
“Kakak Xiuhuan, kita telah sampai di pelabuhan kota Anming!” Gu Yao mengetuk pintu kamarnya, karena mereka belum keluar juga, padahal kapal sudah bersandar sejak tadi.
Gu Ruyan mendengar suara Gu Yao segera bangun, Namun tiba-tiba sebuah tangan telah menempel di boing-boing miliknya.
Gu Ruyan lansung kaget, ia kemudian melihat ke jendela. Hanfu merah miliknya telah digantung di sana. Sontak saja, pikirannya lansung traveling ke mana-mana.
“Tidakkkkkkk!” teriak Gu Ruyan sekencang-kencangnya hingga tak menyadari ia juga menampar wajah Xiuhuan.
Gu Yao mengira telah terjadi sesuatu pada Xiuhuan segera mendobrak pintu kamar mereka dan alangkah terkejutnya ia melihat tubuh Gu Ruyan tak dibalut apapun sedang berdiri di atas kasur.
“Ah, aku tak lihat apa-apa,” katanya sambil balik badan dan menyeka mimisan yang keluar dari hidungnya. Bahkan matanya sampai tak berkedip sedikitpun saat melihat keindahan itu.
“Aaaaaaaaaa! Yao gege mesum cepat pergi!” teriak Gu Ruyan lagi yang merasa ternodai dua kali.
Xiuhuan memegang pipinya yang meninggalkan tato lima jari. Ia tersenyum melihat kepolosan Gu Ruyan.
“Sudah kenakan pakaianmu! Kita akan pergi, aku tak menyangka tadi malam kau mengeluarkan darah hehehe ....” Xiuhuan tersenyum menyeringai menggoda Gu Ruyan yang sudah salah tingkah. “Jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab, bila Yan‘er hamil,” goda Xiuhuan lagi sembari beranjak dari tempat tidurnya.
Gu Ruyan merajuk, ia diam saja berjalan di belakang Xiuhuan.
Gu Yao yang melihatnya begitu berusaha menghiburnya. “Sabar Yan‘er, bukannya ini pilihanmu dulu. Lagi pula, lambat laun ia pasti melakukan itu, walaupun selama di Kota Kunming ia tak menjamahmu, karena sibuk berkultivasi,” bujuk Gu Yao agar Gu Ruyan tak merajuk pada Xiuhuan.
Ia takut nanti Xiuhuan tak semangat membantu mereka, karena Gu Ruyan tak melayaninya lagi. Padahal mereka telah satu langkah lagi menuju kota Yannan, tempat Clan Gu berada.
Gu Ruyan menarik nafas dalam-dalam. “Baiklah Aku akan mengejarnya, tapi kau harus janji. Jangan ceritakan peristiwa memalukan tadi pada siapapun,” sahut Gu Ruyan dengan melempar senyum manis yang membuat degup jantung Gu Yao berpacu cepat.
Gu He dan Gu Xu kebingungan dengan keakraban mereka, membuat Gu He cemburu saja melihatnya. Karena Gu Ruyan tak mengajaknya berbicara.
__ADS_1
Gu Ruyan kemudian berlari kecil menghampiri Xiuhuan yang sedang berbincang-bincang dengan tetua Gu Qian tentang strategi penyerangan yang akan mereka lakukan besok. Hari ini semua akan beristirahat di kota Anming ini dan nanti malam akan bergerak ke kota Yannan.
“Tu-tuan Xiuhuan!” seru Gu Ruyan malu-malu.
“Eh, Yan‘er sini peluk babang tampan. Kita harus mencari Penginapan nih, buat ronde selanjutnya. Kalau perlu sampai dengkulku kopong,” canda Xiuhuan yang membuat melongo anggota Clan Gu mendengarnya.
Kabar yang dirahasiakan oleh Gu Ruyan itu akhirnya menjadi topik pembicaraan sesama mereka. Mengalahkan topik strategi penyerangan yang akan mereka lakukan besok.
Gu Ruyan kembali merajuk, ia sangat malu dibuatnya. Ia bahkan mau meninggalkan Xiuhuan. Namun babang tampan itu tak melepaskan rangkulannya dari Gu Ruyan. Sehingga wanita cantik yang sebenarnya masih suci itu hanya bisa pasrah saja.
***
Gu Yao mengajak ke pinggiran kota Anming untuk melakukan rapat bersama dengan Pendekar-Pendekar penting yang menjadi pendukungnya.
