
Halaman Kediaman Ketua Clan Gu tiba-tiba diselimuti asap ungu. Pendekar Pedang Clan Gu pendukung Gu Lin langsung bertumbangan saat menghirup asap ungu itu.
Gu Yao tersenyum, ia tak menyangka ibunya masih sekuat dulu. Walaupun akhirnya dikalahkan oleh salah satu tetua saat itu dan dijadikan selir oleh Gu Lin.
Namun senyuman Gu Yao pudar, tak kala melihat sosok Gu Lin berjalan dengan santai dalam kepulan asap ungu itu.
“Hahaha ... kamu mencoba meracuni suamimu sendiri! Teganya dirimu, ah ... hatiku menjadi sakit Chen Xia!” Gu Lin memegang dadanya dengan senyum lebar mengejek Chen Xia. Kemudian ia berkata, “Aku telah mengantisipasi kemungkinan hal ini. Mana mungkin aku meniduri wanita beracun tanpa divaksin lebih dulu. Eh, maksudnya menyiapkan penawar racun lebih dulu.”
Gu Lin tertawa cekikikan melihat ekspresi Chen Xia yang kusut melihatnya tak terpengaruh oleh racunnya. Ia membeli penawar racun dalam pelelangan di ibukota Kerajaan Yuan delapan tahun lalu.
Gu Lin kemudian melompat tinggi ke udara dan menghujam tanah dengan keras, sehingga menimbulkan angin yang menyebar ke segala penjuru. Asap ungu itupun akhirnya menghilang dan meninggalkan ia, Gu Yao dan Chen Xia di sana.
“Aku merasa waktu bermain-mainnya sudah selesai. Toh, Pendekar Pedang yang kau bawa cuma mengantar nyawa mereka saja kemari,” kata Gu Lin.
Kini ia mengalirkan 70% qi dari kapasitas Rongqinya, ia tak mau menyepelekannya kemampuan Gu Yao. Karena ia termasuk Pendekar Pedang yang lebih memilih resiko serendah-rendahnya, dari pada tertikam dari belakang. Kan, tak lucu jadinya.
Tubuh Gu Lin kini dalam mode Full Beruang, matanya merah darah menatap tajam Gu Yao. Ia menekan pijakan, sehingga tanah pijakannya hancur berkeping-keping.
Chen Xia menyadari, Gu Lin akan menargetkan anaknya, segera melesat dengan cepat ke arah Gu Yao. Kini ia tak mempunya kemampuan lain untuk melawan Gu Lin, selain menggunakan Pedangnya saja. Karena qi racun yang ia gunakan kini malah tak mempan lagi.
“Yao‘er mundur ke sini, Nak!” teriak Chen Xia yang berencana membawa kabur Gu Yao dengan terbang setinggi mungkin.
Gu Yao tak memiliki waktu untuk mundur, ia mengalirkan seluruh qi dalam Rongqinya dan mengubahnya menjadi tenaga dalam.
Ia memegang erat Pedang Rohnya dan Siluet Harimau muncul di atas kepala yang mengaung keras ke arah Gu Lin yang melompat ke arah Gu Yao.
__ADS_1
Sebuah laser suara melesat ke arah Gu Lin, namun Ketua Clan Gu itu langsung mengeluarkan Siluet Beruang yang menghalang laser suara itu.
“Boommmm!”
Pedang Roh Gu Yao dan Gu Lin beradu dan menimbulkan ledakan energi disekitar mereka. Chen Xia yang mencoba mendekati mereka malah terpental ke belakang beberapa langkah. Untung saja ia bisa menstabilkan kembali kepakan sayapnya dan bergabung dengan anaknya melawan Gu Lin.
Dua lawan satu pun terjadi, namun yang terdesak adalah ibu dan anak itu. Kalau Gu Lin mau, sejak awal Chen Xia dengan mudah ia bunuh. Namun tak ia lakukan, karena masih mencintainya. Sehingga ia lebih fokus menghadapi Gu Yao saja dan hanya menangkis tebasan pedang Chen Xia.
Gu Yao menyadari ibunya hanya menjadi beban saja, dan ia takut ibunya itu terluka. Kemudian ia menangkap sebelah sayap Chen Xia dan melemparnya sejauh mungkin dari Kediaman Ketua Clan Gu.
“Yao‘er! Apa yang kau lakukan!” teriak Chen Xia tak terima dengan keputusan anaknya itu.
“Maafkan aku ibu!” sahut Gu Yao tanpa menoleh padanya. “Biarlah dendam sepuluh tahun yang lalu, aku tuntaskan sendiri,” katanya lagi.
