Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Menjelajah Makam VI ; Boneka Humanoid


__ADS_3

Begitu memasuki lantai keempat Xiuhuan sudah melihat murid-murid lain telah berada di sana dan ia akhirnya memutuskan menuju lantai lima saja.


Lagi pula Xiuhuan berpikir tak akan ada harta yang bagus lagi di lantai ini, kecuali di lantai puncak, tempat kesadaran suami Xue Hu berada; mungkin di sana ada Senjata pusaka atau kitab jurus tingkat tinggi.


Booommmmm!


Ledakan terjadi di lantai lima, Cao Yao sedang bertarung melawan Boneka humanoid. Dia terpental ke arah Xiuhuan.


“Hei, kalau latihan itu jangan di sini. Kami yang mau mencari harta karun jadi terganggu.” Xiuhuan mencemooh Cao Yao.


“Kau!” Cao Yao menatap tajam pada Xiuhuan, dia menyeka darah yang merembes dari bibirnya. “Kalian murid Clan Lou penakut sekali,” cibir Cao Yao menatap Xiuhuan dan Lou Rong.


“Cao Yao, kau jangan sembarang berkata! Sudah jelas tadi aku mengajakmu bekerjasama melawannya, tetapi kamu saja yang terlalu sombong,” sahut Lou Rong tak suka mendengar sindiran Cao Yao.


Xiuhuan akhirnya menyadari, ternyata mereka dihadang oleh boneka humanoid dengan senjata Pedang yang melengkung diujungnya.


“Kalian lihat dengan jelas, kekuatan murid jenius dari Clan Lou,” kata Lou Rong ingin menunjukkan pada Cao Yao, bahwa ia tidaklah lemah.


“Senior Rong jangan keluarkan itu, apa kau tak ingin mereka mengincar itu nanti,” sela Xiuhuan tak ingin murid-murid lain malah mengincar mereka, hanya gara-gara Pedang Meteor miliknya, yang merupakan senjata pusaka tingkat tinggi itu.


Lou Rong mendengus kesal menatap Xiuhuan, tetapi ia juga setuju dengan sarannya itu dan akhirnya Lou Rong mengeluarkan Pedang Phoenix Nirwana, yang ditempa dari besi meteor dan kristal monster Phoenix Level Tian berusia sepuluh juta tahun.


“Ooh, Pedang yang sangat bagus.”


Wu Tianji tersenyum lebar menatap Pedang Phoenix Nirwana milik Lou Rong, matanya menunjukkan ketertarikan—dan Lou Rong akhirnya menyadari bahwa bukan hal bagus menunjukkan Pedang pusaka tingkat tinggi, karena dapat menimbulkan setan keserakahan pada pihak lain.


“Bukan saatnya kau kagum dengan pedangku ini, mari kita bekerjasama melawannya,” sahut Lou Rong mengajak Wu Tianji melawan Boneka humanoid itu.


“Baik-baik, Aku akan membantu Cao Yao yang lemah ini.” Wu Tianji menyindir Cao Yao yang berwajah muram, karena lansung dihempaskan oleh Boneka humanoid.

__ADS_1


“Kalian boleh sombong, tetapi kekuatannya mungkin setara Ranah Chaos Ancient God,” sahut Cao Yao mengingatkan mereka.


“Hahaha ... kau mengada-ada Yao, jangan hanya karena kamu lemah dan kamu mengatakan bahwa Level boneka humanoid itu dua Level diatas kita. Dasar lemah!”


Wu Tianji lansung melesat ke arah boneka humanoid, ia tak mengindahkan peringatan dari Cao Yao yang geleng-geleng kepala mendengarnya.


“Dasar sombong!” umpat Cao Yao, kemudian menatap Lou Rong. “Bagaimana, apakah kamu akan maju juga?” Dia melihat Lou Rong masih berdiri dengan tangan kanan memegang Pedang Phoenix Nirwana.


“Kita lihat dulu kemampuan bertarung Wu Tianji, dia terlalu sombong, hanya karena berasal dari Clan nomor satu,” sahut Lou Rong memancarkan aura tak suka menatap Wu Tianji.


Dia sebenarnya juga cemburu melihat Wu Tianji berbicara santai dengan Lou Xue saat berada di lantai satu, ia merasa mereka memiliki hubungan khusus, padahal jarang bertemu. Apa mungkin ucapan Lou Xue saat berada di aula Kegelapan benar, kalau ia hanya menyukai pria yang kuat.


Xiuhuan menonton mereka, karena ia tak diajak bergabung untuk melawan boneka humanoid itu. Dia juga tak mengatakan pada mereka, bahwa mengalahkan boneka humanoid itu, hanya perlu bertahan saja hingga kesadaran yang ia miliki habis.


