Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Duel Berlanjut


__ADS_3

Di pinggiran kota Yangtze, Xiuhuan menghampiri sebuah kedai kecil untuk sarapan. Karena cacing di perutnya sudah mulai melakukan unjuk rasa, untuk dikirimkan pasokan nutrisi bagi kelangsungan hidup mereka.


Xiuhuan memesan makanan dan melahapnya. Hembusan angin sepoi-sepoi juga berhembus dari arah hamparan ladang Jahe Iblis Kuning, yang merupakan salah satu sumberdaya untuk berkultivasi.


Setelah selesai makan, Xiuhuan menghampiri penduduk kota Yangtze yang sedang memanen Jahe Iblis Kuning. Ia membeli beberapa Jahe Iblis Kuning dan kembali ke kedai makanan.


Xiuhuan kemudian mengunyah Jahe Iblis Kuning itu dengan santai, bak mengunyah cemilan saja. Sontak saja beberapa pengunjung kedai makan itu kaget.


Mereka hanya melihat Xiuhuan, Pendekar Pedang tahap 50, namun berani mengunyah lansung sumberdaya. Hal itu cuma bisa dilakukan oleh para Pendekar Pedang tingkat tinggi.


"Tu-tuan Pendekar! Apa kau sedang menyamar?" tanya seorang anak kecil berusia 10 tahun.


"Menyamar?" Xiuhuan bingung kok dia bisa ketahuan oleh anak kecil. "Ah, siapa yang menyamar?"


Xiuhuan membalikkan pertanyaan itu.


"Tapi tuan Pendekar mengunyah sumberdaya itu secara langsung. Kata ayahku, itu cuma bisa dilakukan oleh mereka yang sudah berlevel tinggi!" balas anak kecil itu, yang merupakan anak pemilik kedai.


Pemilik kedai itu ketakutan, ia takut anaknya menyinggung Pendekar Pedang itu dan menghancurkan kedai kecil mereka.


"Hahaha ... itu tergantung orangnya. Ada beberapa orang dilahirkan sempurna, tanpa perlu bersusah payah dalam menjalani kehidupan ini. Di sisi lain, banyak yang harus berjuang dengan keras. Bahkan sebagian besar juga telah berusaha, namun mereka tetap tak dapat menikmati hasil dari kerja keras mereka!" sahut Xiuhuan, yang membuat bingung anak itu mencerna ucapan Xiuhuan. Mengingat usianya baru sepuluh tahun.


Xiuhuan meletakkan lima keping perak dan meninggalkan kedai itu. Karena ia merasa tak enak berlama-lama di situ. Mengingat orang-orang di sana sangat ketakutan melihatnya.


Xiuhuan kemudian memasuki desa kecil di pinggiran kota Yangtze itu. Ia kemudian berbelanja kain penutup wajah atau mirip dengan masker. Namun ini menutupi semua area dibawah mata.


Ini dilakukan Xiuhuan, karena ia juga ingin memulai aksinya. Karena merasa bosan menunggu hingga malam.

__ADS_1


Xiuhuan memasuki kota Yangtze dengan melompat tembok kota setinggi lima meter. Ia kemudian menyelidiki keberadaan anggota Paviliun Shadow yang ditemuinya tadi malam di rumah bordil Gerbang Surga. Xiuhuan juga sudah menghapal wajah-wajah mereka.


***


Sementara itu beberapa mil dari kota Yangtze, Duan Mu sedang berduel melawan Hakim Duan Cangtian.


"Dasar kau pengkhianat Duan Mu! Kau ingin membunuh sesama anggota Clan Duan!" Cerutu Duan Cangtian. Karena mereka itu sama-sama berasal dari Clan Duan di wilayah barat.


"Aku tak pernah memandang seseorang dari Clan mana. Yang paling utama adalah perilaku mereka. Sedangkan kau itu adalah Hakim korup dan jahat, membuat malu Clan Duan saja!" sahut Duan mendongak ke atas.