“Hahahaha .... bagus-bagus, aku suka dengan tekadmu itu. Namun asal kau tahu saja, tekad yang kuat belum tentu bisa menuntaskan dendam yang terpendam dalam hatimu. Bagaimana kalau kau menerima aku sebagai ayahmu dan kita lupakan dendam lama kita,” kata Gu Lin sengaja membujuknya, karena ia yakin Gu Yao tak akan menerima ajakannya.
“Ahhhhh!” teriak Gu Lin saat tebasan pedang Gu Yao mendarat di punggungnya. “Apa kau kira dengan bermain petak umpet begini, bisa mengalahkanku bocah. Mimpimu ketinggian,” katanya lagi.
Gu Lin meninju tanah dan halaman Kediaman Ketua Clan Gu bergetar hebat, sehingga Gu Lin lansung oleng.
Saat ia mencoba menstabilkan posisi berdirinya, tiba-tiba Gu Lin telah muncul di hadapannya dan menebas Pedangnya pada Gu Yao.
Gu Yao terhempas beberapa langkah kebelakang dan ia merasa tubuhnya mengalami luka dalam.
Gu Lin tersenyum menyeringai menatap Gu Yao, ia melompat ke hadapan Gu Yao yang sedang menyeka darah di sudut bibirnya.
__ADS_1
Gu Yao tak menghindar, ia dengan sengaja menunggu Gu Lin menebasnya. Namun saat Gu Lin menebas Gu Yao, yang ada ia malah menebas angin saja. Sedangkan Gu Yao telah menghindar dengan kecepatan yang ia miliki dan muncul di belakang Gu Lin dengan mode full Harimau.
Gu Yao menggigit leher Gu Lin dengan memfokuskan tenaga dalamnya pada rahangnya, sehingga gigitannya itu menghancurkan setengah leher Gu Lin.
“Aaaaaa!” teriak Gu Lin memegang lehernya dan mengalirkan tenaga dalam ke sana untuk menghentikan pendarahan dari lehernya itu.
Gu Yao mendengus kesal, ternyata Gu Lin masih bisa menekan lukanya. Sementara ia merasa tubuhnya tak memiliki tenaga dalam lagi dan luka dalam yang ia terima tadi mulai membuatnya lemah.
Gu Lin dengan amarah yang memuncak, mendekati Gu Yao.
“Kamu cukup hebat dapat melukaiku. Namun, yang kalah tetaplah kamu juga. Mungkin bila kamu datang sepuluh tahun lagi, Kamu bisa mengalahkan aku. Namun itu semua hanya angan-angan saja, temui lah ayahmu di neraka. Katakan padanya istrinya telah menjadi pelacur untukku hahahaha ....” Gu Lin tertawa keras sembari mengayunkan pedangnya pada Gu Yao yang menutup matanya, karena tak sanggup lagi melawan.
“Yao‘er! Tidakkkkk!” teriak Chen Xia melesat dengan cepat berusaha menghentikan tebasan pedang Gu Lin pada anaknya yang terbaring lemah di tanah.
Mendengar suara ibunya, Gu Lin menatap Chen Xia dengan berlinang air mata.
“Ibu maafkan aku tak bisa membalaskan dendam atas kematian ayah dan penderitaan yang ibu alami selama sepuluh tahun ini,” katanya pelan.
“Yao‘er!” teriak Chen Xia sekencang-kencangnya. Ayunan Pedang Gu Lin lebih cepat dari kecepatan terbangnya. “Gu Lin
... tolong jangan bunuh Yao‘er!” ucapnya memohon belas kasih dari Gu Lin. Namun ayunan Pedang itu telah melesat ke arah leher Gu Yao.
Chen Xia menutup matanya, ia tak sanggup melihat kejadian yang berulang seperti sepuluh tahun lalu terjadi lagi saat ini. Hatinya hancur berkeping-keping, ia sudah tak memiliki tujuan hidup lagi dan mengalirkan seluruh qi tersisa miliknya untuk melakukan ledakan racun bunuh diri. Walaupun tak sanggup membunuh Gu Lin, setidaknya ia bisa membawa ratusan Pendekar Pedang pendukung Gu Lin mati bersamanya.
...⚔️Bersambung ⚔️...
__ADS_1
***
(Semoga terhibur semua, jangan lupa laik gaissss. Mungkin chapter ini tidak wau gitu 😁😁 Tapi harap maklum saja, mau ngelawak tak ada bahan. Mau jalan ceritanya serius agar bisa menjadi famous, malah kelihatan garing. Ya, sudah ... nikmati sajalah apa yang ada Hehehe 😁😁😁)