Mereka memasuki gedung bekas yang tak dipakai, namun di dalamnya telah ditata rapi. Para Pendekar yang dimaksud oleh Gu Yao telah berada di sana menunggu kedatangan mereka.
“Selamat datang kembali tuan muda Yao!” sambut mereka sambil bertekuk lutut padanya.
Para Pendekar Pedang itu sangat senang melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Gu Yao, karena dulu ia selalu diam saja dan tetua Gu Qian yang mewakilinya berbicara.
Semua mengisi kursi yang telah disediakan di sana.
Gu Yao langsung membuka acara dan memperkenalkan Xiuhuan sebagai kartu AS mereka menghadapi tetua Sekte Bambu Kuning yang ada di pihak Gu Lin.
Beberapa Pendekar tak yakin dengan penampilan Xiuhuan tampak biasa saja. Apalagi ia terlihat tampan dan muda. Mereka yakin Xiuhuan hanyalah Pendekar Pedang yang sering menipu wanita-wanita cantik saja untuk dimanfaatkan hartanya.
Apalagi mereka melihat Xiuhuan terus merangkul pundak Gu Ruyan yang merupakan wanita tercantik di kota Yannan dan diketahui oleh semua orang menyukai tuan muda Yao.
__ADS_1
Melihat pro kontra itu, Gu Yao harus membeberkan kontak kerjasama antara dia dan Xiuhuan. Yang menjadikan Gu Ruyan sebagai alat tukarnya.
***
“Kami mendukung tuan muda Yao karena kami merasa tuan muda orang baik. Tapi melihat ini, tuan muda sama saja dengan Gu Lin yang suka mengambil paksa wanita cantik di kota Yannan,” kata Pendekar Pedang wanita yang merupakan Putri salah satu tetua yang dibunuh oleh Gu Lin dulu saat melakukan kudeta.
“Betul tuan muda!”
“Keluar dari sarang singa masuk ke sarang harimau kalau begini!”
“Hei, tuan muda melakukan ini agar kita memiliki Pendekar Pedang kuat menghadapi tetua Sekte Bambu Kuning!” seru Gu Xu geram dengan tingkah mereka yang malah membahas hal yang tak penting menurutnya.
“Semua diammmmmmm!” teriak Gu Ruyan membuat suasana menjadi hening. Semua mata tertuju padanya. “Tuan muda Yao tak bersalah dalam hal ini ; Aku yang telah meminta tuan muda Yao agar menjadikanku sebagai alat tukar. Karena cuma ini caranya agar tuan Xiuhuan mau bergabung dengan kita. Asal kalian ketahui, butuh ribuan Pendekar Pedang Clan Chen dan Ketua Sekte Pedang Lembah Neraka untuk menangkapnya dan dijebloskan ke penjara bawah tanah!”
Para Pendekar itu kemudian mulai mengerti dan mengangguk setuju.
“Untung saja Paman tuan muda Yao adalah walikota Kunming dan bersedia membebaskan tuan Xiuhuan dengan syarat mau bergabung dengan perjuangan kita dan salah satunya aku bersedia dijadikan alat tawar.”
Gu Ruyan berbicara berapi-api, ia membuang rasa malu yang telah mengungkapkan aibnya sendiri di hadapan semua anggota Clan Gu pendukung Gu Yao itu.
Xiuhuan tersenyum menatap Gu Ruyan dan memberikan tanda jempol padanya. Karena Xiuhuan terkesan dengan orasinya itu bak mahasiswa yang sedang demo menuntut koruptor dihukum mati.
Gu Ruyan ikut tersenyum dan duduk lagi di sebelah Xiuhuan. Sedangkan rapat diambil alih oleh Gu Yao lagi.
Ia kemudian membagi peran masing-masing Pendekar Pedang yang ada di ruangan itu. Gu Yao juga memutuskan penyerangan akan dilakukan saat ayam jantan berkokok di pagi hari.
Semuanya setuju dengan peran yang diterimanya. Kemudian rapat itu langsung bubar dan sebagian bergerak lebih dulu. Karena kalau bergerak bergerombol akan membuat curiga pihak lain nantinya.
__ADS_1
Xiuhuan sendiri tak tahu gunanya apa dia si sana, karena Gu Yao tak menyebutkan apa tugasnya nanti. Yang jelas ia akan bersama Gu Ruyan lebih dulu ke kota Yannan, karena ia bukan penduduk asli tentunya tak akan ada yang curiga padanya. Sementara Gu Ruyan mengenakan penutup wajah dan hanya mata indahnya saja yang terlihat.
...~Bersambung~...