
“Gadis berambut merah, tolong berikan si sombong Lou Rong Pill penyembuhan tingkat tinggi milikmu,” kata Xiuhuan tetap menyeringai menatap Wu Tianji.
Jiang Meng terkejut mendengarnya, padahal Xiuhuan telah mengambil semua cincin dimensi milik rekan-rekannya. Kini ia malah disuruh memberikan Pill penyembuhan yang harganya ratusan keping emas itu.
“Namaku Jiang Meng senior. Jangan panggil Aku gadis berambut merah terus.” Dengan kesal ia mendekati Lou Rong dan menyuapinya Pill penyembuhan tingkat tinggi. Dia juga memberikan segelas air dari cincin dimensi miliknya.
Nafas Wu Tianji tersengal-sengal, ia juga ingin mengambil Pill penyembuhan dari cincin dimensi miliknya, tetapi ia takut Xiuhuan menyerangnya tiba-tiba. Karena pergerakan Xiuhuan sangat cepat.
“Bagaimana kita buat kesepakatan?” tawar Xiuhuan pada Wu Tianji.
Wu Tianji merasa mungkin menerima tawaran darinya adalah sebuah keuntungan. Minimal ia bisa menelan Pill penyembuhan dan mengembalikan sepertiga kekuatannya saja, itu mungkin sudah cukup untuk menaklukan Xiuhuan.
“Apa yang kau tawarkan?” Wu Tianji bertanya dan tatapannya tetap terfokus pada Xiuhuan, antisipasi Xiuhuan menyerang tiba-tiba.
“Siapa Nona Ketua?—Kalau kau bersedia mengatakannya, Aku akan membiarkanmu kembali ke Clan Huo dan kau bisa kembali mencariku setelah kau mencapai Ranah Absolute God.” Sebuah tawaran yang sulit untuk diputuskan Wu Tianji, dibuat oleh Xiuhuan.
“Cih!” Wu Tianji meludah, Nona Ketua adalah Kultivator jenius yang menjadi harapan besar aliansi aliran hitam di masa depan. “Tak mungkin aku mengatakan itu. Lebih baik aku mati di sini, karena suatu hari nanti; Nona Ketua yang akan mencari kalian. Aku yakin Wu He telah mengirim gambar wajahmu padanya.”
Xiuhuan tersenyum jahat, ia mengalirkan qi pada Trisula Mahadewa ditangannya.
“Karena kau begitu ingin mati. Maka aku akan mengabulkannya dan menjual Pedang Yin dan Yang itu—Aku yakin akan terjadi kegemparan saat kedua Pedang itu muncul di pelelangan. Termasuk orang tuamu atau Clan Huo dan Clan Wu.”
Wu Tianji hanya bisa mendengus dingin, ia mengerahkan seluruh kekuatannya—Siluet Rubah Api dan Rubah Es melesat dengan tebasan pedangnya.
Trisula Mahadewa yang telah dialiri oleh qi milik Xiuhuan, lansung berubah menjadi Siluet Sidat Listrik yang jauh lebih besar dari Siluet Rubah Api dan Rubah Es.
Booommmm!
__ADS_1
Pendarahan Wu Tianji makin parah, sedangkan Xiuhuan tampak sehat-sehat saja, tanpa tergores sedikitpun—walaupun Siluet Sidat Listrik tak sanggup menahan Siluet Rubah Es, tetapi Xiuhuan masih bisa membelah Rubah Es itu dengan Trisula Mahadewa.
Elemen air biasa unggul terhadap elemen api, tetapi saat menghadapi elemen Es, elemen air akan kalah. Namun, elemen Es akan kalah dengan Elemen api. Jadi, semua elemen memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.
“Aku merasa pertarungan ini sia-sia saja, tak asik memenangkan pertarungan dari orang yang sekarat. Bagaimana kalau kau akhiri saja hidupmu, dari pada kau menderita begitu.” Xiuhuan memberikan Wu Tianji sebuah pilihan.
Wu Tianji tersenyum menatap Xiuhuan, baru kali ini ia bertemu musuh yang unik sepertinya. Wu Tianji kemudian menghela nafas dalam-dalam.
“Bolehkah aku minum arak sebelum mati. Aku memiliki arak Zui berumur satu juta tahun, yang Aku dapatkan dari pelelangan. Arak Zui kebetulan ditemukan oleh cucu seorang Kultivator di ruang bawah tanah, rumah leluhurnya,” kata Wu Tianji.
“Karena ini adalah permintaan terakhirmu, ya, aku akan kabulkan. Minumlah sampai muntah darah hahaha ....”
Xiuhuan tertawa terkekeh-kekeh sembari duduk bersila di lantai menatap Wu Tianji, yang mengeluarkan seruas bambu berisi arak Zui.
Wu Tianji lansung menenggak arak itu hingga berlumeran membasahi pakainya.
