Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan

Legenda Pendekar Pedang; Xiuhuan
Desa Chen Lu


__ADS_3

Setelah melewati Kota Hua, Xiuhuan bergabung dengan murid-muridnya dengan mengenakan jubah murid biasa, ia menekan level Pendekar Pedangnya hingga Pendekar Pedang tahap 15 saja, sama dengan level yang dimiliki oleh Liu Ya, yang memimpin misi ini.


"Eh guruuuuuuuu!" Mereka kaget melihat Xiuhuan yang menyamar menjadi seorang murid biasa.


"Sudah lanjut saja! Jangan pedulikan guru, fokus ke misi kalian saja!" seru Xiuhuan.


"Hebat sekali guru dapat menekan level Pendekar Pedangnya sesuka hati," puji Shuyan.


"Guru ini licin seperti belut, sudah melalui berbagai asam manis di dunia kependekaran ini," sahut Xiuhuan.


Mereka menganggukkan kepala tanda mengerti dengan penjelasan Xiuhuan. Ada rasa kagum dan termotivasi bagi murid-murid Xiuhuan itu untuk menjadi kuat.


Sosoknya sederhana, tak jumawa walaupun ia telah berada dipuncak. Karena berada dipuncak itu belum tentu bisa mencapai langit, bisa saja terjadi longsor atau ada yang lebih tinggi.


Tak butuh waktu lama, mereka memasuki desa Chen Lu yang tak terlalu jauh dari kota Hua. Kepala desa, Gui Yan lansung menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Pendekar Pedang murid-murid Sekte Teratai Biru di desa kami ini," sapa Gui Yan sembari menyalami Xiuhuan.


Gui Yan mengira Xiuhuan adalah pemimpin rombongan itu, mengingat cuma wajah Xiuhuan yang kelihatan dewasa.


"Saya Gui Yan kepala desa Chen Lu," ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Xiuhuan.


"Oh, aku Xiuhuan dari Sekte Teratai Biru," jawabnya juga menyalami Gui Yan.

__ADS_1


"Masyarakat di sini sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi, kami siap berangkat ke ladang untuk memulai panen raya Ginseng kuning. Jadi, kami akan menyiapkan akomodasi buat kalian, serta pembicaraan mengenai bonus dari kami diluar biaya misi dari Sekte."


Gui Yan mengajak Xiuhuan dan murid-muridnya menuju rumah Kepala desa, membicarakan bonus yang dimaksud olehnya.


"Maaf tuan Gui Yan, sebenarnya aku cuma murid biasa dan yang memimpin misi ini adalah saudari Liu Ya." Xiuhuan menunjuk Liu Ya yang berjalan di sebelahnya. "Hahaha mungkin tampangku kelihatan tua, maklumlah aku cuma memiliki ini ... susah naik levelnya."


Xiuhuan memperlihatkan Roh Pedangnya yang berkamuflase menjadi bayi belut berwarna warni, jadi kelihatan imut malahan.


"Eh, ada juga Roh Pedang begini, ya." Gui Yan memperhatikan dengan seksama, Roh Pedang unik milik Xiuhuan itu.


Murid-murid Xiuhuan geleng-geleng kepala melihat Xiuhuan mempermainkan kepala desa itu. Untung mereka telah mengetahui Roh Pedang yang asli milik Xiuhuan. Jika sempat mereka tak tahu, mungkin mereka akan bernasib sama dengan kepala desa itu.


"Ah, maaf ... aku terlalu penasaran," ucap Gui Yan tersadar, bahwa mereka sedang akan membahas bonus yang diterima Liu Ya dan anggotanya.


Mereka kemudian memasuki rumah kepala desa yang memiliki rumah paling besar dan megah di desa itu.


Itu karena lahan di desa itu adalah milik keluarganya yang turun-temurun diwariskan dari leluhurnya. Masyarakat sekitar biasanya menggarap lahan tersebut dengan sistem bagi hasil. Makanya ketika terjadi pengrusakan dan perampokan di desa Chen Lu, Gui Yan juga merasakan dampaknya. Hingga ia memutuskan meminta perlindungan kepada Sekte Teratai Biru.


"Silahkan diminum tehnya ..." ucap istri Gui Yan yang berparas cantik, bertolak belakang dengan Gui Yan yang berbadan gempal.


"Terimakasih ..." sahut Xiuhuan lansung menyeduh teh itu.


"Cantik sekali istrinya," bisik Huanran kagum. Ia jadi teringat ibunya yang cantik, malah menjadi selir Raja Qian Xu yang berwajah biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Good looking seperti guru akan kalah dengan berkantong tebal sepertinya. Begitulah sistem dunia ini, keadilan itu tergantung dari sudut pandang masing-masing," sahut Xiuhuan berbisik pada Huanran.


"Cih, guru itu bukan korban ... tapi parasit bagi wanita!" sahut Shuyan yang duduk disebelah kanan Xiuhuan.


Xiuhuan hanya senyum masam mendapat reaksi begitu dari Shuyan. Hingga Gui Yan datang dari lantai dua rumah bertingkat tiga itu. Ia membawa lima kotak kecil yang berisi ginseng kuning kualitas menengah.


"Ini buat kalian sebagai bonus bagaimana?"


Xiuhuan dan murid-muridnya membuka isi kotak kecil itu. Alangkah terkejutnya mereka, mengingat mereka cuma menjalani misi untuk murid pemula. Malahan mendapat bonus seharga 10 keping emas untuk satu ginseng kuning kualitas menengah itu.


Liu Ya melirik Xiuhuan, karena ia tak mengerti harus menolak atau menerima hadiah itu. Namun ia melihat Xiuhuan diam saja, tanpa memberikan reaksi.


"Ini terlalu mahal buat kami tuan Gui Yan!" seru Liu Ya, menolak hadiah itu.


"Hahaha ... tak apa, Nak. Kalian datang saja kami sudah bersyukur, karena kami yakin bandit-bandit itu akan takut melihat lambang jubah kalian saja. Sehingga panen raya musim ini dapat dilakukan dengan lancar."


Gui Yan memberikan alasan, mengapa ia memberikan hadiah yang cukup mahal untuk mereka.


Liu Ya kembali bingung membuat keputusan dan menoleh ke arah Xiuhuan. Kali ini Xiuhuan mengangguk setuju.


"Baiklah kami akan menerima hadiah ini, namun jika kami gagal nanti menjalankan misi. Maka, kami akan memberikan kembali hadiah ini!" seru Liu Ya.


"Setuju!" sahut Gui Yan sambil menjabat tangan Liu Ya, pertanda Liu Ya dan anggotanya resmi memulai misi mengawal panen raya Ginseng kuning di desa Chen Lu.

__ADS_1


Bersambung 🗡️🗡️🗡️


__ADS_2