Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Peregangan Dengan Geng Macan


__ADS_3

“Ah, kau salah sangka sen—”


Belum selesai Xiuhuan berbicara sebuah bogem mentah melayang ke wajahnya, hingga Xiuhuan terlempar menabrak dinding kedai arak itu tembus ke luar, karena dindingnya cuma terbuat dari anyaman bambu.


“Woi! Kau ingin menghancurkan ketampananku, ya!” gerutu Xiuhuan, sambil mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


“Hah, mau kutambah bocah songong!” sahut Pendekar Pedang tahap 30, yang memiliki tubuh kekar dan sebuah bekas luka tebasan di wajahnya.


“Patahkan saja kakinya!” seru seorang Pendekar Pedang tahap 45, yang merupakan terkuat dari kawanan mereka. Ia memiliki tubuh kurus kering, kepala botak dan gigi depannya ompong. Namun justru dialah yang memeluk wanita cantik dikedua sisinya. Sedangkan yang lainnya tampak sangat menghormatinya.


“Baik Pemimpin Chung!” sahut Pendekar Pedang tahap 30 itu melangkah keluar melalui lubang yang terbentuk akibat benturan tubuh Xiuhuan tadi.


Ia menyeringai melihat Xiuhuan dan Roh Pedang Ayam jantan muncul melayang disekitarnya.


“Hahaha ... Roh Pedang ayam goreng!” Xiuhuan mengejeknya dan tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.


“Kurang ajar!” sahutnya marah dan “Tebasan Cakar Ayam!” ia menerjang ke hadapan Xiuhuan.


Xiuhuan tak perlu menggunakan Pedang Roh menghadapi pion Sepertinya. Xiuhuan hanya bergeser selangkah kesamping menghindari tebasannya dan melayangkan sebuah tendangan ke perutnya hingga membuat Pendekar Pedang tahap 30 itu lansung tersungkur ke tanah. Dari mulutnya juga menyemburkan darah.


Dengan senyum tipis Xiuhuan mendekatinya. “Rasakan ini, tinju gomu-gomu no mi!” seru Xiuhuan meninju wajah Pendekar Pedang tahap 30 itu membabi-buta hingga wajahnya tak dapat dikenali lagi.


“Hentikan!” teriak Chung sambil mendorong kedua wanita yang dirangkulnya hingga terpental.


“Yah, Aku terlalu berlebihan ternyata hahaha ....” Xiuhuan tertawa sambil mengusap bekas cipratan darah di wajahnya saat menonjok wajah anak buahnya Chung tadi.


“Pemuda ini, kenapa tak ada tampang ketakutan di wajahnya. Padahal sudah jelas kami memiliki keunggulan jumlah dan aku juga lebih tinggi satu level Pendekar Pedang darinya,” guman Chung keheranan.


Xiuhuan akhir-akhir ini suka menyamakan level Pendekar Pedangnya dengan lawannya untuk meningkatkan ketangkasannya dalam bertarung, karena berlevel tinggi itu belum tentu hebat dalam bertarung. Bisa saja karena mengandalkan sumber daya saja untuk menaikkan levelnya.


“Yo, belut tampan!” Xiuhuan memanggil Roh Pedangnya dan muncullah seekor belut yang melayang di sekitar Xiuhuan. “Yo, Om ompong, apa kau takut melihat belutku ini? Dia tak berbisa, lho!” ejek Xiuhuan.


Amarah Chung kini telah mencapai ubun-ubunnya, ia memanggil Pedang Rohnya. Chung kemudian melesat dengan cepat, menebas Xiuhuan.

__ADS_1


Sontak saja Xiuhuan kaget, “Cepat sekali!” guman Xiuhuan lansung menangkis tebasan Chung itu, ia mundur beberapa langkah. “Pantaslah ia menjadi ketuanya, ternyata ia sangat kuat untuk di level sama dengannya.” Xiuhuan berkata dalam hatinya.


Xiuhuan masih mempertahankan levelnya di Pendekar Pedang tahap 44, satu level lebih rendah dari Chung.


Anak buah Chung berhamburan dari dalam kedai arak itu dan mengepung Xiuhuan. Mereka juga mengeluarkan Pedang Roh masing-masing.


“Hahaha Aku suka anak muda ini, dia cukup tangguh. Kalian jangan ganggu pertarungan kami, jika aku tak terdesak nanti!” seru Chung pada anak buahnya yang mengepung Xiuhuan.


Mereka kemudian langsung mundur beberapa langkah dan menonton pertarungan bos mereka dengan Pemuda tampan yang songong, menurut pandangan mereka.


Senyum tipis terpancar dari wajah Xiuhuan, ia cukup menikmati pertarungan ini.


“Langkah Macan, Tebasan Cakar Harimau!”