Lou Rong saat ini sedang duduk bersila, menyerap Pill penyembuhan yang ditelannya. Sedangkan Pedang Meteor tergeletak begitu saja disebelahnya. Namun, Wu Tianji kini sudah tak berdaya, sehingga ia tak peduli lagi dengan pedang itu.
“Aku tak suka dengan yang memabukkan. Namun, aku sering dimabuk cinta,” sahut Xiuhuan tersenyum lebar dan mengeluarkan secangkir kopi dari cincin dimensi miliknya, ia juga melinting tembakau dengan pelepah jagung.
Xiuhuan membakar ujungnya dan menghisapnya, kemudian mulutnya keluar asap berbentuk love-love.
Wu Tianji tertawa terkekeh-kekeh melihatnya, sehingga luka dalamnya makin parah dan dia muntah darah lagi. Tak lama berselang, tubuhnya pun tersungkur ke lantai dan menghembuskan nafas terakhir.
Xiuhuan mendekatinya dan memeriksa urat nadinya. “Yah, dia lebih memilih mati, daripada mengungkapkan siapa Nona Ketua itu?—Padahal dia adalah Kultivator jenius yang langka, memiliki elemen berlawanan, Es dan Api.”
Xiuhuan melepas cincin dimensi miliknya dan menyimpan Pedang Yin dan Yang yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
“Apa yang akan kita lakukan senior?” tanya Jiang Meng yang berdiri di sebelah Lou Rong, tangannya juga memegang Pedang yang mirip dengan Katana.
“Aku akan ke lantai tujuh. Harus ada yang mengalahkan bos Paviliun ini—Kalau tidak, kita akan mendapat masalah besar nantinya, karena banyak murid-murid jenius yang mati di sini,” sahut Xiuhuan mengambil Pedang Meteor milik Lou Rong. “Kalau dia selesai memulihkan tubuhnya, katakan aku menyimpan Pedang Meteor untuk sementara.”
Jiang Meng tampak cemberut dengan mengembung kan pipinya, karena ia yakin Xiuhuan curiga dirinya akan mengambil Pedang pusaka tingkat tinggi itu.
“Hei jangan pasang wajah begitu. Aku sudah memiliki 20 istri, lho ... nanti aku tergiur juga melihatmu begitu,” canda Xiuhuan dengan senyum membuat Jiang Meng takut.
“Sudah pergi sana! Cepat kalahkan penghuni lantai tujuh, agar Paviliun makam ini menghilang.” Jiang Meng mengusir Xiuhuan.
“Kau akan menyesal gadis berambut merah, karena menyia-nyiakan babang tampan ini,” goda Xiuhuan melangkah ke pintu lantai tujuh.
Jiang Meng geleng-geleng kepala mendengarnya, entah dari mana datangnya kepercayaan diri Xiuhuan itu. Walaupun sebenarnya kalau diperhatikan, ia memang sangat tampan. Namun, istrinya sudah bejibun, sebagai gadis remaja berusia 5.000 tahun seperti Jiang Meng—sulit menerima kekasihnya membagi hati dengan gadis lain; makanya ia hanya bersikap biasa-biasa saja di depan Xiuhuan.
Pemuda tampan itu menghilang dari pandangan Jiang Meng, tak lama berselang—Lou Rong membuka matanya dan tak melihatnya Pedang Meteor, sedangkan Wu Tianji telah tergeletak tak bernyawa.
“Ka-kau siapa? Di mana Pedang Meteor!” bentak Lou Rong, sembari berusaha berdiri ingin melawan Jiang Meng.
“Tenang senior! Aku adalah Jiang Meng, teman senior Xiuhuan. Dia menyuruhku menjaga senior di sini. Dan Pedang Meteor disimpan olehnya, katanya akan dikembalikan saat senior sudah pulih.” Jiang Meng berusaha membujuk Lou Rong yang telah mengeluarkan Pedang Phoenix Nirwana, senjata pusaka tingkat menengah miliknya.
“Oh, Xiuhuan, ya.” Lou Rong bernafas lega, walaupun ia awalnya sangat membencinya, karena Lou Xue beberapa kali melirik Kultivator tampan itu. Namun, kini ia hanya bisa berharap pada Xiuhuan. “Terimakasih sudah menjagaku, mungkin aku akan merepotkan saudari lagi. Aku masih butuh waktu lebih lama untuk memulihkan diri,” kata Lou Rong lagi.
“Silahkan senior. Aku tak keberatan, karena senior Xiuhuan sudah seperti malaikat bagiku,” sahut Jiang Meng yang membuat Lou Rong keheranan, tetapi ia tak bertanya lagi dan lansung duduk bersila.
Di lantai tujuh, Xiuhuan terpana melihat hamparan padang rumput dan sebuah telaga dengan pondok kecil di tengah-tengahnya. Terdengar juga suara seruling, yang mengandung nada-nada sedih—Pemuda dengan dua tanduk di kepalanya itu menatap Xiuhuan. Wajahnya tampak sedih, dengan linangan air mata membasahi pipinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1