Karena Duan Cangtian itu berunsur Angin, dengan Roh Pedang Naga Angin. Ia melayang di udara dan belum bertindak karena ada Wang Pan, yang juga melayang di atas Duan Cangtian.


Wang Pan sendiri Pendekar Pedang tahap 87 dengan Roh Pedang Naga Api, walaupun Duan Cangtian unggul darinya. Namun ada Duan Mu yang cukup merepotkan, karena ia juga Pendekar Pedang tahap 90 sama dengan Duan Cangtian.


"Lancang kau Dua Mu! Beraninya kau memfitnah petugas Kerajaan!"


"Hahahaha sudah lama sejak Aku keluar dari penjara tak sesenang ini. Darahku bergejolak untuk membakarmu Hakim!"


Wang Pan juga mengeluarkan Roh Pedangnya, Naga Api Raksasa muncul nafasnya saja mengeluarkan bara api. Naga Api itu mengitari Wang Pan yang melayang di udara.


Dengan pedang ditangannya, Duan Mu melakukan penggabungan dengan Roh Pedang Serigala. Mereka kini siap untuk salin serang.


Sementara pertarungan Zongxian memasuki babak paling sengit. Ia dan Pengawal Duan Cangtian cukup berimbang. Apalagi mereka sama-sama main seruduk saja. Luka tebasan menghiasi tubuh gempal Zongxian.


Zongxian menancapkan pedangnya ke tanah untuk bertumpu. Ia menarik nafas dalam-dalam. Begitu juga dengan Pengawal Duan Cangtian.


"Sial! Ini pertarungan yang mengesankan!" gerutu Zongxian dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


Zongxian kembali lagi menyeruduk ke depan. Pedang besarnya bersiap menebas Pengawal itu.


"Sial dia energinya besar sekali!" gerutu Pengawal Duan Cangtian itu, karena Zongxian tetap bersemangat walaupun dipenuhi oleh luka disekujur tubuhnya.


"Pergilah ke Neraka anjing-anjing Paviliun Shadow!" Teriak Zongxian sembari menebas dengan tebasan Tubrukan Babi!


"Boommmmm"


Tanah disekitar mereka hancur berkeping-keping. Zongxian tak berhenti di situ ia terus mengayunkan pedang besarnya itu.


Saling tebas diantara keduanya terus berlanjut. Pengawal Duan Cangtian mulai kewalahan, beberapa kali ia hampir terjatuh.


Zongxian menebar senyum lebar, ia seolah-olah menikmati pertarungan ini. Berbeda dengan Pengawal Duan Cangtian yang tampak panik.


Hingga tebasan keras mendarat di bahu Pengawal Duan Cangtian, teriakan kesakitan keluar dari mulutnya. Tangannya tak sanggup lagi memegang Pedang rohnya dengan baik.


Zongxian terus merangsek menekan mundur Pengawal Duan Cangtian itu. Hingga akhirnya Zongxian menebas perut Pengawal itu dan isi perutnya lansung keluar.


Pengawal itu menancapkan pedangnya ke tanah untuk bertumpu. Nafasnya kini keluar satu-satu lagi.


Dengan senyum lebar Zongxian berdiri di depannya. "Kirim salam pada penjaga gerbang Neraka! Hehehehe!"


Zongxianpun menggorok leher Pengawal Duan Cangtian yang pasrah saja itu. Akhirnya dua Pengawal Duan Cangtian gugur di tangan Kelompok Judgment.


Bersambung 🗡️🗡️🗡️


*Mungkin cara penggambaran dalam pertarungan mereka kurang menarik atau kurang detail. Mohon dimaklumi, ya! Masih pemula ... kalau ada saran tulis saja di kolom komentar.*

__ADS_1


😁😁 Selamat berakhir pekan, tetaplah tersenyum 😁😁😁😁


__ADS_2