Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Rencana Penyerangan Sekte Iblis Merah Ke Sekte Pedang Awan


__ADS_3

“Kenapa tim yang kita kirim belum kembali?” Ketua Sekte Iblis Merah menatap tajam pada para tetua Pelataran Dalam dan Pelataran Luar, padahal mereka sedang membutuhkan banyak Kultivator untuk dikorbankan dalam pembuatan Pil Darah.


Pil Darah sangat penting bagi Sekte Iblis Merah, karena berkat Pil Darah ini para murid-murid Sekte akan menerobos dengan cepat dan saat ini saja ada ribuan Kultivator Ranah Chaos Ancient God serta ratusan Ratusan Ranah Absolute God di Sekte Iblis Merah. Itu merupakan kekuatan yang sangat besar dan ia berencana untuk menguasai Dunia Biru dan rencana itu dimulai dengan menyerang Sekte Pedang Awan. Namun, tim yang dikirim tadi malam malah tak kabar lagi.


“Mungkinkah mereka telah dikalahkan oleh Sekte Pedang Awan?” Tetua Agung angkat bicara dan dia juga Alkemis yang mengembangkan Pil Darah.


“Tapi menurut mata-mata kita di sana, tak ada pertempuran yang terjadi di dalam Sekte Pedang Awan!” sahut tetua Pelataran Luar yang telah mengatur beberapa murid pemula menjadi mata-mata di sana. “Namun, mereka kedatangan satu Kultivator Ranah Absolute God dari Clan Huo dan kekuatannya tidak diketahui pastinya, tetapi ia dengan mudah memperbaiki Array pelindung Sekte Pedang Awan dengan mudah dan lebih kokoh dari yang sebelumnya,” katanya lagi.


Ketua Sekte mengerutkan keningnya dan tak menyangka Clan Huo berani ikut campur serta membantu Sekte Pedang Awan—kalau saja Clan Huo ada di wilayah barat Dunia Biru, maka ia akan mendatangi Clan tersebut dan melenyapkan mereka.


“Mungkin dialah yang telah melenyapkan orang-orang kita. Bagaimana menurutmu tetua Agung? Apakah kita akan melakukan serangan skala penuh?” Ketua Sekte bertanya pendapat tetua Agung.


Tetua Agung mengeluarkan dua buah Dadu dan dadu di tangan kirinya adalah keberuntungan Sekte Pedang Awan, sedangkan Dadu di sebelah kanan adalah keberuntungan Sekte Iblis Merah.


Dia kemudian melempar kedua Dadu dan Dadu di sebelah kanan menunjukkan Angka Lima, yang merupakan angka keberuntungan yang jarang mereka dapatkan, karena mereka biasanya selalu mendapatkan angka Enam—sedangkan tim yang berangkat tadi malam, tidak melakukan konsultasi lebih dulu dengannya karena ia sibuk membuat Pil Darah.


“Keberuntungan kita menurun satu, padahal hanya melawan Sekte kecil?” keluh Ketua Sekte Iblis Merah mengerutkan keningnya. “Ini adalah malapetaka!” gumamnya, karena saat berhadapan dengan Sekte tingkat menengah sebelumnya, mereka memiliki keberuntungan tinggi. Namun, arah keberuntungan telah berubah dan ia harus mengganti strategi menyerang Sekte Iblis Merah agar tidak menjadi kehancuran bagi Sekte-nya tersebut.


Dadu di sebelah kiri masih berputar-putar tanpa henti, sehingga tetua Agung merasa ada yang aneh. “Mungkinkah ada Kultivator kuat yang diam-diam menjaga mereka?” gumamnya dengan wajah masam.


Dadu tersebut kemudian berhenti di Angka Enam, sehingga para tetua maupun Ketua sekte terkejut melihatnya. Namun, tiba-tiba bergeser lagi ke angka Satu dan mereka langsung tertawa terkekeh-kekeh.


“Ternyata keberuntungan Sekte Pedang Awan di angka Satu!”


“Berarti bukan mereka yang telah mengalahkan tim yang kita kirim, mungkinkah ada Sekte lain yang bergabung membantu mereka?”

__ADS_1


Ketua Sekte juga berpikir demikian, sehingga ia harus mengirim tim yang jauh lebih kuat dari tadi malam, karena bisa saja ada Sekte besar yang membantu mereka.


“Menurutku seluruh tetua Pelataran Luar dan beberapa tetua Pelataran Dalam yang akan ambil bagian dalam penyerbuan ini,” kata tetua Agung memberikan masukan.


“Bukankah itu terlalu berlebihan, tetua Agung?” Salah satu tetua Pelataran Dalam tidak setuju dengan usulan tetua Agung tersebut. “Sekte Pedang Awan hanya memiliki Tujuh Kultivator Ranah Absolute God dan keberuntungan mereka juga cuma satu, aku merasa kita hanya akan mempermalukan nama besar Sekte Iblis Merah saja bila mengirim semua Tetua Pelataran Luar!” Dia menghela nafas dalam-dalam.


“Kesampingkan angka keberuntungan mereka itu, tetapi ada pihak lain yang diam-diam membantu mereka. Jadi, bila kita datang dengan kekuatan besar, maka mereka akan ragu untuk membantu lagi,” sahut tetua Agung memberikan penjelasan yang lebih masuk akal agar tetua itu mendukung keputusannya.


Ketua Sekte berpikir sejenak, keputusan apa yang harus ia ambil dan ia merasa yang dikatakan oleh tetua Agung ada benarnya juga.