Chung melesat dengan cepat dan menebas Xiuhuan kembali. Kali ini Xiuhuan lebih sigap, ia lansung membalut tubuhnya dengan jurus Putaran Gelombang Air dan menangkis tebasan pedang Chung.


“Trang-trang-trang!” keduanya saling beradu tebasan dan ketangkasan.


“Auman Macan!” seru Chung saat tebasan Pedang Xiuhuan mengarah ke bahunya. Sebuah gundukan tanah menghalangi tebasan Pedang Xiuhuan itu.


Chung kemudian melompat ke atas gundukan tanah dan menebas kepala Xiuhuan dari atas sambil melompat seperti mau menerkam Xiuhuan saja. Bayangan Macan juga mengiri tebasan itu.


“Putaran gelombang air!” seru Xiuhuan bertahan menahan tebasan Chung.


Tanah pijakan Xiuhuan lansung hancur saat ia menahan tebasan Pedang Chung itu.


“Ah, sial! Sakit juga!” gerutu Xiuhuan yang mundur beberapa langkah.


“Kau sangat hebat anak muda! Sampai sejauh ini, kau masih bisa mengimbangiku!” puji Chung, ia kagum dengan kemampuan Xiuhuan dan berkata lagi, “Bagaimana kalau kau bergabung bersama geng macan kami!”


“Ternyata dugaanku benar. Kalian adalah sekumpulan parasit yang menggangu penduduk!” sahut Xiuhuan.


“Hahaha ... kau benar, dengan menjadi bagian dari geng macan, kau dapat meniduri banyak wanita cantik dan uang banyak untuk dihambur-hamburkan. Bagaimana? Kau tertarik?” Chung masih berusaha menggaet Xiuhuan. Karena ia cukup puas dengan kemampuannya saat ini.

__ADS_1


“Sudah cukup main-mainnya! Kuakui kau hebat di level yang sama. Namun, setelah mengetahui pekerjaan kalian yang meresahkan masyarakat. Aku akan mengirim kalian bertemu malaikat pencabut nyawa!” Ancam Xiuhuan sambil menaikkan levelnya ke Pendekar Pedang tahap 50.


Kilatan-kilatan listrik tampak di tubuh Xiuhuan, begitu juga dengan Pedang Rohnya. Membuat para anak buah Chung bergidik ketakutan.


“K-kau ....” Chung dengan gugup teringat dengan Assasin yang meresahkan Pendekar Pedang akhir-akhir ini. “Dia memiliki unsur yang sama, jangan-jangan ....” Chung lansung ketakutan dan melesat kabur.


Melihat bos mereka kabur, para anak buah Chung juga berhamburan, menyelamatkan diri.


Xiuhuan menyeringai melihat mereka, “Langkah Kilat! Tebasan Halilintar!” seru Xiuhuan dan melesat dengan cepat menebas mereka satu persatu.


Hanya hitungan beberapa tarikan nafas saja. Semua anak buah Chung telah terpenggal. Kepala dan raga mereka terpisah.


Chung melihat dari kejauhan kilatan-kilatan listrik tampak dari arah kedai arak itu. Namun, hanya berlangsung sebentar saja. Kemudian kilatan listrik itu mengarah padanya.


“Sial ... dia mempermainkan kami!” gerutu Chung melesat dengan cepat ke arah hutan dekat desa.


“Yo, Paman ompong! Mau kemana, nih?” Xiuhuan telah melesat di sampingnya.


“Apaaaa!” Chung kaget melihatnya, “Tebasan Cakar Harimau!” ia lansung menyerang Xiuhuan.


“Tebasan Halilintar!” sahut Xiuhuan meladeni serangannya.


Pedang mereka beradu, namun level Pendekar Pedang Xiuhuan sudah jauh lebih tinggi. Pedang Roh milik Chung lansung terpotong dan tak sampai disitu, tubuhnya ikut terbelah menjadi dua bagian.


“Di kehidupan selanjutnya, jadilah orang baik. Ini sudah jelek, kurus, ompong dan bau lagi. Malah sok-sokan jadi berandalan!”


Xiuhuan mengumpati mayat Chung yang tergeletak. Setelah itu Xiuhuan kembali ke kedai arak tadi dan melihat sudah tak ada orang di sana. Pemilik dan wanita-wanita yang menemani Chung minum arak tadi juga menghilang. Yang ada hanya tumpukan mayat dengan kepala terlepas dari raga mereka.


“Apa aku dikira orang jahat juga, ya!” guman Xiuhuan sambil masuk ke dalam kedai, melanjutkan menyeduh kopi yang dipesannya tadi.


Karena tak ada orang di kedai itu lagi. Xiuhuan memutuskan tidur di dalam kedai itu saja. Lumayanlah, dari pada beratapkan langit, mendingan di dalam, tak dingin tentunya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2