“Boneka humanoid itu tak berbicara seperti Xue Hu, apakah ia tak memiliki inti kehidupan?—Mungkin saat kesadarannya mulai habis Aku harus mencuri kemenangan mereka,” gumam Xiuhuan tersenyum tipis, karena ia berencana akan mencuri inti kehidupan boneka humanoid.


Wu Tianji mengeluarkan dua pedang kembar dari cincin dimensi miliknya. Pedang itu dinamakan Pedang Yin dan Yang— Pedang Yin berwarna putih yang ditempa dari monters Rubah Putih berelemen Es dan Pedang Yang ditempa dari monster Rubah Merah berelemen Api.


Saat Wu Tianji menebas dengan Pedang Yang, maka keluar Api yang berkobar, tetapi api tersebut seolah-olah ditelan oleh Pedang milik Boneka humanoid.


Wu Tianji terkejut melihatnya, selama ini belum ada yang mampu menghindari tebasannya. Namun boneka humanoid yang terbuat dari kayu itu malah dengan sekali gerakan saja, api berkobar dari Pedang Yang lansung menghilang.


Wu Tianji segara menarik nafas dalam-dalam dan melesat dengan cepat ke arah punggung boneka humanoid.


Di kemudian menebas dengan Pedang Yin, sehingga membekukan boneka humanoid dengan lapisan Es yang sangat tebal, bahkan Xiuhuan merasakan tubuhnya kedinginan oleh aura yang dipancarkan oleh Pedang Yin.


“Ternyata Wu Tianji sangat hebat,” gumam Cao Yao kesal, begitu juga dengan Lou Rong.


Hanya Xiuhuan saja yang merasa ini belum berakhir, karena makin tinggi lantai Paviliun makam itu, maka makin kuat mahkluk yang menghuninya. Saat melawan Xue Hu saja, ia sangat kerepotan dibuatnya, apalagi melawan boneka humanoid itu, tak mungkin sesederhana ini.

__ADS_1


Es yang membekukan boneka humanoid tiba-tiba retak dan mencair. Pedang di tangan boneka humanoid mengeluarkan Api berkobar seperti milik Wu Tianji.


“Apa yang terjadi? Kenapa ia bisa menggunakan api seperti Pedang Yang?” Wu Tianji mundur lima langkah, wajahnya tampak pucat, ia kini baru menyadari tak akan bisa mengalahkan boneka humanoid seorang diri.


Xiuhuan akhirnya mengerti dari mana sumber Api milik boneka humanoid itu.


“Kalian lawan dia jangan menggunakan elemen apapun. Gunakanlah jurus dasar atau kekuatan fisik saja. Karena ia menyerap elemen yang kalian miliki dan membalikkannya lagi.”


Xiuhuan memberikan masukan agar mereka tak berlama-lama di lantai lima itu, karena tujuan utamanya adalah lantai tujuh, tempat kesadaran suami Xue Hu berada.


“Ternyata begitu!” sahut mereka bersamaan.


Wu Tianji lansung melesat menyerang punggung boneka humanoid. Cao Yao dan Lou Rong tak mau ketinggalan juga. Lou Rong mau menjajal Pedang Phoenix Nirwana miliknya.


Namun ada satu hal yang luput dari perkiraan Xiuhuan, yaitu boneka humanoid juga mengerti hukum ruang, walaupun pemahamannya tak sehebat Xue Hu yang dapat memanipulasi hukum ruang di Paviliun makam.


Boneka humanoid menghilang dari pandangan mereka, sehingga Cao Yao dan Luo Rong malah menyerang Wu Tianji.


“Kampret! Kenapa kalian menyerangku,” gerutu Wu Tianji terpental beberapa langkah.


“Eh, ke mana dia!” Cao Yao kebingungan.


“Awas!” seru Lou Rong mendorong tubuh Cao Yao dan dia menangkis tebasan boneka humanoid. “Sial, kekuatan fisiknya kuat sekali!” keluh Lou Rong.


“Akan kubantu!” seru Wu Tianji menebas ruang kosong, karena boneka humanoid menghilang lagi. “Hati-hati punggung kalian!” Wu Tianji mengingatkan keduanya.


Mereka membentuk segitiga untuk melindungi punggung mereka, sedangkan Xiuhuan merasa boneka humanoid datang kearahnya.


“Kenapa ia malah menyerangku?—Apa karena Aku menonton pertarungan mereka, sehingga ia mengira aku meremehkannya,” gumam Xiuhuan mengeluarkan Palu Tur Penghancur Semesta dari cincin dimensi miliknya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


__ADS_2