“Baiklah, semua tetua Pelataran Luar akan ambil bagian dalam penyerbuan ini dan mereka akan ditemani oleh tetua Gu Yun dan Wei Tianlong dari tetua Pelataran Dalam,” kata Ketua Sekte membuat keputusan.


Semua tetua menangkupkan tinju untuk menunjukkan rasa hormat dan menerima mandat yang ia berikan.


Ada 500 tetua Pelataran Luar di Sekte Iblis Merah dan mereka adalah Kultivator yang telah menjadi Ranah Absolute God selama 20 tahun ke bawah dan yang lebih dari 20 tahun akan diangkat menjadi tetua Pelataran Dalam, serta jumlah mereka ada 150.


...***...


“Sial! Gawat!” gerutu Ketua Sekte Pedang Awan saat ia menerima pesan dari murid yang berjaga di Kota kecil yang tak jauh dari Sektenya, bahwa ada sekitar 30.000 Kultivator Sekte Iblis Merah sedang menuju ke Sekte Pedang Awan. “Kenapa mereka bergerak cepat sekali? Padahal undangan kita pada Sekte-Sekte lain belum mendapatkan jawaban, bagaimana mungkin kita akan melawan mereka!” Wajahnya memucat memikirkan nasib murid-muridnya yang sudah terlambat untuk mengevakuasi mereka ke tempat aman.


Tetua keenam langsung berdiri dan berkata, “Kita harus meminta tuan Xiuhuan untuk memperkuat Array Pelindung. Mungkin kita masih bisa bertahan selama satu tahun, karena persediaan makanan kita baru diisi penuh beberapa hari yang lalu!” Cuma ini satu-satunya cara bertahan menurutnya.


“Apakah dia akan setuju melakukan itu? Karena dia datang ke sini, untuk melihat siapa anggota Clan Huo-nya yang mengambil misi yang kita berikan dan aku yakin dia pasti bosan bila harus menetap sangat lama di sini!” sahut Ketua Sekte merasa Xiuhuan tidak akan menerima proposal mereka.


Tetua keenam mengepal tangannya serta menggigit bibir merahnya, karena tidak tahu cara untuk menyelamatkan Sekte yang telah membesarkan dirinya tersebut.

__ADS_1


“Aku akan membujuk dirinya dengan tubuhku!” Tetua keenam membuat keputusan sulit dalam hidupnya dan berpikir tidak apa mengorbankan dirinya demi menyelamatkan ribuan nyawa murid-murid Sekte Pedang Awan yang tidak mengetahui kenapa mereka harus mati hari ini.


“Apaaaaaaaaaa?” Tetua Kelima memukul meja yang terbuat dari batu giok di hadapannya hingga hancur berkeping-keping. “Aku menolak usulan itu! Nona Lian, kenapa harus harus merendahkan martabatmu. Lebih baik kita paksa dia melakukan itu dan bila dia tidak mau, bunuh saja dia!” Tetua Kelima tidak terima—wanita yang sangat ia cintai malah mejadi lacurr murahan yang menyerahkan tubuhnya demi bertahan hidup.


“Tetua Kelima!” bentak tetua keenam. “Kita tidak memiliki hubungan apapun! Jadi, terserah diriku mau berbuat apa dan satu lagi, aku melakukan ini bukan untukmu. Namun, untuk ribuan nyawa murid-murid Sekte Pedang Awan. Apakah Anda hanya memikirkan keselamatan dirimu saja? Kalau iya, pergi sekarang juga, mungkin Anda masih memiliki kesempatan!” Tetua keenam tidak terima dengan ucapan tetua kelima yang menyakitkan hatinya.


“Tolong kalian tenang dulu!” sela tetua Pertama. “Bagaimana kalau kita melakukan Voting saja, suara terbanyak akan menang dan semua orang harus setuju dengan keputusan yang diambil oleh tetua keenam.” Tetua Pertama menatap Ketua Sekte yang langsung menghela nafas dalam-dalam karena sulit untuk membuat keputusan, tetapi waktu semakin sempit untuk memikirkan cara lain bertahan dari serangan Sekte Iblis Merah dan akhirnya ia memutuskan setuju dengan usulan tetua Pertama.


“Aku menolak!” teriak tetua Kelima lebih dulu.


“Aku setuju!” sahut tetua Pertama, sehingga tetua Kelima menatap tajam padanya.


“Aku menolak!” seru Ketua Sekte dengan helaan nafas panjang.


“Aku setuju!” sahut tetua Kedua.


“Aku juga setuju!” kata tetua Ketiga.


“Tolong tolak saja senior!” seru tetua Kelima memohon pada tetua ke empat, karena bila ia menolak maka hasil votingnya akan seimbang dan keputusan tetua keenam untuk menyerahkan tubuhnya pada Xiuhuan akan batal.


Tetua keempat merasa tertekan, batinnya ingin menolak. Namun, ribuan nyawa akan melayang demi menyelamatkan satu wanita yang sebenarnya tidak akan mati dan mungkin tetua keenam menyukainya, karena laki-laki itu sangat tampan dan pria tua sepertinya mengakui itu, bahkan ia belum pernah melihat lelaki setampan dia selama ratusan tahun masa hidupnya.


Tetua keempat menarik nafas dalam-dalam dan berkata, “Aku setuju dengan keputusan tetua keenam!”


“Sial!” umpat tetua Kelima sembari meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Tetua Keenam diam saja dan menutup matanya dan di dalam hatinya sebenarnya ia ingin meminta maaf pada tetua Kelima. Namun, bila ia melakukan itu, maka pasti tetua kelima meminta dirinya untuk membatalkan rencananya.


__ADS_2