chen Liu, putri Pamannya itu,” gerutu Gu Ruyan sembari membenamkan wajahnya di bantal dalam kamarnya. Ia menangis tersedu-sedu dan tak menyangka akan ditolak oleh Gu Yao.
...⚔️Bersambung ⚔️...